Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Pamit


__ADS_3

Raisa terus menatap paviliun Adam dari jendela kamarnya. Tangannya juga tak ada hentinya mengusap perutnya dengan lembut. Seakan memberitahu anaknya jika keadaanya baik-baik saja saat ini. Meski sebenarnya dia hanya mencoba untuk baik-baik saja.


Jelas Raisa tak ingin menyakiti janin yang baru menginjak empat bulan itu. Dia sangat menyayangi buah cintanya dengan Adam itu. Tapi sekeras apa Raisa mencoba membuang beban pikirannya, tetap tidak akan bisa jika dia terus di hadapkan dengan situasi seperti ini.


Sekarang ini pun Raisa tidak tau Adam pergi ke mana. Entah ke kantor atau ke mana, karena setelah Raisa membersihkan luka Adam tadi pagi, pria itu langsung pergi lagi.


Raisa juga melihat kepergian Adam. Pria itu tidak mengenakan setelan kantor seperti biasa. Hanya memakai baju kasualnya saja.


Raisa beralih memegang dadanya, rasa nyerinya masih terasa sampai saat ini ketika Adam berlalu pergi tanpa sepatah kata pun untuk memberitahu Raisa kena dia akan pergi pagi tadi.


"Dek, sebenarnya Mama takut menghadapi kemarahan Papa. Tapi kamu jangan salah paham dulu, sebenarnya Papa itu baik banget loh. Mama aja yang bodoh selama ini. Dan cuma kamu penguat hati Mama saat ini"


"Baik-baik di dalam perut Mama ya sayang. Mama akan berusaha untuk membuat kamu nyaman di dalam sana" Meski Raisa sendiri tak yakin dengan ucapannya itu.


Suara decitan pintu membuat Raisa menoleh ke belakang. Memutus lamannya yang seperti tak ada habisnya itu.


"Papa"


Raisa menatap Papanya yang mendekat ke arahnya. Raisa tidak tau kalau ternyata Papanya ada di rumah sore hari seperti ini.


"Kamu sudah makan??" Satya ikut menatap keluar jendela. Melihat apa yang menjadi pusat perhatian putrinya sejak tadi.


"Makan??" Gumam Raisa. Dia saja baru ingat akan kebutuhannya yang satu itu.


Raisa mengusap perut buncitnya. Dia tampak begitu menyesali ucapannya tadi. Bagaimana bisa dia menginginkan anaknya baik-baik saja sementara dia saja mengabaikan makan siangnya begitu saja.


"Papa tau perasaan kamu saat ini. Tapi kamu harus ingat kalau kamu sedang mengandung. Pikirkan juga cucu Papa"


"Maaf Pa, habis ini Raisa makan Pa"


Satya hanya mengangguk sekilas tanpa menunjukkan senyum sedikitpun. Papanya itu masih begitu dingin kepadanya.


"Pa, boleh Raisa tanya sesuatu??"


Satya beralih menatap putrinya dengan kening yang berkerut.


"Apa??"

__ADS_1


"Raisa mau tanya tentang Mas Adam dan keluarganya. Apa Papa tau tentang itu??"


Satya tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Raisa mohon Pa, Raisa nggak berani tanya langsung sama Mas Adam. Raisa juga yakin kalau Mas Adam nggak akan mau cerita tentang keluarganya sama Raisa Pa"


Satya mengangguk, dia tak marah dengan sikap Adam yang saat ini sedang mengabaikan putrinya. Dia tau jika Raisa saat ini memang bersalah.


"Papa tidak tau banyak tentang Adam. Yang Papa tau, dia sudah tidak mempunyai Ibu sejak berusia sepuluh tahun"


Deg...


Raisa yakin jika lima tahun lalu dia tidak salah dengar jika wanita yang bersama Adam itu Ibunya Adam.


"Sementara Ayahnya, menikah lagi hanya berselang beberapa bulan setelah Ibunya meninggal"


"Apa lagi ini?? Jadi yang dulu menemui Mas Adam itu Ibu tirinya?? Kenapa aku nggak tanya dari dulu sama Papa?? "


Brukk...


Raisa langsung terduduk di sofa yang ada di sebelahnya. Dia mendadak linglung yang kehilangan angan-agannya.


"S-sakit?? Jadi Ayah Mas Adam masih ada sampai sekarang Pa??"


Satya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Raisa itu.


"Ayahnya akhirnya meninggal tiga tahun yang lalu setelah lumpuh bertahun-tahun lamanya"


Tes....


Lagi-lagi Raisa harus membiarkan air matanya keluar. Dia juga heran kenapa air matanya tak kunjung kering meski sudah tiga hari ini terus-terusan menangis.


"Papa sudah menganggap dia seperti anak Papa sendiri Sa. Dia pria yang baik, tangguh dan bertanggungjawab. Makanya Papa begitu percaya sama dia selama ini"


"Berjuanglah mendapatkan maaf darinya. Papa yakin kamu akan sangat menyesal kalau sampai kehilangan dia"


"Bahkan sekarang aja Raisa udah nyesel Pa" Raisa meraup wajahnya dengan kedua tangannya secara kasar.

__ADS_1


"Sudah, sekarang lebih baik kamu makan dulu, kasihan anak kamu" Raisa mengangguk mengikuti Satya berjalan keluar dari kamarnya.


*


*


*


Tok..Tok...


"Masuk!!"


Setelah Adam mendengar perintah Satya dari dalam ruang kerjanya, baru dia berani membuka pintu ruangan tertutup itu.


"Adam?? Kamu dari mana??" Satya baru melihat Adam setelah seharian penuh pria itu tak ada di rumah.


"Ada kerjaan di luar Pa"


"Apa ada masalah dengan bisnismu??" Satya melepas kacamatanya untuk melihat Adam secara bebas.


"Tidak Pa, hanya membereskan beberapa laporan minggu lalu, juga menyiapkan segala sesuatu sampai beberapa waktu ke depan" Jelas Adam mash berdiri di depan meja Satya.


"Memangnya kamu mau kemana??"


Inilah tujuan Adam datang menemui Satya malam-malam begini. Dia ingin mengatakan sesuatu demi menyembuhkan luka di hatinya.


"Pa, maafkan saya sebelumnya. Saya datang menemui Papa tentunya ada maksud tertentu" Satya masih diam menunggu Adam


"Saya mau minta ijin untuk pulang kampung sebentar. Saya butuh menenangkan diri Pa. Jujur semua ini terlalu berat buat saya" Adam menunduk ingin menyembunyikan ari matanya.


"Hufffftt..." Satya menghela nafasnya lalu beranjak dari kursinya. Mendekat pada menantu kesayangannya itu.


"Papa tau kamu hancur saat ini Dam. Tak usah malu untuk menangis. Bukan hanya wanita yang boleh menangis" Satya merengkuh Adam ke dalam pelukannya, memberikan tepukan-tepukan kecil pada bahu Adam.


Air mata Adam tumpah begitu saja di pelukan Satya. Dalam sosok yang kadang begitu tegas itu, Adam justru bisa menemukan sosok Ayah setelah dia kehilangan figur seorang Ayah selama ini.


"Papa ijinkan kamu pergi. Buatlah Raisa sadar dengan perbuatannya. Tapi kamu harus ingat, dia sedang mengandung anak mu. Dia bisa saja terguncang karena terlalu memikirkan mu"

__ADS_1


Adam terdiam untuk sejenak, ada rasa penyesalan dalam dirinya karena sempat melupakan anak dalam kandungan Raisa.


"Adam tau apa yang harus Adam lakukan Pa"


__ADS_2