
Malam yang cukup dingin membuat Raisa mengeratkan selimutnya. Tak biasanya Jakarta sedingin itu di malam hari. Ac di kamar Raisa pun sudah di matikan, namun lembutnya ranjang dan selimutnya yang tebal tak mampu menghangatkan tubuhnya.
Telapak kaki Raisa juga terasa dingin dan badannya hampir menggigil. Rasanya seperti orang sakit meski sebenarnya Raisa baik-baik saja.
"Harus banyak gerak kali ya biar keluar keringatnya" Dengan menahan rasa dingin yang menyerang kulit putihnya, Raisa menyingkirkan selimut tebalnya.
Kaki jenjangnya berjalan ke sana ke mari untuk membuat suhu tubuhnya naik sehingga dia tidak akan kedinginan lagi.
"Masih jam sebelas, gimana kalau jam dua nanti. Pasti makin dingin" Raisa melihat jam yang berada di ponselnya.
"Huffff... Kalau aja Mas Adam di sini. Pasti nggak susah buat cari kehangatan" Mungkin Raisa tak sadar jika bibirnya mengucapkan sesuatu yang mengartikan jika dia butuh kehangatan dari suaminya itu.
"Tapi kan dia ada Ayu di sana. Mana ingat sama aku" Raisa kembali kesal karena foto yang di kirim nomor baru kemarin. Dimana Adam terlihat duduk bersebelahan dengan Ayu di sebuah tempat yang lebih terlihat seperti loby hotel saat malam perta Adam berada di Semarang.
Tapi siapa sangka, Raisa bahkan baru ingat jika Adam seperti mempunyai kemampuan aneh karena sering kali bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan. Ponsel Raisa berbunyi dan menunjukkan nama Adam yang tertera di sana.
Raisa ragu untuk mengangkatnya. Terlebih jika dia ingat Adam yang di luar sana ternyata diam-diam bertemu dengan wanita lain.
Tapi rasa rindunya pada suara suaminya itu membuat Raisa akhirnya menggeser tombol hijau pada ponselnya.
"Kamu belum tidur??" Adam langsung menyerangnya dengan pertanyaan.
Mendengar suara Adam yang sangat khawatir seperti itu, siapa yang akan menyangka jika pria itu pandai berpura-pura.
"Belum"
"Kenapa?? Kamu lapar?? Anak kita pingin sesuatu??"
"Enggak, cuma belum bisa tidur aja"
"Kamu kangen sama Mas ya, makanya nggak bisa tidur"
"Dih" Mana mungkin Raisa jujur jika dia memang merindukan Adam yang baru berpisah darinya selama dua hari.
"Jujur aja nggak papa kok, Mas juga kangen sama kamu"
"Bohong, jangan jadi tukang ngibul" Raisa jadi tersulut emosi karena omongan Adam tak sesuai fakta.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Sa?? Mas serius loh"
"Ck, udah deh. Sebenarnya mau apa telepon jam segini?? Kenapa belum tidur??"
"Nggak bisa tidur, dan Mas kepikiran kamu terus dari tadi. Mas juga nggak bohong kalau kangen"
"Bener kan dia itu aneh, bisa tau kalau aku lagi mikirin dia" Batin Raisa.
"Sa, kok diam??"
"Terus aku harus gimana??"
"Ya balas kek, "Raisa juga kangen sama Mas Adam", gitu juga Mas udah seneng kok"
"Ngarep banget ya??"
"Apa salahnya sih?? Kan minta di kangenin istrinya sendiri masa nggak boleh"
"Nggak boleh!! Kan udah ada wanita lain!!" Ingin Raisa berteriak di depan ponselnya namun suara itu tak keluar juga.
"Udah ah sana tidur. Besok masih banyak kerjaannya kan??"
"Tapi Mas janji, Mas akan secepatnya menyelesaikan masalah ini sebelum jadwal kamu periksa kandungan. Mas janji" Entah pendengaran Raisa saja yang bermasalah, atau karena koneksi internetnya yang buruk, tapi Raisa seperti mendengar suara Adam yang bergetar saat ini.
"Nggak usah pikirin itu, jadwal periksa bisa di undur sampai Mas pulang kok. Jadi nggak usah khawatir" Raisa juga akhirnya berubah lebih lembut. Suasana hatinya mudah sekali berubah hanya karena mendengar suara Adam itu.
"Iya, tapi Mas bakalan cepat pulang"
"Iya iya, sekarang tidurlah"
"Hemm, kamu jaga diri baik-baik"
"Iya, kamu juga"
"Selamat malam Raisa.....sayang"
Sayup-sayup Raisa mendengar kata itu dari Adam karena Adam seperti sengaja menjauhkan ponselnya sebelum akhirnya memutus panggilannya lebih dulu.
__ADS_1
Di saat Raisa masih terkejut dengan apa yang ia dengar, di tempat lain, Adam justru tersenyum simpul karena bisa mendengar suara istrinya setelah seharian ini Raisa begitu susah ia hubungi.
Pria itu sudah seperti remaja yang baru merasakan jatuh cinta. Berkali-kali dia melihat ponselnya yang terdapat siluet seorang wanita yang teramat cantik.
"Mas cinta sama kamu Sa"
Satu kalimat yang begitu dalam dan menggetarkan seluruh jiwa dan raga. Satu kata yang sampai saat ini masih sulit meluncur dari bibir Adam untuk wanita pujaannya. Wanita yang teramat dia cintai. Meski Ayu adalah orang pertama yang mengetahui cintanya itu untuk Raisa.
"Tunggu Mas!!" Adam berhenti tanpa berbalik.
"Kenapa kamu nggak pernah mau terima aku di hati kamu?? Apa karena istri kamu itu?? Dia wanita itu kan?? Dia wanita yang kamu cintai selama ini??"
Deg...
Adam masih diam tak bergeming, mematung dan membeku. Ibarat pencuri yang sudah tak berani lagi berkelit.
"Jujur sama aku Mas!!" Ayu sudah menangis terdengar dari suaranya yang parau dan mulai bergetar.
"Ya, aku mencintainya. Sangat mencintainya sampai aku tidak rela menunggunya sampai kapan pun"
Seandainya saja pernyataan cinta itu bisa terucap di depan Raisa. Namun nyatanya, sampai saat ini Adam masih setia memendamnya. Hanya menjadi pria pengecut yang menyembunyikan semuanya di balik wajah dingin dan acuh tak acuhnya.
"Tapi kenapa Mas?? Kenapa kamu tidak pernah melihat sedikitpun ke arahku?? Di sini aku selalu menuggu mu, tidak bisakah kamu memberikan sedikit saja hatimu untukku??"
Adam sebenarnya sudah tak tahan berada di sana apalagi dengan keadaan Ayu yang menangis seperti saat ini. Dia tidak ingin menarik perhatian banyak orang karena apa yang terjadi pada Ayu saat ini.
Adam berbalik menatap wanita yang telah berurai air mata itu.
"Ayu, aku tidak pernah menyuruh mu untuk menunggu. Dari awal sudah aku tegaskan kalau aku nggak punya perasaan apapun sama kamu. Kamu yang berharap lenih sama aku. Jadi sekarang jangan seolah-olah aku yang salah di sini"
"Dan satu lagi aku ingatkan!!" Ayu mengangkat kepalanya menatap Adam yang sudah sangat datar menatapnya.
"Aku tidak pernah menyetujui perjodohan antara kita. Aku bukan anak Ibu, jadi aku berhak menolaknya. Seandainya aku anak kandungnya pun, aku tetap berhak menolaknya"
"Mulai sekarang, berhenti mengharapkan apapun dari ku. Aku sudah menikah dan sangat mencintai istri dan calon anakku. Jadi mengertilah, permisi" Adam berbalik, pergi meninggalkan Ayu yang kini tal malu lagi terisak.
Adam tak menyesal karena telah membuat Ayu menangis seperti itu, karena sudah berkali-kali pula Adam menjelaskan jika dia hanya menganggap Ayu sebagai temannya saja, tidak lebih dari itu.
__ADS_1
Adam kembali mantap foto Riasan yang dia ambil secara diam-diam sejak beberapa tahun yang lalu itu.
"Tunggu Mas pulang Sa"