Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Ajun, Adam junior


__ADS_3

Raisa merasakan kebas pada tangan kirinya, hingga tidurnya mulai terusik. Dia juga ingat kalau dia sama sekali belum mandi tadi sore, makan malam pun pasti juga sudah lewat karena perutnya yang mulai melilit dan melihat kamarnya yang sudah gelap.


Raisa sama sekali belum sadar jika di sampingnya telah terbaring dengan nyaman suaminya yang sejak beberapa hari ini membuatnya uring-uringan. Padahal dia baru saja melepaskan lengan Adam yang Raisa peluk sejak tadi. Namun memang lampu kamarnya yeng belum dinyalakan sepenuhnya membuat kamarnya sedikit gelap.


Hingga Raisa sadar jika ada suara hembusan nafas lain di sampingnya. Rasa terkejutnya membuatnya langsung duduk dan menyalakan lampu meja yang ada di samping tempat tidurnya.


"Mas Adam??" Gumam raisa masih dengan keterkejutannya.


"Kapan dia pulang??" Raisa melihat jam kemudian melihat penampilan Adam yang masih menggunakan baju kerjanya.


"Dia pasti kelelahan" Ucap Raisa sembari tangannya mengusap dahi Adam yang sedikit berkeringat. Memang Raisa sengaja mematikan AC di kamarnya karena beberapa hari ini dia merasa udara di kamarnya begitu dingin.


"Sa" Berbeda dengan Raisa yang tak terusik sedikitpun dengan belaian, kecupan juga suara Adam tadi. Adam justru langsung terbangun hanya dengan usapan di dahinya itu.


"Kamu pulang jam berapa??"


Adam melihat jam tangannya sebentar lalu menegakkan tubuhnya dengan bersandar pada kepala ranjang.


"Tadi jam tujuh baru sampai. Maaf ya nggak ngabarin kamu dulu. Mas dari kemarin sibuk terus biar bisa cepat pulang. Terus tadi hp Mas lowbat jadi nggak bisa kasih kabar sama sekali"


Melihat Adam yang tampak begitu letih, Raisa mengabaikan begitu saja kekesalannya selama beberapa hari ini.


"Nggak papa, kamu udah makan belum??"


"Belum, kamu juga belum kan??" Bagaimana dia bisa makan malam, yang ada di otaknya saja bagaimana caranya dia bisa sampai rumah secepatnya untuk menemui Raisa, makan siang saja tadi dia lewatkan.


"Ya udah ayo turun, aku siapkan buat kamu"


"Mas mandi terus sholat dulu ya, baru nyusul ke bawah" Adam sudah beranjak dari ranjangnya.


"Kita barengan aja, aku juga belum sholat"


Adam sama sekali tak keberatan, dia justru tersenyum sumringah. Karena memang beberapa hari ini mereka tidak bisa sholat berjamaah.


*

__ADS_1


*


*


Malam berganti pagi, kedua insan itu juga baru membuka kedua matanya. Ranjang yang kemarin di anggap Raisa terlalu luas itu sekarang sudah kembali terisi lagi dengan penghuninya.


Sampai saat ini Raisa pun tak menyangka jika dia bisa tidur di ranjang yang sama dan di bawah selimut sama dengan Adam.


Namun pagi yang sedang di nikmati oleh Raisa itu harus terusik karena Raisa yang merasakan gatal pada beberapa bagian tubuhnya.


Raisa menyibak selimutnya, tak tahan dengan rasa gatal yang tiba-tiba menyerangnya. Dia bahkan menggaruk tangan, leher dan juga punggungnya dengan cepat dan bergantian.


"Aduh kenapa sih ini?? Jangan-jangan ada ulat bulu atau semuanya nih" Raisa melihat ke sekelilingnya yang tak terdapat apa-apa.


"Kenapa Sa??" Adam menguap dan mengucek matanya.


"Gatal" Jawab Raisa singkat sambil terus menggaruk bagian-bagian yang gatal dan perih itu.


Adam yang begitu sigap langsung meraih tangan Raisa, melihat kulit putih istrinya yang mulai timbul bercak merah juga bekas kuku yang Raisa gunakan untuk menggaruknya.


"Tapi ini gatel banget Mas, nggak tahan"


"Ini persis kaya Mas kalau makan seafood. Reaksinya pasti kaya gini. Kamu nggak ada alergi kan??"


Raisa menggeleng tapi dia ingat jika tadi malam dia sempat makan udang goreng tepung kesukaannya.


"Tadi malam aku makan udang, tapi masa bisa alergi. Kan dari dulu nggak papa" Raisa masih meringis menahan rasa gatalnya.


"Apa karena kamu lagi hamil anak Mas, makanya kamu ada reaksi kaya gini??"


Pikiran yang konyol sebenarnya, bahakan terkesan tidak mungkin tapi nyatanya memang seperti itu.


"Aneh nggak sih??" Raisa setengah percaya tak percaya.


"Bentar, Mas ambil salep dulu. Jangan di garuk" Tentu saja Adam selalu menyimpan persediaan obat di dalam tasnya karena bisa saja alerginya itu kabuh sewaktu-waktu.

__ADS_1


Secepat kilat Adam sudah membeli lagi ke samping Raisa. Di raihnya tangan Raisa, lalu Adam mengoles salep yang terasa dingin di kulit itu dengan lembut. Bahkan Adam membuat Raisa canggung karena tangan Adam sudah bergerak mengoles salep di leher Raisa. Rasanya dingin, geli dan aneh tak dapat di jelaskan.


"Nanti kita periksa aja ke dokter ya?? Sekalian periksa kandungan kamu"


Raisa hanya mampu mengangguk, menolak pun tak ada alasan karena memang dia menunggu saat ini, di mana Adam akan mengantarnya ke dokter untuk melihat calon anak mereka.


"Sekarang buka bajunya!!"


"Hah, apa??" Bukan karena taj dengar, tapi Raisa tak terkejut dengan perintah Adam.


"Jangan kotor dulu pikirannya, Mas cuma mau oles salep di punggung kamu aja. Gatal juga kan??"


Raisa bingung harus bagaimana, dia tentu saja malu meski Adam sudah sepenuhnya menyentuh tubuhnya. Tapi rasa gatal di punggungnya sudah tidak bisa di tahan lagi.


"Hadap sana aja kalau malu, Mas cuma sebentar aja kok" Raisa akhirnya menuruti perintah Adam untuk duduk membelakanginya. Dengan ragu dia membuka kancing piyamanya. Menyatukan rambutnya ke samping lalu menurunkan lengan bajunya hingga menampakkan punggung putih mulus miliknya di hadapan Adam.


Glek...


Adam menelan ludahnya dengan kasar. Kalian para pria pasti tau bagaimana reaksi adik kecil milik Adam di pagi hari seperti saat ini. Di tambah melibat pemandangan indah membuat Adam semakin bergelora. Adam juga baru sadar jika punggung indah itu tak terhalang b*a sama sekali. Karena Raisa termasuk pengikut tidur tanpa b*a selama ini, dan Adam tak tau itu.


"Mas, cepat dong!!" Raisa sudah sangat malu dan menahan gatal malah Adam tak kunjung mengoles salep ke punggungnya.


"I-iya" Tangan Adam bergerak dengan pelan menyentuh kulit punggung Raisa setelah sebelumnya mengoles salep pada ujung jarinya.


Serrr...


Tak hanya Adam, tapi Raisa juga merasakan desiran yang sama saat kulit mereka bersentuhan. Apalagi Adam, dia sampai mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mengembalikan fokusnya.


"Tahan Dam, tahan" Adam mati-matian menahan dirinya agar tidak lepas kendali dan memeluk tubuh indah itu dari belakang, mencium tengkuk Raisa dan memainkan lidahnya di sana.


"Si Ajun s*alan!!" Adam mengumpat dalam hati.


"Udah Sa, Mas ke kamar mandi dulu" Belum juga Raisa menjawab tapi Adam sudah meloncat dari ranjang dan berlari menuju ke kamar mandi. Bahkan Raisa mendengar Adam menutup pintu dengan keras.


"Dasar aneh!!" Cibir Raisa yang tidak tau sama sekali jika suaminya itu memilih pergi ke kamar mandi agar tidak menyerangnya dengan beringas.

__ADS_1


__ADS_2