Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Menemukan orangnya


__ADS_3

Grepp....


"Mas??" Raisa terkejut karena Adam yang tiba-tiba memeluknya dengan erat.


"Ada maslah apa??"


Sejak tadi Raisa mencari Yuli untuk mencari tau maslah apa yang terjadi di perkebunan. Tapi Raisa juga tidak melihat Yuli di manapun. Mbah Welas juga tidak tau apa-apa. Apalagi Fany yang seharian menemani Stevi yang nyeri datang bulan.


Tapi melihat suaminya baru pulang hampir Maghrib seperti itu, juga dengan wajah lesu, membuat Raisa semakin khawatir.


"Ayo duduk dulu, Ica buatkan teh panas buat Mas ya??" Adam mengangguk dalam pelukan Raisa. Pria itu lekas melepaskan tangannya dari pinggang Raisa dan membiarkan istrinya pergi ke dapur.


Tak lama berselang, Raisa kembali dengan secangkir teh yang masih memperlihatkan asap mengepul.


Dia melihat suaminya berdiri di jendela, menatap pemandangan luar yang sudah mulai gelap.


"Di minum dulu tehnya Mas" Raisa meletakkan tehnya di atas meja. Lalu dia meraih tangan Adam untuk duduk di kursi. Sementara Raisa memilih menutup rapat jendela kamarnya.


Dia tidak akan mendesak suaminya untuk bercerita saat ini. Nanti saat Adam sudah lebih tenang, pasti dia akan bercerita dengan sendirinya.


"Hati-hati masih panas" Ucap Raisa saat Adam sudah mengangkat cangkir tehnya.


Adam meniupnya lebih dulu, sebelum menyeruput teh yang beraroma melati itu.


"Makasih sayang" Adam meraih tangan Raisa yang masih berdiri di sampingnya.


"Mas mau mandi dulu?? Ica siapkan bajunya ya??"


"Disini dulu temani Mas" Ucap Adam di selingi gelengan. Dia lantas menarik Raisa hingga jatuh ke pangkuannya.


Adam memeluk erat pinggang Raisa dan menyandarkan kepalanya pada dada Raisa.


"Kalau kaya gini rasanya nyaman banget yank" Raisa yang tak ingin memperburuk suasana hati istrinya memilih diam tanpa protes. Dia justru mulai mengusap rambut suaminya dengan lembut.


"Dari dulu, kaya gini yang Mas pingin Ca. Mas sudah nggak punya siapa-siapa di dunia ini. Di saat ada masalah, Mas pingin peluk kamu, pingin bersandar sama kamu. Dan sekarang, harapan Mas terkabul juga"


Cup...


Raisa mengecup pucuk kepala Adam. Tiba-tiba saja dia merasakan sakit pada hatinya saat tau harapan kecil Adam itu.


"Sekarang, Ica ada buat Mas. Ica akan ada buat Mas kapanpun Mas butuhkan. Ica milik Mas sekarang"

__ADS_1


Adam mengeratkan pelukannya, menghirup aroma lembut dari parfum Raisa.


"Maaf Mas baru pulang jam segini. Tadi ada masalah di kebun, tapi besok Mas masih harus memastikan dugaan Mas saat ini" Adam menghirup wangi Raisa dalam-dalam.


"Tanaman cabai, tomat, dan kacang panjang semuanya layu dan mati. Padahal, kemarin sore saat Mas Dodo masih menyiramnya, terlihat baik-baik saja dan subur"


"Kok bisa?? Apa ada hama Mas??" Raisa sempat ingat saat sekolah dulu, jika salah satu penyebab tanaman mati adalah karena terserang hama.


Tapi Adam menggeleng, dan menjelaskan semua yang dia temui di kebun tadi.


"Mas Adam tau siapa pelakunya??"


Adam terlihat membuang nafasnya kasar lalu mengangguk dengan pelan.


Tadi, setelah dia memerintahkan Hanif untuk mengurus lahan yang terkontaminasi itu, Adam menuju kantor menemui Yuli.


Dia memeriksa semua cctv yang ada di area perkebunan. Meski lahan cabai dan tomat cukup jauh dari jangkauan cctv, Adam tetap yakin bisa menemukan sesuatu.


FLASHBACK ON


"Ndak kelihatan ada yang mencurigakan Dam. Ndak ada orang asing yang bertamu ke sini sejak kemarin pagi" Yuli berada di samping Adam saat melihat rekaman cctv.


"Aku yakin bisa menemukan petunjuk Mbak. Kalau kemarin sore tanamannya masih bagus saat di siram sama Mas Dodo, berarti ada orang yang memasukkan obat itu sebelum Mas Dodo mulai menyiramnya"


Adam terus mengulang cctv di berbagai titik, meski jaraknya jauh. Adam tak melewatkan sedikitpun.


Hingga dia fokus pada salah satu video di dekat perkebunan cabai.


Seseorang yang terlihat seperti pekerja pria yang sedang bekerja seperti yang lainnya. Tapi yang menarik perhatian Adam adalah, orang itu tampak berhenti di dekat tandon air. Kemudian pria itu berjalan lagi ke arah perkebunan cabai, menyisirnya semakin dalam hingga hilang tak terlihat cctv, namun kembali terlihat muncul di area tomat. Lalu pria itu berbalik ke arah area tanaman cabai, dan hilang lagi tertutup tandon air.


Adam yakin, orang itu memasukkan obat itu dari belakang tandon saat dia tidak terlihat cctv. Dia sengaja mengecoh cctv dengan bergerak tak beraturan di antara tanaman cabai dan tomat.


"Mbak tau orang ini??" Adam menunjukkan videonya pada Yuli.


"Yo ndak tau to Dam, jauh gitu nggak kelihatan mukanya" Yuli sampai menyipitkan matanya untuk memperjelas pengelihatannya.


Adam kembali memutar cctv. Jika orang itu bisa masuk seperti pekerja di sana. Pasti orang itu masuk dari depan seperti pekerja yang lainnya. Adam memutar jauh video itu saat pagi hari. Di mana para pekerja berangkat di jam yang sama, yaitu jam 8 pagi.


"Kalau ini Mbak??" Sekarang gambar lebih jelas, pria yang terlihat masih muda, mengenakan baju biru serta penutup kepala seperti kupluk, persis dengan orang yang di curigai Adam.


"Kalau ini kayaknya Yudi Dam. Kalau nggak salah dia udah dua bulan kerja di sini. Tapi masa dia orangnya??" Yuli hampir tak percaya.

__ADS_1


"Bisa lihat alamat atau apa saja yang berhubungan dengan dia Mbak??"


Yuli segera mencari fotocopy KTP milik Yudi dan menyerahkannya pada Adam.


"Kedung wungu??" Gumam Adam.


"Bu Ning juga berasal dari Desa ini Mbak"


Yuli langsung membekap mulutnya yang menganga karena terkejut itu.


"Jangan-jangan??"


Adam mencengkeram kertas kecil itu. Gemuruh di dalam dadanya sudah mulai membakarnya, tapi dia masih bisa menahannya.


FLASHBACK OFF


"Mas nggak nyangka kalau Bu Ning masih mengusik Mas dengan cara seperti ini. Mas juga nggak mungkin bertindak dengan begitu keras dengan wanita serakah itu. Mas sebenarnya sudah nggak mau berhubungan dengan dia lagi. Tapi kalau di biarkan, dia pasti akan membuat kekacauan lagi"


Adam menyusupkan wajahnya pada celuk leher Raisa.


"Bukannya Ica mau mempengaruhi Mas untuk berbuat jahat sama Bu Ning, tapi kalau tindakannya sudah kelewat batas seperti ini ya harus di beri peringatan tegas Mas"


"Mas nggak akan bawa kasus ini ke kantor polisi, Mas juga nggak mau minta ganti rugi. Besok rencananya, Mas akan mempertemukan Bu Ning dan orang itu di hadapan semua orang, termasuk Pak Rt dan Pak Kades. Biar Bu Nng mendapat sanksi sosial oleh warga di sini. Mas rasa itu lebih baik dan mungkin saja bisa menyadarkan Bu Ning"


Raisa tau sebenarnya suaminya itu tidak punya hati yang jahat. Tapi Adam hanya terlanjur kecewa. Seperti waktu kecewa terhadapnya.


"Ica ikut Mas aja enaknya gimana. Ica akan selalu di belakang Mas untuk mendukung Mas, karena Ica tau kalau Mas nggak mungkin mengambil keputusan yang akan merugikan banyak orang"


"Makasih sayang" Kini Raisa sudah melihat senyuman lagi di wajah Adam.


"Sama-sama Mas" Adam selalu terpesona saat melihat senyum Raisa yang begitu cantik.


"Hemm" Adam berdeham seolah tenggorokannya benar-benar kering.


"Mas mandi dulu ya, soalnya habis ini Mas mau tagih janji sama istri Mas yang katanya mau jadi istri yang baik" Bisik Adam ditelinga Raisa sampai membuta bulu kudungnya merinding.


"Emang malam ini jadi ya??" Tanya Raisa dengan ragu.


"Ya jadi lah yank, kan Mas mau buka puasa"


Raisa mengira jika masalah tadi membuat Adam lupa dengan keinginan itu. Tapi nyatanya, Adam malah mengumbar senyuman manis setelah mengingat rencananya malam ini.

__ADS_1


"Ica kira wajah Mas yang sendu tadi beneran, ternyata bohongan ya?? Yang ada cuma wajah mesum doang yang paling cocok" Cibir Raisa pada Adam yang sudah bangkit ke kamar mandi.


"Iya dong, dan kamu juga harus siap-siap. Nanti malam bakalan Mas mesumin" Kata Adam sambil mengedipkan sebelah matanya dan berhasil membuat Raisa menegang.


__ADS_2