
"Ya udah tante, makasih ya tante"
Raisa segera menghampiri Fany setelah Fany mematikan sambungan teleponnya.
"Gimana Fan??"
"Udah sampai rumah tadi siang katanya Sa. Tapi dari tadi belum keluar kamar sampai sekarang. Tapi nanti Tante Yasmin bakalan kabarin lagi"
Susahnya Raisa dan Fany untuk menghubungi Stevi, akhirnya Fany memutuskan untuk menghubungi Yasmin, Mamanya Stevi..
"Makin aneh kan Sa?? Gue yakin pasti ada apa-apa sama Stevi. Katanya dia pulang buru-buru karena ada kerjaan. Tapi nyatanya dia baru sampai tadi siang. Terus dia malah mengurung diri di kamar. Makin curiga dong gue"
Raisa hanya bisa membuang nafasnya saja. Tidak mungkin dia mencari kebohongan lain untuk menutupi masalah Stevi.
"Lo yakin nggak tau apa-apa Sa?? Gue ini juga sahabat lo Sa. Lo tega biarin gue nggak tau apapun kaya gini??"
Raisa memalingkan wajahnya, memilih duduk di sofa yang tadi sempat didudukinya.
"Gue nggak tau harus gimana Fan. Lo berdua sahabat gue. Dan gue juga berat ada di antara kalian berdua"
"Jadi pulangnya Stevi ada sangkut pautnya sama gue??" Fany langsung duduk merapat pada Raisa.
"Jujur sama gue Sa. Gue mohon"
Jantung Fany sudah berdetak kencang. Kalau dia tidak salah menebak, pasti itu ada sangkut pautnya sama Hanif.
Raisa terus menatap Fany, dia masih bimbang mengingat pesan Stevi untuk tidak berkata apapun pada Fany. Tapi dia juga ingin tau perasaan Fany pada Hanif itu bagaimana sebenarnya. Biar semuanya jelas dan Stevi tidak salah mengambil langkah untuk pergi.
"Sa, please" Fany terus menatap Raisa dengan wajah pemohonnya.
"Gue mau lo jawab jujur" Fany langsung mengangguk dengan sungguh-sungguh.
"Sebenarnya, gimana perasaan lo sama Mas Hanif?? Ingat, gue minta jawaban lo yang benar-benar jujur tanpa memikirkan soal Stevi!!"
Fany langsung membuang nafasnya, menyandarkan tubuhnya ke belakang dengan lemas.
"Udah gue duga kalau ini pasti ada hubungannya sama Mas Hanif" Lirihnya.
"Jadi??" Raisa belum mendapatkan jawaban dari Fany.
"Gue nggak ada perasaan apapun sama Mas Hanif Sa. Sumpah demi persahabatan kita, gue hanya anggap dia sebagai teman. Sejujurnya gue juga lagi dekat sama cowok, manager operasional di kantor Papa gue. Ntar kalau pulang ke Jakarta gue kenalin"
__ADS_1
Raisa sempat terperangah karena terkejut ternyata diam-diam Fany telah dekat dengan seseorang. Di samping itu, dia juga lega karena hubungan persahabatan mereka tidak akan goyah hanya karena cinta segitiga itu.
"Apa dia marah karena waktu itu gue pergi ke Puskesmas sama Mas Hanif??"
"Bukan karena itu"
"Terus??" Fany kembali menegakkan badannya.
"Maafin gue Stev"
Akhirnya cerita itu meluncur dengan mulus dari bibir Raisa. Dia akhirnya tidak menepati janjinya pada Stevi. Dia merasa memang harus menjadi penengah di antara kedua sahabatnya itu.
"Hah?? Benar-benar gila tuh laki!! Sombong amat, belagu!!"
"Kenapa sih kalau wajahnya di kasih lebih sama Tuhan tapi ternyata otaknya yang kurang" Fany langsung tersulut amarah setelah mendengar cerita dari Raisa.
"Sabar Fan, jangan marah-marah dulu"
Fany menarik nafasnya berkali-kali untuk mengendalikan dirinya.
"Tapi Sa, berarti sekarang Stevi salah paham sama gue dong?? Gue nggak bisa bayangin gimana sakit hatinya dia kemarin" Perasaan Fany langsung berubah sedih.
"Iya, gue nggak tega lihat dia nangis kaya gitu. Kita tau dari dulu, kalau dia nggak pernah nangis karena cowok. Tapi gue yakin sekarang kalau dia benar-benar cinta sama Mas Hanif makanya dia sehancur itu"
"Loh Fan, mau kemana lo?? Fan!!" Teriak Raisa dan ingin mengejar Fany namun sudah lebih dulu di tahan oleh seseorang.
"Pelan-pelan, mau kemana sebenarnya?? Kenapa harus lari-lari??" Adam sampai melotot pada Raisa karena begitu khawatir melihat istrinya berlari mengejar Fany.
"Jangan macem-macem, ingat kandungan kamu dong yank!!" Tegas Adam.
"Maaf Mas, Ica lupa. Ica cuma mau kejar Fany"
"Emangnya ada apa sampai kamu nggak mikirin kondisi kamu kaya gini??"
Raisa juga merasa bersalah pada dirinya sendiri karena tidak mengingat kehamilannya saat ini yang masih dalam tahap pemulihan. Andai saja Adam tidak datang menahannya, Raisa tidak tau lagi apa yang bisa saja terjadi pada kandungannya.
"Ica udah cerita tentang Stevi sama Fany Mas. Ica ada diantara kedua sahabat Ica Mas. Ica ingin tau perasaan Fany sama Mas Hanif itu gimana. Supaya kita nggak ada kesalahpahaman kedepannya. Dan nyatanya benar kalau Fany sama sekali nggak ada perasaan sama Mas Hanif. Jadi sekarang, sepertinya Fany mau menemui Mas Hanif. Terus gimana ini Mas??" Raisa cemas kalau sampai Fany lepas kendali di sana dan memaki-maki Hanif.
"Biarkan Fany menemui Hanif. Biar mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kamu cukup sampai di sini. Apa yang kamu lakukan susah benar"
"Tapi Mas.."
__ADS_1
"Sudah ayo masuk, Mas udah siapin makan siang buat kita. Kamu juga harus minum vitamin kan??" Raisa mengangguk pasrah. Mengikuti Adam masuk menuju meja makan.
Raisa mukai menikmati makan siang yang telah di siapkan Adam tadi. Sungguh Raisa tidak pernah meminta Adam untuk menyiapkan makanannya seperti itu. Tapi memang suaminya itu yang menginginkannya sendiri.
Adam yang telah lebih dulu menghabiskan makannya, kini beralih menatap Raisa yang sedang makan.
Di lihatnya bentuk tubuh Riasan mulai berubah lagi. Kini pipi Raisa mulai terisi lagi, dari yang sebelumnya tirus dan pucat kini sedikit mengembang dan juga cerah.
Pinggangnya yang awalnya ramping, kini ikut berubah di tambah parit buncitnya itu, membuat Raisa tampak lebih berisi.
"Awwww!! Apaan sih Mas, sakit tau!!" Keluh Raisa karena tiba-tiba Adam mencubit pipinya dengan gemas. Bahkan tertawa karena berhasil mencubit Raisa.
Sebenarnya tidak sesakit itu, tapi Raisa yang terkejut membuatnya kesal.
"Habisnya kamu lucu yank, pipi kamu mulai berisi lagi. Mas gemas" Ungkap Adam dengan jujur.
"Apa Mas?? Berisi?? Aku nggak mau gemuk Maasssss" Tiba-tiba Raisa merengek manja.
"Nggak papa dong yank, namanya juga lagi hamil. Mas juga suka kok"
Cup...
Adam mencuri ciuman di pipi Raisa. Tapi istrinya itu tetap saja menekuk wajahnya karena tidak mau di bilang gendut. Dia juga tidak mau gendut karena takut jika Adam akan terpincut wanita lain.
"Nanti kamu lirik cewek lain"
"Ya enggak dong, cuma kamu cintanya Mas" Adam menjadikan bahu Raisa sebagai tumpuan dagunya. Juga memeluk pinggang Raisa dari samping.
"Bohong!! Bisa aja kan, kalau aku udah gemuk terus jelek, kamu bakalan cari yang lebih seger"
"Mas cuma cinta sama kamu yank. Belah dada Mas ini kalau nggak percaya"
"Lebay kamu ah!!" Raisa mencebik namun bibirnya mengulas senyum.
"Ndut" Bisik Adam sambil menciumi pundak Raisa. Sepertinya itu menjadi hobinya sekarang.
"Mas panggil apa tadi??"
"Ndut, ndutnya Mas"
"Nggak mau ah!!" Tolak Raisa dengan tegas.
__ADS_1
"Biarin, pokonya Mas suka. Ndut ku sayang"
"MASSSS!!!"