
"Halo??" Raisa begitu merindukan suara itu.
"Papa, Raisa kangen Papa. Maaf Raisa baru bisa telepon Papa sekarang"
"Papa juga kangen kamu. Maafin Papa juga yang terlalu sibuk sampai nggak sempat hubungi kamu. Gimana masalah keadaan kamu?? Baik-baik aja kan?? Kandungan kamu udah sehat lagi kan??"
Raisa langsung melirik ke arah Adam, menatap suaminya dengan tajam. Raisa menebak jika Adam telah memberitahu Papanya tanpa sepengetahuannya.
"Udah sehat kok Pa, maaf nggak kasih kabar Papa waktu itu. Raisa nggak mau Papa khawatir. Papa juga lagi sibuk banget kan"
"Papa sebenarnya kecewa, tapi Adam sudah menjelaskan semuanya dan mengatakan kalau kamu sudah baik-baik saja jadi Papa sedikit lega. Besok kalau Papa senggang, Papa ke sana"
"Nggak usah Pa, rencananya besok minggu kita pulang ke Jakarta"
"Benarkah?? Ya udah kalau gitu Papa tunggu"
"Iya, Papa jaga kesehatan ya, jangan capek-capek"
"Kamu juga"
"Iya Pa, Ica tutup dulu ya teleponnya"
"Hemm, salam buat menantu Papa"
"Iya Pa, pasti Ica sampaikan sama mantu kesayangan Papa itu"
Raisa sempat mendengar Papanya tertawa sebelum dia mengakhiri panggilannya.
Adam yang sejak tadi sudah menyadari kesalahannya kini semakin di buat takut dengan tatapan tajam dari Raisa.
"Maaf yank, Mas merasa kalau Papa juga harus tau tentang keadaan kamu. Papa orang tua kamu satu-satunya. Gimana perasaan Papa nantinya kalau Papa nggak tau apa-apa tentang keadaan putrinya sendiri?? Mas juga kasih tau Papa saat kamu sudah di nyatakan sehat sama dokter kok"
Raisa masih menekuk wajahnya dan enggan menyahuti Adam.
"Maaf ya sayang" Adam memeluk Raisa dari samping dan menyandarkan kepalanya pada pundak Raisa.
"Sayang" Rengek Adam dengan manja. Adam akan berubah seperti anak kucing yang sedang merengek dengan Induknya kalau di diamkan Raisa seperti itu.
"Yank"
"Iyaa-iyaa" Jawab Raisa langsung membuat Adam kembali berbinar.
"Sekarang kamu minum vitaminnya lagi ya yank, tinggal satu lagi" Adam terus memaksa Raisa untuk meminum satu lagi vitaminnya yang ia sisakan sejak tadi, karena yang lainnya telah lebih dulu Raisa minum.
"Bentar Mas, Ica rasanya mual kalau minum yang itu. Baunya nggak suka"
"Tapi ini bagus buat kandungan kamu loh yank. Biar dedek di dalam sehat"
"Iya Mas, Ica tau kok. Ica bukan nggak mau, tapi rasanya eneg kalau minum itu"
Adam akhirnya menyerah, menunggu Raisa yang akan meminumnya sendiri nantinya.
"Ya udah, tapi nanti di minum ya" Adam mengusap rambut istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Iya pasti, Ica juga mau anak kita sehat"
Adam ikut mengusap perut Raisa seperti yang Raisa kini sedang lakukan.
"Mas nggak sabar mau lihat dia nendang-nendang di dalam sana yank"
"Bentar lagi kok Mas, kamu sabar ya" Raisa menatap suaminya yang jaraknya begitu dekat dengannya.
"Iya, Mas nunggu kamu bertahun-tahun juga sabar kok"
Cup....
Tiba-tiba Raisa mengecup bibir Adam sekilas. Dia selalu merasa sedih kalau mengingat hubungan mereka dulu.
Mengingat betapa kesepiannya Adam yang hidup seorang diri. Tidak ada tempat bersandar seperti yang dia katakan kemarin.
"Kamu kenapa Yank?? Ada yang sakit??" Adam memang terkejut dengan ciuman tiba-tiba dari istrinya. Tapi yang membuat Adam lebih terkejut adalah mata Raisa yang berkaca-kaca.
"Nggak papa Mas, Ica hanya bahagia karena sekarang Mas udah jadi suami Ica"
Adam mengulas senyumnya, Adam juga merasakan hal yang sama seperti istrinya itu.
"Mas juga bahagia sayang. Semoga kita selalu di beri kebahagiaan seperti ini ya. Nggak ada salah paham lagi kaya dulu"
"Iya sayang"
"Kamu bilang apa tadi?? Kamu panggil Mas apa?? Mas mau dengar lagi"
Adam merasa berbunga-bunga karena untuk pertama kalinya Raisa memanggilnya sayang.
Cup...
Adam mencium kening Raisa. Namun dia tak kunjung menjauhkan wajahnya. Dia justru menyatukan keningnya dengan Raisa. Berlama-lama dengan posisi seperti itu. Saling memejamkan mata menikmati suasana dengan perasaan yang sama.
"Dam!!"
Adam dan Raisa segera menjauhkan diri saat mendengar suara Yuli yang memanggilnya dari luar.
"Ada apa Mbak??" Tanya Adam saat Yuli muncul di ruang makan.
"Di luar ada Bu Ning. Mau ketemu kamu katanya penting"
"Sebenarnya aku udah males ketemu sama Bu Ning Mbak. Nggak mau terlibat masalah lagi sama dia"
"Temui dulu aja Dam, daripada dia mencak-mencak lagi" Bujuk Yuli yang tau betul bagaimana perasaan Adam.
"Ayo temui Bu Ning Mas, Ica temani" Raisa menggenggam tangan Adam, untuk meyakinkan suaminya itu.
Dengan sangat terpaksa Adam pun mengangguk, berjalan keluar dengan tangan yang tak lepas menggenggam Raisa. Yuli pun tersenyum tipis melihat kemesraan pasangan itu.
Adam menatap malas pada wanita berumur yang telah duduk di teras menunggu dirinya itu. Dia masih menerka-nerka apa yang membuat Ning datang menemuinya saat ini. Setelah kejadian kemarin, harusnya Ning sudah tidak punya muka lagi untuk ada di hadapan Adam.
"Adam, maafkan Ibu Dam"
__ADS_1
Belum juga Adam sampai di hadapan Ning, tapi wanita itu sudah lebih dulu menghampiri Adam dan bersimpuh di bawah kaki Adam.
"Maafin semua kesalahan Ibu Dam. Ibu menyesal, Ibu memang jahat" Ning menangis tersedu-sedu.
Raisa yang sempat terkejut dengan apa yang dilakukan ibu tiri suaminya itu langsung kembali tersadar karena genggaman tangan Adam yang semakin erat. Dia juga melihat rahang suaminya yang mengerat menahan amarah.
Raisa mengusap bahu Adam untuk menenangkan suaminya itu.
"Kenapa Bu Ning sampai seperti ini?? Apa Bu Ning nggak mau menurunkan harga diri Ibu sama saya??"
"Lebih baik Bu Ning berdiri. Saya tidak mau Bu Ning seperti ini. Karena ini justru membuat saya malu"
Ning mendongak menatap wajah Adam dengan nanar. Mata yang penuh air mata itu semakin di buat sayu dengan penolakan Adam.
"Tenang Mas" Bisik Raisa.
"Maafkan Ibu Dam. Ibu sangat menyesal, Ibu sudah mendapatkan balasan atas perbuatan Ibu sama kamu. Ibu janji kalau Ibu nggak akan ganggu kamu lagi Dam"
Ning yang kini mulai di jauhi semua orang. Mendapat cibiran di mana-mana karena tidak tau diri pada anak tirinya yang sudah memberinya begitu banyak uang dan yang lainnya.
Ning kini menganggap semua itu karma atas perbuatannya pada Adam dari dulu. Termasuk kejadian warung dan rumahnya yang terbakar.
Apalagi Adam yang masih bersedia membantunya memperbaiki rumahnya kembali. Ning merasa begitu berdosa.
"Mas, Ica yakin Mas tidak setega itu" Usapan lembut pada bahu Adam sejak tadi mampu membuat Adam kembali berpikir jernih.
"Saya sudah memaafkan Ibu, tapi saya minta Ibu pergi dari sini. Saya tidak menyimpan dendam, tapi rasanya saya tidak bisa melupakan masa kecil saya yang penuh derita. Jadi saya harap Bu Ning tidak datang menemui saya lagi"
Setelah itu, Adam masuk kembali ke dalam rumah. Meninggalkan Raisa di teras bersama Bu Ning.
"Sebaiknya Ibu berdiri dulu" Raisa masih sudi membantu Ning untuk berdiri.
"Saya sudah tau banyak tentang Bu Ning dari Mbah Welas dan yang lainnya. Jadi saya tidak menyalahkan Mas Adam kalau bersikap seperti itu pada Bu Ning. Tapi, saya yakin kalau Mas Adam jujur dengan perasaannya kalau dia sudah memaafkan Bu Ning dan tidak menyimpan dendam. Jadi saya harap Bu Nung juga sungguh-sungguh dengan kata maaf yang Bu Ning ucapkan tadi"
"Saya sadar kalau saya salah, jadi saya tidak akan marah dengan sikap Adam tadi. Saya juga sungguh-sungguh dengan pemintaan Maaf saya tadi. Terimakasih untuk pengertian kamu, tolong sampaikan maaf saya lagi untuk Adam. Sampaikan juga kalau saya ikut bahagia pernikahan kalian. Semoga kalian selalu bahagia, kamu juga di beri kesehatan sampai lahiran nanti. Saya permisi"
"Terimakasih banyak untuk doanya Bu"
Ning hanya mengulas senyum sedihnya pada Raisa lalu beranjak pergi dari sana. Membawa segenap rasa penyesalannya.
Raisa mencari Adam ke dalam kamarnya. Raisa yakin kalau suaminya pasti sedang sedih saat ini.
Mata Raisa menangkap sosok suami tampannya yang berdiri menghadap jendela dengan keuda tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celananya.
Greppp...
Raisa memeluk Adam dari belakang dengan begitu hangat. Dia tidak mengucapkan apapun, hanya ingin memberikan ketenangan pada suaminya seperti harapan suaminya sejak dulu. Menjadi tempat bersandar saat suaminya sedang rapuh.
Perlahan Raisa mulai merasakan punggung Adam yang bergetar, namun tidak ada suara tangisan sama sekali.
"Apa Mas jahat Ca?? Apa Mas sudah keterlaluan?? Apa Mas salah kalau bersikap seperti itu??"
"Tapi rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang Ca. Mas kira, dulu Bapak menikah lagi maka Mas akan mendapatkan sosok Ibu yang bisa menyayangi Mas, tapi nyatanya.." Adam sudah tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Mas nggak salah, Ica paham apa yang Mas rasakan. Ica nggak akan nyalahin Mas. Apa yang Mas lakukan sudah benar. Mas sudah berani memaafkan orang yang sudah menyakiti Mas begitu dalam. Ica bangga sama Mas"
Adam langsung memutar tubuhnya, kemudian memeluk Raisa, membawanya ke dalam dekapannya. Menumpahkan semua kesedihan, amarah dan kilasan masa lalu yang berputar di otaknya saat ini.