
"Kenapa?? Mau minta pisah kamar??"
Deg....
Lagi-lagi pikirannya bisa terbaca oleh Adam.
"Eng-enggak kok Mas"
Kegugupan Raisa itu malah membuat Mbah Welas tersenyum. Pasangan suami istri yang masih baru itu terlihat menggemaskan di mata Mbah Welas.
"Kamu itu kok yo ada-ada aja to Nang. Masa suami istri mau tidur terpisah. Lak yo lucu" Mbah Welas terkekeh karena tak tau apa yang terjadi. Tidur terpisah bukan lagi terlihat lucu bagi mereka namun hal yang biasa.
"Kenapa nggak di makan dari tadi??" Adam melirik nasi yang sejak tadi di aduk-aduk oleh Raisa. Bahkan Adam saja sudah enggan jika makan nasi yang sudah dingin dan mengembang seperti itu, karena Raisa menuangkan kuah sop ke dalam nasinya.
"A-aku udah kenyang Mas"
"Bohong, kamu pikir aku nggak lihat dari tadi kalau kamu belum makan sama sekali??" Kesal Adam karena Raisa tak menyentuh makanannya sama sekali. Dia juga teringat ucapan Stevi yang mengatakan jika Raisa jarang makan akhir-akhir ini.
Adam jadi tau kenapa pipi Raisa yang semula mulai chubby sekarang jadi tirus dan pucat seperti itu.
"Jangan galak-galak sama istrimu to Dam!! Raisa sedang hamil, dan biasanya memang nggak semua makanan bisa masuk ke dalam perutnya" Bela Mbah Welas.
"Kamu pingin makan opo Nduk?? Biar Yuli buatkan sekarang juga"
"Enggak kok Mbah, Raisa makan ini aja" Raisa langsung melahap nasi yang telah dingin itu.
Sebenarnya rasanya begitu pahit di lidahnya. Bukan karena masakannya tak enak. Tapi memang karena dirinya yang tak nafsu makan akhir-akhir ini.
"Sudah, kalau nggak enak jangan teruskan. Ambil yang baru" Adam menahan tangan Raisa.
"Ini enak kok Mas, jadi biar aku makan ini aja" Raisa senang karena Adan terlihat kembali memperhatikannya.
"Ck, keras kepala" Gumam Adam yang hanya di dengar oleh Raisa saja.
"Mbah, Adam ke dalam dulu ya. Mau siap-siap sholat maghrib"
__ADS_1
"Yo tunggu istrimu dulu to Nang!!"
Tapi Adam tak menggubris Mbah Welas, dia tetap pergi meninggalkannya ke dala kamar.
"Ndak usah dipikirkan yo??" Yuli tiba-tiba datang dan duduk di bangku Adam tadi.
"Nggak papa kok Mbak" Raisa meringis menahan gejolak hatinya yang sudah mulai biasa mendapat sikap dingin dari Adam.
"Tapi, sebelumnya Mbak pingin bilang makasih banyak sama kamu"
Raisa meletakkan sendoknya, lalu menatap Yuki dengan penuh tanda tanya.
"Makasih untuk apa Mbak??"
"Aku sama Simbah, mengucapkan banyak terimakasih sama kamu dan orang tua kamu yang sudah menerima Adam di keluarga kalian"
Raisa semakin bingung karen kini Yuli tampak berkaca-kaca menatapnya.
"Tentu saja kita menerima Mas Adam Mbak, dia orang baik" Raisa merasa sok suci ketika mengatakan itu, padahal awalnya dia sering sekali menuduh Adam dengan macam-macam.
"Benar, dia pria yang baik sekaligus anak yang malang. Kalau ingat perjuangannya dulu, pasti nggak akan ada orang yang tega nyakitin dia" Timpal Mbah Welas.
"Maaf Mbah, kalau Raisa boleh tau, sebenarnya Mbah ini Ibu dari Bapak atau Ibunya Mas Adam??"
Yuli tampak menatap Mbah Welas dan mendapat sebuah anggukan dari wanita tua itu.
"Sebenarnya, aku sama Mbah ini bukan siapa-siapa Adam. Kami hanya orang yang dulu terenyuh untuk membatu seorang anak kecil yang begitu malang"
Raisa tampak terkejut dengan penjelasan Yuli, namu dia berusaha untuk tetap mendengarkan cerita mereka sampai selesai.
"Jadi dulu, Mbah bekerja di perkebunan yang ada di bawah perkebunan milik Adam ini. Saat itu, Mbah bertemu sama anak kecil yang juga ikut bekerja di sana. Anak malang yang baru berusia sepuluh tahun tapi sudah bekerja setelah pulang sekolah" Mbah Welas berkaca-kaca menatap Raisa.
"Awalnya Mbah mengira jika dia tidak punya orang tua karena dia sudah bekerja di sana, apalagi Mbah ini pendatang jadi belum tau betul warga di sini. Tapi setelah beberapa hari berlalu, Mbah tau kalau ternyata Adam itu masib punya orang tua. Yaitu Ning dan Bapaknya yang lumpuh"
"Adam di paksa Ning untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan Ning, juga sebagai imbalan karena Ning merawat Bapaknya yang lumpuh"
__ADS_1
"Setiap pulang sekolah Adam akan pergi ke perkebunan dengan perut kosong sejak pagi. Karena Ning tidak pernah pernah memberinya makanan bahkan uang hasil Adam bekerja sudah dia rampas semuanya"
Mbah Welas dan Yuli sudah berkali-kali mengusap air matanya karena ingat perjuangan Adam sejak dulu.
"Mbah yang tidak tega melihat malangnya anak itu, akhirnya membawakan bekal untuk Adam saat bekerja karena di perkebunan itu, tidak di berikan jatah makan siang. Setelah pulang bekerja, Adam juga mampir ke rumah Mbah untuk makan malam dulu sebelum pulang ke rumah. Dan Yuli yang sering memasakkan makan malam itu untuk suamimu dulu, karena kita tau kalau Ning tidak akan menyisakan makanan sedikitpun untuk Adam makan malam"
"Semua itu terus terjadi sampai akhirnya Adam masuk SMA, Adam mendengarkan saran dari Mas Widodo untuk mengumpulkan sebagian uangnya untuk dirinya sendiri. Untuk masa depan dia dan melawan tekanan dari Ning"
"Hingga waktu itu, Adam yang termasuk siswa yang cerdas mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jakarta. Meninggalkan Ning dan Bapaknya yang lumpuh itu di sini. Adam mulai menata hidupnya dengan bekerja dengan lebih layak. Tidak di perkebunan lagi seperti dulu"
"Waktu terus berjalan, sampai akhirnya Adam mulai memilki tabungan dan membeli beberapa bidang tanah yang sekarang menjadi perkebunan ini. Semua ini di garap sesuai dengan arahan Adam namun di kelola oleh Widodo, suami Yuli. Tak di sangka semua berjalan lancar dan Adam bisa semakin memperluas perkebunannya hingga sekarang jadi seluas ini. Di tambah lagi peternakan di paling ujung sana juga sudah menjadi sumber penghasilan Adam selama ini"
"Adam yang dulu hanya anak yang di sia-siakan justru sekarang membuka lapangan pekerjaan bagi lebih dari 100 orang pekerjanya"
Tak terasa air mata Raisa sudah membasahi seluruh pipinya. Betapa buruknya selama ini dia kepada Adam. Jahat mungkin lebih pantas di sebut untuk Raisa.
Dia tidak menyangka jika suaminya yang sering ia hina itu ternyata sehebat itu. Adam bukanlah orang miskin yang tak punya apa-apa. Melihat betapa luasnya perkebunan Adam saja sudah membuat Raisa mengira-ira pundi-pundi keuangan Adam.
Sekarang dia tau bagaimana bisa Adam membeli saham perusahaan Papanya waktu itu.
"Namun semua itu malah membuat Ning semakin menjadi. Ning terus mengejar Adam, meminta Adam untuk menuruti keinginan ya dengan alasan bales budi. Dia meminta rumah, tanah, mobil, warung, dan banyak lagi. Juga terus mendesak Adam untuk menikahi Ayu, putri dari temannya Ning yang sering dia pinjami Uang"
"Terus sekarang, kenapa Ibu Ning itu masih terus seperti itu sama Mas Adam Mbah?? Bukannya keinginan sudah di turuti??"
"Dia masih berambisi untuk menikahkan Adam dengan Ayu dan menguasai perkebunan ini"
Raisa tak habis pikir, kenapa ada wanita serakah seperti itu. Apalagi dia dulu pernah mendengar sendiri kalau Ning menghasut Adam waktu itu.
"Sudah, kita lanjutkan besok lagi. Sekarang sudah maghrib. Adam pasti menunggu mu untuk sholat berdua. Sana masuk" Yuli mengusap pundak Raisa dengan lembut.
"Iya Mbak" Raisa mengusap habis air matanya lalu berjalan menuju kamar yang tadi.
Cklek...
Dengan begitu pelan dan meminimalisir suara serendah mungkin, Raisa tidak ingin mengusik Adam yang bisa saja marah karena merasa terganggu.
__ADS_1
"Mas" Raisa sedikit terkejut karena Adam tengah duduk di sofa dengan mata menatap ke arahnya.
"Sudah tau semuanya sekarang??"