
Satu jam berlalu, Raisa pun telah mengganti bajunya dengan piyama tipis berbahan satin yang membalut tubuhnya yang semakin sintal karena kehamilannya itu.
Dia berjalan menuju jendela kamarnya, menatap lurus ke arah paviliun yang masih begitu terang. Menandakan penghuninya belum terlelap saat ini.
Sepertinya Raisa tak kapok dengan sikap dingin yang Adam tunjukkan, karena sekarang wanita hamil itu berjalan keluar kamarnya menuju tempat dimana suaminya bersembunyi. Dia tidak peduli jika Adam akan menolaknya lagi. Dia juga tidak peduli bila harus tidur di sana yang penting bisa dekat dengan Adam.
"Bantu Mama ya sayang" Raisa mengusap perutnya sambil kakinya terus membawanya ke paviliun.
Pintu paviliun yang terbuka sedikit membuat Raisa bisa melihat Adam yang tengah duduk di ranjang membelakanginya saat ini.
Raisa memang dari dulu penasaran dengan tubun indah Adam yang selalu pas di bungkus dengan kemeja dan kaos. Raisa selalu membayangkan betapa indahnya tubuh berotot itu. Bahkan setelah pernikahan mereka, Raisa belum mempunyai kesempatan untuk melihat tubuh yang bisa membuat wanita menjerit itu.
Tapi sekarang, semua itu terpampang di hadapan Raisa. Adam melepas baju bagian atasnya, memperlihatkan punggungnya yang kokoh dan berbalut perban itu di depan mata Raisa. Tapi bukannya Raisa tersipu malu karena melihat pemandangan indah, tapi mata Raisa justru mulai berembun.
Raisa memberanikan diri mendorong pintu itu lebih lebar. Dengan perlahan dia masuk ke dalam mendekati Adam tanpa pria itu sadari. Adam saat ini terlihat asik dengan ponselnya.
Hingga kini Raisa tepat berada di sampingnya. Mata yang biasanya menunjukkan kilat kebencian itu kini sudah tak bisa lagi menahan bendungan air matanya.
Tangannya terangkat ingin menyentuh banyaknya bekas luka pada tubuh Adam. Di punggung, yang tidak tertutup perban itu Raisa bisa melihat dua bekas luka yang cukup panjang, serta pada pinggang kiri dan kanannya, juga pada bahu Adam sebelah kanan terdapat luka berbentuk bulat seperti bekas peluru.
"Kenapa aku tidak pernah tau kalau dia punya banyak luka kaya gini??"
"Dan semua luka ini dia dapat karena melindungi ku??"
"Benar jika Mas Adam mengatakan jika dia mencintai wanita yang salah. Aku memang tidak pantas di cintai"
Tapi sayang tangan Raisa itu harus berhenti di udara karena Adam lebih dulu sadar jika ada Raisa di sampingnya. Cepat-cepat dia berdiri, lalu menyambar kemeja, kemudian memakainya dengan cepat seolah tak mengijinkan Raisa melihat semua luka pada tubuhnya itu. Raisa bahkan bisa melihat Adam meringis kesakitan karena pasti lukanya terasa sakit saat memakai kemeja itu.
Siapa yang tidak sakit mendapat perlakuan seperti itu. Tentu sada Raisa merasakan kepedihan yang tiada tara. Hatinya kembali porak poranda mendapatkan berkali-kali penolakan dari pria yang masih menduduki tahta tertinggi dalam hatinya.
__ADS_1
"Mau apa ke sini??" Pemilik suara itu bahkan tak mau menatap Raisa.
"M-mas Ica hanya ma..."
Adam tampak tersenyum sinis mendengar Raisa menggunakan nama Ica lagi di hadapannya.
"Kalau Nona datang ke sini untuk minta maaf, harusnya Nona bisa menebak jawabannya. Apa mungkin saya bisa memaafkan Nona begitu saja??"
Raisa ingin berteriak minta tolong saat ini. Siapapun yang bisa membantunya memberi penawar untuk hatinya yang terlewat sakit.
"Aku tau Mas, Aku tau dan aku sadar kalau Mas akan sulit atau bahkan tidak ingin memaafkan ku" Raisa menarik nafas panjang untuk menahan diri agar tidak menangis sesenggukan di sana meski sejak tadi wajahnya sudah bergelimang air mata.
"Bagus kalau Nona tau" Tak ada lagi yang bisa menggambarkan sakit hatinya Raisa saat ini.
"Tapi tolong beri aku kesempatan Mas, aku akan berubah dan percaya sama Mas. Aku menyesal karena terhasut dengan mereka"
"Mas boleh marah, boleh membenciku, tapi beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku benar-benar menyesali perbuatan ku Mas"
Adam masih tak bergeming meski telinganya mendengar jelas suara Raisa yang bergetar hebat. Wanita itu tampaknya berusaha sebisa mungkin menahan tangisannya saat ini.
Raisa mendekati Adam, tak peduli pria itu akan menolaknya lagi. Menepisnya atau mendorongnya sekalipun. Tapi Raisa ingin sekali meraih Adam dengan tangannya.
Grepp....
Tapi nyatanya Raisa justru menghambur memeluk Adam dari belakang. Menangis terganggu di punggung penuh luka itu.
"Maaf Mas, Maaf hiks..hiks.."
Adam masih diam, tak ada niatan berbalik badan dan menarik Raisa ke dalam pelukannya. Dia terlanjur sakit hati, dia kecewa. Cintanya untuk Raisa memang tak pernah terungkap selama ini. Tapi mendapat pengkhianatan dari Raisa setelah Adam berprasangka jika cinta Adam mulai bersambut telah menguatnya patah hati.
__ADS_1
Sikap Raisa akhir-akhir ini nyatanya membuat Adam salah paham. Raisa hanya berpura-pura menerima Adam selama beberapa bulan ini. Tak menyangka jika ada niat licik di balik sikap Raisa yang membuat Adam semakin mencintainya.
Sekarang Adam pasrah, dia sudah mengubur kembali cinta itu. Memang lebih baik jika dari awal tidak berharap lebih dari Raisa. Akan lebih baik jika dari awal Adam selalu ingat siapa dirinya dan siapa Raisa.
"Lepaskan!!" Suara itu tegas, dingin dan tak ingin di bantah.
Tapi Raisa menggeleng di balik bahu Adam. Tak peduli kemeja Adam kini telah basah dengan air matanya. Tangannya justru semakin erat melingkar pada pinggang Adam.
"Lepas atau saya pergi dari sini!!"
Raisa tidak mau, jelas dia tidak mau Adam pergi dari sana apalagi malam hari begini. Adam masih sakit, juga Raisa lebih baik di diamkan Adam daripada harus melihat Adam pergi darinya.
Dengan tak rela, Raisa melepaskan punggung yang sangat nyaman untuk di bersandar itu.
"Sekarang keluarlah, saya mau istirahat"
Tampaknya malam ini Raisa tidak bisa membujuk Adam. Sedikitpun tidak bisa mencairkan kemarahan Adam kepadanya.
"Boleh nggak kalau aku di sini temani Mas Adam??" Meski Raisa tau jawabannya, tapi dia tetap mencoba keberuntungannya.
"Saya tidak mau membuat Nona kotor karena tempat ini sangat menjijikkan"
Raisa memejamkan matanya, menelan kalimat menyakitkan yang dulu sempat keluar dari bibirnya sendiri.
Sungguh terlalu sesak sampai Raisa tak bisa bertahan lebih lama di sana, dia memilih berbalik pergi meninggalkan Adam.
"Tunggu!!" Raisa berhenti di ambang pintu.
"Jawab dengan jujur, sebenarnya apa alasan Nona begitu membenci saya!!"
__ADS_1
Raisa berbalik, memperlihatkan mata yang penuh dengan luka seperti milik Adam saat ini. Namun bedanya, mata Raisa terlalu kabur tertutup air mata sedangkan milik Adam mengkilat penuh kebencian.
"Karena aku terlalu mencintai Mas Adam"