
Bug..
Bug..
Bug..
Bug..
Tangan berotot yang begitu perkasa itu terus memukul samsak tinju dengan kuat tanpa menggunakan sarung tangan boxing sekalipun. Tak memikirkan kondisinya yang masih lemah juga luka yang jelas belum mengering di punggungnya.
Adam terus melampiaskan amarahnya itu pada samsak yang menggantung di hadapannya. Perih yang dia rasakan di punggungnya itu tak sebanding dengan perih di hatinya. Sakit karena goresan pisau atau di hujam timah panas pun Adam masih bisa menahannya. Tapi sakit di hatinya ternyata rasanya berkali-kali lipat hingga Adam harus mencari sesuatu yang bisa mejadi pelampiasannya saat ini.
Meninggalkan Raisa yang tadi masih menangis di paviliunnya, Adam memilih pergi ke sasana tinju. Hanya di sana Adam bisa melepaskan semua perasaannya saat ini.
Samsak di depannya itu yang menjadi saksi bagaimana kecewanya Adam juga kemarahan yang sempat tertahan sejak kemarin.
Sudah ratusan kali tangan itu meninju tanpa henti. Lelehan keringat di seluruh tubuhnya sudah menetes membasahi seluruh tubuhnya.
Luka yang hanya berbalut perban itu juga sepertinya sudah tak mampu lagi bertahan menemani kekecewaan Adam. Darah segar mulai merembes dan menetes keluar dengan perlahan.
"AAAKKKHHHHHHH!!!!!"
Teriak Adam mengakhiri aksi nekatnya yang sebenarnya ia sadari kalau itu membahayakan dirinya sendiri.
Adam tertunduk menekuk lututnya pada lantai yang dingin dan sepi itu.
Wajahnya yang penuh keringat itu ternyata berhasil menyamarkan air matanya yang sejak tadi keluar tanpa ijin darinya.
Cinta memang begitu dahsyat, bisa memporak-porandakan hati seseorang dengan berbagai cara. Sesukanya mengubah perasaan orang menjadi bahagia atau hancur seperti yang Adam rasakan seperti saat ini.
Sebelumnya tak pernah Adam bayangkan sama sekali jika akhirnya takdir membawanya bersatu dengan wanita pujaannya. Antara bahagia dan sedih karena cintanya tentu saja tidak akan pernah di sambut baik oleh Raisa, mengingat sikapnya selama ini kepadanya.
Meski sudah menikah, Adam masih membentengi dirinya sendiri agar tidak terlalu berharap lebih dengan pernikahan mereka apalagi Raisa yang membuat perjanjian sendiri jika Raisa akan meminta cerai saat semua maslaah mereka sudah selesai.
Tapi saat itu, Raisa yang mulai berubah membuat Adam tak bisa mengontrol perasaannya. Cintanya yang menggebu memerintahkannya untuk menunjukkan perasannya pada Raisa.
Kabar kehamilan Raisa juga membuat Adam bahagia tiada tara. Karena dengan begitu, akan hadir buah cintanya yang akan selalu mengikat dia dan juga Raisa.
__ADS_1
Tapi semua salah Adam, dia menyalahkan dirinya sendiri yang menjadi buta karena cinta. Adam sadar dia telah berharap lebih pada cinta yang semu. Adam yang menjadi bodoh hanya karena sedikit perhatian dari Raisa membuatnya percaya diri jika wanita batu itu memiliki perasaan yang sama kepadanya.
Sekarang, sudah waktunya dia menyerah. Bukan menyerah pada hubungan mereka yang nyatanya saat ini masih terikat dalam pernikahan. Tapi Adam menyerah pada perasaannya.
Adam tak ingin bertindak gegabah dengan mengakhiri hubungannya dengan Raisa. Adam masih memikirkan calon anaknya, keputusan yang terbaik akan dia ambil nanti setelah berpikir dengan panjang. Yang dia butuhkan saat ini hanyalah menenangkan diri.
Di samping itu, Adam juga masih terikat janji dengan Satya. Janji yang dia ucapkan dengan yakin sebelum pernikahan mereka terjadi.
FLASHBACK ON
Papa tega membentak ku hanya karena dia??" Tunjuk Raisa pada Adam. Gadis berambut panjang itu sudah berlinang air mata hanya karena suara keras Papanya.
"Raisa benci sama Papa!!" Raisa berlari keluar dari ruangan Papanya. Meninggalkan Satya dan juga Adam yang masih terdiam sejak tadi.
Baginya, hinaan yang atau cacian yang ia dengar dari Raisa adalah hal yamg biasa. Telinganya sudah sangat tebal untuk itu.
"Maafkan sikap Raisa Dam. Aku juga sudah menyerah dengan sikapnya itu" Satya ambruk dengan kasar ke sofa yang terlihat empuk itu.
"Tidak Papa Pak, itu sudah hal biasa" Adam masih berdiri dengan tubuh tegapnya di hadapan Satya.
"Aku minta maaf Dam, karena ancaman-ancaman dari partai pesaing ku, kau harus menjadi korbannya" Hanya di hadapan Adam, Satya bisa terlihat sebagai pria yang lemah seperti itu.
"Apa kau punya alasan lainnya selain kau memang harus tanggungjawab Dam?? Dia putri ku satu-satunya, tentu aku tidak akan melepaskannya begitu saja pada orang sembarangan" Satya menatap Adam dengan begitu dalam.
"Sebelumnya maafkan saya yang telah lancang Pak, saya memang bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Saya bukan berasal dari keluarga kaya dan keluarga saya pun berantakan. Tapi satu hal yang bisa janjikan pada Bapak, kalau saya akan membahagiakan Nona Raisa dengan segenap jiwa dan raga saya. Saya juga tidak akan menyakiti Nona Raisa apapun yang terjadi. Bapak bisa percaya sama saya"
"Kenapa kau bisa seyakin itu??"
"Karena saya mencintai Nona Raisa" Adam tak membuang mukanya, tak juga menunduk karena malu, dia justru mengapa Satya dengan yakin. Membuktikan bahwa ucapannya bukanlah main-main.
Tanpa Adam duga, Satya justru mengulas senyum di wajahnya yang semakin tua.
"Aku sudah bisa melihat dari tatapan matamu saat melihat Raisa dari kejauhan Dam. Aku senang kau bisa jujur kepadaku"
Adam sempat terperanjat karena Satya ternyata tau tentang perasaannya.pada Raisa.
"Aku percaya padamu, tolong jaga putriku dan bahagiakan dia. Meski sifatnya begitu keras seperti itu, tapi sebenarnya hatinya begitu lembut"
__ADS_1
"Bapak bisa pegang janji saya"
FLASHBACK OFF
"Tapi sekarang justru aku takut dengan janjiku sendiri, aku takut tidak bisa menepati janjiku itu"
Adam mulai pasrah, dia akan mengikuti arus kemana takdir akan membawanya.
Adam sampai di rumah setelah adzan subuh selesai berkumandang. Dia juga langsung menuju ke paviliun tanpa berinisiatif melihat keadaan Raisa yang mungkin saja sudah kembali ke kamarnya.
Adam berpikir jika wanita keras kepala itu sudah kembali ke kamarnya setelah tangisannya tak di gubris sama sekali olehnya.
Jika saja hubungan mereka baik-baik saja, pastinya Adam akan langsung meriah Raisa ke dalam pelukannya saat menangis tersedu-sedu seperti tadi.
Tapi saat ini, entahlah...
Perasaan Adam tak menentu, dia tak tergerak sekalipun untuk peduli dengan Raisa. Mungkin rasa kecewanya sudah berubah menjadi....
Benci???
Adam membuka pintunya yang tidak pernah ia kunci itu. Tapi ada sesuatu yang membuatnya terkejut di dalam kamarnya. Bukan karena ada pencuri atau hal buruk lainnya, tapi keberadaan wanita yang saat ini masih mengenakan mukena datang menyambutnya.
"Mas Adam baru pulang??"
Adam hanya melirik Raisa sekilas, dia bisa melihat mata Raisa yang masih sembab namun memaksa bibirnya untuk tersenyum menyambut Adam.
Adam berlalu tanpa mempedulikan tangan Raisa yang terulur ingin menyalaminya. Adam tak peduli perasaan Raisa saat ini.
Pria yang itu hanya berjalan menuju lemarinya, untuk mengambil baju karena badannya sudah terlalu lengket dan ingin segera mandi. Tak lupa dia juga melepaskan jaket yang membungkus tubuh atletisnya.
Semua gerak-gerik Adam itu tak luput dari pandangan Raisa. Meski hatinya merasa nyeri kembali di acuhkan oleh Adam tapi dia tetap mencoba baik-baik saja.
Brakk...
Adam melempar jaketnya ke sofa di dekatnya dengan asal.
Tapi ada hal yang lebih membuat Raisa terkejut lebih dari itu.
__ADS_1
"Mas Adam, punggung kamu berdarah!!"