Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Penyesalan keduanya


__ADS_3

Usapan yang begitu lembut dan teratur Adam rasakan di kepalanya. Rasanya nyaman dan begitu hangat sampai Adam enggan sekali membuka matanya saat ini. Tapi matanya berlahan mengerjab, ingin tau siapa yang membuatnya terbuai seperti itu.


Pertama kali yang Adam tangkap dari matanya adalah senyuman yang begitu cantik. Senyuman yang sering kali memporak-porandakan hatinya.


"Ca, kamu udah siuman??" Raisa mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya.


Mata Adam yang baru saja terbuka itu justru langsung berkaca-kaca. Dia menciumi tangan Raisa yang sejak semalam tak pernah lepas dari genggamannya.


"Maafkan Mas Ca. Karena Mas kamu dan anak kita jadi seperti ini"


"Mas yang udah jadi pengecut justru membuat Mas hampir kehilangan kalian berdua, maafkan Mas Ca"


Raisa tetap mempertahankan senyumnya. Tadi malam mendengar Adam memaafkannya saja sudah sangat senang. Apalagi sekarang melihat Adam menangis tersedu-sedu di bahunya. Menjadikan bahu Raisa sebagai tempat menumpahkan air matanya.


Raisa tidak menyalahkan Adam sama sekali atas kejadian dimana dia hampir kehilangan janinnya. Karena dia juga ikut andil dalam hal itu.


Semua kesalahan bermula dari dirinya, jadi bagaimana bisa Raisa malah melimpahkan kemarahannya kepada Adam. Dia sendiri tidak bisa menjaga kesehatannya, dia abai dengan hal-hal kecil menyangkut kandungannya. Dia hanya terus hanyut dalam masalah perasaannya saja.


"Kamu boleh hukum Mas semau kamu Ca. Kamu juga boleh marah boleh memaki Mas seperti dulu lagi. Asal jangan tinggalkan Mas Ca. Mas hancur melihat kamu seperti tadi malam. Mas salah Ca, Mas salah" Adam terus menciumi tangan Raisa dengan tangisannya yang pecah sejak tadi.


"Ica nggak marah sama Mas Adam. Ica juga nggak akan melalukan hal yang sama kaya dulu lagi. Ica minta maaf buat semua kesalahan Ica ya Mas" Tak terasa air mata Raisa juga ikut turun. Mereka berdua sungguh menangisi kebodohan masing-masing. Menyesal dengan sikap yang selama ini mereka ambil hingga kesalahpahaman semakin panjang.


Adam mengangkat kepalanya, menatap pujaan hatinya dengan sebuah gelengan.


"Kamu nggak perlu minta maaf lagi, Mas udah maafin kamu"


"Tapi Ica usah banyak nyakitin Mas Adam, bukan hanya perasaan tapi juga tubuh Mas Adam ini"


"Mas nggak papa Ca, Mas bukan laki-laki yang lemah. Suami kamu ini pria yang kuat"


Raisa tampak merona mendengar candaan dari Adam setelah beberapa hari mereka terlibat ketegangan.


"Terus gimana sama luka kamu Mas, apa udah sembuh??"


Adam hanya tersenyum, kemudian tangannya beralih pada perut Raisa.

__ADS_1


"Sudah sembuh kok, kamu nggak usah pikirin itu. Yang penting sekarang anak kita. Masih sakit nggak?? Kamu belum di periksa dokter kan?? Mas panggilan dulu ya??"


"Nggak usah Mas, tadi udah ada suter ke sini. Katanya dokternya baru datang nanti siang. Tapi Ica udah nggak papa kok Mas. Udah nggak nyeri lagi"


"Jadi kamu sempat ngerasa nyeri perut?? Kenapa nggak bilang sama Mas??" Wajah Adam berubah terkejut dan kembali cemas.


Raisa mengalihkan pandangannya dari Adam kemudian memainkan jari-jarinya.


"Kemarin kan Mas masih marah sama Ica, takutnya Mas nggak peduli sama Ica"


Adam menghembuskan nafasnya kasar. Dia sungguh merasa bersalah karena menelantarkan istri dan calon anaknya.


"Maafkan Mas ya, Mas janji nggak akan kaya anak kecil lagi yang lari dari masalah"


"Ica juga minta maaf Mas, mulai sekarang kalau ada apa-apa, Ica akan bilang sama Mas, biar nggak salah paham lagi"


Adam mengangguk mengusap rambut Raisa dengan begitu lembut.


"Iya, Mas percaya sama kamu"


Kedua pasang mata itu saling berpandangan dengan kedua tangan saling menggenggam. Tak ada lagi suara yang keluar dari mereka. Keduanya hanya saling menatap menyalurkan rasa cinta masing-masing dari sorot matanya. Hingga suara pintu terbuka membuat kontak mata mereka terputus.


Yuli tidak terkejut melihat Raisa yang sudah bangun karena memang Yuli pergi keluar setelah Raisa siuman jam setengah enam pagi tadi.


"Kamu makan juga ya?? Kata Stevi kamu kan jarang makan, makanya pipinya tirus kaya gini" Adam membelai pipi Raisa yang tak chubby lagi padahal baru satu minggu mereka berpisah.


"Iya benar, kamu harus makan yang banyak. Biar tenaga kamu pulih lagi. Terus cepat pulang dari sini" Yuli membuka bungkusan plastik yang di bawanya tadi.


"Iya Mbak" Menurut Raisa, kejadian semalam sudah menjadi teguran yang begitu berat untuknya. Kandungannya selamat itu juga karena dia di beri kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki dirinya. Maka dari itu, Raisa tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Mas Dodo kemana Mbak??"


"Mas mu pulang subuh tadi, katanya hari ini ada kiriman pupuk, kadi Mas mu harus di sana ngawasin sendiri"


"Maaf ya Mbak kalau Raisa datang kesini malah ngerepotin Mbak Yuli dan Mas Dodo" Raisa merasa tak enak hati, mereka baru mengenal Raisa tapi begitu baik kepadanya.

__ADS_1


"Wes to jangan kaya gitu. Mbak ini ndak merasa direpotkan sama sekali. Yang penting kamu sama bayimu itu sehat, Mbak ikut senang"


Raisa terharu dengan orang yang ternyata bukan siapa-siapa Adam itu. Namun kasih sayangnya sudah melebihi saudara kandung.


"Oh ya Dam, kamu udah hubungi mertuamu belum??"


"Oh iya Mbak, aku lupa"


"Jangan Mas!!" Raisa menghentikan Adam yang sudah meraih ponselnya di atas nakas.


"Kenapa??"


"Ica nggak mau buat Papa khawatir. Papa pasti langsung buru-buru nyusul ke sini sedangkan kerjaan Papa aja masih banyak. Ica udah nggak papa kok Mas, nggak usah aja ya??" Pinta Raisa dengan wajah pemohonnya.


"Tapi Ca, nanti Papa pasti marah kalau tau kita bohongi Papa"


"Papa nggak akan tau kalau nggak ada yang bilang. Percaya sama Ica"


Adam sempat terdiam tapi akhirnya dia mengangguk dan mengurungkan niatnya untuk mengambil ponselnya.


"Ya udah ayo makan dulu"


Adam menerima uluran bubur Ayam yang telah di siapkan oleh Yuli dalam wadah styrofoam setelah membantu Raisa untuk bersandar pada tempat tidurnya.


"Mbak juga makan" Ujar Raisa.


"Iya kita sama-sama" Yuli mengambil tempat duduk di sofa agak jauh dari pasangan itu.


Sementara Adam tetap duduk di sisi Raisa. Enggan Rasanya untuk beranjak sedikitpun dari sana.


"Kenapa nggak di makan??" Adam menatap bubur milik Raisa yang hanya di aduk oleh pemiliknya.


"Nggak suka ya?? Apa mau makan yang lain biar Mas beliin??"


Raisa hanya menggeleng dengan wajah malu-malunya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.

__ADS_1


"Terus??" Adam di buat bingung dengan ibu hamil satu itu.


"Mau suapin" Cicit Raisa dengan menahan rasa malunya.


__ADS_2