
"Udah akur kalian??"
Baru saja sepasang pengantin yang masih bisa di bilang baru itu masuk, sudah di sambut pertanyaan sinis dari Satya.
Raisa bahkan tidak tau kapan Papanya itu pulang dinas. Tadi saat dia pergi sepertinya Papanya belum ada di rumah.
"Maksud Papa??"
"Jangan kira Papa nggak tau kalau selama ini kalian pisah kamar. Kalian pikir Papa ini bodoh??"
Raisa hanya menunduk tak berani menatap Papanya.
"Maaf Pa" Ucap Adam. Sebenarnya dia juga sudah menebak kalau Papa mertuanya itu pasti akan tau hubungannya dengan Raisa yang tidak berjalan baik, karena ada banyak mata di rumah itu.
"Dari mana kalian??" Satya kini menatap Adam yang membawa kantung plastik di tangannya.
"Beli rujak Pa, Raisa pingin makan rujak"
Satya menatap Raisa mencari jawaban, sementara yang di tatap selalu menundukkan kepalanya.
"Rujak?? Kamu hamil Sa??"
Deg...
Raisa semakin di buat gugup karena kedua pria itu memandang penuh selidik ke arahnya.
"E-enggaklah Pa, cuma pingin aja. Emangnya makan rujak harus orang hamil ya??"
"Aku juga sempat mengira Raisa hamil Pa, soalnya kemarin Raisa sempat mual dan nggak enak badan. Tapi kata dokter Wira, Raisa hanya kecapean" Satya hanya manggut-manggut saja karena kalau dokter Wira yang berkata, dia pasti percaya.
"Ya sudah sana masuk, tapi ingat ya Sa!! Pernikahan ini bukan main-main. Papa nggak mau lihat kalian ribut-ribut apalagi bohongin Papa kaya kemarin"
"Iya Pa"
Satya berlalu pergi setelah mendengar jawaban malas dari Raisa.
Raisa masih mematung saat Adam juga melewatinya menuju dapur.
"Mau makan rujaknya apa mau berdiri di sana terus??"
Suara Adam dari arah dapur itu membuat Raisa merengut dan menghentakkan kakinya menghampiri Adam.
"Kalau bukan karena surat misterius itu, gue nggak mau pura-pura nggak ada apa-apa kaya gini"
Raisa langsung duduk di meja makan karena Adam sudah menuang rujaknya ke dalam mangkuk.
__ADS_1
Raisa juga bingung dengan sikap Adam yang berubah drastis itu, karena sejak Raisa meminta kesempatan pada Adam beberapa hari yang lalu, Adam menjadi sosok yang perhatian dan juga lembut.
"Jangan-jangan dia cuma pura-pura baik kaya gue sekarang ini??"
Menatap rujak yang menggiurkan itu mengingatkan Raisa pada soto yang tak jadi di makan kemarin. Raisa takut jika dia akan kembali mual saat mencicipi rujaknya itu, sedangkan ada Adam di sana.
"Kenapa nggak di makan??" Adam membuyarkan lamunan Raisa.
"Ini mau makan"
Raisa mencicip sedikit dari kuah rujak itu, rasanya yang manis, pedas dan asam langsung menyapa lidah Raisa. Satu detik, dua detik tapi Raisa tidak merasakan mual sama sekali. Justru rasa segar sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Akhirnya Raisa benar-benar menikmati rujaknya, sendok demi sendok begitu ia nikmati.
"Enak??" Tanya Adam karena melihat Raisa yang berkali-kali menyendokkan rujak ke mulutnya padahal yang dia kunyah saja belum sempat di telan.
"Emm" Raisa mengangguk antusias.
"Mas mau??" Entah sadar atau tidak, Raisa justru menyodorkan hendaknya ke arah Adam.
Tak lama setelah itu, mungkin Raisa yang kembali pada kesadarannya, suasana canggung pun terjadi. Raisa kembali menarik hendaknya dan megutuk tingkah di luar kendali itu.
"Mau!!"
Tanpa di duga, Adam justru menarik kemabli tangan Raisa yang menjauh.
Satu suap rujak itu akhirnya mendarat sempurna di mulut Adam.
"Kenapa jantung gue??"
"Kenapa gue gampang goyah kaya gini. Ingat Sa, ini cuma pura-pura!!"
"Enak" Ucap Adam sambil mengusap bibirnya yang terkena saus rujak dengan ibu jarinya.
Tapi apa yang Adam lakukan itu justru membuat reaksi lain pada tubuh Raisa.
"Bibir itu, ahhh s*al!!"
Raisa ingat dengan jelas bagaimana bibir itu memainkan bibirnya dengan lembut. Raisa sudah di buat tak berdaya dengan kecupan-kecupannya yang memabukkan.
Hanya dengan membayangkan bagaimana benda basah itu menyentuhnya saja sudah membuatnya berdesir hebat. Apalagi jika Adam benar-benar menjamahnya dengan bibir itu.
Tak....
"Buang pikiran kotor mu itu Sa, aku tau apa yang sedang kamu pikirkan"
__ADS_1
Adam menyentil kening Raisa dengan pelan. Serta ucapan Adam yang membuatnya gelagapan.
"Emang apa yang aku pikirkan?? Sok tau banget" Namun wajah Raisa yang memerah membuat Adam semakin gencar menggodanya.
"Kalau aku emang tau gimana??"
Raisa langsung mendelik menatap Adam. Tak percaya jika dia bisa membaca pikirannya.
"Emang apa coba?? Kalau salah tidur di luar!!"
"Kalau benar, tidur seranjang!!"
"Deal" Raisa dengan percaya dirinya menyetujui permintaan Adam itu. Dia yakin jika Adam tidak akan tau pikiran liarnya itu.
Tapi melihat Adam yang menyeringai membuat Raisa menjadi was-was. Di tambah lagi, Adam sengaja menggeser kursinya hingga berdekatan dengan Raisa.
"Ngapain deket-deket??"
"Katanya suruh nebak apa yang kamu pikirkan??"
"Ya udah tebak aja nggak udah deket-deket!!" Raisa ingin menggeser kursinya juga namun di tahan oleh Adam dengan melingkarkan tangan kekar itu pada bahu Raisa.
"Sebenarnya yang kamu pikirkan itu..."
Raisa sampai mengerjapkan matanya berkali-kali karena Adam berbisik dengan deep voicenya.
Adam menggantung ucapannya, namun tangannya sudah naik menyentuh bibir Raisa. Ibu jari Adam yang tadi di gunakan untuk mengusap saus rujak di bibir pria itu kini di gunakan untuk mengusap bibir Raisa. Gerakan yang begitu lembut dari kiri ke kanan membuat Raisa sampai memejamkan matanya.
"Ini kan??"
Tebakan Adam itu langsung membuat Raisa terkesiap. Dia langsung berdiri menjauh dari Adam dengan wajah gugupnya seperti seseorang yang terpergok mencuri.
"Kenapa Sa??"
"Nggak papa!!" Raisa berlari menjauh, meninggalkan rujaknya yang masih separuh mangkuk.
"Berarti malam ini tidur seranjang ya??" Adam tertawa penuh kemenangan.
"Bodo amat!!" Sahut Raisa yang sudah mulai menjauh.
Namun tawa Adam itu langsung menyusut saat Raisa sudah tidak terlihat lagi.
*
*
__ADS_1
*
Kira-kira apa yang membuat Mas Adam bisa berubah-ubah gitu yaa??