Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Pergi


__ADS_3

Adam kembali ke kamarnya setelah mendapatkan ijin dari Satya. Keputusan yang Adam ambil itu sudah sangat bulat. Menurutnya, lebih baik dia menghindar sejenak dari Raisa dari pada tidak bisa mengendalikan diri di depan wanitanya itu.


Memendam kemarahan tentu saja sangat sulit bagi Adam. Namun untuk melupakannya pada Raisa juga ada sebagian hatinya yang melarangnya.


Adam memang memilih diam, tapi itulah tingkat kemarahannya yang sesungguhnya. Bersikap dingin seperti dulu adalah pilihan Adam saat ini.


Adam membuka pintu paviliunnya. Matanya langsung menatap ke arah ranjang, dimana seseorang telah berbaring di sana. Mengambil tempat yang seharusnya milik Adam. Tempat yang pernah di hina kotor dan menjijikkan tapi justru kini di tiduri sendiri.


Pria yang kembali kaku layaknya kanebo kering menurut Raisa itu hanya menatapnya sejenak, kemudian berjalan menuju lemarinya. Mengemas beberapa potong pakaian yang ia masukkan ke dalam koper kecil.


Tak butuh waktu lama bagi Adam. Dia hanya membawa sedikit pakaian juga memang pria yang tak butuh banyak perlengkapan membuatnya selesai mengemas semuanya hanya dalam waktu sepuluh menit.


Srekk...


Adam menarik gagang kopernya ke atas, siap menarik koper kecil itu untuk mengikuti langkahnya.


Tapi seolah ada yang ingin mencegah kepergian Adam. Langkahnya mendadak berat juga hatinya yang terasa mengganjal kali ini.


Pria datar itu kembali menoleh ke belakang, menatap Raisa yang masih terlelap dalam tidurnya tak terusik sedikitpun.


Adam melepas kopernya begitu saja, lalu mendekat ke arah wanita yang masih terlihat cantik meski kini terdapat lingkaran hitam di matanya.


Adam menekuk lututnya, mensejajarkan wajahnya pada perut Raisa yang belum terlalu besar itu. Tangan kekarnya mengusap selembut mungkin agar tidak membangunkan Raisa.


"Maafkan Papa sayang, Papa harus pergi. Papa janji akan pulang tapi Papa tidak tau itu kapan. Baik-baik di dalam sana ya. Papa sayang kamu" Tak terasa setitik air mata Adam jatuh ke pipinya.


Pria yang dari dulu terlihat dingin, kaku dan tangguh itu ternyata punya titik terlemah juga di dalam hidupnya.


Saat dia kehilangan Ayahnya tiga tahun yang lalu saja rasanya tidak sesakit ini. Adam masih bisa menahannya bahkan air matanya saja tidak keluar sedikitpun.


Tapi saat ini, masalah yang telah menyangkut hatinya, membuatnya menjadi pria yang lemah.


Beberapa saat kemudian, Adam kembali bangkit dan benar-benar pergi dari kamar yang telah diakusisi oleh oran lain.


Adam benar-benar pergi tanpa kata, tanpa pamit, tanpa surat perpisahan atau sebuah kecupan untuk Raisa.

__ADS_1


Dia benar-benar pergi tanpa tau kapan akan kembali. Membawa luka di hati dan tubuhnya. Luka yang bisa saja sembuh namun bekasnya akan tetap ada sampai kapanpun.


"Hoaamm...." Raisa menguap sambil meregangkan ototnya. Tanpa waktu yang lama seperti biasanya, di saat itu juga dia langsung tersadar di mana dia saat ini.


Dia mencari keberadaan pria yang kepulangannya di tunggu sejak kemarin.


"Apa Mas Adam nggak pulang??" Melihat keadaan kamarnya yang kosong tentu membuat Raisa berpikir seperti itu. Terlebih lagi di sebelahnya juga masih tapi, di sofa juga tidak ada bekas orang tidur di sana.


Raisa menggulung rambutnya dengan asal, keluar dari paviliun yang ternyata terasa nyaman baginya itu.


"Bi!!" Raisa menghampiri Bi Asih yang sedang memasak.


"Eh Non, udah bangun?? Mau sarapan ya?? Kebetulan Bibi udah masak sup iga kesukaan Non Raisa. Mau makan apa biar Bibi buatin??"


"Enggak Bi, nanti aja Raisa mau mandi dulu"


"Iya Non"


"Emmm Bi" Raisa kembali menoleh ke belakang menatap asisten rumah tangganya itu.


"Mas Adam semalam nggak pulang ya??" Raisa sebenarnya malu karena rumah tangganya yang bermasalah di ketahui oleh Bi Asih.


"Pulang kok Non. Bibi lihat sendiri tadi malam sebelum Bibi tidur. Mas Adam masuk ke ruangan Bapak, tapi habis itu Bibi nggak tau lagi kalau Mas Adam pergi atau tidak karena Bibi langsung ke kamar"


"Ya udah Bi, makasih ya"


"Kalau pulang terus dimana sekarang??"


Raisa memilih pergi ke kamar Papanya. Mencari tau tentang keberadaan suaminya saat ini.


Tak dapat di bohongi kalau Raisa begitu merindukan Adam. Genggaman tangannya yang selalu hangat, pelukannya yang nyaman, serta wangi tubuhnya yang menenangkan. Semua itu begitu Raisa rindukan.


"Papa, Papa udah bangun belum?? Raisa boleh masuk??"


Tak ada sahutan namun tak berselang lama pintu kamar Satya terbuka. Memperlihatkan pria paruh baya yang sudah begitu rapi di waktu yang menurut Raisa masih terlalu pagi itu.

__ADS_1


"Kamu baru bangun??" Tanya Satya berjalan masuk kembali ke dalam dengan di ikuti Raisa di belakangnya.


"Iya Pa. Raisa baru bisa tidur tadi malam setelah kejadian itu"


"Hemm, tapi kamu harus jaga baik-baik kondisi kamu. Tetap makan dan minum vitamin jangan sampai terlewatkan"


"Iya Pa, Raisa tau"


Raisa mendekati Satya yang sedang memasang dasinya. Raisa merasa iba dengan Papanya itu. Seharunya dulu Papanya mencari istri lagi supaya di saat seperti ini Papanya ada yang memperhatikannya. Demi kesetiaan dan demi dirinya, Papanya rela hidup kesepian sepanjang hidupnya.


"Pa, kata Bi Asih tadi malam Mas Adam pulang. Tapi kok sekarang nggak ada ya??"


Deg...


Satya tak tega untuk mengatakan pada Raisa di mana Adam saat ini.


Sebenarnya tadi malam dia juga ingin mencegah kepergian Adam. Tapi dia tidak bisa egois melihat betapa hancurnya Adam saat ini.


Satya hanya bisa berdoa supaya Raisa baik-baik saja dan hubungan mereka kembali membaik.


"Kenapa kamu mencari Adam??" Satya ingin mendengar alasan Raisa lebih dulu.


"Kenapa Papa tanya kaya gitu?? Raisa cari Mas Adam ya emang karena dia suami Raisa kan??"


"Apa kamu mencintainya??"


Raisa sempat tertegun dengan pertanyaan Papanya.


"I-Iya, Raisa cinta sama Mas Adam. Dari dulu sampai sekarang, cuma Mas Adam yang Raisa cintai Pa"


"Kalau gitu, biarkan dulu Adam menenangkan diri. Dengan kekuatan kekuatan cinta kalian itu, pasti kalian bisa bersatu lagi"


"A-apa maksud Papa??" Mata Raisa mulai berkaca-kaca.


"Tadi malam Adam minta ijin sama Papa untuk pulang ke kampungnya"

__ADS_1


Jedeeerrr......


__ADS_2