Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Dua saudara


__ADS_3

"Apa kabar Mas??"


Satya menatap ke arah pintu, dimana muncul sosok yeng begitu mirip dengannya dari sana.


"Tentu baik Adikku, ternyata kamu masih ingat kalau punya Kakak" Satya menghampiri Sandi, memberikan pelukan yang tulus layaknya seorang Kakak kepada Adik satu-satunya itu.


"Apa maksud mu itu Mas?? Tentu saja aku ingat, tapi karena Mas ku ini semakin hari semakin sibuk jadi susah sekali di temui"


"Hahahaha...." Mereka tertawa bersama.


"Ayo duduk dulu" Sandi mengikuti Satya untuk duduk di sofa ruangannya.


Sandi memang sengaja menemui Satya di kantor partai milik Satya.


"Sebenarnya apa yang membawamu ke sini??"


"Apa maksud mu itu Mas, tentu aku ke sini karena kangen dengan Mas ku ini" Sandi mengakhirinya dengan tawa lepasnya.


Tapi karena Satya itu sudah tau watak Sandi juga sudah tau tabiat Sandi yang sebenarnya, maka Satya hanya bisa mengikuti alur yang di bangun adiknya itu.


"Aku senang kalau kamu masih ingat kalau aku ini Kakakmu San, apalagi kita sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing"


"Maksud Mas apa?? Tentu saja aku akan selalu ingat kalau Mas ini Kakakku"


Satya tersenyum tipis, dia semakin tau sifat adiknya yang begitu manipulatif itu.


"Tidak ada maksud apa-apa San, aku hanya sering melihat di luaran sana. Dimana orang lain sudah selayaknya saudara kandung, sedangkan saudara kandung justru tampak seperti orang lain. Aku tidak mau kita seperti itu San"


"T-tentu kita tidak akan seperti itu Mas. Hanya kamu keluarga ku satu-satunya. Jadi mana mungkin aku akan seperti itu" Jawab Sandi dengan gugup.


"Hemm, baguslah. Aku senang karena punya adik berbakti seperti ku"


"Sebenarnya apa maksud pria sok pinter ini?? Ucapannya seolah-olah sudah tai niat ku dari awal.


"Tapi Mas, aku sudah dengar dari Raisa kalau kamu menyerahkan kawasan industri SW Group pada Adam, apa benar itu Mas??"


"Bingo" Satya sudah bisa menebak apa maksud kedatangan adiknya yang tiba-tiba itu.


"Kapan ketemu sama Raisa??"

__ADS_1


"Beberapa hari yang lalau, aku sempat datang ke rumah untuk menemui mu, tapi kamu nggak ada jadi hanya bisa ketemu sama Raisa saja"


"Kenapa Raisa nggak cerita??"


"Memang aku menyerahkan kepemimpinan itu kepadanya, tapi untuk masalah kepemilikan, tentu saja masih menjadi milikku"


"Tapi apa itu tidak terlalu beresiko Mas?? Mengingat Adam itu hanya orang lain dan kita nggak tau gimana sifat aslinya Mas. Apa nggak takut kalau punya niat untuk merebut semuanya?? Bukan maksud ku untuk menghasut untuk menyingkirkan Adam Mas. Aku hanya mengingatkan saja, karena kita harus hati-hati"


Lagi-lagi Satya hanya tersenyum tipis melihat Adiknya itu.


"Yah seperti yang aku katakan tadi San. Orang lain bisa saja menjadi orang yang sangat kita percaya daripada orang terdekat kita sendiri. Karena kita tidak tau orang-orang di sekitar kita itu benar-benar tulus atau tidak"


"S*alan, nyindir apa gimana??"


Sandi hanya bisa mengumpat dalam hatinya karena dia masih sadar jika dia harus tetap menjaga sikapnya di depan Satya. Kalau tidak, dia akan semakin jauh menjangkau impiannya.


"Tapi sebaiknya di serahkan pada Raisa kan Mas?? Dia sudah lulus kuliah, pasti dia juga sudah siap untuk memegang kendali. Sekarang harusnya waktu yang tepat Mas. Atau kalau tidak, kamu harus mencari orang lain yang lebih bisa kamu percaya"


"Aku Ayahnya, jadi aku tau bagaimana Raisa. Walau dia terlihat mampu tapi sebenarnya tidak sama sekali. Dan saat ini, hanya Adam yang aku percaya. Sedangkan kamu..." Satya sengaja menggantung ucapannya.


"A-aku kenapa Mas??"


"Tentu saja kamu sibuk dengan perusahaan kamu sendiri. Memangnya apa lagi, iya kan??" Satya tertawa puas karena bisa melihat wajah pias dari Sandi.


"Aku tidak bermaksud apa-apa kok Mas, hanya mengingatkan saja"


"Hemm, aku senang kamu masih begitu perhatian San"


"Kalau gitu, aku pergi dulu Mas. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan"


"Loh, kenapa buru-buru?? Apa kita tidak makan malam dulu??"


Sudah terlihat jelas dari awal jika Sandi memang tidak berniat mengunjungi Kakaknya karena benar-benar merindukannya. Sejak awal niat Sandi hanya untuk mempengaruhi pikiran Satya saja.


"Lain kali saja Mas, aku pergi dulu" Pria yang masih lajang itu melenggang pergi begitu saja. Tidak mengumbar senyum seperti saat kedatangannya tadi.


*


*

__ADS_1


*


 "Sa"


"Ya??"


"Kenapa kamu nggak pernah pakai cincin nikah kita??" Adam baru sadar jika Raisa tidak pernah memakai cincin pernikahan mereka.


Raisa langsung menarik tangannya dari genggaman Adam. Dia bingung harus menjawab menjawab apa sedangkan dia sendiri lupa dimana meletakkan cincin pernikahannya itu.


Seingat Raisa, dia langsung melepas cincin itu sesaat setelah pernikahan mereka sebelum dia berangkat menemui Riko waktu itu. Saat itu, dia berpikir cincin itu akan menyakiti Rio makanya dia mencampakkannya begitu saja, dan kini dia sungguh menyesal.


"Ah, i-itu a-aku lu.."


Tok..tok..tok..


"Ah, itu pasti dokter Wira. Aku buka dulu ya Mas" Raisa langsung beranjak menjauh dari Adam untuk membuka pintu kamarnya.


"Silahkan masuk dokter" Tebakan Raisa benar dan sangat berterimakasih pada dokter Wira yang telah menyelamatkannya hari ini.


"Iya, terimakasih"


"Apa yang membuat Pak Adam tumbang seperti ini?? Pria gagah dan tidak pernah sakit kok tiba-tiba seperti ini" Canda dokter Wira sambil mengeluarkan stetoskopnya.


"Saya juga manusia dokter"


"Hahaha, benar juga. Tapi apa saja yang Pak Adam rasakan saat ini??" Dokter Wira sudah menempelkan stetoskop pada dada Adam yang hanya di buka dua kancing atasnya saja.


"Saya tidak tau kenapa dokter, padahal saat makan siang tadi saya masih baik-baik saja. Tapi setelah itu, kepala saya mulai pusing, mata berkunjung-kunang, dan perut saya rasanya seperti di aduk-aduk" Jelas Adam dengan mata tertutup karena benar-benar pusing.


"Emm, kalau begitu nanti saya akan meresepkan obat saja"


"Memangnya Mas Adam kenapa dok?? Nggak perlu ke rumah sakit gitu??"


Dokter Wira hanya menggeleng dengan senyum penuh arti.


"Tidak perlu, karena Pak Adam ini sepertinya mengalami sindrom couvade"


"Apa itu dokter??" Adam sampai membuka matanya untuk mendengarkan penjelasan dari dokter Wira.

__ADS_1


"Sindrom ini bisa juga dinamakan kehamilan simpatik dimana suami juga merasakan gejala kehamilan yang di alami oleh istrinya"


Deg...


__ADS_2