Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Mau pisah kamar??


__ADS_3

Raisa menghampiri semua yang sudah berkumpul di meja makan. Termasuk Adam yang meninggalkannya sendirian di dalam kamar.


Semuanya mengulas senyum di wajahnya termasuk Stevi dan Fany yang tampak sangat nyaman di rumah pedesaan itu.


Sepertinya hanya Raisa saja yang memasang wajah canggung dan bingung harus menampakkan ekspresi seperti apa. Apa mungkin harus tersenyum meski hatinya menangis menjerit.


Tapi jika ingat apa kata Adam tadi, dimana dia harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa di antara keluarga Adam yang masih begitu asing bagi Raisa.


Raisa saja belum tau, siapa itu Mbah Welas, siapa itu Yuli. Mbah Welas itu Ibu dari orang tua Adam yang mana. Lalu Mbak Yuli itu kakak kandung Adam atau bukan.


Masih banyak yang perlu ia tau dari keluarga yang masih asing itu. Dia tidak akan salah paham lagi dengan menebak-nebak sesuka hatinya. Tapi tentu saja ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan seluk beluk keluarga Adam


"Duduk sini" Raisa terkejut karena suara itu dari Adam. Pria itu menepuk bangku yang ada di sebelahnya untuk Raisa, dengan suaranya yang lembut seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka. Sementara kedua sahabatnya ada di hadapan Adam.


"Sini Nduk cah ayu. Ayo makan dulu" Ucap Mbah Welas yang duduk di paling ujung. Sementara Yuli masih sibuk menghidangkan masakan buatannya.


Raisa tak mau terlihat mencurigakan, maka dia langsung menghampiri Adam dan duduk di samping pria yang kembali kaku itu.


"Maaf ya, di kampung cuma ada masakan seadanya aja"


"Nggak papa Mbak, ini udah banyak banget loh" Jawab Stevi yang berbinar menatap berbagai masakan rumahan yang di sediakan Yuli. Sahabat Raisa yang satu itu memang tidak pemilih soal makanan.


"Semua sayurnya organik loh, di petik dari kebun punya Adam sendiri" Bangga Mbah Welas pada tamu-tamunya itu.


"Wah, jadi perkebunan ini milik Mas Adam??" Tanya Fany penasaran.


"Benar, termasuk rumah ini pun punya Adam. Belum lagi peterna..."


"Kita makan dulu saja Mbah, Raisa sama teman-temannya pasti sudah lapar. Iya kan Sa??"


Raisa yang sejak tadi diam sempat di buat terkejut oleh Adam.


"I-iya Mas"


"Ya sudah ayo makan dulu"


Mulai dari Mbah Welas yang mengambil nasi lebih dulu kemudian Adam yang sudah meraih centong untuk mengisi piringnya.


"Biar Ica aja Mas"

__ADS_1


Raisa langsung berdiri, meraih centong di tangan Adam.


Mbah Welas, Stevi dan Fany serta Yuli yang baru menuju meja makan tersenyum melihat adegan yang di anggap romantis oleh mereka itu.


"Ayo gas terus Sa, jangan kasih kendor!!" Batin Stevi.


"Mau sama apa Mas??" Raisa senang karena Adam tak menolak. Tapi ada yang lebih membuat Raisa senang, saat Adam ingin mengambil nasi tadi, tak sengaja dia menangkap jari tangan kanan Adam yang masih memakai cincin pernikahan mereka.


"Sama sambal tumpang ini aja Sa, itu kesukaan suami kamu. Tadi Adam yang minta Mbak buat masakin itu" Tunjuk Yuli pada mangkuk yang berisi tempe, tahu dan berkuah santan yang terlihat pedas karena terdapat beberapa cabai yang di biarkan masih utuh di atasnya.


"Ini Mas??"


"Iya itu aja sama bakwan" Jawab Adam.


Dengan telaten, Raisa melayani Adam. Hal yang sudah tidak dilakukannya selama hampir sepuluh hari belakangan.


"Ini Mas" Raisa masih terlalu gugup sebenarnya tapi dia berusaha tetap tenang di hadapan Adam.


"Iya makasih, kamu juga lekas makan"


"Iya Mas, suruh makan yang banyak itu. Lihat aja badannya yang makin kurus karena nggak pernah mau makan. Kan kasian kandungannya. Kita sama Om Satya aja sampai nyerah nyuruh dia ma...." serobot Stevi yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya oleh Fany.


Sementara Adam tampak menatap Raisa yang sedang menunduk dengan begitu dalam tanpa tau apa yang sedang pria itu pikirkan.


"Maaf Mbah, teman saya ini emang sudah kaya bebek kalau ngomong" Fany merasa tak enak pada Mbah Welas.


"Ndak papa, ayo Nduk ambil makannya" Mbah Welas beralih pada Raisa.


"Iya Mbah"


Suasana hening sejenak karena mereka semua sedang menikmati makanan kecuali Yuli, karena dia masih menunggu Widodo yang mengurus ternak.


"Maaf ya, kedatangan kalian tadi di sambut dengan kejadian nggak mengenakkan kaya tadi" Ucap Mbah Welas yang telah selesai makan lebih dulu.


"Memangnya Ibu tadi siapa Mbah??" Tanya Fany.


Sebelum menjawab, Mbah Welas tampak melirik ke arah Adam. Namu pria itu masih terlihat asik menikmati makanannya, dan sepertinya juga itu pertanda bahwa Adam tidak keberatan Mbah Welas menjelaskan siapa itu Ning.


"Tadi itu Ning, Ibu tiri Adam. Dia emang suka begitu, kalau orang-orang bilang orang ndak waras"

__ADS_1


Stevi dan Fany tampak terkejut berbeda dengan Raisa yang menunduk diam tanpa menyendok makanannya.


"Dulu dia menikah sama Bapaknya Adam saat Adam berusia sepuluh tahun. Ceritanya panjang sekali sampai akhirnya Adam memutuskan pergi ke kota demi masa depannya. Tapi nyatanya, dia tidak pernah membiarkan Adam bahagia di luar sana. Sampai sekarang pun masih memaksa Adam untuk menikahi Ayu, anak dari sahabatnya"


Ada perubahan dari wajah Raisa ketika Mbah Welas menyinggung perjodohan Adam dengan Ayu. Tangannya yang sejak tadi mengaduk makanan pun ikut berhenti.


"Sudah Mbah, jangan bahas itu lagi" Sebenarnya Adam malu masa lalunya di buka di depan Raisa juga kedua temannya. Tapi Adam juga ingin Raisa mendengar dari orang terdekatnya sendiri supaya istrinya itu tidak lagi salah paham.


"Iya, maaf yo Nang"


"Nggih Mbah"


"Sudah selesai makannya?? Kalau sudah, kamar buat Mbak Fany dan Mbak Stevi sudah saya siapkan di belakang. Sudah bisa kalau mau buat istirahat"


"Makasih banyak Mbak Yuli, maaf udah ngerepotin" Fany merasa tak enak hati karena di sambut dengan begitu baik, belum lagi di jamu dengan berbagai macam masakan yang menurutnya lezat untuk ukuran masakan rumahan.


"Nggak usah sungkan, anggap rumah sendiri" Adam membuka suaranya.


"Hehe.. Makasih Mas" Fany terkekeh garing karena belum terbiasa bicara dengan Adam.


"Kalau gitu kita ke kamar dulu Mbah, mau mandi. Permisi Mbah" Pamit Stevi.


"Iya iya, semoga betah di sini yo Nduk"


"Nggih Mbah" Jawab mereka berdua mengikuti Adam yang sejak tadi berkata seperti itu.


Sementara Raisa tidak tau harus bagaimana. Menanyakan kamarnya dimana tentu saja tidak mungkin, karena jelas tadi dia sudah melihat Adam membawa kopernya masuk ke dalam kamar yang tadi.


"Apa aku di kasih kamar sendiri??"


"Tapi tadi kayaknya kamarnya udah ada orangnya?? Apa Mas Adam??" Raisa langsung menoleh pada adam yang sedang meneguk air putih.


"Jadi di sini dia mau sekamar sama aku??" Raisa tentu saja bahagia karena memang itu yang dia inginkan. Tapi bagaiman dia nantinya akan menghadapi Adam, pasti akan canggung, dingin dan kaku di antara mereka.


"Kenapa?? Mau minta pisah kamar??"


Deg....


Lagi-lagi pikirannya bisa terbaca oleh Adam.

__ADS_1


__ADS_2