
Mas Adam??"
Ucapan Raisa harus terhenti karena datangnya seseorang yang akan membuat makanan yang di pesan Raisa tadi tidak akan habis satu porsi pun.
"Ayu??"
Raisa hanya menatap bergantian Adam dan juga wanita yang baru Raisa ketahui namanya Ayu itu. Wanita yang beberapa hari lalu datang ke kantor Adam. Wanita yang selama ini masih menjadi teka-teki bagi Raisa.
"Aku nggak nyangka loh bisa ketemu Mas Adam di sini. Boleh gabung ya??"
Adam langsung menatap Raisa, dia tidak mungkin mengijinkan orang duduk di antara mereka tanpa persetujuan dari Raisa. Terutama Adam sendiri terlihat tidak suka dengan kedatangan Ayu.
Wanita bertubuh mungil dengan kulit kuning langsat serta langsung pipi di bagian kanan itu juga ikut menoleh pada Raisa.
"Oh, maaf saya nggak sadar kalau Mas Adam ternyata sama istrinya. Kenalkan Mbak, nama saya Ayu, saya teman de..."
"Hemm!!" Adam berdehem menghentikan ucapan Ayu yang sepertinya mulai mengusik Adam.
"Raisa" Raisa hanya menerima uluran tangan itu dengan singkat.
"Mbak, mbak, enak aja. Tuaan lu dari pada gue" Raisa beberapa kali melirik wanita yang berambut sebahu itu. Dari wajahnya saja sudah terlihat jika wanita itu beberapa tahun di atasnya.
"Jadi boleh kan saya gabung?? Sudah nggak ada tempat lain lagi. Ini jam makan siang soalnya. Boleh kan Mbak Raisa??"
Raisa melihat ke sekelilingnya, memang sudah tak ada lagi meja yang kosong beruntung meja yang ia tempati tidak berbagi dengan orang lain seperti meja yang lain.
"Silahkan" Jawab Raisa dengan terpaksa.
"Terimakasih Mbak"
Raisa langsung melotot karena wanita bernama Ayu itu memilih duduk di samping Adam sementara kursi di sebelahnya pun kosong.
Adam yang merasa tak nyaman hanya mampu menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Ayu.
"Oh ya Mas, aku udah bilang sama Ibu kalau kit.."
"Ayo stop!! Kalau kamu masih mau makan di sini duduklah dengan tenang dan nggak udah banyak omong. Kalau nggak, mendingan kamu pergi dari sini!!"
Bukan hanya Ayu yang terkesiap dengan bentakan Adam, namun juga Raisa. Baru kali ini Raisa melihat Adam yang tidak bisa menahan amarah di depan orang banyak. Dari biasanya Adam yang terlihat tenang dan berwibawa, menjadi menyeramkan dan membuat Raisa ketakutan.
"Sebenarnya apa hubungan mereka, kenapa Mas Adam kelihatan nggak suka??"
"Tapi tadi apa yang ingin Ayu sampaikan??"
Raisa begitu penasaran, seandainya saja tadi Adam tidak memotong ucapan Ayu. Pasti Raisa sedikit tau apa yang terjadi di antara mereka.
__ADS_1
"Lalu Ibu, Ibu siapa yang Ayu maksud??"
"Maaf Mas" Ucap Ayu sambil meraih tangan Adam yang ada di atas meja.
Sementara Raisa yang melihat itu semua, hanya diam dan memalingkan wajahnya.
"Jaga sikap kamu Yu!!" Adam menarik tangannya dengan kasar. Dia jelas tak nyaman denhan kehadiran Ayu di sana. Berkali-kali dia melihat ke arah Raisa yang tak mau menatapnya. Adam seperti khawatir jika Raisa marah dan kembali mendiamkannya.
Tak lama setelah itu, pesanan mereka telah datang, aroma dari ayam dan bebek goreng yang tadinya membuat Raisa mengucurkan air liurnya, kini tidak menarik perhatiannya sama sekali.
"Ayo makan Sa"
"Iya" Raisa hanya menjawab saja namun tangannya tak kunjung bergerak menyentuh makanannya.
"Jadi, sebenarnya Mbak Ayu ini kenal sama Mas Adam sejak kapan??"
Raisa melihat Adam menatapnya tak suka, seolah pria itu tak suka Raisa mengorek informasi dari Ayu.
"Aku udah kenal Mas Adam sejak kecil, kerena kami tetanggaan di kampung" Jawab Ayu dengan ramah sambil menikmati bebek gorengnya.
"Tapi, kok aku baru lihat Mbak Ayu. Selama ini nggak pernah ketemu Mas Adam ya??" Lagi-lagi Adam menatap Raisa, bahkan sampai menghentikan makannya.
"Iya, soalnya aku sibuk ngajar di kampung. Sedangkan Mas Adam juga sibuk di sini. Tapi aku pernah ke sini beberapa tahun yang lalu untuk ketemu Mas Adam kok"
"Mbak Ayu sudah menikah??"
Raisa tak suka dengan tatapan Adam yang semakin tajam kepadanya.
"Kenapa emangnya?? Nggak suka kalau gue cari tau tentang pacar lo ini??" Raisa berharap Adam bisa membaca pikiran Raisa melewati sorot matanya itu.
"Emm, menikah ya??" Ayu justru melirik ke arah Adam. Wanita itu menatap sendu pada pria tampan di sampingnya itu.
"Aku belum menikah Mbak Raisa. Aku masih menunggu seseorang" Jawabnya tiba-tiba sendu.
"Seseorang??"
"Iya"
"Memangnya dia kemana??" Raisa semakin penasaran.
"Dia sebenarnya tidak jauh, tapi karena sekarang keadaan kami sudah berbeda. Tapi sebenarnya aku masih sangat berharap kepadanya"
"Berbeda?? Apa maksudnya karena aku dan Mas Adam sudah menikah??"
"Berbeda gimana??"
__ADS_1
"Sa, lebih baik cepat habiskan makannya, kita kembali ke kantor setelah ini" Adam menghentikan aksi Raisa yang terlihat sangat ingin tau kehidupan Ayu.
Adam merasa aneh karena Raisa baru pertama kali ini duduk dan bicara dengan Ayu.
"Kenapa Mas?? Kan aku mau kenal lebih dekat tetangga kamu ini. Nggak salah kan Mbak Ayu??"
"Ya enggak dong, mana tau kita bisa menjadi teman" Jawab Ayu yang di sambut helaan nafas kasar oleh Adam, seakan pria itu sedang menahan emosinya.
"Jadi, pacar Mbak Ayu dimana??"
Ayu melirik Adam lagi, dan itu tertangkap jelas oleh Raisa. Hal itu semakin memperkuat dugaan Raisa jika mereka berdua ada hubungan.
"Pacar saya?? Emm, sebenarnya kita nggak pacaran. Tapi kami ada rencana menikah"
Deg....
"M-menikah??" Kepala Raisa mendadak menjadi pusing dan matanya berkunang-kunang.
Sementara Adam melebarkan matanya menatap Ayu, dia tak percaya jika Ayu bisa mengeluarkan statemen seperti itu di depan Raisa.
"Hentikan Ayu!!" Desis Adam.
"Sa, kita makan di kantor saja"
"Loh Mas, kenapa emangnya??" Raisa tau jika Adam sedang marah saat ini. Tapi Raisa ingin tau apa yang membuat Adam marah.
Karena hubungannya dengan Ayu yang terbongkar atau karena Raisa yang terlalu banyak bertanya. Raisa masih bertanya-tanya dalam hati.
"Di sini nggak nyaman" Jawab Adam langsung membuat tatapan Ayu meredup.
"Mas!!" Adam memanggil pelayan yang tak jauh darinya.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu??".
" Saya minta tolong bungkus semua makanan istri saya ini" Pinta Adam pada pelayan itu, karena memang Raisa belum menyentuh makanannya sama sekali.
"Baik Pak tunggu sebentar" Pelayan itu menarik kembali beberapa porsi makanan yang di pesan Raisa tadi.
"Ayo Sa, kita bayar dulu" Adam bangkit lalu meraih tangan Raisa. Membawa istrinya itu menjauh dari Ayu.
"Sebenarnya apa hubungan kalian??" Raisa menoleh ke belakang, menatap Ayu yang tertunduk diam sambil mengusap air matanya.
"Mas, kenapa kamu buru-buru pergi?? Kok kayaknya kamu nggak suka banget kalau aku dekat sama dia?? Bukannya dia..."
"Dia itu bukan siapa-siapa dan dia tidak penting sama sekali!!" Tekan Adam dengan tegas membuat nyali Raisa mencitut.
__ADS_1