Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Cinta pandangan pertama


__ADS_3

Tak berselang lama, malu Raisa saja belum hilang, kedua sahabatnya telah sampai di sana di antar seorang pemuda yang kira-kira umurnya di bawah Adam.


Mungkin itu yang namanya Hanif menurut Raisa. Karena pria itu masuk begitu saja ke ruangannya.


"Gimana kondisi Mbak Raisa Mas??" Pria gagah yang menurut Raisa tak pantas untuk jadi seorang petani itu berdiri di samping Adam.


"Sudah lebih baik Nif, maaf ya aku ngerepotin kamu. Bolak-balik ke sini dari semalam"


"Nggak papa Mas, kaya sama siapa aja"


"Beneran lo udah baikan Sa?? Gue takut banget semalam lihat lo kaya gitu. Mau ikut ke sini tapi Mbah sendirian di rumah"


"Gue udah nggak papa kok Van, Stev. Nggak usah khawatir ya"


Raisa menepuk tangan Stevi yang memijat lembut lengan tangannya.


"Makanya lo itu harus makan yang banyak biar nggak lemes. Jangan banyak pikiran juga walaupun di tinggal pergi suami" Stevi sengaja menyindir Adam yang duduk di seberangnya. Menurutnya, Adam juga ikut andil dari pendarahan Raisa semalam.


"Udah Stev, nggak usah bahas itu lagi. Mas Adam udah maafin aku kok. Kita udah baikan"


Raisa tau kedua sahabatnya itu begitu mengkhawatirkannya. Tapi Raisa juga tidak mau mereka menyalahkan Adam karena semua itu bukan hanya salah Adam saja.


"Beneran??" Fany memastikan.


"Hemm" Raisa mengangguk dengan pipi merona.


"Alhamdulillah deh kalau kaya gitu. Gue ikut seneng, udah nggak tega gue lihat lo kaya kemarin" Stevi mengangguki omongan Fany.


"Emm tapi, apa kalian ada yang kasih tau Papa soal ini??" Harap-harap cemas bagi Raisa. Niatnya ingin menyembunyikan keadaannya dari Papanya, tapi kalau Fany dan Stevi sudah terlanjur menghubungi Satya, mau bagaimana lagi.


"Gue malah lupa kasih tau Om Satya Sa. Gue panik sampai nggak ingat kalau harus kasih kabar ke Om Satya" Fany ingin mengambil ponsel di sakunya.


"Nggak usah, jangan!! Gue nggak mau bikin Papa khawatir, jadi biar aja kaya gini. Lagian gue udah nggak papa kok"


"Saya juga sudah bujuk Raisa, tapi dia tetap nggak mau kasih tau Papa"


"Ya udah, gue ikut apa kata lo"

__ADS_1


"Raisa kapan di bolehin pulang Mas??" Tanya Fany.


"Besok pagi katanya, tapi dia harus bedrest dulu sekitar satu minggu. Kandungannya masih lemah" Raisa langsung meraih tangan Adam, karena melihat Adam yang tampak kembali bersedih.


"Aku nggak papa kok Mas. Semoga aja setelah badrest aku bisa sehat lagi" Ica tak ingin Adam merasa bersalah karena kandungannya yang lemah.


"Betul kata Raisa Mas, aku sama Stevi juga bakalan di sini sampai Raisa sembuh buat temenin dia"


"Tapi kerjaan kalian gimana??" Adam tau mereka dari keluarga jaya raya, tapi mereka juga sudah ikut mengurus bisnis orang tua mereka.


"Itu urusan gampang, kuta juga nggak handle semuanya kok. Orang tua kita juga masih belum percaya sepenuhnya sama kita jadinya ada yang bantu ngurusin kerjaan. Kita bakalan di sini sampai Raisa sembuh, atau mungkin sampai Mas Adam mau pulang ke Jakarta bareng kita" Stevi sengaja melirik Fany yang juga membenarkan sindirannya itu pada Adam.


"Ya sudah, terserah kalian aja. Semoga betah hidup di kampung"


Adam tak yakin mereka akan bisa bertahan lama dari suasana yang jauh dari hingar bingar kota Jakarta.


"Betah dong, kan di sini ada Mas Hanif" Celetuk Stevi dengan malu-malu.


Sejak semalam melihat Hanif ke rumah Adam untuk mengambil bajunya. Stevi yang melihat perawakan Hanif yang gagah dan rupawan hampir mirip seperti Adam membuat Stevi menaruh perhatian lebih pada pria dua puluh lima tahun itu.


Seperti habis Adam terbitlah Hanif.


"Wah, ada yang suka sama kamu tuh kayaknya" Adam mendongak menatap pria yang sebelas dua belas dengannya itu. Selalu tampak dingin dan datar.


"Mbak Stevi hanya bercanda Mas. Kalau gitu saya keluar dulu Mas"


Adam hanya menggelengkan kepalanya melihat Hanif yang sudah melenggang keluar. Adam seperti melihat dirinya di dalam diri Hanif.


"Lo beneran suka sama Mas Hanif Stev??"


Stevi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Seperti bingung dengan perasaannya sendiri.


"Kayaknya sih iya Sa" Cicitnya dengan malu.


"Lo mah semua cowok disukai, alasannya cinta tapi cuma bertahan seminggu abis itu ganti lagi" Fany membantah perasaan Stevi itu.


"Tapi kali ini beda Fan, dia itu beda gitu sama cowok-cowok lain menurut gue. Kaya cinta pada pandangan pertama gitu loh" Stevi menerawang membayangkan wajah Hanif yang dingin tapi terlihat tampan di matanya.

__ADS_1


Melihat kekonyolan sahabat Raisa itu membuat Adam menggelengkan kepalanya.


"Tapi, jangan suka-suka aja kamu Stev. Takutnya nanti ada wanita lain yang hatinya harus Mas Hanif jaga lagi" Raisa ingat bagaimana dia sembarangan mencintai Adam dan kecewa setelah melihat Adam bersama Ayu.


"Emang Mah Hanif udah punya pacar??" Stevi beralih menatap Adam.


"Kalau pacar saya nggak tau, tapi setau saya, dia belum punya istri"


Mendengar hal itu, Stevi seperti mendapat sedikit kesempatan untuk mendekati Hanif. Dia tidak peduli mau di bilang murahan karena terang-terangan mengejar laki-laki. Tapi berkaca dari masalah Raisa dan Adam, Stevi tak ingin menyembunyikan perasaannya.


"Ya udah, gue keluar dulu ya" Pamit Stevi dengan meronanya.


"Hati-hati, jangan sampai Mas Hanif ketakutan sama lo yang terlalu agresif" Cibir Fany.


"Berisik lo Fan!!"


Stevi memilih keluar meninggalkan ketiga orang itu di dalam. Dia menghampiri pria yang menarik perhatiannya sejak semalam.


Dengan menahan rasa gugupnya, Stevi ikut duduk di bangku besi panjang yang di duduki oleh Hanif.


Aneh memang, dia sendiri bingung. Selama ini dia selalu bertemu dengan pria-pria kaya dari keluarga terpandang, tapi dia tidak pernah merasa sanggup itu. Sekarang hanya dengan seorang petani yang bekerja di perkebunan Adam, Stevi merasa gugup setengah mati.


"Ngelamun aja Mas"


Hanif yang terkejut justru bergeser sedikit menjauh dari Stevi. Seperti ingin menjaga jarak.


"Aku temenin ya??"


"Kenapa nggak di dalam aja??" Hanif enggan untuk sekedar menoleh pada wanita yang menurutnya agresif itu.


"Udah ada yang di dalam kok, tapi kan kamu cuma sendirian di sini. Jadi aku temenin nggak papa kan??"


Hanif melirik wanita berkulit putih dengan rambut panjangnya yang di cat agak coklat.


"Saya nggak butuh teman" Ketus pria dingin itu.


"Ya udah kalau gitu pacar aja gimana??"

__ADS_1


Hanif samapi tersentak kebelakang mendengar keberanian Stevi mengungkapkan keinginannya.


__ADS_2