Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Rindu yang terbalaskan


__ADS_3

Sudah lima hari Adam berada di Semarang, tapi pria itu tidak kunjung memberikan kepastian pada Raisa kapan dia akan pulang. Bahkan sudah dua hari ini Adam tidak menghubungi Raisa, dia hanya mengirim pesan tak lebih dari dua kali dalam sehari.


Tentu saja hal itu membuat Raisa uring-uringan, makan tak nafsu, mau melalukan apapun juga rasanya enggan.


Malah kepalanya terasa pening karena terus-terusan rebahan di kasurnya yang kini terasa begitu luas saat di tiduri sendirian.


"Kenapa Papamu nyebelin banget sih dek?? Dia pasti lagi pacaran di sana. Bodoh sekali Mama mu ini karena mencintai Papa mu yang pembohong itu" Meski pun bibir Raisa selalu mencibir Adam dengan pikiran-pikiran buruknya, tapi nyatanya tak dapat di pungkiri lagi jika hatinya merindu dengan begitu dalam.


Baru di tinggal Adam selama lima hari saja sudah membuatnya tak bersemangat seperti itu. Apalagi kalau di tinggalkan Adam selamanya. Raisa belum tau apa yang akan terjadi kepadanya.


Kini Raisa sudah yakin betul jika perasaan yang sempat ia bunuh bertahun-tahun lalu itu nyatanya masih tetap hidup sampai sekarang. Tapi semua tak sesederhana itu. Rasa itu tertutup dengan kebencian dan keegoisan yang sangat tinggi.


Hari sudah semakin sore, Raisa semakin enggan untuk melangkah turun dari ranjangnya meski hanya untuk membersihkan dirinya. Matanya justru terpejam dengan perlahan. Rasa kantuk mengalahkan niatnya untuk pergi membersihkan diri.


Sementara itu, tanpa Raisa ketahui. Adam, pria yang beberapa hari ini menjadi pusat kegalauan Raisa, kini sudah menapakkan kakinya kembali ke Ibu kota sejak satu jam yang lalu.


Langkah lebarnya buru-buru masuk ke dalam rumah besar yang menyimpan istrinya di dalam sana.


"Bi Asih, dimana istri saya??"


Bi Asih sempat terkejut namun kemudian tersenyum karena melihat Adam yang begitu merindukan Raisa.


"Di kamar Mas, terkahir Bibi lihat Non itu tadi siang. Sekarang juga belum turun untuk makan malam"


"Ya udah Bi, saya ke atas dulu"

__ADS_1


Bi Asih hanya tersenyum melihat bagaiman Adam sangat antusias untuk bertemu dengan Raisa, sampai kaki panjangnya itu melompati beberapa anak tangga sekaligus.


Bibir Adam terlihat menipis saat menemukan istri tercintanya tertidur pulas di ranjangnya.


Adam mendekat sembari melepas jas yang masih menempel di tubuh sempurnanya.


Kakinya mulai naik ke ranjang, ingin lebih dekat lagi dengan wanita pujaan hati ya itu.


Ternyata rasa rindu yang di pendam Raisa tidaklah sia-sia. Rasa itu terbalaskan, justru dengan rasa yang lebih dalam, dan lebih ugal-ugalan.


Senyum Adam tak hilang tak kala bisa memandangi wajah cantik milik Raisa. Tangannya yang tak sabaran juga mulai menyentuh pipi Raisa dengan lembut dan hati-hati, tak ingin membangunkan Raisa dulu sebelum dia puas memandanginya.


"Mas kangen banget sama kamu sayang"


Cup...


"Salahkan kalau Mas berharap kalau kamu juga merindukan Mas??


Kini tangan Adam beralih pada perut Riasan yang mulai membuncit.


"Papa pulang sayang, makasih ya karena udah jadi anak baik yang jagain Mama selama Papa pergi"


"Papa sayang kalian"


Sekarang ini, pusat dunia Adam hanyalah Raisa dan calon anak mereka. Tidak ada lagi yang Adam pentingkan di dunia ini selain mereka. Segala cinta dan kasih sayang yang Adam punya sudah terkuras habis untuk mereka.

__ADS_1


Adam menatap dalam wajah damai yang terlelap itu. Wajah yang cantik namun selalu menatap garang penuh kebencian kepadanya.


Tepatnya lima tahun yang lalu, sikap Raisa berubah kepadanya. Raisa menjadi gadis pendiam, keras kepala dan pembangkang. Padahal dulunya Raisa adalah gadis yang manis, periang dan juga bersahabat kepadanya. Kedekatan mereka berdua membuat Adam yang sudah berusia dua puluhan, hantu cinta pada Raisa yang berusia lima belas tahun saat itu. Memang konyol, apalagi Raisa adalah anak dari atasannya sendiri. Tapi apa daya, Adam tak bisa menampik isi hatinya sendiri.


Tapi saat Raisa berumur tujuh belas tahun, hubungan mereka mulai merenggang. Adam hingga saat ini tak tau apa penyebab Raisa berubah seperti itu, apalagi sikapnya yang terlihat begitu membenci Adam. Mulai sejak itu pula, Adam mulai menjauh, membentengi dirinya dengan sikap dingin dan tak tersentuh selama ini.


Menurutnya, itu yang terbaik untuknya. Mungkin juga itu salah satu cara agar Adam bisa mengubur perasaan yang tak semestinya itu. Lagipula, jika Adam semakin menumpuknya, rasanya tetap tidak mungkin dia bisa memiliki Raisa seutuhnya. Dia sadar betul siapa dirinya dan siapa Raisa.


Tapi rencana Tuhan siapa yang tau. Saat Adam sudah mulai menerima takdirnya jika dia tidak akan bisa menerima Raisa. Peristiwa malam kelam itu terjadi.


Jika boleh jujur, Adam saat itu masih sedikit sadar. Dia juga bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di bawah kungkungan tubuhnya. Bisa juga merasakan saat dirinya merobek pertahanan Raisa yang telah ia renggut. Tapi karena pengaruh obat itu, Adam tidak bisa lagi menghentikan dirinya.


Adam juga merasa bersalah pada Raisa karena jujur, dia adalah orang yang paling bahagia dari kejadian itu. Meski tak dapat di pungkiri, dia juga hancur melihat Raisa hancur seperti saat itu.


Tapi mau bagaimana lagi, di samping dia memang harus bertanggungjawab. Tapi dia juga hanya punya satu kesempatan itu untuk mendapatkan Raisa. Meski Adam sadar jika nantinya hati Raisa akan terlalu susah untuk ia raih.


"Maafkan Mas sayang"


Cup...


Sekali lagi Adam mendaratkan kecupannya pada kening Raisa. Meski sejak tadi mendapat sentuhan-sentuhan lembut dari Adam, Raisa seperti tak terusik sama sekali.


Justru Raisa menarik lengan Adam kemudian memeluknya dengan erat. Adam yang tak akan pernah bisa menolak, di dukung dengan badan Adam yang terlalu letih karena selama di luar kota dia bekerja tanpa henti, Adam ikut berbaring di samping Raisa. Mengabaikan kemeja dan celana bahan yang belum di ganti.


Niat Adam yang hanya ingin ikut Raisa berbaring untuk mengistirahatkan tubuhnya, matanya justru semakin berat kemudian perlahan mengikuti Raisa ke dalam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2