
Sudah hampir satu jam Raisa berdiam diri di dalam bathubnya. Air yang semula hangat pun sudah dingin tak lagi membuat tubuhnya nyaman.
Raisa terus terdiam dengan tatapan kosongnya. Dia masih terpaku dengan ucapan Adam saat pulang dari rumah sakit tadi siang.
"Atau sebenarnya kamu masih ragu sama aku dan masih yakin dengan pikiran kamu itu kalau aku ini hanya mengincar harta keluargamu saja??"
Deg...
Raisa semakin bungkam, mungkin menjadi bisu secara mendadak. Tebakan Adam tepat menancap pada ulu hati Raisa yang masih dalam kebimbangan.
Dalam diamnya itu, Raisa terkejut bukan main. Raisa kira, Adam akan marah dan membentaknya karena diamnya Raisa sebagai penanda jika pertanyaan Adam itu di benarkan oleh Raisa.
Tapi nyatanya, Adam justru meraih tangannya yang sejak tadi jari-jarinya saling meremas. Menariknya ke dalam genggamannya yang lembut itu.
"Mas tau apa yang kamu rasakan, meski Mas sampai saat ini tidak tau apa yang membuat kamu bisa berpikir seperti itu tentang Mas. Percaya sama orang lain itu memang sulit Sa, Mas paham dan Mas nggak akan memaksa. Tapi Mas akan buktikan sama kamu kalau Mas tidak seburuk itu"
Di akhir kalimatnya, Adam justru menunjukkan senyum tipisnya yang membuat hati Raisa semakin pedih.
Sampai-sampai Raisa tak habis pikir kenapa Adam bisa setenang itu saat Raisa tidak mengelak tentang pertanyaan Adam itu.
"Bukannya kalau tidak benar itu harusnya marah atau tidak terima?? Tapi kenapa dia kaya gini?? Apa dia mencoba bersabar demi maksud tertentu??"
Pikiran Raisa yang konyol itu terus saja ada dalam otaknya. Dia menjadi wanita yang over thinking dan sulit sekali percaya dengan orang lain sejak saat itu.
( Ini ya yang pada gemes sama Raisa kenapa dia selalu berpikiran buruk dan nggak bisa percaya sama orang lain. Dia pernah ada dalam posisi yang percaya banget sama Adam tapi mendengar permintaan ibunya Adam di tambah lagi perhatian Adam yang ternyata menangkap Adam bersama Ayu. Jadi deh dia kecewa dan tidak bisa percaya lagi meski semua itu belum tentu benar 😌😌😌😌)
Saat itu pun Raisa diam tak bisa menjawab Adam atau menyetujui Adam yang ingin membuktikan padanya jika dia benar-benar tulus bukan seperti yang Adan tuduhkan.
Raisa segera bangkit dari dalam bathubnya. Jari-jarinya yang berubah keriput itu membuatnya sadar apa yang ia lakukan itu bisa saja membuat janinnya tidak nyaman.
Dia keluar kamar mandi menggunakan bathrobenya karena dia lupa membawa baju gantinya ke dalam kamar mandi. Lagi pula Adam juga tidak ada di kamarnya karena sejak pulang dari rumah sakit tadi siang, Adam pergi lagi dan entah kemana.
__ADS_1
Tapi Raisa salah, ketika dia keluar dari kamar mandi yang ruangannya menyatu dengan ruang ganti. Raisa menangkap sosok yang sudah sangat ia kenali walau kini dia sedang berdiri membelakanginya. Pria itu tampak sedang mengambil beberapa helai baju dari lemarinya.
Tapi yang membuat Raisa merasa aneh, Adam sama sekali tek menoleh ke arahnya sama sekali. Padahal Raisa yakin jika Adam tau dia berada di belakangnya.
"Dari mana Mas??" Kalimat pertama yang keluar dari bibir Raisa sejak tadi siang.
"Oh, kamu sudah selesai mandi. Maaf Mas nggak dengar jamu keluar"
Raisa semakin mengerutkan keningnya karena Adam menjawab pertanyaannya dengan jawaban lain. Dia juga masih setia membelakangi Raisa.
"Mas!!" Panggil Raisa dengan maksud untuk membuat Adam berbalik menatapnya.
"Aku tanya dari mana kamu?? Bukannya kamu udah bilang kalau hari ini nggak ke kantor ya??" Raisa yang kesal akhirnya berdiri di samping Adam yang terus menatap tumpukan bajunya.
Tapi Raisa di buat semakin kesal karena Adam justru membuang wajahnya ke arah berlawanan dengan Raisa.
"Ck!!" Raisa menarik lengan Adam hingga dia bisa memutar tubuh Adam menghadap kepadanya.
"Sshhhh.." Adam mendesis kala Raisa menyentuh lebam di ujung bibir Adam.
"Apa yang terjadi sebenarnya??"
"Mas nggak papa kok Sa, ini udah biasa kok. Kamu tau kan kerjaan Mas itu apa??"
Tapi jawaban Adam tak membuat Raisa puas. Dia menuntun Adam kembali ke kamar, mendudukkan Adam pada sofa yang ada di sana.
"Emangnya ada masalah apa??" Raisa tampak khawatir dengan keadaan Adam. Lebam di beberapa titik wajah tampan itu tampak menyakitkan.
"Cuma maslah kecil aja, nggak usah kamu pikirin ya?? Udah selesai kok masalahnya. Ingat kamu nggak boleh banyak pikiran"
Tapi nampaknya, Raisa tidak mendengarkan ucapan Adam sama sekali. Pikirannya tentu saja di penuhi banyak pertanyaan. Ketidakjujuran Adam itu justru membuat Raisa semakin curiga. Ketidakjujuran itu yang membuat Raisa semakin tidak yakin dengan apa yang Adam tunjukkan kepadanya saat ini.
__ADS_1
Raisa tak menanggapi apapun, tapi dia mengambil kotak obatnya. Duduk di samping Adam untuk mengobati wajah Adam yang lebam-lebam itu tanpa sepatah katapun.
Adam diam saja seperti tak merasakan sakit sama sekali, bahkan saat Raisa tanpa sengaja menekan lukanya terlalu keras.
"Kenapa kamu nggak bisa jujur sama aku Mas?? Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan"
Jarak keduanya yang teramat dekat membuat wajah Adam yang sebenarnya perih itu tersapu hembusan nafas Raisa.
Grepp..
Adam menahan tangan Raisa hingga tetap menggantung di depan wajah Adam.
"Sa"
"Hemm??" Jarak merkea berdua belum terkikis sama sekali, masih teramat dekat.
"Boleh Mas tanya sekali lagi??"
"Apa??" Mata Raisa menatap bola mata Adam yang berwarna coklat kehitaman itu.
"Apa kamu bisa percaya sama Mas??"
Untuk sepersekian detik Raisa terdiam, kemudian sengaja menjauhkan wajahnya dari Adam. Kemudian berdiri membelakangi Adam.
"Aku tidak tau, tapi di saat aku ingin percaya, aku di pukul kenyataan kalau kamu itu terlalu misterius buat aku"
Setelah mengatakan itu, Raisa memilih masuk ke ruang ganti untuk mengganti bajunya atau lebih tepatnya menyembunyikan diri dari Adam.
Sementara pria babak belur itu, hanya menatap ke ruang ganti dengan nanar.
"Mas sebenarnya hanya butuh kepercayaan kamu sayang"
__ADS_1