Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Mbak Yuli


__ADS_3

Sudah dua hari Adam berada di kampungnya. Sudah dua hari pula Adam menonaktifkan ponselnya dengan sengaja. Dia tau kalau sejak kemarin Raisa pasti akan terus menghubunginya. Bukannya percaya diri, tapi kalau melihat usaha Raisa dari kemarin untuk meluluhkan hatinya, membuat Adam berpikir seperti itu.


Adam terus menatap hamparan luas perkebunan sayur di depannya. Perkebunan yang menjadi tempatnya melupakan masalahnya selama dua hari ini.


Tangannya masih saja menggenggam ponselnya. Masih ragu antara ingin mengaktifkan kembali atau tidak.


"Heh, ngelamun aja. Sawi mu itu ndak akan bisa di panen besok walau kamu terus melihatnya sampai nanti malam " Seorang wanita menepuk pundak Adam dari belakang.


"Mbak Yuli, ngagetin aja" Adam melirik wanita yang hampir berkepala empat itu. Wanita yang selalu ia anggap sebagai Kakaknya sendiri. Cucu dari Mbah Welas.


"Mikirin opo to Dam??" Mbak Yuli duduk di samping Adam, di sebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu.


"Nggak ada Mbak, cuma ngantuk aja. Anginnya sepoi-sepoi enak banget buat tidur"


Wanita berambut panjang dan di kepang menjadi satu kebelakang itu hanya tersenyum tipis menanggapi kebohongan Adam.


"Mbak ini emang ndak tau tentang kehidupan kamu sekarang ini Dam. Mbak juga masih kaget saat kamu tiba-tiba telepon Mbak dan bilang mau menikah. Dan sekarang, kamu tiba-tiba pulang tanpa kasih kabar dulu, sendirian pula tanpa istri kamu"


Adam menoleh pada Yuli, Adam tau jika wanita itu bisa menebak kondisinya sekarang.


"Mbak ndak memaksa kamu cerita sama Mbak tentang masalah kamu saat ini, tapi Mbak cuma bisa kasih saran aja, kalau semua masalah itu bisa di selesaikan dengan kepala dingin. Jangan mengambil keputusan di saat hati kamu sedang kacau. Nantinya kamu pasti menyesal sendiri dengan keputusan itu"


Adam menunduk, namun bibirnya tersenyum kecut. Dirinya sudah mencoba untuk tidak terbawa oleh amarah. Tapi dia sendiri belum bisa mengambil keputusan. Dia justru menjadi pengecut dengan melarikan diri dari masalahnya.


"Mbak, kalau seandainya Mbak Yuli mencintai seseorang, namun orang itu tidak pernah menganggap keberadaan Mbak Yuli, selalu menuduh Mbak Yuli dengan hal-hal yang tidak pernah Mbak Yuli lakukan, gimana tanggapan Mbak Yuli??"


"Memangnya apa yang membuat orang itu menuduh kita seperti itu?? Apa kita pernah buat kesalahan sampai orang itu berpikir seperti itu??"


Adam menggeleng "Orang itu hanya salah paham dan tidak sengaja mendengar omongan seseorang"


"Kalau gitu kamu udah tau akar masalahnya cuma karena salah paham to Dam?? Ya berarti jelaskan aja yang sebenarnya gimana. Dia marah dan selalu menuduh yang tidak benar itu kan karena sudah mendengar sesuatu yang salah"


Adam masih terasa sangat berat meski sudah mendapatkan jawaban dari Yuli. Menurutnya Yuli tidak akan pernah tau apa yang dia rasakan jika belum mengalaminya sendiri.


"Terus, apa Mbak Yuli percaya kalau dia bilang dia mencintai Mbak Yuli?? Dia bilang kalau selama ini sebenarnya dia mencintai Mbak Yuli, tapi karena kesalahpahaman itu, dia menutupi perasaannya itu dengan kebencian"


"Mbak percaya"

__ADS_1


Adam langsung menoleh lagi pad Yuli. Secepat itu Yuli memberikan jawaban tanpa berpikir terlebih dulu.


"Alasannya??"


"Kalau dia ndak cinta sama kita, dia ndak mungkin sebenci itu sama kita Dam. Dia seperti itu karena dia terlanjur kecewa dan sakit hati meski semua itu tak berdasar"


Adam kembali diam, semua yang di katakan Yuli memang benar dan masuk ke dalam otaknya.


Tapi...


Bagaimana dengan perasaannya yang terlanjur hancur karena di jebak oleh Raisa??


Seandainya saja Raisa tidak memberikan Adam kepada Aryo dan Rio sebagai umpan, Adam telah memaafkan semua kesalahan Raisa di masa lalu.


"Makasih udah mau dengerin aku Mbak"


"Sama-sama Dam" Yuli menepuk pundak Adam.


"Ternyata kamu masih Adam yang dulu, Adam adik Mbak yang manis meski sekarang gagah dan dingin" Mbak Yuli beralih mencolek dagu Adam dengan genit. Wanita yang belum mempunyai keturunan meksi sudah lima belas tahun menikah.


"Jangan genit Mbak, ingat suami lagi nyangkul tuh. Nanti cangkulnya bisa di lempar ke sini" Tunjuk Adam pada seseorang yang agak jauh darinya.


Dan tanpa orang itu ketahui mereka berdua sedang membicarakannya, suami Yuli justru melambaikan tangannya dari kejauhan.


Satu minggu setelah kepergian Adam ke kampung halamannya, Raisa sudah layaknya mayat hidup. Dia hanya diam di kamar Adam sambil terus berharap penghuninya akan segera kembali setelah satu minggu tak ada kabar.


" Mas Ica kangen"


Tes....


Air mata seakan sudah menjadi sahabat Raisa sehari-hari. Tak mengenal waktu dan suasana, saat hatinya merasakan rindu sosok pria yang menduduki kasta tertinggi dalam hatinya, air mata langsung jatuh tanpa terkendali.


"Kamu juga kangen Papa kan Dek??" Di usapnya dengan lembut perutnya. Janin yang belum genap empat bulan itu juga seolah rasakan kepergian Papanya.


Seperti kemari malam, Riasan terbangun dari tidurnya hanya karena merasa mencium bau keringat Adam. Bau khas laki-laki yang begitu ia sukai semenjak hamil.


"Rasanya Ica nggak kuat kalau terus seperti ini Mas" Raisa kembali sesenggukan seorang diri.

__ADS_1


Keadaanya akan semakin memperihatinkan jika Raisa terus saja menangis seperti itu. Makan pun jarang, bahkan hanya makanan sesuap dua suap saja dalam sehari. Tubuhnya bukannya bertambah gemuk saat hamil, Raisa justru terlihat lebih kurus dalam satu minggu. Pipinya yang sempat membuat Adam gemas karena semakin mengembang, kini terlihat tirus. Belum lagi lingkaran hitam pada matanya, juga bibirnya yang pucat. Membuat siapa saja yang melihatnya begitu khawatir.


Bukannya tak ada yang mau membujuk Raisa untuk sekedar mengisi tenaganya dengan makanan. Tapi Raisa yang keras kepala tetap juga susah di bujuk.


Hingga saat ini Satya kembali mendatangkan kedua sahabat Raisa seperti beberapa hari yang lalu. Satya berharap mereka bisa membujuk Raisa seperti waktu itu.


Raisa menghapus cepat air matanya ketika mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya.


"Fan, Stev, kalian di sini??"


Raisa melihat kedua sahabatnya itu muncul lagi setelah hampir satu minggu.


"Iya Sa, maaf ya kalau kita baru bisa ke sini lagi. Kita sibuk banget seminggu ini" Ucap Fany, dia saja sebenarnya sedang ada di bandung. Tapi karena tadi pagi Satya menghubunginya secara langsung, maka cepat-cepat dia kembali ke jakarta untuk menemui Raisa.


"Gue paha kok Fan, harusnya kalian nggak usah repot-repot datang ke sini. Kerjaan kalian gimana jadinya"


"Nggak usah pikirin kerjaan kita, yang penting itu lo sahabat kita"


Raisa merasa beruntung karena mendapatkan dua sahabat seperti mereka.


"Oh ya, gue bawain bolen pisang kesukaan lo. Ini dari bandung asli loh, tempat biasa kita beli kalau di Bandung. Gue buka ya, lo harus coba" Fany membuka paper bag yang di bawanya.


"Makasih ya Fan, tapi gue lagi nggak pingin makan apa-apa. Gue kenyang" Fany langsung menatap Stevi, mereka tau kalau Raisa sedang berbohong. Bagaimana bisa dia kenyang kalau sejak pagi saja belum makan sama sekali. Menjerit Bi Asih saja Raisa terakhir makan adalah kemarin sore.


"Sa, gue tau kondisi lo saat ini. Gue kan udah bilang kalau anda anak yang harus lo jaga dalam kandungan lo. Biar lo nggak laper tapi dia butuh makan Sa" Stevi angkat bicara.


Tiba-tiba Risa menunduk sedih, kembali menangis di hadapan kedua wanita itu.


"Gua harus gimana sekarang?? Gue udah hancur, gue nggak kuat kalau kaya gini terus. Gue sayang sama anak gue, tapi untuk menelan makanan aja rasanya nggak bisa"


Stevi memeluk Raisa dengan erat,dia tau Raisa mulai terguncang saat ini.


"Terus lo mau apa sekarang Sa?? Bilang sama kita berdua. Kita pasti bakalan bantuin lo termasuk susulin Mas Adam ke kampung juga bakalan gue lakuin" Fany terlihat kesal saat ini. Bukan karena Raisa tapi karena keadaan.


"Lo bener Fan!!" Raisa menegakan badannya tiba-tiba.


"Hah??" Fany tampak tak sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan.

__ADS_1


"Lo sih!!" Stevi menyentil dahi Fany.


"Gue nggak bisa diam aja kaya gini, kalau Mas Adam nggak mau pulang. Biar gue yang paksa dia pulang!!"


__ADS_2