
"Untuk sementara, biarkan dia dulu. Kita pura-pura nggak tau dulu sampai aku pulang ke Jakarta"
"..........."
"Hemm, terus awasi apapun pergerakannya. Hubungi aku kalau ada apa-apa"
Adam menjauhkan ponsel dari telinganya setelah memutus panggilan dari Joni. Salah satu bodyguard di rumah Satya yang kini di angkat menjadi asistennya sesuai arahan dari Satya.
"Ada apa Mas??" Raisa yang sejak tadi menunggu Adam menyelesaikan panggilannya itu akhirnya tak sabar untuk ingin tau.
Adam kembali mendekat ke ranjang, di mana istrinya itu sudah tiga hari ini tak meninggalkan tempat itu.
"Yang telepon barusan itu Joni. Dia yang Mas minta untuk menyelidiki nomor yang menghubungi Ayu waktu itu"
"Terus, siapa orangnya?? Katanya perempuan??"
"Gaby"
"Apa!!!" Raisa membekap mulutnya, dia tak percaya jika musuhnya benar-benar berada di dekatnya.
"Tapi kenapa Gaby melakukan itu Mas?? Dia suka sama kamu kan?? Aku udah bisa lihat dari cara dia menatap kamu" Raisa langsung membuang mukanya dengan bibirnya yang mengerucut.
Adam tersenyum melihat tingkah Raisa yang seperti itu.
"Kamu cemburu ya??" Adam meraih dagu Raisa untuk melihat wajah menggemaskan Raisa ketika marah.
"Dih, ngapain cemburu sama dia. Nggak level?!" Sifat angkuh Raisa kembali muncul dan berhasil membuat Adam terkekeh geli.
"Biarpun dia suka sama Mas, tapi kan cuma kamu yang ada di hati Mas yank" Rayu Adam.
"Gombal, nggak mempan!!" Bibir Raisa berdusta karena nyatanya pipinya sudah memanas mendapat gombalan kecil seperti itu.
"Istri Mas kalau ngambek bikin gemes, pingin Mas gigit bibirnya yang manyun itu" Raisa langsung menoleh pada suaminya.
"Serius dong Mas!! Malah bercanda!!" Raisa hanya ingin menghentikan Adam yang terus menggodanya.
"Sebenernya ada masalah apa Gaby sama kita?? Atau jangan-jangan ada hubungannya sama Rio dan Papanya??"
Adam kembali serius menanggapi tentang masalah Gaby.
"Iya, Gaby itu orang yang sengaja Rio masukkan ke kantor kita. Tapi yang lebih menguntungkan dari ini, ternyata Joni menemukan bukti percakapan Gaby dan Om kamu di salah satu ponselnya yang berhasil di sadap"
Raisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ternyata Omnya itu benar-benar terlibat.
__ADS_1
"Sebelumnya kan Papa masih terus mencari bukti yang tentang keterlibatan Om kamu itu. Nah ternyata kita bisa mendapatkannya dari Gaby. Om kamu itu punya percakapan di hari kamu mau bawa Mas waktu itu"
"Waktu itu Gaby sempat tanya sama Mas kenapa kok kelihatan bagia banget. Ternyata Gaby hanya memastikan kalau Mas memang tidak curiga apa-apa sama rencana kamu waktu itu" Jelas Adam.
"Mungkin bukti ini tidak bisa menyeret Pak Sandi ke pengadilan, bukti ini termasuk tidak sah karena kita mendapatkannya dengan cara menyadap. Tapi kita bisa menggunakan Gaby"
"Maaf Mas" Lirih Raisa saat dia ingat kejadian malam di mana matanya terbuka dengan lebar.
"Mas udah maafin kamu sayang, asalkan jangan pernah kamu meragukan Mas lagi"
Raisa menggeleng dengan sungguh-sungguh. Menatap mata yang begitu teduh ketika memandang dirinya.
"Nggak akan, Ica nggak akan melakukan hal bodoh untuk ke dua kalinya"
Cup...
Adam mengecup dahi Raisa dengan begitu mesra. Dirinya masih tak menyangka jika kini cinta mereka berdua telah menyatu. Meski harus melewati waktu bertahun-tahun, dimana mereka terus saling menyakiti dengan kesalahpahaman. Namun kini, semuanya itu terbayar sudah.
"Mas percaya sama kamu"
Mata mereka saling beradu. Memancarkan binar-binar bahagia yang tiada tara.
"Cepat sembuh ya sayang. Kamu dan anak kita harus sehat terus biar Mas bisa tenang. Biar Mas bisa ajak kamu jalan-jalan keliling perkebunan di sini. Biar bisa itu juga" Mata Adam mengerling nakal pada Raisa.
"Ya itu, masa kamu nggak tau yank" Adam terus menampakkan senyum jahilnya.
"Apa sih??" Raisa semakin bingung menatap suaminya.
"Itu loh, yang katanya kamu juga pingin"
Mata Raisa sampai melebar sempurna kala mendengar ucapan Adam tadi. Bagaiman mungkin Adam yang dulunya seperti kulkas sepuluh pintu ternyata mempunyai pikiran yang sering di luar dugaan Raisa.
"Dasar messuuuummmm!!!!" Raisa menutup wajah Adam yang tersenyum lebar dengan bantal guling di sampingnya.
*
*
*
Kedua gadis metropolitan yang modis dan selalu mengikuti perkembangan zaman itu tampak asik berkeliling perkebunan dengan topi lebar yang melindungi paras mereka dari paparan sinar matahari.
Meski kadang-kadang mereka juga masuk ke dalam green house, tapi panas sinar matahari masih saja menyengat di kulit.
__ADS_1
Mereka benar-benar seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Berkali-kali memetik sayuran yang mereka suka meski kadang ngawur tak tau cara yang benar.
"Enak juga kalau punya kebun samping rumah kaya gini ya Fan" Ujar Stevi sambil melihat ke seluruh penjuru perkebunan yang luas itu.
"Lo suka di sini??" Fany masih asik memakan tomat yang dia petik sendiri.
Stevi mengangguk dengan malu-malu. Menunjukkan wajah yang aneh menurut Fany.
"Muka lo malu-malu kaya gitu nggak cocok!!" Cibir Fany.
"Syirik aja lo, nggak suka gue seneng ya??" Stevi mendengus kesal pada sahabatnya itu. Meski mereka sering sekali cek cok seperti itu, tapi mereka tak pernah menganggapnya serius.
Fany tak menanggapi, dia terus berjalan di antara tanaman selada yang terlihat segar dengan daunnya sayang tumbuh mengembang besar berwarna hijau.
"Eh, ada Mas Hanif" Celetuk Stevi yang melihat Hanif sedang berjongkok memegang tanaman selada itu, tak tau apa yang sedang di lakukan pria itu yang jelas dia sedang tidak memanen selada.
Pria itu diam saja bahkan ketika kedua wanita itu mendekat ke arahnya.
"Seladanya udah besar-besar gini kok belum di panen Mas??" Tanya Fany yang juga ikut memegang selada-selada segar itu.
"Masih dua hari lagi, yang sekarang masih ambil yang di sana dulu" Tunjuk Hanif jauh ke sebelah barat.
Stevi sempat terpaku sejenak, mendengar Hanif yang dengan mudah menjawab pertanyaan Fany ketimbang dirinya dari kemarin-kemarin.
"Ohh, jadi ada jadwalnya??"
"Iya, nggak bisa asal. Kan waktu tanamnya juga ada jadwalnya"
Stevi hanya menjadi pendengar di antara Hanif dan Fany yang saling melempar obrolan.
Namun mata Stevi tak pernah lepas dari pria yang benar-benar bisa mempengaruhi seluruh hati dan pikirannya itu.
Keringat yang membasahi dahi dan leher Hanif menjadi bukti jika pria itu juga merasakan panas yang sama dengan dirinya. Berkali-kali pula Hanif menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangannya yang terbalut sarung tangan.
"Minum dulu Mas"
Minum dulu Mas"
Stevi terkejut karena dia dan Fany sama-sama mengulurkan air mineral yang sejak tadi di bawa mereka.
"Makasih"
Deg....
__ADS_1
Salah satu dari dua wanita yang mengulurkan air minumnya itu merasakan sakit yang teramat sangat saat Hanif tidak memilih air minum yang ia berikan. Dia sakit karena nyatanya dia bukan pilihan bagi Hanif.