
Deg....
Seorang wanita keluar dari pintu di depannya. Seorang wanita yang pernah ia lihat beberapa tahun yang lalu.
Gerakan di depannya terlihat sepeti slowmotion saat wanita itu melewatinya begitu saja. Dengan senyuman yang manis dan terlihat polos seperti yang pernah ia lihat dulu.
"Dia??"
Hanya berselang beberapa detik, saat Raisa saja belum kembali pada kesadarannya. Matanya juga masih terus menatap wanita yang kini semakin menjauh darinya. Adam juga keluar dari ruangannya.
"Sa, kamu di sini??"
Adam terkejut melihat Raisa ada di sana dengan tatapan yang tertuju pada arah perginya wanita tadi.
"I-iya aku bosan di rumah" Raisa mengusap ujung matanya yang berair kemudian menatap Adam yang tampak biasa saja.
"Memangnya kamu sudah sembuh??" Adam ingin menyentuh kening Raisa namun pemiliknya lebih dulu menghindar.
"Oh ya tadi, wanita itu siapa??"
"Bukan siapa-siapa, tidak penting" Jawab Adam dengan wajah tak suka. Tapi jawaban dari Adam justru membuat hati Raisa terasa di cubit.
Begitu tidak pentingkah Raisa bagi Adam sehingga Adam tidak pernah menjelaskan siapa wanita itu dalam hidup Adam.
"Oh, ya udah kalau gitu aku pulang dulu" Buru-buru Raisa berbalik pergi, mengubur niat yang sebenarnya untuk datang ke sana.
"Loh Sa, kenapa pergi?? Katanya bosan di rumah??" Adam mensejajarkan langkahnya dengan Raisa.
"Tiba-tiba kepalaku sakit lagi" Itu hanya Alasan Raisa saja, karena sesungguhnya hatinya yang lebih sakit.
"Aku antar pulang ya??" Adam meraih tangan Raisa untuk mengajaknya ke tempat dimana mobilnya berada.
"Nggak usah, aku pulang sendiri aja!!" Tolak Raisa seraya menghentakkan tangan Adam dengan kasar.
"Kamu kenapa Sa??" Adam menatap Raisa dengan lekat karena penolakan Raisa tadi.
"Nggak papa, aku pergi dulu. Sana cepat masuk ke dalam!! Jangan sia-siakan kepercayaan Papa dengan bekerja seenak mu sendiri" Raisa tak peduli lagi jika ucapannya akan menyakiti hati Adam.
Sepertinya dia mulai menyesali keputusannya untuk menerima pernikahannya dengan Adam. Mulai saat ini, Raisa juga akan menjadi Raisa yang biasanya. Dia yang menganggap Adam sebagai rivalnya, juga Adam yang masuk ke dalam list pria yang tidak akan pernah masuk ke dalam hatinya.
Raisa mulai menjauh dari Adam, berjalan dengan cepat tanpa mau menoleh ke belakang sedikitpun. Begitu pula dengan Adam, pria itu masih berdiri di posisinya, terus memandang punggung Raisa yang tertutup rambut itu menjauh.
"Kenapa kamu berubah-ubah seperti ini Sa?? Sungguh sikap mu membuat ku bingung"
*
*
*
Ketiga sahabat itu masih saling terdiam meski sudah sepuluh menit mereka duduk bersama. Dua di antaranya hanya memandang Raisa yang sejak tadi hanya diam melamun di hadapan mereka.
__ADS_1
"Hemm" Akhirnya Fany membuka suara, dia yang tak sabaran sudah jengah dengan aksi diam mereka itu.
"Mau pesan makan nggak nih?? Udah lapar nih gue"
"Ya udah pesan aja" Stevi tampaknya setuju dengan Fany. Dia datang ke cafe itu dengan buru-buru karena Raisa mengajak bertemu, akan sampai meninggalkan makan siangnya.
"Lo Sa??"
Raisa hanya menggeleng, mana ada selera makan saat harinya begitu pelik.
"Terus kenapa lo ngajak kita ketemu di sini kalau lo nggak makan Sa??" Tanya Stevi saat Fany selesai memesan makanannya.
Fany ikut menyimak apa akan Raisa sampaikan. Melihat keadaan Raisa yang tampak tak baik-baik saja, Fany mulai khawatir pada Raisa.
"Hufffttt" Hembusan nafas kasar dari Raisa itu semakin membuat Stevi penasaran.
"Cerita pelan-pelan, nggak usah di paksa oke!!" Ucap Fany.
"Menurut kalian, gue harus gimana?? Tetap bertahan atau melepaskan??"
"Hah??" Kedua sabatnya itu sama sekali tak mengerti maksud Raisa.
Sebenarnya Raisa tak ingin menceritakan masalah keluarganya kepada mereka berdua. Mengingat terakhir kali, Stevi sempat membuat Adam tersinggung.
Tapi Raisa butuh teman untuk sedikit meringankan pundaknya. Mungin dengan berbagi cerita, hatinya akan sedikit lega.
"Sebenarnya, beberapa hari yang lalu, gue udah ngomong sama Mas Adam tentang kelanjutan hubungan kita" Raisa menatap kedua sahabatnya yang terlihat menunggu cerita darinya.
Raisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Punggungnya mulai bergetar, pertanda dia mulai terisak. Dia tak tahan lagi membendung air matanya. Usapan di punggungnya yang di lakukan oleh Stevi justru membuatnya semakin terisak.
"Tapi, di saat gue pingin berubah. Gue seakan di tampar kenyataan kalau ternyata dia udah ada wanita yang dicintainya"
"Apa!!"
"Maksud lo??" Stevi menghentikan usapan lembutnya.
Raisa membuka tangannya, lalu mengangguk. Dia mengusap air mata juga ingusnya yang keluar tak tau aturan.
"Tadi di kantor, ada cewek yang ketemu Mas Adam. Gue masih ingat betul kalau dia cewek yang sama lima tahun lalu"
"Tapi bisa aja kan dia itu saudara jauh atau temannya gitu" Fany mencoba berpikir positif.
"Enggak, dulu gue denger sendiri kalau cewek itu bilang cinta sama Mas Adam. Nggak mungkin kan kalah saudara ngomong cinta-cintaan"
Kedua sahabatnya itu ikut lemas mendengar penjelasan Raisa. Tak menyangka jika pria pendiam seperti Adam memiliki tambatan hati selama ini.
"Terus lo gimana sekarang??"
"Gue nggak tau Fan, mau bertahan juga nggak bakalan baik buat kita berdua. Mau bubar tapi gue baru aja mau buka lembaran baru"
"Apalagi ada calon anak gue sekarang. Maaf kalau masalah ini gue nggak bisa cerita"
__ADS_1
Raisa merasa begitu berat mengambil keputusan, apalagi jika menyangkut Papanya juga. Pernikahan yang di awali dengan scandal, kemudian bercerai di usia pernikahan baru seumur jagung. Rasanya tidak mungkin bagi Raisa.
Tapi langkah apa yang harus dia ambil sekarang, sedangkan Adam saja ada hati yang lain. Sementara kehamilannya juga tak bisa ia sembunyikan selamanya. Perutnya pelan tapi pasti akan membesar, dengan begitu Adam tidak mungkin menceraikannya, tapi semua itu hanyalah sebatas tanggungjawab saja.
"Tapi menurut gue, lo harus tanya baik-baik sama laki lo Sa. Daripada tebak-tebakan gini jadinya lo yang bingung. Bisa jadi dulu cewek itu pacarnya, tapi sekarang udah bubar kan nggak tau"
"Gue setuju sama Fany Sa, lo ngga boleh mikir aneh-aneh dulu sebelum lo dengar sendiri dari Mas Adam"
"Gue nggak tau"
Raisa menghambur ke pelukan Fany, meminjam bahunya sebagai sandaran saat ini. Entah langkah apa yang harus ia ambil saat ini, tapi sedikit bebannya bulai berkurang setelah bercerita kepada kedua sahabatnya.
"Tapu gue minta sama kalian, jangan sampai ada orang yang tau tentang masalah gue ini. Termasuk Rio, juga mulut lo itu harus di rem kalau di depan laki gue Step!!" Delik Raisa pada Stevi mengingat kejadian waktu itu.
"Iya sorry, waktu itu gie khilaf"
"Awas kalian macam-macam. Nggak gue anggap sahabat gue lagi tau rasa"
"Iya-iya Sa, kita janji"
*
*
*
Sampai di depan rumahnya, Raisa yang baru turun dari taksi onlinenya sudah di sambut seseorang dengan jaket hijau khas salah satu transportasi online yang sedang terkenal saat ini.
Pria yang menggunakan atribut lengkap sebagai pemotor itu lantas menghampiri Raisa dengan sebuah amplop di tangannya.
"Dengan Mbak Raisa ya??"
"Siapa ya??" Raisa tak mungkin langsung mengiyakan pertanyaan orang yang tidak di kenalnya itu.
"Ada paket buat Mbak Raisa" Pria itu memberikan amplop kepada Raisa.
"Dari siapa??" Raisa memblok balik amplop berukuran besar berwarna coklat itu sama sekali tidak ada nama pengirimnya.
"Saya juga tidak tau Mbak, saya cuma di beri tugas memberikannya pada Mbak Raisa langsung"
Raisa hanya mengangguk meski sangat penasaran siapa pengirimnya dan apa isi dari amplop itu.
"Saya permisi Mbak"
"Hemm, makasih"
Raisa membawa amplop misterius itu ke kamarnya. Karena rasa penasarannya, dia langsung membukanya dengan tergesa-gesa.
Raisa hanya memandang kertas-kertas dari amplop itu dengan ekspresi tak terbaca. Antara marah, sedih dan kecewa. Entah apa yang isi kertas itu, sampai Raisa meremasnya dengan begitu kuat.
"Aku ikuti permainan ini, asalkan kebusukannya benar-benar terbongkar"
__ADS_1