Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Ngidam


__ADS_3

Adam melangkah tergesa-gesa menuju kamar Raisa. Dia merasa begitu khawatir dengan istrinya itu, terlebih lagi sejak tadi Raisa tidak pernah mengangkat panggilan darinya. Juga Bi Asih yang mengatakan jika Raisa tak keluar kamar sejak kembali tadi siang.


"Sa!!"


Adam menerobos masuk ke kamar Raisa tanpa mengetuknya lebih dulu.


"Akkkhhh!!!" Teriak Raisa sambil menutupi bagian depannya dengan keuda tangannya. Pasalnya tubuhnya itu hanya berbalut handuk dari dada hingga pahanya.


"M-maaf, aku tidak sengaja" Adam langsung berbalik memunggungi Raisa. Daun telinganya langsung memerah karena tak sekilas sudah melihat tubuh Raisa yang mulus itu meski bagian intinya masih tertutup handuk. Namun itu saja sudah berhasil membuat Adam memanas.


"Dasar mesum!!" Omel Raisa sambil memakai bajunya.


"Maaf Sa, aku khawatir sama kamu, kata Bi Asih kamu nggak keluar sama sekali sejak tadi" Adam masih membelakangi Raisa.


"Ya nggak keluar lah, namanya juga masih nggak enak badan. Lagian sok peduli banget sih, nggak mempan tau nggak??"


Adam mendengar suara ranjang yang berderit, membuat Adam berani untuk membalikkan badannya.


"Kamu kenapa sih Sa?? Aku salah ya, khawatir sama istri sendiri??"


Raisa bergidik mendengar Adam menyebutnya sebagai istri.


"Nggak udah bawa-bawa istri deh, geli dengarnya"


Adam semakin bingung dengan sikap Raisa yang terlihat marah kepadanya.


"Ya memang kamu istri ku. Ingat Sa, kamu udah bilang mau mencoba untuk berubah"


"Ya mungkin bisa di ralat lagi" Raisa asik memainkan ponselnya. Tak menggubris Adam yang terus menatapnya penuh tanda tanya.


Raisa masih marah karena hadirnya kekasih Adam tadi di kantor.


"Sabar Sa, tetap bersikap biasa saja sampai orang misterius itu menunjukkan semuanya kepadamu"


"Maksudnya??"


"Ya karena aku nggak hamil, jadi mungkin kita bisa berce..."


Raisa tersentak ke belakang dari posisinya yang di ranjang. Adam tiba-tiba menubruknya membungkam mulutnya yang hampir mengeluarkan kata-kata sakral.


"Hemmmbbb" Raisa memukul dada Adam berkali-kali untuk meminta pria itu melepaskan tautan bibir mereka.

__ADS_1


"Jangan pernah sebut kalimat itu lagi!! Kamu yang kemarin ingin mempertahankan pernikahan ini, jadi sekarang aku nggak akan pernah membiarkan kata lak nat itu keluar dari bibir kamu" Ancam Adam dengan kilat kemarahan di mata beningnya.


"Emangnya kenapa kalau aku minta ce..mmbbbb"


Sekali lagi Adam membungkam bibir istrinya itu tanpa memberi kesempatan bagi Raisa untuk menghindar.


"Sekali lagi kamu ucap kata itu, habis bibir kamu Sa!!" Adam mengusap bibir Raisa yang basah karena ulahnya. Sebelum pria tinggi itu kembali menegakkan tubuhnya.


Sementara itu, Raisa hanya bisa bungkam meski hatinya terus menolak ancaman Adam itu.


"Sebenarnya apa maunya orang ini?? Dia terlihat tulus menunjukkan perhatiannya, tapi dia juga pembohong yang ulung"


"Kalau kamu belum sembuh beneran, kita ke Rumah sakit aja ya?? Wajah kamu masih pucat kaya gini"


Lagi-lagi Raisa di buat membeku karena Adam yang lancang mengusap pipinya.


"N-nggak mau, besok juga sembuh. Obat dari dokter Wira juga masih ada" Rias memalingkan wajahnya dari wajah tampan di depannya.


"Ya udah, kamu udah makan belum??"


Raisa refleks menggeleng karena memang tadi dia juga tidak nafsu makan saat bertemu dengan Fany dan Stevi.


"Mau makan apa?? Biar aku minta Bi Asih buatkan, atau mau beli di luar??"


"Kenapa dia jadi lembut kaya gini??"


Adam yang ada di depan Raisa saat ini bukanlah Adam yang biasanya. Jika biasanya Adam itu dingin dan berwajah datar, saat ini justru hangat dan tatapannya lembut. Wajahnya juga menyiratkan perhatian seperti Adam yang dulu. Adam lima tahun yang lalu.


"Aku mau.." Raisa tiba-tiba memikirkan makanan yang menurutnya menggugah selera. Tapi dia takut jika tiba-tiba mual lagi seperti saat makan soto kemarin.


"Mungkin ini yang di namakan ngidam"


"Apa??" Tanya Adam karena Raisa tak kunjung melanjutkan ucapannya.


"Rujak"


"Hah???!!" Adam langsung melihat jam di pergelangan tangannya.


"Ini udah jam delapan malam Sa, mana ada yang jual rujak" Bukankah makanan itu memang identik dengan siang hari.


"Kalau nggak mau beliin ya udah, nggak udah nawarin!!" Mendadak mata Raisa berair. Dia cepat mengusapnya sebelum Adam menyadarinya. Lalu dia bergegas menyibak selimutnya dan turun dari ranjang.

__ADS_1


"Mau kemana Sa??" Adam melihat Raisa mengambil dompet dari dalam tasnya.


"Sa, besok aja ya?? Sekarang makan yang di masak Bi Asih aja dulu. Udah malam, aku yakin nggak ada yang jual lagi" Adam berdiri di depan Raisa, menghalangi jalan istrinya itu.


"Minggir!! Aku bisa beli sendiri!!" Ketus Raisa.


"Oke oke, aku beliin sekarang. Kamu istirahat aja ya"


Seperti kucing yang kepalanya di usap lembut oleh majikannya. Raisa pun sama, menunduk malu saat Adam mengusap kepalanya.


"Ya sudah aku pergi dulu"


"Tunggu!!" Raisa menahan tangan Adam, membuat pria itu kembali berbalik ke belakang memandang Raisa.


Kedua manik mata itu kembali bersinggungan. Saling menyiratkan perasaan masing-masing melalui sorot mata itu.


"Kenapa??"


"Mau ikut, boleh??" Riasan tampak malu-malu mengatakan keinginannya.


"Ya sudah ayo, tapi ganti dulu bajumu dengan yang lebih pantas. Seperti mau menggoda orang saja" Adam saja sejak tadi panas melihat baju Raisa yang tipis itu.


"Iyaaa, bawel banget"


Adam hanya tersenyum melihat tingkah Raisa yang tak berubah dari dulu itu.


Sudah satu jam lebih Adam berkeliling Ibu kota untuk mencari rujak yang Raisa inginkan. Tapi tak satupun mereka menemukannya.


Sebenarnya ada satu pedagang rujak, namun menurut Raisa itu tidak sesuai dengan yang dia inginkan.


"Ini udah makin malam Sa, kayaknya udah nggak ada lagi deh Abang rujaknya" Adam bukannya kesal karena Raisa yang keras kepala. Tapi dia tau kalau pencariannya itu akan berbuah kekecewaan.


"Yang tadi aja ya??" Adam mengajak Raisa untuk kembali ke pedagang satu-satunya penjual rujak yang ia temui.


"Nggak mau, tadi itu cobeknya lebar. Aku maunya yang lumpang batu itu loh, kalau yang lain aku nggak mau" Rengek Raisa seperti anak kecil.


Adam mengulas senyum manisnya lagi. Dan senyum itu berhasil membuat Raisa salah tingkah.


"Besok siang kita beli lagi, sekarang beli seadanya dulu. Dari pada nggak makan rujak sama sekali"


Raisa hanya mengangguk, di tambah tangan Adam yang telah lancang mengusap kepalanya lagi dengan lembut.

__ADS_1


"Ingat Sa, jangan mudah percaya dama dia!!"


"Sikapnya itu bisa saja hanya pura-pura. Dia punya pacar Sa!! Ingat Sa!!"


__ADS_2