
"Mau apa kamu datang ke dini??"
Raisa kecewa dengan pertanyaan Adam itu. Harusnya dia tapa bertanya dia tau tujuannya datang ke sini untuk apa.
"Karena Ica kangen sama Mas"
"Kenapa Mas Adam pergi??"
Adam berbalik untuk melihat kejujuran Raisa dari sorot matanya yang sayu itu. Memang sejak tadi Adam sudah menangkap mata Raisa yang terlihat lelah itu. Pipinya yang terlihat tirus dan lingkaran mata pada wajah pucatnya membuat hati Adam seperti di tusuk ribuan jarum.
"Apa dia nggak menjaga dirinya dengan baik selama aku di sini??"
Siapa yang tak rindu melihat istrinya yang sudah satu minggu ia tinggalkan. Jujur Adam memang merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan Raisa, meski rasa kecewanya teramat besar. Namun cintanya pada Raisa tampaknya mengalahkan segalanya.
"Maafkan Ica karena nysusulin Mas Adam ke sini. Tapi Ica nggak sanggup jauh dari Mas Adam. Ica dan anak kita butuh kamu Mas"
Raisa berusaha sebisa mungkin agar tidak mengedipkan matanya. Ari mata yang menggenang itu sudah siap meluncur sebenarnya.
"Aku memang nggak tau diri Mas, karena setelah semua yang Ica lakukan, Ica justru terus berharap kita tetap sama-sama. Mas Adam boleh kok terus bersikap dingin dan acuh sama aku. Tapi jangan tinggalin aku Mas" Raisa mengusap air matanya yang terlanjur jatuh dengan cepat.
Kerinduannya memang terobati setelah melihat Adam dalam keadaan biak-baik saja, tapi sedikit, tidak sepenuhnya.
"Kenapa kamu seperti ini sekarang Sa?? Kenapa nggak dari dulu, atau setelah pernikahan kita kamu benar-benar tulus seperti ini??"
Kedua pasang mata itu saling menatap. Mencoba masuk ke dalam pikiran masing-masing.
"Semuanya tidak akan sesakit ini seandainya aku tidak terlalu mencintai mu Sa"
Deg....
Meski sudah terlalu kebal dengan rasa sakit. Tapi hati Raisa tetap merasa begitu sakit mendengar pernyataan cinta itu. Raisa selalu kesakitan di ulu hatinya ketika kata cinta yang sejak lama di tunggu itu terucap dari bibir Adam. Mungkin karena rasa bersalahnya membuat Raisa jadi merasa seperti itu.
Mau sampai kapan perasan itu berubah. Menjadi sebuah kata yang begitu indah saat di dengar.
"Kamu nggak tau kan sakitnya hati ku saat tau kalau ternyata kamu sendiri yang melemparkan aku ke mereka??"
"Rasanya lebih sakit dari semua luka yang aku punya Sa" Adam memalingkan wajahnya, menyembunyikan air matanya yang juga tak bisa di tahan seperti Raisa.
__ADS_1
Jika ada yang bilang kalau Adam ini egois, maka coba berdiri di posisinya.
Dia rela mengorbankan seluruh hidupnya demi Raisa, wanita yang sangat dia cintai. Tapi Raisa sendiri justru memasukkannya ke dalam lubang buaya. Menjadikan Adam sebagai umpan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Siapapun yang di posisi Adam pasti akan melakukan hal yang mungkin saja lebih dari sekedar menghindar dari Raisa.
Asam hanya butuh waktu, dia butuh menjauh dari Raisa untuk menenangkan hatinya yang selalu bergemuruh ketika mengingat Raisa waktu itu.
"Hatiku masih sakit saat kamu melepaskan genggaman tanganku dan memilih meninggalkan aku di tengah-tengah bodyguard Rio. Bahkan kamu berjalan tanpa menoleh aku sedikitpun dan memilih menghampiri mereka"
Raisa hanya bisa terdiam karena sadar dengan kesalahannya.
Raisa juga bisa ingat dengan jelas bagaimana wajah terkejut Adam saat dirinya menjauh meninggalkannya tanpa kata sedikitpun.
Tapi meskipun begitu, dalan keadaan babak belur dan penuh darah. Adam masih bisa menyelamatkannya saat itu. Luka menganga di punggung Adam telah menjadi bukti betapa besarnya cinta Adam kepadanya.
Raisa masih terus menatap Adam, menatap punggung yang bergetar dengan pelan itu.
Hati Raisa tentu saja sakit ketika melihat pria yang dicintainya menangis dalam diam seperti itu. Apalagi dialah penyebab tangisan Adam tanpa suara itu.
Raisa mendekati Adam yang masih enggan menunjukkan wajahnya kepadanya.
Di sentuhnya lengan kekar Adam dengan jemarinya yang lembut.
"Mas" Lirih Raisa.
"Ica mohon jangan kaya gini. Ayo marahi Ica sepuas Mas Adam, Ica terima. Ayo maki-maki aja Ica seperti yang pernah Mas Adam dengar dari Ica. Tapi jangan kaya gini Mas"
Raisa menarik lengan Adam sampai akhirnya bisa melihat wajah Adam sembab dan penuh air mata.
Grep....
Tangan Raisa kembali melingkar di pinggang Adam. Pinggang keras dan berotot yang begitu Raisa rindukan.
"Maafin Ica karena kebodohan Ica, Mas jadi kaya gini" Keduanya hanyut di dalam tangisan masing-masing.
Meski Raisa menangis sesenggukan di dalam pelukan Adam, tapi tangan Adam masih terkulai lemas seperti tak ada niat membalasnya.
__ADS_1
"Jangan tinggalin Ica lagi, Ica cinta sama Mas Adam hiks..hiks..."
"Ica nggak sanggup hidup tanpa Mas Adam"
Cinta dan benci itu memang beda tipis, sampai sering kali kita menyembunyikan cinta dengan mengatasnamakan benci. Padahal benci itu tidak akan pernah bisa menutupi cinta.
Seperti yang Adam dan Raisa saat ini. Raisa mengatakan benci namun itu hanya menutupi kekecewaannya saja karena dia kira cintanya tidak pernah di balas oleh Adam.
Sedangkan Adam, dia mengaku kecewa dengan apa yang Raisa lakukan, tapi nyatanya. Berpisah selama satu minggu dari Raisa, nyatanya harinya tak bisa bohong kalau dia rindu dengan istri cantiknya itu.
Merasakan pelukan hangat dari Raisa lagi, tentunya membuat Adam ingin sekali mendekap Raisa lebih erat. Tak akan melepaskannya lagi setelah ini.
Tangannya yang sejak tadi terkulai, kini mulai bergerak naik. Ingin merengkuh tubuh Raisa lebih dalam lagi. Menghirup harumnya rambut dan kulit Raisa yang begitu candu.
Menyapa anak mereka yang masih bersembunyi di dalam perut Raisa. Masih banyak sekali yang ingin Adam lakukan untuk mengobati rasa rindunya itu.
Juga meminta maaf kepada istrinya itu karena tak bersikap dewasa dengan pergi menjauh dari maslah mereka.
Tok..tok..tok...
Suara ketukan pintu itu membuat Raisa langsung melepaskan pelukannya sebelum tangan Adam berhasil membalas pelukannya.
"Dam, ajak istrimu makan dulu. Mbak sudah siapkan semuanya" Suara Yuli dari balik pintu yang sempat Raisa tutup tadi.
"Iya Mbak" Seru Adam.
Raisa masih mencoba menghapus air matanya. Meski nanti tangisannya itu tidak akan bisa di sembunyikan karena wajahnya yang sembab dan matanya yang memerah.
"Basuh dulu wajah mu sebelum keluar" Adam berjalan lebih dulu menuju pintu.
"Satu lagi, jangan sampai Simbah tau tentang maslaah kita. Bersikap biasa saja kalau sedang di depan mereka semua"
"Ternyata pelukan dan tangisan kita tadi belum bisa merubah sikap dirimu Mas"
"Iya, Ica ngerti kok Mas"
Adam mengangguk lalu meninggalkan Raisa keluar lebih dulu.
__ADS_1