
Cklek.....
Pintu yang sudah sejak maghrib tadi tertutup kini akhirnya terbuka.
Menampilkan sosok cantik yang sejak tadi membuat Adam galau dan memelas.
"Sayang" Adam berbinar menatap istrinya. Namun Raisa kembali melengos dan meninggalkan Adam menuju ranjangnya.
Tak ada sepatah katapun keluar dari bibir Raisa. Dia malah kembali naik ke ranjang dan bergulung di dalam selimutnya.
"Sayang, jangan diemin Mas kaya gini dong. Mas minta maaf soal Ayu tadi" Adam menyusul berbaring di belakang Raisa.
"Sayang" Adam memberanikan diri memeluk Raisa. Mendekap istrinya itu penuh kehangatan. Kembali mencium parfum Raisa yang membuatnya tercandu-candu.
"Mas nggak bisa tidur kalau nggak peluk kamu kaya gini"
"Cih" Raisa seperti melepeh ucapan Adam itu.
"Maaf yank"
"Emangnya ngapain aja sama Ayu kok minta maaf segala??" Adam ingin menenggelamkan dirinya di laut terdalam saat ini. Memang perempuan itu makhluk paling aneh di dunia menurutnya. Sekarang, setelah Adam meyakini letak salahnya dimana, Raisa malah balik bertanya.
"Sayang, Mas.."
"Udah puas pegang-pegang tangannya?? Senyum-senyum kaya gitu kamu pikir ganteng apa?? Mau tebar pesona biar dia ngejar-ngejar kamu lagi gitu?? Nggak rela kalau dia udah mau move on??" Cecar Raisa masih memunggungi Adam.
"Astaghfirullah sayang, Mas nggak pernah punya pikiran kaya gitu. Dia itu teman Mas saat kecil dulu, dan dia minta buat jabat tangan masa Mas tolak sih??" Ternyata menghadapi kecemburuan Raisa bukan hal yang mudah.
"Kan bisa Mas tolak, bukan muhrim juga"
"Sayang, dengarkan Mas du..." Adam yang ingin meluruskan masalahnya harus terhenti karena tiba-tiba punggung Raisa bergetar dan terdengar suara isakan.
"Hiks..hiks..."
"Hey, kenapa nangis?? Mas minta maaf sayang. Ayo marahin Mas aja nggak papa, daripada kamu nangis kaya gini" Adam menarik lengan Raisa agar bisa melihat wajah cantik itu. Tapi Raisa lebih dulu menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Ica cuma takut kalau akhirnya Mas luluh sama Ayu terus ninggalin aku. Hiks..hiks..."
Adam ingin tertawa sampai dia sengaja mengigit bibirnya agar bibirnya tidak lepas kendali untuk menertawakan istrinya.
"Astaga sayang, kenapa kamu sampai punya pikiran kaya gitu??"
Cup..
Cup...
Adam mengecup punggung tangan Raisa yang terus menutup wajahnya.
"Di hati Mas itu cuma ada kamu. Satu-satunya wanita yang Mas cintai. Sudah mentok sama kamu, nggak ada yang lain lagi. Percaya sama Mas ya?? Hemm??"
Adam kini paham jika emosi wanita hamil memang naik turun. Kadang juga mempermasalahkan hal-hal kecil yang tidak sepantasnya malah jadi begitu besar.
__ADS_1
Perlahan Raisa mulai membuka tangannya. Memperlihatkan wajah sembab itu pada suaminya.
"Tapi janji ya, nggak bakalan ada wanita lain lagi di sini" Tunjuk Raisa pada dada bidang Adam.
"Mas udah lebih dulu janji di hadapan Allah saat menikahi kamu waktu itu" Adam mengunci tatapan mata Raisa untuk menunjukkan kesungguhannya.
"Mas akan lebih berdosa kalau mengingkari janji itu"
Raisa meringsek masuk ke dalam pelukan Adam. Memeluk pinggang, dan menempelkan kepalanya di dada bidang itu.
"Ica cinta sama Mas Adam. Jangan tinggalin Ica"
Adam tersenyum membalas pelukan itu, sungguh kata cinta itu mudah sekali di ucapkan saat ini. Tak seperti dulu yang begitu sulit hingga membuat mereka terus berprasangka buruk.
"Itu nggak akan terjadi, Mas juga cinta sama kamu"
Cup...
Kecupan di kening Raisa itu menjadi penghantar tidur untuk pasangan bucin itu malam ini.
*
*
*
Pagi ini Stevi kedatangan tamu bulanan. Dia tidak mempersiapkan banyak keperluannya termasuk pembalut yang biasa ia pakai. Fany juga tidak membawa sama sekali, dia hanya di beri milik Yuli namun bukan merk yang biasa ia pakai.
"Minta bantuan Mas Hanif aja kali ya?? Sekalian jalan-jalan juga. Kapan lagi bisa kencan dadakan kaya gini"
Stevi langsung mencari nomor Hanif yang ia dapat dari Widodo kemarin.
Butuh beberapa saat hingga panggilannya terhubung dengan Hanif.
"Halo??"
"Mas Hanif, ini Stevi. Maaf ganggu pagi-pagi, tapi bisa nggak kalau aku minta tolong buat antar ke minimarket bentar. Ada yang harus aku beli tapi nggak tau mau minta tolong sama siapa" Pinta Stevi dengan lembut. Sungguh bahagianya dia mendengar suara Hanif pagi-pagi begini.
"Maaf saya sedang sibuk, minta tolong yang lain saja. Masih banyak pekerja di sana yang bisa Mbak mintai tolong"
"Tap..."
Tut...
"Ck...padahal gue lagi butuh banget" Decak Stevi dengan kesal.
Mau tak mau Stevi berjalan keluar sedikit menjauh dari rumah Adam. Mencari seseorang yang mungkin saja bisa mengantarnya keluar barang sebentar.
Sialnya Stevi juga tidak melihat Widodo atau Adam sejak tadi. Mbak Yuli juga sudah pergi ke pasar. Jadi untuk meminjam mobil juga tidak bisa karena di pakai semua.
Yang ada hanya tinggal motor. Stevi bisa, tapi dia tidak biasa mengendarainya di daerah pegunungan yang medannya cukup sulit tidak landai seperti di kota.
__ADS_1
Tapi sejak tadi dia berjalan mencari bantuan, sejauh dia memandang, dia hanya melihat pekerja Ibu-ibu paruh baya saja. Tidak satupun melihat pekerja pria yang biasa ia lihat.
"Kemana makhluk-makhluk itu?? Kenapa saat di butuhkan nggak ada semua sih"
"Enak sih hidup di sini adem, nggak panas kaya di Jakarta, tapi susahnya ya kalau kaya gini" Gumam Stevi.
"Balik dulu aja kali ya, pakai motor yang ada di garasi. Pelan-pelan kayaknya bisa deh"
Baru saja Stevi ingin berbalik, tapi dia mendengar suara motor datang dari kejauhan. Dia melihat juga orang yang tadi katanya sedang sibuk mengendarai motor itu.
Tapi yang membuat Stevi mematung saat ini, adalah wanita yang di bonceng Hanif saat ini.
"Fany" Gumam Stevi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Berhenti Mas, itu ada Stevi. Mau kemana dia??" Fany meminta Hanif untuk berhenti karena melihat sahabatnya yang sendirian agak jauh dari rumah.
"Stev, mau kemana??" Fany turun dari motor Hanif agak tergesa-gesa hingga hampir tersungkur.
"Hati-hati Fan, kamu masih pusing kan??"
"Iya, makasih"
Stevi melengos karena melihat betapa perhatiannya Hanif pada Fany. Stevi buru-buru mengusap air matanya lalu kembali tersenyum saat menoleh pada Fany.
Bahkan Hanuf sudah terlihat dekat dengan Fany karena hanya memanggil Fany dengan namanya saja. Tidak seperti saat dengannya yang memanggilnya Mbak.
"Ngapain lo di sini Stev??" Fany mendekati Stevi.
"Gue mau ke bawah, mau cari sesuatu ke minimarket tapi dari tadi cari bapak-bapak pekerja nggak ada semua. Hanya Ibu-ibu aja" Tunjuk Stevi pada beberapa orang yang agak jauh dari mereka. Hanif pun mengikuti arah yang di tunjuk Stevi.
"Lo dari mana??" Stevi mencoba bersikap biasa aja.
"Gue dari Puskesmas. Nggak tau kenapa tadi gue pusing banget, dan kebetulan ada Mas Hanif yang nawarin untuk ke Puskesmas" Fany menunjukkan plastik obat yang di bawanya. Dia menjelaskan karena sebenarnya tak enak dengan Stevi karena dia tau sahabatnya itu menyukai Hanif. Tapi karena tadi Hanif yang memaksa dan dia juga sudah tak kuat menahan pusing akhirnya Fany mau.
"Ohh, tapi sekarang udah nggak papa??"
"Cuma sedikit pusung aja"
Stevi hanya mengangguk tanpa mau menoleh ke arah Hanif yang masih duduk di motornya..
"Ya udah, gue balik ke rumah dulu. Mau pinjam motor. Kayaknya mau turun sendiri aja deh"
Stevi udah terlanjur kecewa, bukan hanya dengan penolakan Hanif. Tapi juga dengan alasan Hanif yang mengatakan sibuk tapi ternyata sedang mengantar Fany.
Perbedaan sikap Hanif kepadanya dan Fany membuat Stevi berpikir jika Hanif mempunyai perasaan lebih lada sahabatnya itu.
"Tapi emang lo berani Stev?? Jalannya naik turun loh" Fany tentu saja mengkhawatirkan sahabatnya itu.
"Pelan-pelan kayaknya nggak papa deh, ya udah gue duluan. Lo biar di bonceng Mas Hanif aja. Masih pusing kan??"
Hanif menatap kepergian Stevi dengan tatapan sulit di artikan, sementara Fany masih terdiam namun Stevi sudah lebih dulu melangkah pergi. Tangannya meremas perutnya yang terasa nyeri. Meski hatinya juga lebih terasa nyeri saat ini.
__ADS_1