
"Raisa, kamu udah bangun??" Satya menghampiri Raisa yang terbaring tak berdaya dengan jarum infus menancap di punggung tangannya.
Kepalanya yang masih begitu pusing membuatnya tak langsung menyahut pertanyaan Papanya. Dia masih membiasakan diri dengan cahaya yang mulai menusuk matanya.
Dia juga masih mencerna semua kejadian yang ia alami hingga dia bisa berbaring di tempat yang menurutnya asing itu.
"Pa!!" Sontak Raisa terduduk dengan cepat.
"Sa, mau apa kamu. Hati-hati kamu baru siuman" Satya terlihat begitu mengkhawatirkan kondisi Raisa.
"Pa, Mas Adam gimana?? Diaman dia sekarang Pa?? Raisa mau lihat Mas Adam Pa. Ayo bawa Raisa ke sana Pa" Raisa kembali histeris. Dia tidak tau berapa lama dia berbaring di sana dan meninggalkan Adam berjuang sendirian.
"Tenangkan dirimu dulu Sa, nanti kamu bisa pingsan lagi. Kasihan anak kamu, dia juga ikut terguncang saat ini" Satya memegangi pundak Raisa yang terus menangis dan begitu gusar itu.
"Tapi Raisa mau lihat Mas Adam Pa, tolong Pa hu..hu..hu..hu"
"Adam tidak papa, dia juga sudah sadar. Dia ada di kamar sebelah. Papa akan bawa kamu ke sana asal kamu tenang dulu"
Perlahan Raisa mulai tenang, dia merasa bersyukur mendengar jika Adam baik-baik saja. Tapi dia tetap harus memastikan sendiri keadaan Adam.
Raisa juga merasa bersalah padan anaknya karena terguncang akibat keadaan Raisa.
"Maafkan Raisa Pa, semua ini gara-gara Raisa"
Raisa tertunduk pilu, dia memang menghentikan tangisannya yang terganggu dan sempat histeris tadi, tapi dia tak bisa menghentikan air matanya.
"Papa sudah tau dari Adam" Raisa mulai merasakan perubahan Satya dari nada bicaranya yang terdengar dingin.
"Maaf Pa" Memang hanya kata itu yang bisa Raisa keluarkan saat ini untuk Adam dan Papanya. Meski sepertinya, ribuan kata maaf pun tak bisa membuat kesalahannya termaafkan begitu saja.
"Papa masih nggak nyangka kalau ternyata selama ini pikiran kamu belum berubah juga Sa" Satya berbalik menghadap ke jendela.
"Padahal Adam sudah berkorban banyak buat kita terutama kamu. Papa sampai tidak tega melihat tubuh Adam terus tersayat demi melindungi kamu selama ini" Pria tua itu menatap nanar langit di luar sana.
Anak muda yang sejak dulu menarik perhatiannya karena sikapnya yang baik, tangguh serta bertanggung jawab, anak muda yang sudah dia anggap sebagai putranya sendiri ternyata kini di sakiti oleh putri kandungnya sendiri.
"Maksud Papa??"
__ADS_1
"Adam itu sudah seperti malaikat pelindung buat kamu Sa. Dia yang selalu melindungi kamu di manapun dan kapanpun kamu berada"
"Jangan bercanda Pa, dia itu bodyguard Papa. Gimana ceritanya dia yang selalu ada buat Raisa??" Bukan Raisa tak percaya, dia hanya tak mau menerima kenyataan yang akan membuatnya semakin merasa bersalah pada Adam.
"Kamu salah Sa, dia itu bukan bodyguard Papa. Dia itu bodyguard kamu. Sedangkan Papa sudah ada Pak Rudolf yang melindungi Papa. Tapi memang Papa meminta dia untuk tidak menunjukkan dirinya saat melindungi kamu. Papa melakukan itu karena Papa kamu tidak akan nyaman, kamu juga tau sendiri kan kalau banyak di luaran sana yang tidak menyukai Papa. Dan nyatanya Adam melakukan tugasnya begitu baik sampai dia berkali-kali terluka demi melindungi kamu yang tanpa lecet sedikitpun"
Raisa terperangah mendengar cerita Papanya. Antara percaya dan tidak percaya. Pasalnya selama ini yang Raisa tau, Adam selalu bersama Papanya.
"Kalau kamu lihat berapa banyak luka di tubuh Adam, pasti kamu tidak akan tega menyakiti dia selama ini Sa. Semua luka itu dia dapat saat melindungi kamu"
Deg...
"Sejahat itukah aku??"
"Bukan aku yang pantas membenci Mas Adam, tapi dia yang harusnya membenci ku"
Otak Raisa langsung memutar semua yang pernah dia lakukan pada Adam. Hinaan, cacian, umpatan, segala macam hal buruk yang ia tuduhkan pada Adam membuatnya kesakitan sendiri saat ini.
"Selama ini kamu pikir, kamu bebas di luaran sana itu kamu aman?? Tidak Sa"
"Kamu aman dan sehat sampai sekarang itu karena Adam yang selalu ada di belakang kamu meski tanpa kamu sadari. Bukan hanya sabetan benda tajam, bahkan tembakan saja pernah dia dapatkan saat melindungi kamu"
"Udah Pa, udah!! Raisa nggak mau dengar lagi!!" Raisa menutup telinganya, menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Dia takut mendengar semua itu, dia takut sampai dia berpikir lagi kalau dia tidak akan berani menemui Adam lagi setelah ini.
Dia salah..
Salah besar selama ini...
"Enggak Sa!! Kamu harus dengar sampai selesai!! Kamu harus tau semuanya biar kamu tidak berpikir buruk lagi tentang Adam!!"
Air mata Raisa tidak lagi menetes, namun benar-benar tumpah ruah saat ini.
"Papa juga dengar kalau Aryo mempengaruhi kamu dengan saham milik Adam itu kan, dan itu menjadi puncak kemarahan kamu sama Adam sampai kamu mengikuti rencana mereka??"
Raisa hanya diam karena mereka sudah tau semua tentang kesalahannya.
__ADS_1
"Asal kamu tau Sa, saham itu memang milik Adam yang dia beli dengan uangnya sendiri. Waktu itu Papa memang memberikan pada Adam karena dia sudah menjadi menantu Papa. Tapi dia tidak mau dan dia membayarnya dengan harga sesuai dengan pasar saham saat itu. Tapi Papa mengembalikan sebagian uangnya karena Papa sebenarnya tidak ingin Adam membelinya dari Papa. Adam sempat menolak dengan keras tapi dengan berbagai ancaman akhirnya dia mau menerimanya"
"Tapi semua itu di manfaatkan orang-orang serakah itu untuk menghasut kamu, dan parahnya lagi kamu percaya sama mereka" Satya memang marah saat ini, atau lebih lada kecewa. Namun dia memikirkan juga kondisi Raisa dan calon cucunya itu.
"Kamu ingat kemarin saat Adam pulang dalam keadaan babak belur?? Asal kamu tau Sa, dia mendatangi Arya dan mengamuk di sana karena dia tau kalau b*jingan itu selama ini meneror mu. Dia tidak kamu mereka mempengaruhi mu dan membuat kandungan mu bermasalah"
Deg...
Rasanya Raisa ingin gila saat ini. Video yang di yang dia lihat saat Adam mengamuk itu ternyata demi dirinya.
"Dan untuk maslah darimana Adam mendapatkan uang sebanyak itu, kamu bisa tanyakan sendiri pada Adam. Yang pasti dia tidak pernah mendapatkan uang itu dengan cuma-cuma"
Satya mengusap ujung matanya yang berair. Dia tidak menyangka akan membuat anak malang itu kembali terbaring di rumah sakit untuk kesekian kalinya.
"Sudahlah, tidak akan selesai sekarang kalau Papa mempertahankan semuanya, sekarang ayo Papa antar kamu ke ruangan Adam" Satya berbalik ingin membantu putrinya untuk berpindah ke kursi roda.
Namun Raisa justru menggeleng dengan matanya yang masih terus berair.
"Kenapa?? Tadi katanya kamu mau lihat Adam"
Raisa mengurungkan niatnya itu, dia tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan Adam. Dia bahkan tidak siap jika melihat Adam yang akan berubah dingin lagi kepadanya mengingat perkataan Adam kemarin saat pria itu bersimbah darah di pangkuannya.
"Raisa malu Pa, Raisa yakin kalau saat ini Mas Adam benci sama Raisa Pa. Raisa tidak sanggup" Padahal dulu Raisa yang sangat membenci pria itu, tapi sekarang membayangkan Adam membencinya saja sudah tidak sanggup. Lalu bagaimana dengan Adam dulu.
"Kenapa harus malu?? Kamu harus menerima konsekuensi dari tindakan bodoh mu itu Sa. Minta maaflah kepadanya. Dia mau memaafkan kamu atau tidak itu urusan nanti. Yang penting kamu mengakui kesalahan kamu"
Benar...
Memang itulah yang harus Raisa lakukan...
"Tapi Papa yakin dia tidak akan membenci kamu Sa"
"Kenapa Papa seyakin itu??"
"Karena Papa tau kalau Adam sangat mencintai kamu"
Deg...
__ADS_1
Remuk...
Hati Raisa kembali hancur berkeping-keping mendengar kenyataan itu, terkoyak-koyak, bercerai berai, luluh lantah. Tak ada lagi yang bisa menggambarkan hati Raisa saat ini karena benar-benar sakit sampai tak kuat menahannya.