Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Coba jadi aku


__ADS_3

"Mas" Raisa sedikit terkejut karena Adam tengah duduk di sofa dengan menatap tajam kerahnya.


"Sudah tau semuanya sekarang??"


Raisa hanya bisa terdiam, ternyata Adam mendengar apa yang tadi di bicarakan Raisa bersama Mbah Welas dan Yuli. Adam yang sebenarnya ingin keluar memanggil Raisa langsung mengurungkan niatnya saat melihat ketiga wanita itu sedang menangisi nasib masa kecilnya yang malang.


"Kalau ada yang belum kamu tau, tanyakan sekalian saja. Aku akan menjawab semuanya karena aku juga sebenarnya udah muak sama semua tuduhan kamu itu" Meski Adam terlihat begitu tenang dan suaranya yang tidak lagi dingin namun Raisa tetap saja merasa takut dengan Adam.


Raisa menggeleng dan kembali bulir-bulir air itu turun membasahi pipinya.


"Nggak ada Mas. Aku udah tau semuanya. Maaf karena aku yang yang termakan oleh pikiran buruk ku sendiri, dan itu justru menyakiti kamu terlalu dalam. Aku pantas untuk kamu benci" Raisa mengigit bibir bawahnya agar tidak terisak lagi di hadapan Adam seperti tadi.


Adam berdiri mendekat ke arah Raisa dengan tatapan yang tak lepas dari mata yang berair itu.


"Kalau ada apa-apa itu pastikan dulu benar atau salah. Tanyakan saja apapun yang kamu nggak tau. Hubungan kita tidak akan serumit ini kalau seandainya kamu mau tanya apa yang sebenarnya Teddy sama aku Sa"


Ada sedikit tak terima dari apa yang Adam katakan kepadanya itu.


"Tapi kamu juga nggak pernah jujur sama aku Mas. Aku dari dulu sangat mencintai kamu Mas. Bisa kamu bayangkan nggak, saat itu aku dengar sendiri orang yang aku cintai ternyata memiliki wanita lain sementara sikap kamu aja seolah-olah kamu mencintaiku. Aku tentu hancur, aku patah hati, aku cemburu. Apa seandainya kamu jadi aku, kamu nggak akan salah paham gitu?? Apa kamu akan berlapang dada dan pura-pura nggak terjadi apa-apa??"


Entah keberanian dari mana Raisa justru terlihat menentang Adam dengan apa yang menjadi unek-uneknya selama ini.


"Terus setelah itu, tiba-tiba datang seorang wanita yang aku dengar sebagai Ibu kamu dan menyuruhmu untuk mendekatiku untuk mengambil semua harta papa ku. Apa itu nggak bakalan buat aku salah paham Mas??"


"Aku yang saat itu udah patah hati, tentu saja mikir kalau sikap manis kamu ke aku watu itu hanyalah rencana kamu aja untuk mendekati aku lalu menuruti semua yang Ibu kamu katakan waktu itu karena kamu juga udah punya Ayu" Raisa mengusap kasar air matanya. Sementara tangannya yang satu lagi di gunakan untuk memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa nyeri.


"Tapi semua yang aku tunjukkan ke kamu itu bukan suatu kebohongan Sa!! Mas benar-benar tulus karena cinta. Dan Mas katakan sekali lagi kalau Ayu itu bukan siapa-siapa Mas" Tegas Adam.


"Ya mana aku tau Mas!! Aku udah terlanjur terjebak dalam kesalahpahaman waktu itu. Kamu juga terlalu misterius buat aku. Nggak pernah cerita tentang kamu dan keluarga kamu" Ucap Raisa dengan mengerucutkan bibirnya seolah merajuk. Hal itu membuat Adam gemas sendiri namun dia masih bisa menahan diri.


"Sekarang kamu udah tau kan gimana aku dulu dan keluarga ku?? Aku bukannya nggak mau cerita, tapi aku malu. Aku malu menceritakan penderitaan ku pada wanita yang aku cintai"


Raisa membuang wajahnya yang merona. Dia juga bingung saat ini, tentang Adam yang sudah memaafkannya atau belum tapi melihat Adam sudah tidak sedingin tadi, juga tentang pengakuan Adam lagi malah membuat Raisa takut menebak sendirian.


"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar...."

__ADS_1


Suara Adzan yang berkumandang samar-samar membuat Adam menghentikan perdebatan mereka.


"Sana ambil air wudhu dulu, Mas tunggu"


Tidak tau siapa yang kalah dan siapa yang menang, tapi semuanya memilih menyudahinya. Raisa pun mengangguk dan berjalan ke kamar mandi sambil meringis memegangi perutnya yang terasa kram.


Tak lama kemudian, Raisa keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang terlihat lebih cerah karena terbaru oleh air wudhu. Memang sejak kedatangannya tadi, dia belum sempat untuk sekedar membasuh wajahnya apalagi mandi.


Adam juga sudah menunggu Raisa dengan peci dan sarungnya yang di pakai dengan rapi.


Melihat itu saja sudah membuat Raisa terharu dan ingin menangis. Momen seperti ini begitu dirindukan oleh Raisa selama hubungannya dengan Adam merenggang.


"Ayo cepat"


"I-iya Mas" Raisa bergegas membuka kopernya untuk mengambil mukena miliknya mukena yang menjadi maskawin saat Adam menikahinya beserta tanah seluas 50 hektar. Dan Raisa baru sadar tentang hal itu.


Adam menggelarkan sajadahnya dengan sekali hentakan. Seolah mengembangkan harapan baru dalam rumah tangganya meski masih menyisakan tanda tanya besar pada Raisa tentang sikap suaminya itu.


Adam mulai membaca niat sholat Magrib dengan satu makmum yaitu istrinya sediri. Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati setelah hubungan mereka yang hampir saja usai karena kesalahpahaman.


Mungkinkah setelah ini hubungan mereka akan membaik. Atau itu hanya sikap tanggung jawab saja yang di tunjukkan Adam kepada Raisa karena wanita itu telah jauh-jauh datang menyusulnya ke sana.


Adam berbalik ke belakang, mengulurkan tangan kanannya untuk Raisa.


Uluran tangan itu tentu bersambut dengan semestinya. Raisa meraih tangan yang begitu hangat ketika menggenggamnya. Menciumnya dengan takzim serta sebuah doa yang terpanjat di dalam hati Raisa.


"Ya Allah, semoga ini menjadi pertanda kalau hati Mas Adam sudah kembali terbuka untukku"


Adam merasakan punggung tangannya basah, dan dia juga sudah bisa menebak jika itu tentu air mata Raisa.


Raisa mengangkat kepalanya, menatap Adam yang tengah menatapnya begitu dalam dengan mata elangnya.


Tanpa di duga, tangan Adam justru naik, mengusap air mata Raisa yang terus mengalir seperti tak pernah terkuras habis.


Bukannya kering, tapi pipi Raisa itu justru semakin basah karena pemiliknya kembali menangis. Tangis bahagia dari Raisa karena melihat Adam yang kembali menatapnya penuh cinta.

__ADS_1


"Ica minta maaf Mas hiks..hiks.." Kata maaf itu kembali Raisa ucapkan untuk kesekian kalinya karena Adam sama sekali belum berkata untuk memaafkannya.


Grepp...


"Hiks..hiks..." Tangis Raisa semakin menjadi saat Adam justru menarik Raisa ke dalam pelukannya. Tubuh yang masih berbalut mukena itu di dekap begitu erat oleh Adam.


"Maafkan Ica Mas, Ica banyak salah" Suara Raisa hilang timbul karena tangisannya.


"Mas memaafkan kamu"


Akhirnya, kata itu terucap juga dari bibir Adam setelah beberapa hari dia berjuang meluluhkan hati Adam lagi.


Rasa sakitnya selama beberapa hari ini seolah menguap dan hilang begitu saja. Tergantikan dengan rasa yang begitu bahagia.


"Hikss...hikss"


Adam merasa ikut sakit mendengar suara tangisan Raisa di dalam dekapannya. Dirinya kini merasa begitu bersalah karena menjadi suami yang pengecut.


Hingga beberapa menit berlalu, Adam tak juga melepaskan Raisa meski sudah tak terdengar lagi suara tangisan Raisa.


Tapi yang tangan Raisa yang tiba-tiba jatuh lunglai ke bawah membuat Adam menyadari sesuatu.


"Ca??"


Adam melonggarkan pelukannya, untuk melihat wajah istrinya itu.


"Ica, kamu kenapa??"


Adam mulai panik karena wajah Raisa yang memucat dan matanya terpejam.


"Ca, jangan bercanda sama Mas!! Ca bangun sayang!!" Adam menepuk pipi Raisa dengan lembut.


Adam tak berpikir panjang lagi, dia segera menyelipkan tangannya pada betis Raisa untuk menggendongnya keluar.


"Apa ini??"

__ADS_1


Adam menarik tangannya lagi karena merasakan menyentuh sesuatu yang basah dari balik mukena Raisa.


"Darah??"


__ADS_2