
Raisa hanya menatap Adam yang sedari tadi tampak sibuk mengeluarkan semua barang belanjaannya. Terutama susu-susu hamil yang di beli Adam itu. Dia saja sampai heran karena Adam yang lebih antusias menyambut kehadiran bayinya daripada Raisa sendiri.
Bukan berati Raisa tak menyayangi janinnya itu, tapi melihat bagaimana bahagianya adam saat ini membuat hati kecil Raisa merasakan hal aneh.
"Harusnya nggak usah beli sebanyak itu dulu Mas, besok aja kalau udah habis baru beli lagi" Ucap Raisa yang sudah merasa bosan lebih dulu karena melihat banyaknya susu yang Adam beli.
Bagaimana tidak, Adam membeli semua varian susu dengan merk terbaik. Di tambah lagi Adam membeli tiga kardus di setiap variannya.
"Ya nggak papa dong, kan takutnya habis saat malam hari atau saat aku nggak di rumah"
Raisa hanya menggelengkan kepalanya saja. Tak percaya dengan pikiran Adam yang menurutnya saat ini sangat konyol. Karena di rumahnya saja ada banyak pengawal juga asisten rumah tangga. Kalau habis tinggal meminta bantuan mereka saja untuk pergi ke minimarket.
Tapi Raisa maklum karena Adam yang begitu bahagia menyambut kehadiran calon anaknya. Tapi tatapan mata Raisa berubah semakin meredup dan perlahan menjadi mendung.
"Aku ganti baju dulu ya" Raisa yang sudah tak kuat menahan air matanya memilih pergi dari dapur meninggalkan Adam.
Perasaannya tak menentu akhir-akhir ini. Mudah sekali menangis hanya karena hal-hal yang menyentuh relung hatinya.
"Iya, nanti aku bawakan jus buat kamu" Sahutan Adam itu sudah tidak di gubris oleh Raisa. Karena Raisa yakin jika dia mengeluarkan suaranya, pasti Adam akan tau jika dia tengah menangis saat ini.
Raisa terharu dengan sikap Adam yang begitu menyayangi calon anak mereka.
Ketika di dalam kamar Raisa justru semakin terisak. Antara hati, pikiran serta tujuannya kembali terngiang-ngiang di kepalanya.
"Apa yang harus aku lakukan?? Aku bingung hiks..hiks.."
Raisa tidak ingin hidup seperti itu, harus ada di antara orang-orang yang memakai topengnya masing-masing. Tidak bisa membedakan mana yang benar-benar musuhnya.
Cklek...
Raisa secepat mungkin berbaring memejamkan matanya setelah sebelumnya mengusap habis air matanya. Dia hanya tak tau harus mencari alasan apa jika Adam melihat keadaan matanya yang bengkak dan memerah seperti itu.
Raisa mendengar langkah kaki itu mulai mendekat. Kemudian suara suatu benda yang Adam letakkan pada nakas yang berada di sampingnya.
Ranjang di sampingnya terasa bergerak, bisa Raisa tebak jika Adam juga duduk di sana, tepat di samping Raisa.
Dengan menahan dadanya yang masih sesak serta nafasnya yang belum sepenuhnya teratur, Raisa tetap mencoba tenang meski jantungnya di buat berdetak kencang karena tak tau apa yang Adam lakukan saat ini.
Deg...
Usapan lembut pada kepala Raisa membuat Raisa semakin berdebar-debar.
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis?? Kenapa kamu memilih menangis sendirian di bandingkan berbagi sama aku Sa??" Gumam Adam yang tak tau jika Raisa bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Tangan Adam bahkan menyentuh ujung mata Raisa yang masih meninggalkan jejak air mata.
Tapi siapa sangka, usapan lembut yang terus Adam berikan serta pertanyaan yang sebenarnya tidak meminta jawaban itu justru membuat hati Raisa terusik.
Air matanya kembali menerobos keluar meski matanya tertutup.
"Hiks.. Hiks.."
Adam begitu terkejut dengan isakan kecil yang mulai keluar dari bibir Raisa.
"Sa, kamu nggak tidur?? Kamu kenapa??" Adam justru terlihat panik sampai bersimpuh mensejajarkan wajahnya dengan Raisa yang berbaring memiringkan tubuhnya.
Raisa hanya menggeleng sambil mencoba menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ada apa Sa?? Kenapa kamu nangis kaya gini?? Aku nyakitin kamu ya??"
"Hiks..hiks.." Lagi-lagi Raisa menggeleng.
"Kalau ada apa-apa cerita sama aku Sa, aku tau kalau kamu belum menerima aku dalam hidup kamu. Tapi cobalah menerima ku sebagai teman mu Sa. Jadikan aku tempat untuk berbagi suka duka mu. Dengan senang hati aku akan mendengarkan semuanya"
Adam meriah tangan Raisa, membukanya dengan perlahan.
"Cerita sama aku, ya??" Ibu jari Adam kembali mengusap air mata yang terus keluar itu.
Raisa berusaha duduk bersandar pada Rajang yang di ikuti Adam yang kembali duduk di sebelahnya seperti tadi.
"Ada apa, hemm??"
"Apa dia benar-benar tulus?? Tapi, waktu itu..."
FLASHBACK ON
Raisa baru pulang dari sekolahnya, dia di jemput oleh Jefri, supir yang khusus mengantar Raisa kemana saja. Termasuk mengantar jemput Raisa ke sekolah.
Gadis berusia tujuh belas tahun yang terlihat dingin itu memilih masuk melewati pintu samping rumahnya.
"Kamu harus dengar kata Ibu Dam!!"
Suara seorang wanita itu menarik perhatian Raisa. Dia berjalan mencari sumber suara itu.
"Mas Adam?? Sama siapa dia??" Raisa bersembunyi di balik dinding.
__ADS_1
"Dimana lagi kamu bisa dapat kesempatan emas kaya gini?? Kamu bisa di percaya oleh Pak Satya dengan cepat seperti ini. Ibu lihat, putrinya juga menyukai kamu. Ini kesempatan yang bagus untuk bisa masuk lebih dalam lagi Dam. Kamu bisa memanfaatkan putrinya itu untuk mendapatkan semua kekayaan Pak Satya"
Jederr...
"Apa lagi ini??" Gumam Raisa memegang dadanya. Rasanya begitu sakit mendengar semua itu.
"Jadi selama ini dia cuma memanfaatkan aku aja??"
"Jadi dia hanyalah seorang penjilat dan mata duitan??"
"Aku benci kamu Mas Adam!!"
Raisa mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia berlari menjauh dari sana dengan sebuah sumpah untuk tidak lagi mempercayai laki-laki itu. Dia berjanji akan membuktikan kebusukan pria itu pada Papanya.
FLASHBACK OFF
Itulah alasan ke dua yang membuat Raisa begitu menghindari Adam setelah yang pertama melihat Adam berpelukan dengan Ayu dengan pernyataan cinta wanita itu.
"Apa aku harus percaya lagi dan melupakan apa yang pernah aku dengar dulu??"
"Sa?" Adam mengusap pipi Raisa.
"Aku cuma kangen sama Mama"
Bohong...
Raisa lagi-lagi harus berbohong...
Adam menarik Raisa ke dalam pelukannya. Mendekap wanita itu dengan kehangatan yang ia punya.
"Aku tau rasanya Sa ,tapi Mama kamu sudah tenang di alam sana. Jadi ka.."
"Enggak, Mas Adam nggak akan pernah tau rasanya kaya apa kehilangan seorang Ibu. Sampai kapan pun Mas Adam nggak akan ngerti kalau nggak mengalaminya sendiri"
Deg...
Tanpa Raisa sadari ucapannya itu telah menggores hati Adam begitu dalam.
"Kamu salah Sa, justru aku tau betul bagaimana Rasanya"
"Iya sudah aku minta maaf, sekarang kamu jangan sedih lagi ya. Kasihan anak kita kalau Mamanya sedih"
__ADS_1
Raisa mengangguk, namun dia justru semakin masuk ke dalam dekapan Adam. Menumpahkan air matanya sampai baju Adam basah karena ulahnya.