
"NGGAK BOLEH!!!"
Semua orang menoleh ke sumber suara yang terdengar asing itu.
Semua yang di sana terkejut, kecuali Mbah Welas dengan kedatangan tiga orang wanita dimana salah satunya sedang hamil muda terlihat dari dress rajut yang dikenakannya membuat perutnya menonjol.
Mereka adalah Raisa bersama kedua sahabatnya yang sudah cukup lama berdiri di sana menyaksikan drama dimana suaminya menjadi salah satu pemerannya.
Raisa berjalan mendekati enam orang yang masih terdiam itu dengan wajah tegasnya. Meski semua itu tampak menggelikan karena wajah pucat dengan kantung mata itu memasang wajah yang tak seharusnya seperti itu.
"Bagus Sa, ayo maju jangan mau kalah. Pertahankan suami Lo!!" Gumam Stevi yang di setujui oleh Fany.
"Oh, rupanya anak orang kaya yang sombong itu. Ngapain kamu ke sini??" Ning menatap tak suka pada Raisa yang kini sudah berdiri di samping Adam.
"Saya ke sini ya jelas mau nyusul suami saya dong Bu. Takutnya ada orang yang mau ambil suami saya" Raisa menanggapi Ning dengan senyum lebarnya. Tak lupa matanya melirik ke arah Ayu.
Bahkan kini Raisa sengaja bergelayut manja di lengan Adam. Seolah tak terjadi masalah apa-apa di antara dirinya dengan Adam.
"Iki bojone Adam??" Bisik Mbah Welas pada Yuli.
"Iyo Mbah, cantik to??" Mbah Welas mengangguk setuju dengan pendapat Yuli. Melihat gadis kota yang berkulit bersih juga dandanannya yang modis, cantik adalah kesan pertama yang di lihat Mbah Welas dari Raisa.
"Pinter Adam milih bojo yo??"
"Ssssttttt, diam dulu Mbah"
"Kamu nyindir saya??"
"Saya nggak nyindir Bu, tapi memang kenyataannya kaya gitu. Saya ke sini ya karena saya mau nyusul suami saya. Saya kangen sama Mas Adam" Raisa mendongak menatap Adam yang kini sedang meliriknya dengan wajah dinginnya itu.
Namun sedetik kemudian Raisa kembali menatap Ning dan Ayu yang tak berani menatap Raisa.
"Emm, tapi maaf sebelumnya karena saya nggak kenal Ibu. Jadi Ibu ini siapa ya?? Dan ini Mbak Ayu kan?? Kenapa ada di sini??" Raisa pura-pura tidak mendengar omongan mereka tadi. Dia tetap bersikap tidak tau apa-apa.
"Dasar kurang ajar!! Mentang-mentang orang kaya, jadi ndak mau anggap saya ini Ibu mertua kamu. Kalian suami dan istri sama aja!!!!"
Sementara Fany dan Stevi terus cekikikan melihat sahabatnya bertingkah konyol seperti itu.
"Dan asal kamu tau aja, kalau sebelum menikah sama kamu Adam itu sudah saya jodohkan denhan Ayu!!"
Derrr.....
Meski bukan untuk pertama kalinya Raisa tau kalau Adam dan Ayu terikat suatu hubungan yang rumit. Raisa tetap terlihat biasa saja.
"Kamu itu jangan sombong dulu makanya. Saya tau kalau pernikahan kamu sama Adam itu karena terpaksa saja kan??"
Deg....
Jantung Raisa dan Adam ingin berhenti rasanya.. Apalagi bagi Adam, dia harus melindungi masalah pernikahannya di hadapan Mbah Welas.
__ADS_1
"Jadi jangan besar kepala dulu kamu!! Setelah ini Adam pasti akan menikahi Ayu menjadi ma.."
"Cukup!!" Sudah cukup Adam diam kali ini. Ning benar-benar sudah tidak terkendali lagi.
"Bu, aku tegaskan sekali lagi kalau aku tidak akan menikahi Ayu atau wanita manapun!! Selamanya istri saya tetap satu, dan itu hanya Raisa!! Jadi jangan pernah memaksakan kehendak Ibu sendiri karena sampai kapan pun aku nggak akan pernah mau menuruti Ibu"
Ning menatap mata Adam yang menghujam ke arahnya. Mata bulat dan besar milik wanita angkuh itu juga melebar mendelik menatap Adam.
"Aku sudah berumah tangga. Untuk kebutuhan hidup Ibu sehari-hari juga sudah aku cukupi dengan warung yang pernah aku buat untuk Ibu. Semua hutang Ibu juga sudah lunas. Jadi mulai sekarang, jangan ganggu aku lagi!!"
"Apa kamu bi..."
"Terserah Ibu mau apa. Sekarang aku tidak akan segan lagi sama Ibu kalau sampai berbuat yang aneh-aneh"
"Dan kamu Ayu" Ayu mendongak menatap Adam begitu namanya di sebut.
"Waktu itu sudah aku jelaskan kan kalau kita selamanya nggak akan pernah bisa bersama. Sudah cukup kamu menyia-nyiakan waktu kamu hanya untuk menunggu janji manis yang Ibu berikan. Ingat Yu, yang akan menjalani itu aku dan kamu, bukan Ibu. Aku yakin kamu cukup pintar untuk memahami semua ini. Jadi aku minta sudah cukup sampai di sini Yu"
Wajah Ayu sudah berubah pias. Matanya mengembun di hadapan banyak orang. Dia malu mendapatkan penolakan berkali-kali itu. Tapi memang salahnya juga yang masih terus berharap dan mendengarkan janji-janji yang Ning berikan untuk menikahkan mereka.
Cintanya yang begitu besar pada Adam membuatnya seperti wanita yang tak punya harga diri karena terus saja mengejar Adam meski dia sudah beristri.
"Ra iso!!" Sergah Ning dengan cepat.
"Kamu ndak ingat kalau keluarga Ayu sering bantu Ibu?? Mereka yang sering meminjamkan uang kalau Ibu sedang susah!!"
"Itu bukan urusan ku Bu, Ibu sendiri yang menikmati uang itu. Untuk makan pun aku cari sendiri sejak kecil. Jadi kenapa aku yang harus balas budi?? Sudahlah, sebaiknya Ibu pergi dari sini!!"
"Ayo Budhe, sebaiknya kalian pergi. Daripada saya keluarin kambing saya usir Budhe dan Ayu dari sini"
"Dasar kurang ajar kamu ya!! Awas kamu!! Kamu pasti dapat balasan karena memperlakukan ku seperti ini!!" Ning yang menjauh namun terus berteriak sudah tak di hiraukan lagi oleh Adam. Dia benar-benar sudah muak dengan Ibu tirinya itu.
"Mas" Raisa menyadarkan semua orang yang masih menatap kepergian Ning.
"Nang, ini to bojomu??" Mbah Welas membuat Adam menoleh pada Raisa.
"Nggih Mbah" Jawab Adam kemudian menatap Mbah Welas lagi.
Hati Raisa seperti di cubit karena Adam sepertinya masih enggan menatap dirinya lama-lama. Tapi di samping itu dia cukup senang karena Adam mau mengakui dirinya.
"Ini Mbah Welas Nduk, Neneknya suami mu" Mbak Welas menggenggam tangan Raisa dengan mata berbinar menatap wajah cantik Raisa.
"Saya Raisa Nek" Raisa mengambil tangan keriput itu untuk diciumnya dengan takzim.
"Panggil saja Mbah, seperti Adam. Aku Yuli, Mbaknya Adam" Ucap Yuli.
"Raisa Mbak Yuli. Dan itu teman-teman ku namanya Fany dan Stevi" Fany dan Stevi mengangguk dengan senyum ramahnya.
"Yowes, ayo ajak istri mu masuk. Kasihan pasti dia capek. Apalagi lagi hamil kaya gini" Mbah Welas menyentuh perut Raisa.
__ADS_1
"Nggih Mbah"
"Ayo masuk" Ucap Adam dingin sambil meraih koper Raisa.
Raisa yang berjalan lebih dulu dengan di tuntun Mbah Welas, membuatnya berkali-kali menoleh Pada Adam yang berada di belakangnya.
Suaminya itu masih sama. Memperlihatkan wajah dinginnya pada Raisa. Setelah satu minggu tidak bertemu, Raisa belum bisa melihat tatapan kerinduan dari mata Adam.
"Atau sebenarnya dia memang sama sekali nggak kangen aku??" Wajah sedih dari Raisa itu tak sengaja tertangkap oleh Yuli saat Raisa menoleh ke belakang menatap Adam.
Yuli menyenggol lengan Adam, kemudian berbisik pada pria tinggi itu.
"Dasar bocah kurang ajar!! Kalau aku tau istrimu sedang hamil, aku tidak akan diam saja dari kemarin" Bisik Yuli dengan pelan.
"Maaf Mbak, aku belum cerita soal ini"
Yuli hanya melirik kesal pada Adam, lalu berjalan mendahului Raisa dan Mbah Welas karena ingin menyiapkan minum untuk mereka semua.
"Ayo duduk dulu, biar Yuli ambilkan kalian minum"
Jika Fany dan Stevi masih sangat menikmati suasana di rumah Adam yang sejuk di tengah-tengah perkebunan, maka berbeda dengan Raisa yang terus fokus pada Adam.
Jika saja tidak ada Mbah Welas di sana. Pasti dia sudah menghambur memeluk Adam melepas rasa rindunya.
"Mbah, Adam bawa koper Raisa ke kamar dulu"
Raisa tampak kecewa karena Adam malah terlihat menjauh darinya.
"Kenapa Nduk?? Kangen sama suamimu ya??"
"Eh Mbah, E-enggak kok" Mbah Welas tersenyum penuh arti. Mbah Welas yang tidak tau apa-apa itu percaya saja dengan ucapan Adam yang mengatakan jika Raisa masih sibuk dengan pekerjaannya makanya tidak bisa datang bersama dengan Adam.
"Mbah tau kok, Mbah juga pernah muda. Sana susul bojomu ke kamar. Kamarnya belok kanan yang paling ujung"
"Tapi Mbah"
"Nggak papa sana susul aja. Kamu juga harus istirahat dulu" Raisa pun mengangguk, dia memang butuh bicara berdua dengan Adam.
Raisa berjalan mencari kamar yang di tunjukkan Mbah Welas tadi. Kamar yang paling ujung dengan pintu terbuka itu menjadi tujuan Raisa saat ini.
"Mas" Panggil Raisa pada Adam yang tengah duduk di depan jendela sambil memainkan ponselnya.
Lama tak ada jawaban, membuat Raisa yang masih berada di dekat pintu berdiri dengan begitu kaku.
"Mas maaf karena ak.."
"Mau apa kamu datang ke dini??"
Raisa kecewa dengan pertanyaan Adam itu. Harusnya dia tapa bertanya dia tau tujuannya datang ke sini untuk apa.
__ADS_1
"Karena Ica kangen sama Mas"