Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta playboy. 10


__ADS_3

Ayara melangkah masuk ke dalam ruangan CEO seperti yang diminta. Diiringi dengan PA dari CEO itu sendiri. Namun, ketika matanya bertatapan dengan calon atasannya itu. Ia seperti menyelami mata yang sama dengan putri kecilnya.


Hidung yang sama, bentuk wajah yang terlihat seperti cetakan ulang dengan versi wanita.


Astaga, ini tidak benar. Tidak mungkin ini hanya kebetulan, apa jangan-jangan. Aku harus mencari tahu! batin Ayara.


_________


Pukul lima sore Ayara telah mendapatkan teror dari putrinya tercinta. Gadis kecil itu terus mengomel karena merasa Ayara akan pulang terlambat.


"Kalo Mommy tidak pulang cepat waktu. Aku akan mengacak-acak kantor itu!" begitulah nada bicaranya yang mengancam agar Ayara cepat pulang.


Setelah membereskan semua barang-barangnya, dan memastikan berkas-berkas yang perlu dikerjakan lembur di bawa pulang. Ayara keluar dari ruangannya.


Mata Ayara menatap ke pintu ruangan yang berhadapan tepat dengan pintunya. Itu ruangan CEO, sepertinya ia ditempatkan agak jauh dari divisi pelaksanaan mungkin karena ingin membuatnya terasa nyaman. Mengingat jika proyek building construction ini sangat penting bagi kerjasama mereka kedepannya.


Pintu itu tiba-tiba terbuka. Menampakkan sosok Ace yang berdiri dengan tegas di ambang pintu.


"Apa Nona Aya akan pulang?" tanya Ace memastikan.


"Iya, Pak. Ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan?"


"Brian sedang mengurus perizinan lanjut untuk proyek kita. Sedangkan aku ada janji rapat penting dengan salah satu investor. Apa kamu bisa bantu saya?"


Ayara nampak berpikir. Jika ia mengiyakan maka otomatis akan pulang terlambat. Entah seperti apa putri kecilnya nanti mengomel. Namun jika ia tolak, Ayara juga merasa tidak enak.


Tujuannya dikirim ke sini oleh Om Tomo untuk membantu kelancaran proses pelaksanaan proyek ini. Jadi, ini masih ada di dalam list jobdesknya.


"Ahh... sebelumnya kamu sebagai sekretaris, bukan?" tanya Ace lagi, membuat Ayara benar-benar tidak bisa mengelak.


"Benar, Pak. Saya akan membantu Anda. Apa meeting-nya di luar?"


"Iya, saya sudah menentukan tempatnya."


Ace mengendarai mobilnya sendiri. Sesekali pria itu akan mencuri-curi pandang pada Ayara. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

__ADS_1


Setelah tiba di salah satu restoran. Ayara berjalan mengiringi langkah Ace. Seperti biasa, ketika ia menjadi sekretaris dari Om Tomo. Ayara akan selalu berjalan di belakang, dan tidak akan pernah di samping. Itu ia lakukan untuk menjaga agar dirinya terhindar dari gosip-gosip miring.


Sedangkan Ace sendiri merasa tidak nyaman Ayara terus menerus berjalan di belakangnya. Untuk mengimbangi langkah Ayara, Ace memperlambat langkahnya. Namun, Ayara malah makin lambat.


Ace menghentikan langkahnya, dan Ayara pun ikut berhenti. Jika ia kembali berjalan, Ayara juga akan berjalan. Merasa kesal, Ace menarik pergelangan tangan Ayara dan menyamakan langkah mereka.


"Saya tidak suka kamu berjalan di belakang saya. Berjalan di samping!" titah Ace dengan nada kesal.


Ayara mengikuti kemauan Ace meskipun ia sendiri merasa kurang nyaman. Tiba di meja pertemuan, Ace segera memperkenalkan Ayara kepada beberapa investor yang memutuskan untuk meeting bersama hari ini.


Berbagai pujian dilayangkan untuk Ayara. Ketangkasan dan kepiawaian wanita itu dalam menjelaskan untung ruginya dalam proyek mereka benar-benar detail dan memuaskan. Ia juga memaparkan pengerjaan dengan sangat teliti.


"Tidak diragukan lagi, Anda benar-benar hebat Nona Ayara. Tidak heran perusahaan Hayakawa menjadi salah satu perusahaan terkuat di Asia." puji salah satu pria yang berusia sekitar 50'an. "Dan Anda juga cantik sekali."


"Terimakasih pujiannya, Tuan. Saya sangat tersanjung." Ayara menghentikan ucapannya ketika suara ponselnya terdengar. Apa dia bilang, putri kecilnya akan benar-benar marah. "Maaf, saya angkat telepon sebentar."


Berjalan agak sedikit menjauh dari meja, Ayara mengangkat panggilan dari Elena. "Iya, El. Ada apa?"


"Pulang jam berapa, Ay? Kayla gak mau tidur kalo kamu belum pulang. Anak itu khawatir," jelas Elena sembari sesekali melirik ke arah Kayla yang tengah berbaring dan membaca buku bahasa Inggris yang Elena saja tidak tahu apa arti dan isinya.


"Baiklah, hati-hati di jalan. Aku tutup telponnya." Ayara menghembuskan napas ketika panggilan itu berakhir. Sepertinya ia akan kehilangan banyak waktu bersama gadis kecilnya mulai sekarang.


Di London, gadis kecilnya akan bermain bersama kakak iparnya sepanjang hari. Tapi di sini, ia tidak yakin Kayla akan cocok dengan Elena.


Ketika Ayara berbalik. Ia sangat terkejut karena Ace sudah berdiri tepat di belakangnya, "Ya Tuhan!"


"Siapa?" tanya Ace memastikan.


"Putriku, Pak. Meeting-nya sudah selesai, kan? Saya harus segera pulang."


"Kau sudah menikah?" Ayara tidak menjawab, ia hanya tersenyum membalas ucapan atasannya itu.


Ace terkejut bukan main. Anak? Apa Ayara sudah menikah? Ckk... bodohnya dia yang tidak berpikir ke arah sana sama sekali.


Ayara itu cantik, cerdas, dan selalu mempesona. Mana mungkin tidak ada yang mau menikahinya meskipun ia sudah tidak perawan lagi. Wanita itu bukan dirinya yang benar-benar selektif dalam memilih pasangan hidup.

__ADS_1


Ace mungkin akan bercinta dengan wanita manapun yang didapatkannya dari Batara. Tetapi untuk menikah, ia tidak tertarik lagi. Bahkan untuk berpacaran pun, ia hanya berharap pada Ayara.


"Permisi, Pak." pamit Ayara meninggalkan Ace di sana sendirian.


_______


Batara menggelengkan kepala melihat Ace yang terus menenggak anggur merah dengan kadar alkohol tinggi. Pria itu belum mengatakan apapun sejak pertama datang.


"Katakan, ada apa denganmu?" tanya Batara penuh selidik. "Tidak biasanya kau begini, Ace. Apa Joelyn menyusahkan mu lagi? Kan, sudah kukatakan denganmu dari dulu. Pastikan dulu anak itu, benar anakmu apa bukan. Keras kepala sekali," ejek Batara mencibir.


Masih belum mendapatkan jawaban. Batara kembali bersuara, "Joelyn itu bekas wanita malam Ace. Mana mungkin itu putra kandungmu. Mumpung masih berusia 2 tahun, lebih baik tes DNA sekarang."


"Aku menemukannya," lirih Ace sembari kembali menenggak minuman.


"Siapa? Bukti Adam bukan anakmu?" cecar Batara penuh antusias.


"Gadis itu, Ayara, aku menemukannya."


Batara mengernyitkan keningnya. Setelah beberapa saat mencerna, ia mengerti. Pria bodoh yang telah jatuh cinta pada gadis satu malam ini, kembali menemukan pasangannya.


"Bagus, dong. Kenapa kau malah mabuk-mabukan begini?" ujar Batara heran.


"Dia sudah menikah."


"Benarkah? Kau tahu dari mana dia sudah menikah? Dia mengatakannya?"


"Tidak! Tapi dia sudah memiliki anak, Tar."


Batara kembali berpikir. Memiliki anak bukan berarti sudah menikah bukan? Contohnya ada di depan matanya sendiri. Tuan muda Monata, yang memiliki seorang putra tetapi tidak menikah.


"Kau yakin? Sudah mencari tahu? Ya, maksudku lihatlah dirimu sendiri, Ace. Anak mu satu, tapi istri tidak punya."


Ace dengan spontan mendongakkan kepalanya. Menatap Batara dengan pandangan bertanya. "Jangan terlalu berharap, tapi apa salahnya mencoba untuk mencari tahu," saran Batara.


Merasa mendapat pencerahan. Ace segera beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Batara heran.


"Pulang!"


__ADS_2