
Hidup itu memang tidak tahu akan mengarah ke mana. Segala sesuatu itu adalah pilihan. Termasuk dengan berhasil atau tidaknya sebuah pernikahan.
Ruang tamu kediaman Pramana terlihat begitu mencekam. Reina menangis sesegukan di bahu sang ibu. Ayasa belum membuka suaranya sama sekali. Arkan juga hanya diam dan terlihat tidak tertarik dengan kejadian ini. Malahan... mata pria itu gagal fokus karena melihat kemiripan yang sangat-sangat mirip antara Ace dan Kayla.
"Kayla, kita ke atas yuk. Ganti baju dulu," ajak Sheila pada Kayla karena melihat kondisi yang sangat tidak baik untuk keponakannya.
"Om jahat..." Kayla menatap Ace dengan sedikit tatapan tidak rela berpisah. Namun, Ace dengan segera meyakinkan Kayla bahwa besok mereka akan bertemu lagi.
"Kayla ikut tantenya--"
"Aunty," protesnya karena panggilan Ace yang salah.
"Iya, Aunty. Kay naik ke atas dulu sama Aunty, ya. Besok ikut Mommy aja ke kantor. Kamu bisa main sama, Da-- ahh... maksudnya sama Om sampai puas."
"Really?!" tanya Kayla masih bimbang.
"Sure, little girl. Why not..."
"Om jahat punya banyak buku di sana?" tanya Kayla sekali lagi dengan berbinar.
"Yup, a huge amount."
"Tapi nanti Mommy---"
Ayara menatap putrinya dengan tatapan mata tajam. "Kayla... Masuk ke kamar!" titah Ayara dengan nada suara paling rendah.
Wanita yang terus berdiri mondar-mandir dengan perasaan marah itu mengabaikan tatapan kakaknya serta Ace yang sedikit heran.
"Kay, ayo." ajak Sheila sekali lagi.
__ADS_1
"Oke Aunty, bye bye Om jahat. Happy nice dream emuach..." bisik Kayla pada Ace kemudian berlalu menghampiri Sheila. Gadis kecil itu berjalan lebih dulu dari pada Sheila, bibirnya tidak henti-hentinya bercerita tentang Ace yang memarahi orang jahat untuk membela ibunya.
Iya, Kayla menjadi suka pada Ace karena ketika ibunya menangis tadi Ace sempat marah dan bahkan hampir memukuli lawan ibunya. Dimata Kayla itu adalah salah satu adegan super hero yang sering di tonton nya. Seorang pahlawan yang menyelamatkan wanita-wanita lemah yang dirundung penjahat.
Setelah kepergian Kayla, Arkan mulai membuka suara. Nasehat utamanya tidak lain tidak bukan jatuh kepada sang adik kesayangan, "Ay, lain kali Abang gak suka liat kamu ngomong gitu sama Kayla. Seumur-umur kita gak pernah marah sama dia. Jangan cuman karena masalah orang-orang ini, putri kamu jadi sasarannya."
"Dan juga kamu!" ujar Arkan tertuju pada Ace.
Ace segera memposisikan dirinya. Bersiap menerima sapaan pertama dari calon Abang iparnya. "Iya bang," sahut Ace bersemangat.
"Kamu sepertinya lebih tua dari saya. Berapa umur kamu?"
"Tahun ini 35 tahun."
Doni sedikit menganga mendengar penuturan penuh percaya diri dari Ace. Pria itu bahkan tidak tahu umur, pikirnya.
"Abang!" sentak Ayara marah, "Masalah sekarang itu mereka. Bukan aku! Bisa gak sih sekali aja Abang simpati sama Reina!" tukas Ayara dengan nada sedikit tinggi.
"Tidak. Kamu!" Arkan kembali mengarahkan tatapannya pada Ace, "Silahkan jawab. Ayah kandung Kayla--"
"Kapan sih Abang berhenti membenci Reina. Lihat bang, wanita tanpa bapak itu lagi sakit hati. Dia diselingkuhi suaminya! Diselingkuhi! Masa Abang gak ada simpati sedikit aja sama dia." seru Araya sambil geleng-geleng kepala tidak percaya.
"Kamu yang kenapa heboh banget kalo dia diselingkuhi, Aya. Lihat, dia diselingkuhi suaminya. Itu karena apa? Karena karmanya sendiri. Kamu gak ingat dia dapat suaminya itu dari mana? Ngrebut dari siapa? Sampai kamu mabuk-mabukan, tidur sama orang gak dikenal sampai hamil. Ada gak dia bersimpati sama kamu? Ada dia ngebujuk ayah buat jangan usir kamu? enggak, kan. Yang ada, ayah kamu di nikahi sama ibunya. Orang-orang seperti itu yang mau kamu kasihani." papar Arkan dengan tenang. Pria itu berdiri mendekati Ayara, lalu menuntutnya untuk duduk di sofa single tempat dia duduk sebelumnya.
Lihat mereka satu persatu. Ingat lima tahun lalu gimana keadaan kamu ketika Lucas nemuin kamu. Di atas jembatan mau terjun ke dasar sungai. Pakaian tipis, celana pendek. Dalam keadaan perut kosong karena udah gak makan dua hari. Ingat?" Arkan mengecup pucuk kepala Ayara berulangkali. Tangannya mengelus pelan bahu sang adik dengan tenang.
"Mereka adalah orang-orang yang masih bahagia, ketika Abang yang hampir gila karena mikirin kamu yang dinyatakan hilang, Aya. Mereka orang-orang yang masih makan kenyang ketika kamu bertekad untuk mencari kerjaan tanpa ijazah dan pengalaman untuk biaya persalinan dan makan sehari-hari. Apa kamu bisa bayangin apa yang akan terjadi jika Abang tidak berhasil menemukan kamu waktu itu? Dengan pola pikir kamu yang keras kepala ini, apa mungkin kamu mau menerima bantuan dari Lucas? enggak, kan. Jadi biarkan saja mereka dan masalah mereka. Sekarang, fokus sama masalah kamu. Apa benar dia ayah dari Kayla?!" Arkan bertanya dengan nada rendah. Membuat Ayara merinding dan dengan alami mengangguk untuk menjawab pertanyaan kakaknya.
Arkan tersenyum puas mendapatkan jawaban dari Ayara. Setelah itu, pria itu menatap Ace sejenak. Kemudian kembali mencium sayang pucuk kepala Ayara.
__ADS_1
"Naiklah ke atas. Bersih-bersih, terus langsung tidur. Kamu terlalu banyak menguras emosi hari ini, Aya." titah Arkan seraya menatap sinis Ayasa yang telah mengepalkan tangan erat penuh emosi mendengar ucapan demi ucapan sang anak sedari tadi.
"Aku istirahat dulu, Bang."
"Iya, naiklah. Kalo masih ada yang ngeganjal kamu tahu harus cerita sama siapa, kan. Kakak ipar kamu ada di atas sama putri kamu." Ayara mengangguk, lalu meninggalkan ruang tamu.
Setelah Ayara pergi. Arkan menatap Ace sejenak. "Berdiri!"
Ace hanya diam di sofa. Bahkan saat ini kakinya telah bersilang seolah-olah mengatakan bahwa dia tidak akan bisa kalian remehkan lagi. Karena pawangnya telah pergi dan tidak melihat.
"Brengsek!" Bughh... Bughh... Bughhh...
Tiga bogeman mentah Arkan layangkan ke wajah Ace. Ace sedikit terhuyung, tetapi tidak membalas. Dia akan menerima tiga pukulan itu untuk menebus kesalahannya di masa lalu pada Arkan karena telah mengacaukan kehidupan adiknya.
Apalagi ia tadi sempat mendengar sekilas penderita Ayara ketika ia mulai kehilangan jejak wanita itu.
"Huuu..." keluh Arkan, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa kebesarannya. "Itu untuk masa lalu kalian. Setelah ini, aku ingin bicara dengan kamu!"
Ace hanya mengangguk setuju. Tetapi dia tidak bersuara lagi. Bagi Ace, terlalu banyak bersuara itu tidak penting, kecuali di depan Ayara.
"Nah, sekarang... silahkan selesaikan permasalahan kalian." ucap Arkan beralih menatap remeh ke arah ayahnya serta Sulastri bergantian. "Dan selanjutnya, Reina silahkan keluar dari rumah ini. Dia membawa pengaruh buruk untuk adik saya. Selalu membawa pengaruh buruk! Jika ada yang keberatan bisa ikut angkat kaki."
Keputusan Final dari Arkan membuat Ayasa semakin meradang. Pria paruh baya itu mengepalkan tangannya emosi. Lirikan matanya terus mengikuti langkah Arkan dan Ace yang berjalan beriringan menuju ruang kerja Arkan.
Sejujurnya, Ayasa juga ingin melampiaskan amarah pada pria yang mengaku sebagai ayah dari cucunya itu. Cucu? Apa sekarang ia telah mengakui anak itu sebagai cucunya?
"Pilihanmu hanya dua. Ceraikan Reina, atau tinggalkan wanita itu dan buat surat perjanjian!" tutur Ayasa mutlak tanpa bisa diganggu gugat.
Setelah itu, ia ikut meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya dan sang istri. Menyisahkan Reina, Mita, Dan Doni yang memulai pertengkaran babak baru di ruang tamu itu.
__ADS_1