
"Kau!" Ayara terbelalak kaget melihat wajah datar Ace yang sudah berada tepat di depan wajahnya. "Apa yang kau lakukan sialan!" Maki wanita itu lugas.
Ia mendorong tubuh kekar Ace yang sebelumnya tengah mengungkungnya di sofa. Mendudukkan tubuhnya tegap, Ayara memijit pelipisnya pelan.
Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Setelah gagal membangunkan Ace, ia duduk di sofa berbeda. Lalu ikut berbaring dan memejamkan matanya sambil menahan lapar di perut.
"Aku memperhatikan mu."
"Dasar kurang ajar!" Ace mengulum senyum tipis melihat raut wajah marah Ayara. Entahlah... Melihat ekspresi kekesalan di wajah cantik wanita itu telah menjadi hobinya sekarang.
"Kau tidak lapar? Aku baru saja membeli sesuatu," ujar Ace mengalihkan perhatian Ayara.
Tatapan tajam dan menusuk itu masih terus terarah padanya. Tak tahan lagi, akhirnya Ace terkekeh geli, "Apa?! Aku hanya perhatian denganmu, Aya."
"Berhenti melakukan hal-hal yang membuat orang menjadi salah paham, Ace!" tekan Ayara sembari berdiri dan melangkah menjauhi Ace.
"Salah paham apa? Memangnya kamu memikirkan apa tentangku? Ahh... apa kamu mengingat malam itu lagi, iya?"
"Tidak!" jawab Ayara lugas dan tegas, "Berikan itu."
Ace memberikan box berisi nasi kotak yang sempat ia beli di restoran terdekat. Sebenarnya tidak benar-benar dekat, karena butuh setengah jam perjalanan dari villa mereka.
Ayara memindahkan makanan ke dalam piring, lalu memanaskannya di microwave. Sedangkan Ace memilih untuk duduk tenang, sambil memperhatikan Ayara dari balik meja mini bar yang berada di kitchen set.
"Aku tahu kamu itu cantik. Tapi kenapa semakin dewasa kamu malah semakin cantik."
Ayara memutar bola matanya jengah. Pujian Ace terdengar seperti tong kosong berisi sampah di telinganya.
"Aku serius, Ay. Kapan terakhir kita bertemu, humm... di restoran bintang lima di dekat gedung kantor itu, kan. Kamu terlihat begitu menggemaskan waktu itu."
"Dan kau terlihat begitu menyebalkan!" sarkas Ayara yang lagi-lagi dibalas gelak tawa.
"Aku ingin bertanya sesuatu denganmu."
Suara denting microwave yang menandakan telah selesai, membuat Ayara sibuk mengeluarkan makan malam mereka. Setelah meletakkan dua piring makanan di meja. Ayara membuka kulkas, dan mengambil dua botol air mineral kemasan di dalam sana.
Meletakkan satu botol di depan Ace. Ayara mendengus, "Apa?!" jawabnya merespon permintaan Ace.
"Kenapa kamu membuang ponselku ke tempat sampah setelah kita melakukan kegiatan panas itu?"
__ADS_1
Uhuk... Ayara tersedak air mineral yang tengah ia minum. Bersusah payah ia memukuli dadanya sendiri agar merasa lebih lega.
"Kau gila?!" hardik Ayara semakin menatap tajam.
"Aku serius, Sayang. Kenapa?" tanya Ace dengan tidak tahu malu.
"Aku menggunakannya untuk mengirim foto bugil kita pada mantan kekasihku."
Byur... Uhuk... Uhuk... kali ini Ace yang spontan menyemburkan makanan yang tengah ia kunyah. Pria itu berusaha menggapai air di dalam botol untuk segera ia tenggak hingga tak tersisa.
Ace menatap Ayara tidak percaya. Bisa-bisanya wanita itu mengirimkan foto seksi bercinta pada mantannya. Lalu bagaimana jika wajahnya terlihat? Apa mantannya itu menyebarkan foto mereka di situs web dewasa?
"Iuhh... Menjijikkan," desis Ayara ketika melihat sisa makanan pria itu yang berserakan di lantai.
"Kau bercanda?!"
"Yang mana? tentang foto bugil?" tanya Ayara masih santai menyuap makanannya.
"Apapun itu, aku harap kamu hanya bercanda."
Ayara menggelengkan kepalanya. Menenggak air minum, lalu baru kembali berbicara, "Aku serius. Ace, itulah mengapa aku mengatakan untuk berhenti membicarakan masa lalu. Aku yang dulu arogan, bisa melakukan hal gila yang bahkan tidak bisa kamu cerna dengan benar. Dan satu lagi," Ayara menjeda ucapannya sesaat.
Tetapi Ace hanya menanggapi dengan acuh tak acuh. Dion Ace Monata, selamanya akan menjadi Ace. Pria arogan, dan gila. Bahkan jauh lebih gila dari Ayara.
Jika Ayara mengirimkan foto pada mantan kekasihnya. Maka Ace mengirimkan mantannya ke hadapan malaikat maut dan Tuhan.
"Aku tidak terlalu mengerti, tapi... baiklah, selama kamu mau mencoba untuk menerima ku." tutur Ace dengan seringai licik di bibirnya.
"Menerima apa?"
"Aku ingin kamu selalu berada di sekitarku dengan radius pandangan mata ketika jam kantor!"
"Ace!"
"Kalau begitu ditambah jam pulang kantor."
Ayara mengepalkan tangannya erat. Kenapa Ace selalu mengambil keputusan semena-mena seperti ini?
"Kamu gila ya?!" hardik Ayara tidak terima.
__ADS_1
"Kalau begitu ditambah pengawasan di jam luar kantor, dan weekend."
"Oke! Fine! Berada di radius pandangan ketika di kantor. Hanya itu, enggak lebih." Ace tersenyum penuh kemenangan. Ia mengulurkan tangannya ke depan meminta di sambut oleh Ayara.
"Deal!"
_______
Keesokan harinya, ketika lagi hari menyapa. Ace dan Ayara masih terlihat tidur dengan nyaman di atas sofa masing-masing. Demi keadilan, karena villa ini hanya satu kamar. Mereka memutuskan untuk tidur di sofa.
Suara bel pintu mengagetkan kedua insan yang masih berlayar di dalam mimpi. Dengan muka bantalnya, Ace berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan malas.
"Suprise... Hallo, Papa." Joelyn dan juga Alex berdiri di depan pintu dengan dua koper di belakang mereka. Bocah tiga tahun itu bahkan menatap takut-takut pada Ace.
"Sayang, salam papanya dulu." titah Joelyn pada Alex, yang mana langsung dituruti olehnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Ace dengan wajah datar, dan sorot mata marah yang kentara.
"Kami menyusul mu. Bukankah sekarang waktunya yang tepat untuk libur keluarga?!" jawab Joelyn dengan wajah penuh senyum.
Ace manarik koper kecil milik Alex. "Masuk ke dalam Alex!" titah Ace dengan suara rendah.
Bocah berusia tiga tahun itu lagi-lagi menurut. Berada di antara dua orang tua yang tidak pernah akur membuat anak kecil itu selalu merasa tertekan.
Ia bahkan lebih merasa tenang ketika bersama dengan Oma dan Opa-nya, juga bersama bibi Elena. Dari pada berada diantara mama dan papanya.
Setelah Alex masuk dengan langkah kecilnya. Ace menutup pintu, dan menarik pergelangan tangan Joelyn dengan kasar. Pria itu menghempaskan tubuh ramping itu hingga terpentok ke tiang penyanggah.
Merasa belum puas. Ace mencengkram pipi Joelyn dengan kuat. "Menjauh dari sini. Jangan mengganggu waktuku dengan Ayara, *****!"
"Ace, ibu anakmu itu aku. Kenapa malah dia yang kamu ajak liburan? Kenapa malah dia yang kamu perhatikan? Apa selama lima tahun ini aku menemani mu gak cukup?" seloroh Joelyn dengan air mata buaya andalannya. Pipinya terasa panas dan kebas, tapi itu belum seberapa dibandingkan dengan pukulan yang bahkan lebih sering ia terima dari Ace.
Jika bukan karena harta, juga kekuasaan. Joelyn tidak akan mau bertindak menyedihkan seperti ini. Hanya saja, harta membutakannya. Wanita itu takut, jika Ace benar-benar cinta pada Ayara. Posisinya sebagai wanita yang cukup penting akan tergeser.
Plak... satu tamparan keras melayang ke wajah Joelyn. "Sudah kukatakan untuk tidak ikut campur urusan pribadiku. Dengar! Kau masih bernapas di dunia ini saja cukup melegakan. Jangan lupakan rekan-rekanmu yang sudah menyambangi alam baka. Pergi! atau kau juga akan menyusul mereka."
Ancaman Ace kali ini berhasil membuat Joelyn merasa goyah sesaat. Wanita itu lebih memilih untuk mundur, dan pergi dari sana.
Ace memang pria yang kejam. Mungkin jika ada iblis yang menjelma menjadi manusia itu adalah Ace. Pria dominan yang selalu menandai apa yang ia miliki. Sekali ia tandai, jika itu bukan karena pengkhianatan ia tidak akan pernah melepaskannya. Apapun alasannya!
__ADS_1