Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy.18


__ADS_3

"Ada urusan apa kau kembali Arkan? Bukankah kau bilang jika aku sudah bukan ayahmu lagi!" tukas Ayasa tenang dengan raut wajah merendahkan putra sulungnya itu.


Namun sang lawan bicara hanya membalas dengan kekehan. Pria itu bahkan berprilaku kurang ajar dengan satu kaki diangkat ke atas meja.


"Aku datang untuk menjemput harta ibuku, Tuan Ayasa. Jangan besar kepala! Bukankah semua harta ibu atas nama adikku? Rumah, perusahaan? Ahh... atau mungkin, perusahaan Pramana yang telah bangkrut disokong dengan perusahaan Basagita. Jangan lupakan jika lebih dari setengah harta Pramana adalah bagian dari ibuku."


Ayasa nampak mengeram. Tangannya terkepal erat, namun berusaha ditenangkan oleh Sulastri.


"Apa begitu caramu berbicara dengan ayahmu yang telah kau tinggalkan selama bertahun-tahun!" bentak Ayasa murka.


"Tentu saja ini jauh lebih baik, Ayah. Bukankah sudah kukatakan. Aku datang untuk mengambil hak Ayara yang tersisa! Aku mungkin tidak memiliki apapun, tapi tidak dengan adik kecilku itu. Dia memilikinya!"


"Kau bercanda! Semenjak aku mengusirnya pergi. Anak itu tidak memiliki hak apapun lagi di rumah ini!"


Arkan kembali tertawa. Pria itu mengeluarkan salinan berkas yang disimpan rapat oleh anak pengacara almarhum ibunya.


Perebutan harta seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang baik. Apalagi Arkan merupakan menantu termuda di keluarga Hayakawa. Hanya saja, Arkan tidak ingin milik adiknya dinikmati oleh orang lain.


Sejak awal Arkan sudah tidak menyukai kehadiran Reina dan ibunya di rumah mereka. Arkan selalu merasa bahwa mereka manusia-manusia berwajah dua.


Apalagi melihat tindakan Sulastri yang terlalu ikut campur dalam rumah ini, membuat rasa tidak sukanya berkali-kali lipat. Sejak mengetahui bahwa Ayara diusir, Arka marah besar dan perlahan kemarahan itu memupuk menjadi benci.


"I--ini, bagaimana bisa?!" Arkan tersenyum penuh kemenangan. Pria itu meminta istrinya untuk menghubungi seseorang kemudian tak lama dari itu koper-koper keduanya telah dimasukkan ke dalam rumah.


"Tentu saja bisa, AYAH!" tekan Arkan diiringi senyum kemenangan. "Maaf, tapi mulai hari ini kalian harus berbagi rumah dengan kami. Atau lebih tepatnya kami yang harus berbagi rumah dengan kalian. Karena pada dasarnya, harta Pramana telah tenggelam oleh tanah. Semua yang tersisa tinggal milik ibuku!"


Arkan menarik lembut tangan istrinya. Menggiringnya ke kamar utama, untuk beristirahat. Tak lama kemudian, seluruh barang-barang dikamar utama dikeluarkan dan dipindahkan ke lantai bawah.


Katakanlah Arkan kurang ajar dan durhaka. Tetapi dia hanya ingin mengatakan bahwa ketamakan mereka telah berakhir. Terutama pada ayahnya itu.


Arkan tidak ingin mengusir mereka, karena sejatinya ia masih menyayangi ayahnya itu. Arkan hanya ingin menyadarkan ayahnya. Bahwa tindakan pria itu mengusir Ayara, menikahi Sulastri, dan membuat perusahaan ibunya gulung tikar hanya untuk mempertahankan A'F Copration itu sudah sangat keterlaluan.


Dia kamar di lantai atas juga dibersihkan. Tentu saja Arkan akan membawa Ayara beserta keponakan kesayangannya itu kembali ke rumah ini.


Ia akan tunjukkan, bahwa pemilik utama rumah ini mereka. Bukan Ayasa, apalagi Sulastri dan putrinya.


_____

__ADS_1


Ayara yang tengah bersantai bersama kedua sahabatnya itu tersentak ketika mendapatkan panggilan dari nomor tidak dikenal. Satu kali ia abaikan, namun nomor itu terus menghubunginya. Dengan ogah-ogahan, ia akhirnya mengangkat panggilan itu.


"Hallo, siapa?" tanya Ayara dengan nada tidak bersahabat.


"Ayara, datanglah ke kantor ada urusan pekerjaan yang sangat penting tidak bisa ditunda."


"Pak Ace?" tanya Ayara memastikan.


"Iya ini aku, memangnya kamu mengharapkan siapa."


"Dari mana kamu mendapatkan nomorku?" tanya Ayara bingung.


"Apa harus aku jelaskan?! Cepat kemari!" Tut... Tut... panggilan itu berakhir dengan satu pihak. Membuat Ayara mendengus kesal, kemudian meluapkannya dengan melempar bantal sofa ke sembarang arah.


"Ay, ada apa?" tanya Elena khawatir.


"Sepupu gila mu itu memintaku untuk ke kantor sekarang juga." dengus Ayara penuh emosi.


Elena nampak berpikir sesaat, "Apa maksudmu Kak Ace?" tanyanya ragu.


"Menurutmu ada berapa banyak sepupumu yang gila. Tentu si Ace dingin sialan itu!"


Ace si playboy tua telah tersemat dengan baik dikalangan pebisnis. Meskipun kenyataannya mereka selalu gagal membujuk pria itu dengan menyodorkan wanita, tidak peduli secantik apapun wanita itu.


Handphone Ayara kembali berdering, dan lagi-lagi nomor yang tidak dikenal. "Apalagi, Pak?! Aku akan segera datang, sabar!" bentak Ayara kesal.


"Aya, kamu membentak iparmu? Berani sekali wanita nakal ini!" suara lantang dari kakak iparnya terdengar dari sebrang sana. Ayara menjauhkan layarnya, dan itu ternyata benar nomor Indonesia.


"Kak Sheila?"


"Apa abang mu ada istri lain selain aku?!" sarkas Sheila dengan mode marah on.


"Maaf, maafkan aku, Kak. Aku tidak tahu ini nomor kakak. Lagipula dari mana kakak dapat nomorku?"


"Lucas. Kalo menunggumu, mau sampai kapan? Kamu bahkan lupa punya kakak di sini!" ketus Sheila masih dalam mode marahnya.


"Baiklah-baik, maafkan aku, okay. Sekarang kakak ada di mana? Di Jakarta?" tanya Ayara bersuara pelan nan lembut karena tidak berani lagi membuat kakak iparnya itu marah.

__ADS_1


Sheila memang selalu begitu, wanita itu tidak segan untuk memarahinya jika menurutnya dia salah. Namun ketahuilah, rasa sayang wanita itu padanya bahkan hampir setara dengan almarhum sang ibu.


Ketika ia hamil, Sheila yang selalu menjaganya. Ketika dia lahiran, menyusui, dan merawat Kayla. Semuanya atas bantu tangan Sheila. Jika Lucas membantunya, maka Sheila dan abangnya Arkan menjaganya dengan penuh sayang.


"Di rumah ayah, kamu harus lihat bagaimana abang mu yang memiliki tempramental buruk itu mengacaukan rumah. Kemarilah, bawa barang-barang mu juga keponakanku!" tandas Sheila penuh perintah mutlak.


Panggilan itu berakhir bahkan sebelum dia menjawab apapun. Mendengarkan ocehan Sheila, Ayara bahkan lupa jika sebelumnya bos-nya yang menyebalkan baru saja memintanya untuk datang ke kantor.


_______


Ayara dan Kayla ditemani oleh Lucas untuk datang ke kediaman Pramana. Ayara tidak membawa banyak barang, hanya beberapa pakaian untuk menginap sementara abangnya ada di Indonesia.


Memasuki kediaman besar yang sudah sangat lama Ayara tinggalkan. Ia tersenyum sinis. Tidak ada lagi yang harus ia sedih kan, semuanya sudah berlalu. Dan mereka telah bahagia ditempat mereka masing-masing.


Anggap saja saat ini mereka tengah bertamu di tempat asing.


Turun dari mobil, dua orang pelayan yang tidak Ayara kenali membantu mereka membawakan koper. Bahkan para pelayan pun sudah tidak ada yang ia kenal.


Prang... Reina menjatuhkan nampan berisi gelas minuman yang ia bawa. Hal itu tentu saja membuat Sheila kaget, begit juga dengan Arkan.


"Bekerjalah dengan benar! Jika tidak ingin bekerja maka silahkan pulang ke rumahmu. Jangan menumpang di sini!" ujar Arkan tanpa memperhatikan sekitarnya. Pria itu masih sibuk membaca koran yang ia pegang.


"Maaf, maafkan aku," ucap Reina pelan. Wanita itu segera membersihkan serpihan kaca yang berantakan.


Sulastri yang melihat anaknya seperti pembantu hanya bisa tertunduk sedih. Ayasa dan Sulastri memang tidak diperlukan begitu buruk, hanya saja tidak dengan Reina.


Karena alasan Reina telah bersuami, Arkan meminta wanita itu untuk keluar dari rumah. Namun Reina memohon untuk menolaknya. Tentu saja Arkan mengizinkan, dengan balasan dia harus bekerja keras.


Kayla yang berada di gendongan Lucas meminta turun diam-diam. Semua orang yang masih terpaku memang tidak menyebutkan kedatangan Ayara, dan anaknya. Sedangkan Sheila dan Arkan membelakangi mereka.


"I Miss you, Uncle!" cup... pekik Kayla girang berlarian ke pelukan Arkan dan segera mencium pipinya.


"Miss you too princess. Dimana Mommy mu?" tanya Arkan sambil menghujani Kayla dengan ciuman.


"I-cu di beyakang," jawab Kayla dengan suara tertahan akibat gapitan tangan Arkan di pipinya.


Sheila menoleh, wanita itu segera menyambut kedatangan Ayara dengan pelukan hangat. Lucas juga memeluk Sheila sebagai salam pertemuan, dan semua yang ada di sana tak lupa Lucas sapa.

__ADS_1


"Kekacauan macam apa ini, Bang. Reina hentikan itu, biarkan para pekerja yang mengerjakannya." ujar Ayara segera menghampiri kakaknya. Wanita itu mengecup kening Arkan sebentar kemudian duduk di sofa.


"Biarkan saja dia bekerja. Apa kakak iparmu mu yang mengabari mu secepat ini?" Ayara menganggukkan kepalanya. Benar, jika yang menghubunginya adalah Sheila. Dan itulah sebabnya dia berada di sini sekarang.


__ADS_2