
Dua orang insan berbeda gender itu saat ini tengah bersitegang untuk kesekian kalinya. Ace dengan sikapnya yang datar, dan semena-mena terus memaksa untuk tinggal di sebuah villa yang dikelola oleh keluarga Monata.
Masalahnya adalah villa itu hanya memiliki satu kamar terbuka di lantai atas. Tangga melingkar berwarna putih keabu-abuan menghiasi jalan menuju kamar tersebut. Di lantai bawah, semuanya juga terlihat terbuka.
Pemandangan indah pantai yang langsung terlihat hanya dengan menggeser posisi pembatas yang terbuat dari kaca besar berlapis, jika malam kaca itu akan ditutup dengan tirai berwarna abu-abu senada dengan warna furniture.
"Kenapa tidak menginap di hotel saja, pak?" desak Ayara masih berusaha membujuk Ace yang keras kepala.
"Hotel? Kenapa aku harus repot, sedangkan aku memiliki villa di sini. Selain itu Aya, bukankah sudah kukatakan untuk menyebut namaku ketika kita berdua saja?"
Ayara memijit kepalanya sakit. Tekanan darahnya tiba-tiba naik, dikarenakan ulah atasannya yang memutuskan semuanya sendiri.
"Lalu aku tidur di mana? Tempat ini hanya memiliki satu kamar, Ace."
Ace yang lelah mendengar Ayara terus menerus mengoceh, berdiri lalu mengambil dua kaleng soda di dalam kulkas. Pria itu meminum soda ditangannya dengan santai. Mengabaikan Ayara yang terus menatapnya nyalang.
"Baiklah, aku akan mencari hotel sendiri." putus Ayara pada akhirnya.
"Jika kau bisa menemukan hotel terdekat maka lakukanlah," jawab Ace masih santai dan acuh tak acuh.
Ia kembali berjalan, mengelilingi sofa kemudian mendudukkan tubuhnya di sana dengan nyaman. Pemandangan sunset yang berwarna jingga kemerahan sangat memanjakan mata.
"Duduklah, Ay. Apa tidak lelah berada di pesawat selama tiga jam?"
Namun wanita itu tidak menggubris perkataannya. Ia masih berdiri dengan tegak, bahkan tidak bergeser sedikitpun.
"Katakan, sebenarnya ini bukan perjalanan dinas kan? Kamu menipuku?" tanya wanita itu dengan kening mengkerut menonjol urat-urat kekesalan.
Ace yang mendengar tuduhan Ayara melirik sekilas, kemudian kembali dengan santai menenggak minumnya, "Bukankah tadi sebelum tiba di bandara sudah ku katakan bahwa ini liburan."
Ayara benar-benar hampir frustasi di buatnya. Wanita itu kembali memijit kepalanya sendiri, namun kemudian berbalik menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Mau kemana?" Ace segera mengejar Ayara. Menghalangi jalan wanita itu.
"Pulang ke Jakarta!" tukasnya.
"Menurutmu bisa?" ucap Ace remeh. Pria itu tidak tahu saja jika kakaknya yang menjadi menantu termuda keluarga Hayakawa tengah berada di Indonesia.
Mungkin dirinya bisa diremehkan karena tidak memiliki apapun lagi. Diusir dari rumah, dan kehilangan semua harta. Namun dia masih memiliki kakak, juga ipar yang selalu baik padanya.
Ayara mengeluarkan ponselnya, mencari nomor Sheila di ponselnya. "Hallo, Ay. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" suara kakak iparnya terdengar sedikit cemas.
Baru saja Ayar ingin menyampaikan keinginannya, Ace telah merebut ponselnya dan mematikan panggilan itu.
Mata mereka bertatapan, sama-sama melotot dengan kekesalan masing-masing.
Ace menarik pergelangan tangan Ayara dengan kuat. Menutup kembali pintu dengan kasar, lalu mengunci. Ia menyeret wanita itu hingga ke kamar.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Ayara kalut. Wanita itu berusaha memberontak namun kekuatan tubuhnya tidak sepadan dengan pria berkekuatan besar seperti Ace.
"Ace?!" hardik Ayara murka.
"Sekarang kamu tahu cara memanggil namaku? Kamu tidak akan kemana-mana sebelum kamu menjelaskan kenapa kamu pergi lima tahun yang lalu, Ayara!" sentak pria itu tak kalah tinggi.
Mata mereka kembali bertatapan. Gelombang amarah tertahan di dada masing-masing. Ada luapan amarah berbeda yang sama-sama minta disemburkan bak lahar panas yang siap membakar sekeliling mereka.
"Jawab Ayara! Kenapa kamu pergi bahkan menghilang tanpa jejak saat itu?!"
Ayara menatap Ace yang tengah berteriak keras padanya. Ia merasa ada sedikit kelainan pada pria dihadapannya ini. Itu hanya malam sesaat, bukan sesuatu yang harus terus menerus diingat.
Bahkan kehidupannya yang menjadi sangat kacau dan berantakan setelahnya tidak ia perhitungkan. Lalu apa masalahnya dengan pria ini?
"Kenapa kau sangat ingin tahu? Kita bahkan tidak saling mengenal saat itu." tandas Ayara dengan ekspresinya yang terlihat merendahkan pria dihadapannya ini.
__ADS_1
"Tidak saling mengenal? Kamu pikir aku tidak mengenali mu? Gadis kecil yang tengah putus cinta, lalu meracau ingin menjadi pelacur itu tidak aku kenali? Yang benar saja, Ayara! Aku bahkan menemui mu lagi setelahnya."
Ayara kembali mengernyitkan dahi. Kembali mengingat potongan puzzle yang telah lama ia lupakan. "Aku tidak mengingat pernah bertemu denganmu setelahnya," ketus Ayara sambil berdiri mencoba menjauhi Ace yang terus mendekatinya.
"Selain itu, Mr.Monata. Anda adalah orang yang telah memiliki istri! Tidak sepantasnya Anda mengurung seorang wanita seperti ini," imbuhnya menyindir sikap Ace padanya.
"Beristri? Siapa yang mengatakan aku memiliki istri?"
"Semua karyawan kantor mengetahuinya. Ayo akhiri permainan prince charming yang mengejar cinta ini, Ace. Terlepas kamu merasa bersalah atas kejadian masa lalu, atau aku yang bahkan tidak mengingatmu. Ayo kita lupakan, dan mari kita bekerjasama untuk menyelesaikan proyek ini secepatnya. Selayaknya atasan dan bawahan! Jangan mempersulit diri sendiri dengan sesuatu yang akan kamu sesali nantinya, Mr.Monata."
Ace menyisir rambutnya kebelakang dengan telapak tangan. Menatap wanita dihadapannya ini dengan tatapan rumit, kemudian perlahan mendekatinya hingga tersudut di dinding.
"Pertama, aku bukanlah orang yang bisa kamu atur dengan ucapan, Ayara. Kedua, Aku bahkan menghabiskan banyak waktu untuk mencari mu hingga ke pelosok negeri. Ketiga, aku tidak memiliki istri, atau apapun itu yang selalu kau katakan,"
Hembusan napas Ace terasa jelas menyentuh wajahnya. Suara datar bernada rendah itu membuatnya terhipnotis untuk menatap bola matanya secara intens.
Tangan kanan Ace terangkat, menyapu pipi tirus Ayara yang sangat mulus tanpa make-up berlebihan. Membuat wanita itu harus menahan napas, dan degup jantung yang siap meruntuhkan dadanya.
"Aku tidak peduli siapa pria yang menjadi kekasihmu saat ini, atau siapa ayah dari anakmu itu. Tapi semenjak aku menemukan mu kembali, kamu adalah milikku. Seutuhnya, dan seterusnya. Tidak ada bantahan, tidak ada penolakan, dan tidak akan ada celah untukmu lari lagi selain kamu mengikhlaskan orang-orang disekitar perlahan menghilang karena ku hancurkan!" Ancam Ace dengan seringai licik.
Ayara mendorong tubuh tegap Ace dengan sekuat tenaga, ia tersadar jika sebenarnya yang ia hadapi adalah iblis. Bukan hanya pria dingin tidak berperasaan, tetapi pria berhati iblis.
Melihat bagaimana sorot mata Ace yang mengancamnya. Ia kembali teringat dengan tes DNA putrinya yang ia lakukan beberapa hari yang lalu. Rasa takut semakin menyeruak. Bagaimana jika ketakutannya itu benar adanya? Bagaimana jika Ace benar ayah dari putrinya? Apa yang harus ia lakukan.
Ayara tidak bisa berpikir jernih, wajahnya menjadi pucat seketika. Ia menyisir kasar rambutnya dengan sela-sela jari berkali-kali.
Menggelengkan kepalanya kuat. Tidak! Kayla tidak boleh bertemu dengan Ace apapun yang terjadi. Dia akan menyembunyikan anak itu serapat mungkin. Tidak akan ia biarkan pria berhati iblis itu tahu keberadaan Kayla, tidak akan pernah.
"Ayara, apa yang kau lakukan! Jangan tarik rambutmu seperti itu." Ace menjadi panik sendiri kala melihat Ayara seperti orang linglung yang kehilangan arah. Wanita itu berulangkali menarik rambutnya sendiri, lalu menggeleng.
"Apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu, Ayara. Katakan padaku," pinta Ace pada Ayara. Kali ini pria itu berucap dengan nada pelan dan memohon. Bukan lagi mengancam, ataupun memaksa.
__ADS_1