Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy.25


__ADS_3

"Aunty, kapan Mommy pulang?" Sheila tersenyum lembut menanggapi pertanyaan keponakan kesayangannya itu.


Sudah dua hari berlalu dari permintaan aneh dari adik iparnya, yaitu jangan menghubunginya apalagi ketika bersama Kayla. Entah apa yang wanita itu takutkan sehingga melarang Kayla untuk menelponnya apalagi panggilan video.


"Mungkin besok, Kay. Kenapa kamu kangen Mommy, ya, sayang?" Kayla mengangguk dengan murung.


Ia bahkan tidak bernafsu untuk makan. Ia rindu ibunya, ini adalah kali pertama mereka berpisah. Biasanya ketika di London, jika ibunya ada pekerjaan ke luar kota bahkan luar negeri Kayla selalu di ajak.


Namun kali ini ia tidak diajak. Bahkan tidak diperbolehkan untuk menghubungi ibunya sendiri. Ia benar-benar merasa rindu.


Apalagi sekarang dia sudah tidak sekolah. Uncle-nya berkata sangat sayang jika kecerdasan Kayla harus terpendam di taman kanak-kanak. Lebih baik segera di asah sehingga dia sekarang melakukan homeschooling.


Pelajaran yang dipelajarinya adalah pelajaran kelas satu SMP. Bukan tanpa alasan, Kayla sebelumnya diminta untuk melakukan berbagai tes dan ujian pelajaran sekolah dasar. Dan dia berhasil mengerjakannya dengan nilai sempurna.


Pelajaran SMP pun tidak begitu menyulitkan Kayla, tapi kata uncle-nya dia harus memulai dengan pelan-pelan. Selain homeschooling Kayla juga melakukan aktivitas les privat 3 bahasa asing sekaligus, bahasa Arab, bahasa Korea, dan bahasa cina.


"selamat pagi, baby girl. Loh, kenapa? Makanannya enggak enak, ya?" Arkan mencium pucuk kepala Kayla sayang. Rasa heran menghampirinya melihat sarapan keponakannya ini tidak berkurang sedikitpun.


"Dia kangen Aya, Mas. Adikmu itu loh, anaknya sendiri malah dilarang nelpon." Adu Sheila sambil mengambilkan sarapan untuk suaminya.


"Kayla kangen Mommy, ya sayang. Sabar ya, besok Mommy pulang, kok. Mommy bukannya enggak mau di ganggu sayang. Tapi mommy kamu lagi ada sedikit... masalah," kekeh Arkan diakhir kalimatnya.


"Apa Mommy bersama orang jahat, Uncle?" tanya Kayla dengan cemas.


Arkan menganggukkan kepalanya, "Iya, orangnya jahat banget."


"Mas...!" Teguran dari Sheila kembali membuat Arkan terkekeh.


Sekilas ia sudah mendengar dari istrinya jika adiknya tersayang itu tengah terjebak dalam situasi rumit. Seorang pria beristri tengah gencar mendekatinya. Lagipula siapa yang akan menolak pesona dari adiknya itu? Wajah cantik bagaikan tetesan Dewi, lekuk tubuh model profesional, kulit putih sebening susu, dan jangan lupakan suaranya yang begitu merdu ketika bernyanyi.


Andai saja adiknya itu ingin menjadi penyanyi profesional, Arkan yakin tidak akan sulit untuk menggapai puncak kesuksesan.


"Gak baik ngomong gitu, loh. Nanti kalo malah jadi jodoh Aya beneran gimana?"


"Jodoh apanya sih sayang. Orang jelas-jelas pria itu beristri, kok."


"Tahu dari mana?" todong Sheila kepada suaminya.


Arkan menyuapkan satu sendok bubur yang di piring Kayla, lalu memberikannya pada sang keponakan.

__ADS_1


"Ayara sendiri yang bilang sayang. Masih enggak mau percaya?"


"Mas, adikmu itu kan selalu menyimpulkan semuanya sendiri. Ingat waktu temen kantornya di Jepang mendekatinya, ia bilang laki-laki itu punya istri, nyatanya apa?"


"Tapi kan dia ada pacarnya sayang. Sama aja, kan?"


Sheila menghentikan suapannya. Meminum air di gelasnya setengah, lalu kembali bersuara, "Beda lah, Mas. Pacar sama istri itu beda! Buktinya dulu kamu udah punya pacar masih bisa nikah sama aku."


"Mulai deh, nanti diingetin ngambek lagi. Jatah malam ku mampet lagi," ucap Arkan jengah pada istrinya yang suka sekali mengungkit masa lalu ini. Padahal jika sudah diceritakan ulang, dia sendiri juga yang bakal sakit hati, lalu menangis.


Sheila memanyunkan bibirnya kesal. Tidak ada lagi suara perdebatan suami istri itu setelah beberapa lama. Sampai sarapan Kayla pun habis tak tersisa.


"Yey, pinter banget cantiknya uncle." puji Arkan sambil mencium pipi Kayla yang masih menyisakan sedikit lemak bayi.


Tak berselang lama dari itu. Ayasa dan Sulastri ikut bergabung di meja makan. Mereka mengambil sarapan mereka, lalu makan dalam diam.


Ayasa memperhatikan bagaimana lembutnya Arkan memperlakukan Kayla. Gadis kecil itu terlihat manis dan begitu penurut, persis Ayara ketika masih kecil.


Haaa... tidak bisa ia pungkiri. Ada setitik rasa rindu kepada putri bungsunya itu. Hanya saja rasa gengsi menutupi itu semua. Ia gengsi mengatakannya, apalagi dipertemuan sesaat beberapa hari yang lalu. Ayara bahkan hanya tersenyum dan tidak menyapanya sama sekali.


Gadis keras kepala!


"Uncle, Aunty, Kayla ingin bermain piano lagi. Apa aku boleh main ke tempat Uncle Lucas hari ini?" Izin Kayla dengan penuh harap.


Sheila mengangguk setuju, tetapi tampaknya Arkan masih bimbang. Ia ingat permintaan adiknya untuk tidak membawa Kayla keluar sembarangan lagi selama di Indonesia.


"Bolehkan, Aunty?" tanya Kayla sekali lagi.


"Bo--"


"Emm... Kayla sayang, gimana kalo Kayla Uncle beliin piano aja. Nanti Kayla bisa main sepuasnya deh di rumah, gimana?" ujar Arkan memotong ucapan istrinya.


Kayla nampak berpikir sesaat. Setelah beberapa menit, ia mengangguk setuju. "Bener, ya, Uncle!"


"Iya, habis ini Uncle langsung beliin. Sebelum sore pianonya pasti udah sampai ke rumah, oke."


"Oke!" Kayla tampak antusias. Gadis kecil itu turun dari tempat duduknya lalu berlarian menaiki undakan tangga satu persatu dengan sedikit kesusahan karena kakinya yang masih pendek.


"Hati-hati, Baby girl!" teriak Sheila memperingatkannya.

__ADS_1


Belum selesai Sheila berucap. Reina nampak ikut bergabung dengan mereka, wanita itu terus menunduk dan memilih duduk di samping ibunya.


"Bagus, udah numpang bangunnya kesiangan. Enak berlaku layaknya princess?" sarkas Arkan sambil menyuap makanannya.


"Mas..."


"Arkan!" murka Ayasa bersamaan dengan nada lembut Sheila yang memperingatkan nya.


"Apa? Sudah ku bilang untuk berlaku layaknya orang yang menumpang di rumah ini. Kalo tidak suka, silahkan kembali ke rumah suaminya sendiri. Kenapa masih bertahan di sini?" ujar Arkan santai seolah tidak peduli dengan murka ayahnya.


"Maaf, Bang." lirih Reina tanpa berani menatap.


Sebenarnya bukan tanpa alasan ia bangun kesiangan hari ini. Entah mengapa kepalanya berat sekali, sepertinya ia akan sakit. Itulah mengapa ia cukup lama berdiam diri di kamar dan tidak membantu para prt yang bekerja.


"Mas udah, udah... Rei, makanlah. Enggak usah dengerin perkataan Abang kalian." sela Sheila dengan bijak.


"I--iya, kak. Makasih," bisik Reina tidak berani bersuara lebih keras lagi.


Sheila melihat tangan Reina sedikit bergetar. Mungkin wanita itu benar-benar takut kepada suaminya. Ia tahu jika wanita itu sedang tidak begitu baik. Soalnya salah satu prt sudah memberitahunya ketika ia baru saja bangun tadi pagi.


"Mas, bukannya kamu harus ke kantor Lucas buat ngebahas proyek kerjasama yang direncanakan papa kemarin? Nanti telat, Mas. Kasihan Kayla juga harus nungguin pianonya lama."


Arkan berdiri dari tempat duduknya, tanpa bersuara satu katapun pada ayahnya. Meninggalkan mereka diiringi Sheila yang bersiap untuk mengantar kepergian suaminya.


Di meja makan, Reina menutup wajahnya dengan telapak tangan. Air matanya luruh, isak tangisnya terdengar.


Ia ingat masa lalu, ketika Arkan berkata kasar dan menohok kepadanya. Ada Ayara yang selalu membelanya hingga membuat Arkan luluh dan berujung meminta maaf kepadanya meskipun tak ikhlas.


Andai saja ia tidak egois mengikuti rasa cintanya pada Doni. Andai saja ia berani untuk berbicara jujur dengan ibunya dan meminta bantuan. Tidak akan pernah terjadi hal seperti ini.


Reina sangat menyadari jika ini adalah kesalahannya, sepenuhnya. Awalnya ia memang di paksa dan di ancam, namun selanjutnya ia juga menikmati perselingkuhan itu. Ia merasa ingin egois untuk mendapatkan Doni. Dan dia juga yang membantu Sofia agar mudah mendapatkan kunci cadangan untuk Ayara.


Ia yang membuat skema pengerebekan itu terjadi sempurna. Walaupun ia tidak mengira jika hal itu akan membuat Ayara begitu terpukul hingga nekat untuk ONS sama pria tidak dikenal.


"Sayang, sudahlah. Makan sarapan mu," lirih Sulastri iba melihat putrinya.


"Semua salah Rei, Ma. Salah Rei karena egois, maafin Reina."


Ayasa meletakkan sendok nya ke piring. Beranjak dari kursi, lalu meninggalkan ibu dan anak itu berdua di meja makan. Entahlah, Ayasa tidak tahu harus berbuat apa. Lebih baik ia menyingkir, kan?

__ADS_1


__ADS_2