
Ketika jam makan siang. Ace belum juga kembali dari meeting-nya di luar kantor. Ayara yang memang hanya menghandle proyek kerjasama dengan Hayakawa jelas tidak mau ambil pusing dengan kondisi pekerjaan lain di perusahaan ini.
"Mommy, aku ingin makan lagi, tapi sesuatu yang terasa manis, seperti cake atau es krim." Araya tersenyum mendengar permintaan manis dari Kayla.
Melihat jam tangannya sejenak. Ayara mengangguk, "Mommy ada banyak pekerjaan sayang. Sebentar Mom pesankan lagi."
Kayla menggeleng dengan cepat. Gadis kecil itu naik dengan susah payah ke kursi di hadapan meja Sofia. "Apa kita tidak bisa keluar sebentar. Uhmm... sebenarnya aku bosan, Mom. Om jahat berbohong... katanya kami akan main." tuturnya kesal.
Bibir mungil Kayla maju beberapa inci. Ia juga memainkan ujung jarinya penuh harap agar permintaannya di izinkan.
"Baiklah, kita hanya pergi ke cafetaria kantor ini. Mau?" tawar Ayara mencoba bernegosiasi.
"Boleh. Let's go!"
Ayara terkekeh kecil melihat tingkah Kayla yang lebih bersemangat. Biasanya tidak ada hal lain yang lebih membuatnya bersemangat kecuali buku-buku menyebalkan itu.
Mereka keluar ruangan CEO dengan berpegangan tangan. Memasuki lift, lalu menuju lantai bawah dimana cafetaria kantor ini berada.
Tiba di lobby, Ayara berpapasan dengan Ace, Alex dan juga Joelyn. Ayara mematung sejenak, lalu melewati mereka begitu saja.
Posisi Ayara saat ini memang terhalang beberapa karyawan yang baru keluar dari lift. Mungkin saja Ace tidak menyadari keberadaannya, atau mungkin memang pria itu pura-pura tidak menyadarinya.
Sekali lagi, Ayara mencoba menekan perasaannya agar tidak terbuai dengan rayuan gombal Ace. Ucapan manis pria tidak selamanya bisa dipercaya. Apalagi seorang playboy ulung seperti Ace yang kerap kali tersandung berita tak enak atas kedekatannya dengan para perempuan.
"Mom, itu si adik bisu yang waktu itu, kan?!" tanya Kayla menunjuk pada Alex, "Kenapa dia bersama Om jahat?"
"Namanya Alex, Sayang. Dia punya nama, jangan panggil dia adik bisu lagi, oke. Ouh iya, Om Ace adalah ayahnya Alex." jawab Ayara menjelaskan dengan penuh kelembutan.
"Bagaimana dengan bibi itu?"
"Dia ibunya Alex, Baby girl. Sudahlah, ayo mencari makanan manis. Bukannya kamu lapar?"
Kayla mengangguk mantap. Ia baru ingat kembali tujuannya sekarang adalah membeli sesuatu yang manis. Bukan malah melihat iri keluarga orang lain yang terlihat lengkap dan bahagia.
Tiba di cafetaria. Semua orang memperhatikan Ayara, mereka berbisik-bisik dan mulai menggosipkan wanita itu.
"Tolong cake pisangnya satu. Dan beberapa pancake coklat, serta satu cup eskrim." Petugas cafetaria memberikan pesanan Ayara di nampan.
__ADS_1
Ia memindai sekeliling. Lalu berjalan menghampiri sebuah meja yang terlihat lebih lengang dari tempat yang lainnya.
"Boleh saya ikut duduk di sini?" tanya Ayara dengan sopan pada dua karyawan wanita di meja itu.
Mereka menatap sinis pada Ayara. Seolah-olah tuli dan tidak mendengarkan Ayara.
"Bu Aya, sini!" Ayara mencari-cari sumber suara. Dipojok kiri ternyata Dewi tengah makan siang bersama dua orang rekannya yang lain. Satu perempuan dan satu pria.
Tidak ingin membuat Kayla berdiri terlalu lama. Ayara menghampiri mereka. "Kami ikut bergabung, ya?" pinta Ayara sekaligus bertanya.
Dewi mengangguk dengan semangat. "Silahkan, Bu."
Ayara duduk berhadapan dengan Dewi. Bersebelahan dengan teman perempuan gadis itu, lalu Kayla duduk di sampingnya.
"Guys, kenalin ini atasan gue yang baru. Bu Araya, GM pelaksanaan yang gue bilang cantik pakai bingits itu. Nilai sendiri deh... cantik banget, kan?" puji Dewi dengan bahasa gaulnya.
"Halo, Bu. Nama gue-- ehh maksudnya saya Haikal. Saya temannya Dewi, dan itu juga teman kami namanya Acha."
"Halo, Bu." sapa Acha dengan mengulurkan tangannya pada Ayara. Mereka berjabatan tangan, membuat gadis itu kegirangan karena merasakan telapak tangan Ayara yang sangat mulus.
"Halo juga, senang berkenalan dengan kalian." tutur Ayara dengan senyum manis yang lebar.
"Boleh."
"Ibu perawatan kulit di mana? Jangan bilang cuman pakai air wudhu aja, ya Bu. Saya tidak akan percaya!" seloroh Acha bersemangat membuat Dewi dan Haikal merasa sangat malu.
"Acha..." desis Dewi mengingatkan temannya itu.
Ayara tertawa mendengar pertanyaan Acha. Merasa lucu dengan ucapan Acha yang menyebutkan bahwa dia melakukan wudhu, padahal dia bukan seorang muslim.
"Maafkan teman saya, Bu. Sudah tidak sopan," ringis Haikal merasa bersalah juga malu.
"Tidak apa-apa, saya juga minta maaf karena tertawa. Tapi Nona Acha maaf, saya bukan muslim," ucap Ayara sekaligus mengeluarkan kalung edisi terbatas yang memiliki liontin tanda salib.
"Maaf, Bu. Saya tidak tahu," cicit Acha merasa malu. Dewi sudah menepuk jidatnya sendiri tidak bisa berkata apa-apa lagi terhadap tingkah sahabatnya yang satu ini.
"Ngomong-ngomong, saya perawatan rutin di klinik kecantikan London. Nanti saya berikan alamat kliniknya jika kalian mau." tawar Ayara serius.
__ADS_1
"Saya tidak usah, Bu." tolak Haikal terang-terangan. Mereka kembali tertawa mendengar penolakan Haikal. Tentu saja pria itu tidak mau, dia kan seorang pria.
Suara bisikan-bisikan tentang Ayar semakin menjadi-jadi. Ayara bahkan harus memasangkan earphone pada Kayla agar tidak mendengar kata-kata makian yang akan mempengaruhi pendengaran putrinya.
"Ada apa dengan mereka semua. Ini baru pertama kali aku mengunjungi cafetaria ini." Kesal Ayara, seraya menatap tajam mereka yang bergosip satu persatu.
"Mereka hanya iri, Bu. Maklum udah bekerja lama tetapi gak dilirik juga dengan Kak Ace." seloroh Dewi yang langsung diberikan acungan jempol dari Acha.
"Terus hubungannya dengan saya apa?" bingung Ayara masih tidak mengerti.
"Astaga, Bu Aya dengerin. Ibu itu sudah menjadi bahan gosip mereka sejak awal datang. Lalu ibu terlihat beberapa kali pulang bareng, Kak Ace. Ehh... maksudku Pak Ace. Belum lagi berita tentang Ibu yang diajak liburan bersama Pak Ace dengan putranya kemarin. Sekarang Ibu malah di tempatkan satu ruangan dengan pak Ace. Mereka itu cuman iri, Bu." papar Dewi menjelaskan. Haikal dan Acha kembali mengangguk membenarkan.
Mungkin pembicaraan mereka di dengar oleh orang lain. Sehingga mereka malah semakin terang-terangan menyebutkan Ayara wanita murahan dan perebut suami orang.
"Kalo aku jadi dia pasti malu. Bisa-bisanya mau mencoba menyaingi Nyonya Joelyn. Tidak tahu malu!" desis salah satu karyawan perempuan mengejek.
Bahkan beberapa karyawan laki-laki juga ikut menimpali dan setuju dengan opini tidak mendasar mereka.
"Memang sih, sekali murahan tetap murahan. Dengar-dengar dulu anaknya juga dilahirkan tanpa bapak. Beruntungnya kita punya informasi akurat, jadi gak bakal tertipu dengan wajah polosnya." celetuk seorang wanita mengompori yang lainnya. Yang mana sebenarnya wanita ini merupakan suruhan Joelyn untuk menyebarkan gosip-gosip miring agar semua orang berpikir buruk tentang Ayara.
Brakk... Ayara menggebrak meja marah. Jangan mereka pikir dia akan diam mendengar ejekan mereka. Ayara itu bukanlah wanita lemah lembut dan akan menangis ketika ditindas seperti ini.
Haris diingat jika lima tahun yang lalu dia adalah pengendali setiap orang. Dia arogan, dia pemaksa, dan juga primadona sekolah dan kampusnya.
"Ini terakhir kali saya mendengar kalian mengatakan yang tidak-tidak tentang putri saya. Jika tidak, bukan hanya kalian bahkan perusahaan ini akan menanggung akibatnya. Saya di sini bukan sebagai atasan kalian, melainkan rekan bisnis atasan kalian! Saya akan meminta kakak saya untuk membatalkan kerjasama dengan perusahaan dengan karyawan bermulut sampah ini jika kalian tidak bisa diam. Harusnya kalian mencari tahu sedang berhadapan dengan siapa, dan membicarakan siapa!" tantang Ayara penuh gejolak amarah.
Bahkan Dewi yang mengira bahwa Ayara merupakan wanita lemah lembut menjadi terkejut mendengar ucapan wanita itu yang penuh dengan ancaman dan ke aroganan.
"Lagipula jika aku dekat dengan atasan kalian kenapa? Dia belum menikah bukan? Ada dia mengkonfirmasi tentang isu pernikahannya? Ada Ace mengatakan pada publik bahwa dia sudah menikah? Bahkan informasi jika dia sudah duda saja aku yakin kalian tidak tahu?!" lanjutnya dengan nada suara lantang namun dengan pikiran yang tidak sejalan. Dalam hatinya ia merutuki keberaniannya untuk mengatakan hal ini. Bagaimana jika sebenarnya selama ini Ace memang berbohong tentang belum menikah. Mampus!
Mati aku, rutuknya dalam hati.
Informasi tentang Ace yang duda memang masih sangat dirahasiakan. Karena pernikahan itu terjadi sebelum Ace menduduki jabatan sebagai CEO. Dari mana Ayara tahu, karena dulu Elena sering sekali curhat padanya dan Sofia. Mengasihani kakak sepupu laki-laki satu-satunya yang di tinggalkan mentah-mentah oleh sang istri.
Ace juga mengatakan jika dia adalah seorang duda. Itu terdengar singkron meskipun sebenarnya Ayara tidak yakin.
Tapi peduli setan! dia sudah terlanjur marah mendengar putrinya dibawa-bawa. Menyebalkan!
__ADS_1
Ayara segera memberikan air minum pada Kayla. Lalu menggendong putrinya itu keluar dari cafetaria.