
"Apa yang kau tunggu, masuk!" Joelyn memerintah Alex untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
Dengan takut-takut, anak itu masuk ke dalam mobil. Anak laki-laki itu duduk dengan sedikit gemetar di tubuhnya.
Joelyn mengitari mobil. Ikut masuk ke dalam mobil, di depan kemudi. Bibirnya tersenyum tipis melihat putranya ini ketakutan.
"Kenapa kau sangat merepotkan!" keluh Joelyn kesal.
"Ma--maaf, Mama." cicit Alex dengan nada khas anak kecilnya.
"Cih..." Joelyn mengendarai mobilnya menuju kantor Ace. Hanya dengan alasan ini dia bisa menemui prianya itu.
Jika tidak membawa Alex. Ace selalu saja menolaknya bahkan tak segan untuk mengusirnya secara terang-terangan di depan bawahannya.
Itu memalukan! Joelyn tidak ingin merasakan hal seperti itu lagi.
Jika bicara tentang cinta, entahlah... dia tidak begitu menyukai pria itu dengan perasaannya. Tetapi ia menyukai Ace dengan seluruh harta dan kekuasaannya.
Semenjak bersama Ace. Dia tidak perlu berpikir untuk masuk ke dalam toko dengan brand-brand ternama. Dia tidak perlu khawatir ketika ingin pergi liburan ke luar negeri dengan bebas. Dan yang terpenting dia tidak perlu lagi harus repot-repot menjual diri agar mempunyai uang.
"Turun!" titahnya setelah sampai di parkiran kantor Ace.
"Kau tidak boleh bicara dihadapan siapapun. Awas jika kau melakukannya! Aku akan memukul mu." Ancam Joelyn dengan mata melotot horor.
"I--iya, Mama." Jawab Alex menurut.
Joelyn selalu mengancam Alex agar terlihat seperti anak yang bisu, dan belum bisa bicara. Dia melakukan itu agar Alex tidak keceplosan berbicara jika dia sering disakiti ketika bersama Joelyn.
Bahkan Alex jarang diberikan makan ketika bersama Joelyn. Waduri yang tidak mengetahui tentang ini tentu saja mengizinkan jika Joelyn ingin membawa Alex pergi. Meskipun dia tidak menyukai Joelyn, wanita paruh baya itu masih sangat waras untuk tidak memisahkan antara ibu dan anak.
Kasihan? Joelyn tidak memiliki rasa kasihan terhadap anak laki-laki itu, karena anak itu bukan darah dagingnya. Anak yang ia kandung meninggal saat dilahirkan. Beruntungnya dia saat itu Ace tidak memiliki kepedulian terhadap anak yang dia kandung sehingga membuat ia bisa mencari kesempatan untuk membawa anak dari panti asuhan.
Bodohnya, mereka semua percaya jika itu putra kandung Ace, tanpa curiga sedikitpun. Meskipun Joelyn telah menutupi tentang kematian anaknya, jika keluarga itu mau, mereka bisa mendapatkan informasi itu dengan mudah.
"Pagi, Bu." sapa resepsionis tersenyum ramah. Joelyn membalas senyuman itu dengan culas. Tanpa menjawab ia segera naik ke lantai atas, lantai dimana ruangan Ace berada.
__ADS_1
Tiba di sana. Ia melihat wanita yang bernama Ayara itu tengah menyiapkan beberapa berkas di mejanya. Kesal! Joelyn dengan sengaja menumpahkan air di atas berkas-berkas itu.
"Ups... Sorry..." ejeknya dengan suara mendayu.
Rasa puas menyelimuti hatinya. Lihatlah wanita ini, apa yang membuat Ace bisa tertarik dengannya?
Kecantikannya? Dia juga tak kalah cantik. Kehormatannya? Wanita itu juga menjajakkan tubuhnya hingga hamil, kan. Lihatlah bahkan dia memiliki putri yang diyakininya sebagai putra Ace. Lalu apa bedanya dengan dia yang juga hamil putra Ace tanpa menikah.
Jika saja anak mereka tidak meninggal. Dia pasti memiliki putra kandung Ace.
Di sisi lain, Ayara menatap tidak percaya pada kertas-kertas penting yang telah basah kuyup dengan air. Itu berkas-berkas yang harus dibawanya rapat segera. Belum habis kekesalannya karena terlambat datang ke kantor. Sekarang dia harus mengulang untuk mencetak kertas-kertas penting itu lagi.
Emosi! Tanpa banyak bicara, Ayara melayangkan sebuah tamparan pada Joelyn. Darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Jika saja orang bisa melihat visual, maka mereka akan melihat wajah memerahnya yang penuh amarah.
Plak... Joelyn tertoleh ke kanan saking kuatnya tamparan itu. Ayara tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Tetapi dia paling anti yang namanya di provokasi.
Harga diri wanita itu terlalu tinggi untuk bisa diremehkan apalagi direndahkan.
"Kau?! Apa yang kau lakukan!" bentak Joelyn kasar.
Joelyn mengeram marah. Dia tidak terima mendapatkan tamparan. Baru saja ia ingin membalas tamparan itu. Suara pintu terbuka membuatnya memiliki ide yang lebih cemerlang.
Hiks... hiks...
"Joelyn? Ayara?"
"Ace!" Joelyn tanpa melewatkan kesempatan menghambur ke pelukan Ace. Menangis terisak-isak, dengan sengaja menampakkan pipi yang bekas kena tamparan.
"Lepaskan!" Ace mendorong tubuh Joelyn menjauh. Ia mendekati Ayara yang terlihat begitu marah. "Aya," panggilnya dengan lembut. Sangat berbeda dengan caranya biasa memanggil wanita-wanita lain, terutama Joelyn. Perempuan yang sangat merepotkan satu itu.
"Ace, Sayang, kenapa kamu menghampiri dia. Disini aku yang terluka. Dia menamparku!" adu Joelyn dengan tatapan dibuat-buat sesedih mungkin.
Ace menoleh pada Ayara. Tatapan mata mereka bertemu. Kemudian Aya memalingkan wajahnya ke samping. Menghindari kontak mata dengan pria itu.
"Aya, benar, Sayang. Kamu nampar dia?" tanya Ace tanpa bermaksud apa-apa. "Kenapa, Sayang."
__ADS_1
"Pak, berhenti memanggilku dengan panggilan itu. Kita tidak memiliki hubungan apapun!" tekan Ayara semakin kesal karena merasa disudutkan oleh pertanyaan Ace.
Menghela napas panjang. Ace menggeleng pelan. Begitu sulit. Bahkan panggilan saja diprotes. Kapan perasaannya akan terbalas jika terus begini.
"Oh ya, tadi kamu terlambat. Meeting-nya harus ditunda hingga selesai makan siang nanti gara-gara kamu. Jadi, kamu harus mendapatkan hukuman dari aku."
"Lakukan sesukamu!" pungkas Ayara kemudian berjalan menjauh, keluar dari ruangan tanpa menoleh sedikitpun. Tujuannya saat ini adalah toilet! Dia perlu menenangkan diri.
Dia tidak bisa bekerja konsentrasi dengan emosionalnya yang membara-bara seperti ini. Setidaknya dia harus meluapkannya dengan sedikit berteriak.
"Arghhh... Ace bajingan, sialan, pria brengsek. Semua ini gara-gara dia! Gara-gara dia aku jadi telat. Gara-gara dia orang-orang menggunjingkan ku. Gara-gara dia, aku--"
Ayara menghentikan teriakannya. Sebuah lengan kecil memeluk kakinya lagi. Sama seperti saat di restoran mall waktu itu.
Menunduk, Ayara melihat wajah Alex yang mendongak. Mata anak laki-laki itu berkedip lucu. Menggerakkan tangannya untuk menyampaikan kata-kata.
"Alex, sayang..." Haa... Menghela napas. Ayara berjongkok di depan Alex, mensejajarkan diri dengan anak laki-laki itu.
Alex kembali menggerakkan tangannya. Berbicara menggunakan bahasa isyarat yang masih salah-salah pada Ayara, "Bibi, tidak aku ingin boleh sedih. Kakak cantik sedih."
"Siapa yang mengajarimu bahasa isyarat, sayang?" tanya Ayara gemas.
"Bibi Elena," kali ini Alex menunjukkan tulisan di note kecil yang digantung di lehernya. Tulisan lama yang dibuatkan oleh Elena agar memudahkan orang-orang di rumah untuk mengetahui siapa yang ingin Alex cari.
"Pintar sekali. Tapi Alex, kan bisa mendengar sayang. Alex bisa denger suara bibi dengan jelaskan?" Alex mengangguk cepat.
"Terus kenapa Alex belajar bahasa isyarat. Kenapa tidak belajar untuk mengucapkan kata-katanya satu persatu. Alex bisa latihan dengan hal yang mudah dulu."
Alex menundukkan kepalanya. Ia menggeleng dengan pelan. "Mau belajar bicara dengan bibi, bagaimana kalo di hari minggu nanti kita pergi jalan-jalan bersama bibi, Elena. Dengan kakak cantik juga. Tapi janji nanti Alex mau belajar pelan-pelan, ya, sayang, ya."
Lagi-lagi Alex menggeleng dengan cepat. Tubuhnya sedikit bergetar hebat karena takut mama-nya tahu. Dia bisa dipukul dan tidak diberikan makan sampai satu hari satu malam jika tidak menurut.
Merasa ada yang tidak beres. Ayara mendekati Alex, "Ini rahasia kita berdua, bagaimana?" bisiknya sangat pelan.
Mata Alex mengerjab lucu. Ayara tersenyum, mengangkat kelingkingnya dihadapan Alex. "Ayo kita berjanji untuk memiliki rahasia." ajak Ayara. Alex menautkan jari kelingking kecilnya dengan Ayara, kemudian mengangguk dengan senyum yang tak kalah manis.
__ADS_1