
Ace terus menggerakkan pinggulnya. Memejamkan matanya, dan membayangkan jika wanita yang dibawahnya ini adalah Ayara. Sepuluh menit berlalu, Ace tetap tidak merasakan tanda-tanda bahwa dia akan mendapatkan kepuasan.
Ia menghentikan gerakannya. Membentang jarak, kemudian kembali memakai handuk kimono. "Pergi dari sini!" usir Ace dengan aura dingin yang menakutkan.
Wanita itu tidak membantah apapun. Ia segera berbenah dan keluar dari kamar hotel. Di depan pintu, Brian telah menunggu dengan cek yang seharga pekerjaannya selama satu minggu.
"Kenapa, kenapa bayang-bayang mu sangat menyiksaku, Ayara." Geram Ace masih diliputi emosi. Tanpa disadari pria itu mendaratkan tinjunya di kaca wastafel hingga membuat kacanya pecah berkeping-keping dan tangannya penuh berlumuran darah.
Suara dering ponsel membuat Ace tersadar. Pria itu segera mencuci tangannya dengan santai kemudian keluar kamar mandi, dan mengangkat telepon.
"Ada apa?" Suara Ace datar menyapa penelepon diseberang sana.
"Terserah, aku tidak peduli. Mau kau bawa kemana anakmu terserah! Jangan hubungi aku hanya untuk hal tidak berguna seperti ini." Ace mematikan panggilan telepon itu.
Mengusap wajahnya kasar, kemudian kembali berpakaian rapi. "Brian!"
"Iya, Tuan."
"Kirim orang untuk membuntuti wanita itu. Dia membawa putraku! Ahh... Lalu bagaimana dengan orang suruhan mu. Apa sudah menemukan tempat tinggal Ayara?"
"Sudah, Tuan. Cuman, anak buah saya tidak bisa melihat lebih dekat. Ada orang-orang berbadan kekar yang ternyata juga mengawasi rumah itu. Sepertinya selain kita, ada orang lain yang sedang mengawasi Nona Ayara, Tuan."
"Cari tahu!" Brian segera mengangguk, mematuhi perintah dari Ace.
_____
Ayara memarkirkan mobilnya. Kemudian membawa turun belanjaannya yang tadi ia beli.
Hari ini Ayara dan Kayla memutuskan untuk menemui Lucas di apartemennya. Namun ternyata pria itu sedang mengurus pekerjaan di luar. Untungnya Lucas bisa meminta resepsionis untuk memberikan kunci cadangan pada Ayara.
"Wow, Mommy lihat! Itu pantai," pekik Kayla girang ketika melihat pemandangan laut dari balkon apartemen yang diberi pelapis besi juga kaca.
"Iya sayang, hati-hati, ya. Jangan naik ke pembatasan!"
"Okay, Mom."
__ADS_1
Ayara membawa belanjaannya ke area kitchen set. Menata bahan-bahan makanan ke dalam kulkas, kemudian mulai memasak untuk makan malam.
Hari ini terasa sangat melelahkan. Kejadian di kantor, hingga ia memutuskan nekat ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA pada Kayla dan Ace.
Apapun hasilnya, Ayara harus siap. Jika ternyata mereka bukan ayah dan anak maka Ayara akan sangat bersyukur. Namun jika sebaliknya, maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan keberadaan Kayla.
Ayara tidak ingin keberadaan mereka merusak rumah tangga Ace dan istrinya. Ia tahi persis rasanya dikhianati itu sangat menyakitkan.
Ceklek... Suara pintu apartemen terbuka. Kayla yang sedang asik melihat pemandangan segera berlari menghampiri Lucas.
"Uncle!" pekik Kayla, ia segera melompat naik ke dalam gendongan pria itu.
"Hello, Baby girl. Gimana sekolahnya, baik?"
"Membosankan, pelajarannya tidak berguna." Adu Kayla dengan ekspresi wajah muram.
Ayara datang membawa lauk ke meja makan. Wanita itu menghembuskan napas, "Kayla, Mommy memasukkan kamu ke sekolah sana agar kamu belajar bersosialisasi, Nak. Mommy tahu jika kamu bahkan sudah mampu mempelajari pelajaran kelas 5 SD. Tapi, bukan berarti kamu boleh meninggalkan masa kecil kamu. Nikmati dulu, cari teman bermain sebaya. Jangan terus menerus bergaul dengan Uncle-mu yang bahkan mengajarkan sistemik pitagoras pada anak kurang dari lima tahun," sindir Ayara yang langsung menghantam hulu hati Lucas.
Keduanya tidak ada yang berani membantah. Mereka hanya saling tatap, kemudian berubah lesu.
"Sudah, Kayla turun dari sana. Dan kamu Luc, mandi dulu sana. Terus kita makan malam!" titah Ayara yang terpaksa mereka turuti.
Hingga suara Ayara menyapu keheningan diantara mereka, "Luc, aku melakukan tes DNA pada Kayla."
Lucas nampak sedikit kaget, namun sedetik kemudian ia berusaha membenahi ekspresinya.
Memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya, Lucas menjawab dengan nada malas, "Terus."
"Aku takut," lirih Ayara pelan.
"Takut kenapa? Takut Kayla diambil oleh mereka, atau takut dengan kenyataannya?" tanya Lucas mulai memberikan perhatian pada pembicaraan mereka.
"Dua-duanya, Lucas. Ace Monata itu sudah memiliki istri, kamu tahu sendiri, kan. Malam itu kita pernah bertemu dengan mereka?" Lucas mengangguk membenarkan.
"Aku takut jika pria itu tahu keberadaan Kayla. Dia akan dijadikan alasan! Ace itu bukan orang yang setia, Luc." imbuh Ayara lagi.
__ADS_1
"Tahu dari mana?"
"Dia beberapa kali terlihat mencuri pandang ke aku. Terus merhatiin aku dari balik tirai, dan juga tadi siang ia mengaku jika pria lima tahun silam itu dia!" ucap Ayara pelan.
Lucas nampak shock. "****! Ternyata bajingan itu masih tidak berubah." geram Lucas penuh amarah.
"Tunggu dulu, kalian saling mengenal?" tanya Ayara memastikan ucapan Ace tadi siang.
"Tidak! kami tidak saling kenal."
"Tapi dia bilang, kalian bermusuhan." Ayara menatap Lucas yang berusaha menghindari kontak mata dengannya. Kesal, Ayara menghentikan gerakan kepala Lucas. "Itu benar, kan?"
"Bukan urusan kamu, yang harus kamu perhatikan adalah Kayla. Mulai sekarang jangan sembarangan membawanya keluar. Ayara, Ace itu orang gila. Dia bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia mau." ujar Lucas terlihat sungguh-sungguh.
Hal itu tentu saja membuat Ayara semakin cemas. Berulangkali ia mencoba mengusir ketakutan dipikirin serta hatinya. Namun nihil, rasa takut itu terus berpacu.
Lucas mengalihkan siaran televisi. Membiarkan Ayara berkelana dengan pikirannya sendiri. Ia mencintai wanita ini, namun bukan berarti dia akan memanfaatkan situasi.
Apalagi mengingat sepak terjang permusuhannya dengan Ace yang terus menerus semenjak kejadian sebelas tahun silam. Lucas tidak ingin, Ayara menjadi korban selanjutnya.
Belasan tahun yang lalu, Lucas, Ace, dan Luci bersahabat dekat. Hingga perasaan itu mulai tumbuh. Ace dan Lucas bersaing untuk mendapatkan cinta Luci. Hanya saja pria yang dipilih wanita itu adalah Ace.
Kemudian tragedi itu terjadi, Luci hamil sebelum menikah. Hal itu disebabkan oleh nafsu Ace yang sama sekali tidak bisa dibendung oleh pria itu sendiri. Mengetahui hal itu, orang tua Ace tentu saja tidak setuju. Karena Luci memang berasal dari keluarga yang berantakan. Ayah dan ibu wanita itu bercerai, dan kemudian sama-sama menempuh kehidupan masing-masing tanpa mempedulikan Luci.
Dan yang lebih parah. Ibunya Luci menjadi wanita penghibur salah satu club terkenal di Paris.
Hal itulah yang membuat orang tua Ace tidak mengizinkan mereka menikah. Sehingga membuat Luci menjadi tertekan, apalagi Ace menjadi semakin posesif dan mengekang pergerakan wanita itu.
Atas perbuatan Ace itu, Luci keguguran dan membuatnya harus di rawat selama berhari-hari di rumah sakit. Bahkan dokter mengatakan jika mental wanita itu terguncang.
Lucas tidak ingin Ayara mendapatkan perlakuan yang sama. Apalagi dia telah menjaga ibu dan anak ini selama 5 tahun. Sejak Kayla di kandungan, Lucas adalah orang yang selalu membantu Ayara, bahkan menggagalkan rencana bunuh dirinya.
"Luc, Lucas!!" sentak Ayara membangunkan Lucas dari lamunan panjangnya. "Ngelamun apa? Diajak ngobrol malah ngelamun sendiri?" cibir Ayara sedikit kesal.
"Memikirkan masa depan kita. Kenapa? Kamu mau ikut berpikir bareng, ayok!" jawab Lucas asal diselingi gombalan.
__ADS_1
Ayara mendesis geli. Kemudian meninggalkan Lucas sendiri di sofa ruang tengah. Sedangkan Ayara menyusul Kayla ke kamar Lucas untuk beristirahat.
Malam ini satu-satunya kamar di apartemen ini akan dikuasai oleh ibu dan anak itu. Sedangkan Lucas akan tidur di sofa. "Sepertinya aku harus mencari apartemen yang lebih besar!" keluh Lucas menatap pintu kamarnya.