Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy.21


__ADS_3

Ace berdiri dengan kedua tangan masuk ke kantong celana, menatap keluar jendela besar yang menampakkan jelas hamparan pantai yang luas, tepat di depan jendela ada kolam berenang yang menggoda untuk segera beraktivitas di sana.


Namun, bukan itu fokusnya. Melainkan seorang wanita yang tengah berbicara dengan serius di dekat kolam sana. Bergerak ke sana kemari seperti seseorang yang tengah menakutkan sesuatu.


Pertengkarannya dengan Ayara tidak mendapatkan hasil. Wanita itu terus bungkam, dan berakhir dengan mengangkat panggilan dari seseorang.


Ace sempat mendengar suara sang penelepon, seorang wanita. Kemarin dia baru saja mendapatkan fakta, bahwa kehidupan Ayara di London ternyata baik-baik saja. Hidup bersama anaknya dengan sepasang suami-istri yang tertera sebagai kakak wanita itu.


Namun lagi-lagi bukan itu yang menjadi fokusnya, melainkan desas-desus yang mengatakan bahwa wanita itu datang ke sana dalam keadaan hamil. Tidak ada bukti falid yang membenarkan itu, namun kesaksian salah satu tetangga wanita itu di London agaknya juga bukan sesuatu yang bisa dikatakan kebohongan.


Apa mungkin kecurigaanya benar, jika Ayara saat itu melarikan diri karena tengah hamil? Atau murni karena ada masalah lain?


Sampai saat ini Ace belum mendapatkan informasi apapun terkait anak Ayara. Berapa usianya? Siapa ayah biologisnya?


Entah mengapa mendengarkan ucapan Ayara dia tidak mempercayai itu semua. Atau mungkin, hanya dia yang terlalu berharap? Entahlah...


Langkah Ayara mendekat, ketika mereka berpapasan. Ayara sempat menatap mata pria itu sejenak. Kemudian melewatinya begitu saja.


Ia mendudukkan tubuhnya di sofa. Cukup lama ia terdiam, dan tatapan Ace tidak pernah berpaling darinya. Menunggu, hal apa yang akan Ayara ucapkan lagi. Sesuatu yang sarkas lagi, atau malah yang lainnya.


"Setelah dari sini, pihak kami akan mengirimkan orang baru sebagai perwakilan Hayakawa. Sebagai kompensasi pihak kami akan mengganti rugi, karena membatalkan kontrak awal dan akan menggantinya dengan yang baru," tandas Ayara tanpa melihat wajah Ace samasekali.


"Kamu mengancam ku? Really, Ay?"


"Dengan cara kerjamu yang sangat tidak profesional ini, itu lebih mengancam ku, Ace. Kau mungkin lupa jika aku adalah seorang yang arogan pada masanya. Hanya karena tempahan waktu dan keadaan yang membuat egoku sedikit menurun, tapi bukan berarti aku terima jika diperlakukan begini. Aku--"


"Kamu kenapa?" Ace mendekati Ayara hanya dengan dua langkah. Memotong ucapan Ayara, kemudian mengungkung wanita itu lagi di hadapannya, manik mata mereka kembali bertemu.


Kedua tangan Ace bertumpu pada sandaran sofa. Kakinya terangkat satu, dan memepet tubuh Ayara agar tidak bisa bergerak terlalu bebas.


"Jika proyek ini ditunda, akan ada kerugian yang cukup besar. Ta--tapi Uncle Tomo tidak akan membiarkan kau memperlakukan aku dengan semaunya seperti ini!"

__ADS_1


"Jadi kamu ingin mengatakan, jika pihak Hayakawa Grub akan menanggung kerugian yang besar untukmu. Apa kamu menjadi simpanan pria itu sehingga dia mau menanggung kerugian yang kamu buat? Berapa yang pria itu berikan, aku akan membayar dua kali lipat--"


Plak... Ayara spontan menggenggam tangannya yang menampar pipi Ace. Rahang pria itu terlihat mengeras menahan emosi.


"A--aku, aku bukan wanita seperti itu!" bantah Ayara dengan suara terbata.


"Ouh, ya. Lalu kenapa si tua bangka itu bersedia menanggung kerugian yang cukup besar hanya untuk mengikuti kemauan mu. Dan ingatlah Ayara, kamu adalah orang yang ingin menjadi pelacur hebat lima tahun yang lalu. Mencari pria ke sana kemari untuk memanaskan ranjang mu!" Ace menyeringai licik melihat Ayara yang menahan takut.


"Aku hanya melakukannya satu kali!"


"Apa itu berarti aku satu-satunya orang yang menyentuhmu. Bagaimana dengan anak Lucas?"


"A--Ace,"


Bibir mungil itu bergetar tak tahu harus berkata apa lagi. Melawan Ace dengan ucapan sama saja dengan memasukkan diri ke dalam jurang. Perlahan-lahan semua yang ia sembunyikan bisa terkuak dengan sendirinya.


Ayara memejamkan mata, satu bulir bening jatuh membasahi pipinya. Bersamaan dengan itu, sesuatu yang lembab dan basah terasa menyentuh bibirnya. Bau napas beraroma mint yang menyegarkan menghampiri penciumannya, dan pergerakan pria itu memintanya untuk membalas.


"Jangan lakukan apapun Ayara. Tak usah menjelaskan apapun, aku akan mencari tahu semua tentangmu. Tapi jangan pernah melakukan apapun. Kamu mungkin tidak percaya, tapi aku benar-benar menghabiskan sisa waktuku untuk mencarimu hingga ke pelosok negara ini." Pinta Ace dengan napas yang masih menderu.


Ayara tak mengatakan apapun. Ia hanya berusaha untuk mengontrol dirinya, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Mengisi rongga dada yang terasa kosong akibat perlakuan Ace yang tiba-tiba.


"Aku mohon," pinta Ace sekali lagi, "Biarkan aku membuktikan cintaku untukmu."


"Kamu sudah beristri, Ace. Aku tidak ingin merusak rumah tangga orang lain."


Untuk pertama kalinya, Ayara mengungkapkan kegelisahannya. Mengungkapkan kegundahan yang terus tertanam dari lima tahun lalu, sehingga ia tidak pernah mencoba bertanya pada Batara teman pria itu yang mana bersamanya malam itu.


"Aku tidak memilikinya, Aya. Aku bahkan tidak pernah menikah lagi. Statusku adalah duda, bahkan ketika kita pertama bertemu. Tapi aku benar-benar tidak pernah menikah lagi."


"Lalu bagaimana kamu menjelaskan tentang kehadiran anakmu. Elena mengatakan padaku, usianya baru saja menginjak tiga tahun. Dari mana kamu mendapatkan anak jika bukan dari pernikahan, Ace. Perempuan itu, perempuan yang hampir setiap saat datang ke kantor. Bagaimana kamu menjelaskannya jika dia bukan istrimu!"

__ADS_1


Ayara menatap dalam manik mata pria dihadapannya ini. Tidak ada pilihan lain selain mengikuti alur pembicaraan ini terlebih dahulu. Ia cukup mengerti sekarang, jika Ace bukanlah tipikal orang yang bisa di desak dan dibantah.


"Dia ibu dari putraku. Itu kesalahan, itu benar-benar tidak lebih dari sebuah kesalahan. Tapi kami tidak pernah menikah! Percaya padaku, kamu bisa menanyakannya pada Elena jika ucapan ku membuatmu ragu."


"Aku akan mencoba mempercayainya. Tapi sebelum itu, bisakah kamu menyingkir terlebih dahulu. Aku tidak bisa bernapas dengan benar!"


Ace terkekeh kecil mendengar permintaan Ayara. Dengan jahil, Ace kembali mengecup pelan bibir mungil itu.


Mata Ayara spontan membulat dan menatap tajam pelakunya. Hanya saja, Ace bersikap cuek dan tidak peduli. Dia bahkan dengan santainya mendudukkan diri di samping Ayara.


Dalam kesunyian, mereka menatap jauh kebalik jendela. Hamparan laut biru memanjakan mata mereka.


Ace menolehkan kepalanya ke arah Ayara sekali lagi. Bibirnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum tipis.


"Mau bermain ke pantai?" tanya Ace menawari Ayara.


"Lewat mana? Apa jauh?"


"Lewat sana." Ace menunjuk arah kitchen set dibelakang mereka. Tak jauh dari sana terdapat satu pintu yang bahkan Ayara baru menyadari keberadaannya. "Itu jalan untuk turun ke sana, tapi harus menuruni tangga." imbuhnya.


"Boleh," ucap Ayara menyetujui ajakan Ace.


Mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu sore ini dengan berjalan-jalan di dekat pantai. Ini mungkin adalah awal untuk hubungan mereka. Namun bukan berarti Ayara akan bersikap terbuka dengan pria itu.


Masih ada banyak keraguan, bahkan ketidakyakinan dihatinya tentang apa yang pria itu ucapkan. Mulut mungkin bisa mengatakan tidak. Tapi, bukankah setiap perselingkuhan diawali dengan pengakuan tanpa istri?


Ayara hanya butuh waktu satu bulan. Satu bulan lagi, untuk kembali menyingkir. Selama waktu itu, biarkan Ace berpikir bahwa apa yang ia harapkan telah didapatkannya.


Tidak mungkin Ayara akan percaya bualan Ace. Jelas-jelas pria itu mengakui bahwa ada seorang wanita yang menjadi ibu dari anaknya, mungkin dia tidak diakui. Tapi Ayara tahu betul bagaimana sakitnya menjadi wanita itu.


Maafkan aku, aku akan segera mengakhiri kegilaan dari suamimu ini. Dan kembali menghilang, bisik Ayara pada angin pantai yang membelai setiap helai rambutnya dengan hembusan pelan.

__ADS_1


__ADS_2