Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy. 6


__ADS_3

Akhirnya hari dimana Ayara benar-benar harus merelakan hubungan Doni dan Reina tiba. Hari pernikahan!


Memasuki aula gedung hotel tempat dimana acara resepsi dilakukan. Ayara, Sofia, dan Elena membuka pintu dengan bergaya. Dress Code yang seharusnya berwarna hitam, telah berganti menjadi warna putih.


Tentu saja mereka melakukannya dengan sengaja. Bukan untuk berniat membalaskan dendam, ataupun membuat kekacauan. Mereka melakukannya murni karena mereka ingin tampil beda.


"Wow..." seru Elena kagum dengan mulut terbuka lebar, ketika melihat dekorasi pernikahan kedua pengkhianatan itu begitu mewah. "Kamu benar-benar malaikat Aya," pujinya lagi.


Aya mengernyitkan dahi tidak mengerti. Kemudian Elena kembali bersuara, "Iya, karena kamu masih mengizinkan ayahmu untuk membuatkan pesta semewah ini."


"Sepertinya tidak!" sangkal Sofia ikut menimpali, "Aku yakin, ini terjadi karena si tua bangka tamak itu ingin menyelamatkan wajahnya di depan para rekan bisnisnya. Aku benar kan, Ay?"


"Si tua bangka itu, ayahku, Sof. Sopan sedikit." Tegur Ayara tidak terima.


"Aya benar, Sof. Itu ayahnya Aya yang tamak," ucap Elena tanpa beban.


"Kamu pun sama saja, El. Sudah ahh... Ayo masuk." Ajak Ayara pada kedua temannya untuk segera masuk dan berbaur dengan para tamu undangan.


Ketiga gadis itu masuk dengan penuh kepercayaan diri. Dari kejauhan tampak Ace yang tengah memperhatikan tingkah Ayara dengan intens.


Beberapa rekan bisnisnya yang mengajak bicara bahkan tidak ia gubris lagi.


"Putri Tuan Pramana memang cantik. Kau terpikat?" tanya seorang pria yang menjadi rekan bisnisnya baru-baru ini.


"Dia memang cantik. Tapi terlihat masih anak-anak," jawab Ace dengan senyum miring.


"Ckckck... lihatlah ini. Kau menjawab pertanyaan dengan cepat. Jangan menyangkalnya Tuan Monata, kau menyukainya, bukan?"


"Mungkin saja," jawab Ace dengan singkat.


Pembicaraan mereka berakhir ketika terdengar suara teriakan dari arah kerumunan. Sedikit rasa penasaran timbul, bukankah itu tempat dimana gadisnya berada? Apa terjadi sesuatu?


Berselang beberapa saat, seorang pramuniaga pria melewati kumpulan pengusaha muda itu. Dengan sigap, salah satu dari mereka bertanya.


"Apa yang terjadi?"


"Itu... Ada seorang gadis pingsan," jawabnya sembari sesekali melirik ke arah kerumunan yang mulai menjauh.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Ace lebih penasaran.


"Saya tidak tahu, Tuan. Dengar-dengar, mantan mempelai pria yang hadir."


"Kau boleh pergi." Titah Ace setelah mendapatkan jawaban.


Brian yang menyadari kegelisahan dari atasannya itu segera mencari tahu informasi tentang aa yang baru saja terjadi.


______________


Di dalam salah satu kamar hotel. Keluarga Pramana, dan Sanjaya tengah berkumpul. Di tempat tidur seorang gadis masih memejamkan matanya.


Dia tidak tidur ataupun masih pingsan. Hanya saja, dia tidak sanggup untuk membuka mata dan melihat ekspresi orang-orang disekitarnya.


"Siapa ayah dari anak itu, Ayara?" tanya Ayasa dengan nada rendah. Terdengar jelas suaranya yang bergetar menahan emosi. "Apa dia juga orangnya?!" Telunjuknya mengacung tepat kehadapan Doni.


"Bukan aku!" sangkal Doni tidak terima. Tatapan matanya beralih pada Ayara sejenak kemudian berpaling ke sembarang arah.


"Lalu siapa kalo bukan kamu? Selama ini keponakan saya hanya berhubungan dengan kamu. Putri saya saja kamu perkosa, apalagi Ayara yang jadi pacar kamu!" desak Sulastri tidak mau menyerah.


"Kenapa jadi anak saya yang dituduh. Tanya saja sama anak kalian sendiri, siapa pelakunya. Sudah jelas-jelas dia yang murahan, kenapa anak saya yang kena imbasnya?!" Cecar Tia tidak terima semua orang menuduh Doni.


Reina yang mendengar pertengkaran antara ibunya dan sang mertua hanya bisa menangis. Sakit rasanya, ketika mengetahui fakta Ayara tengah mengandung seorang janin. Ini hari pernikahannya, meskipun berat diakui ini pernikahan mendadak. Tetapi cintanya kepada Doni benar-benar tulus, hatinya sudah menjadi milik pria itu seorang.


Dan sekarang, haruskah dia berbagi suami dengan sepupunya sendiri?


"Sudah kukatakan itu bukan aku?!" tegas Doni kembali bersuara.


"Sudahlah, Mas. Akui saja, aku tidak apa-apa," Reina menatap Doni dalam. Berharap pria itu mengakui perbuatannya dan mengakhiri perdebatan panjang ini.


"Kenapa kalian semua menuduhku. Tanyakan saja pada orangnya, atau teman-temannya itu. Mereka lebih tau siapa ayah dari anak itu!"


Sofia yang merasa Ayara semakin disudutkan tidak terima. Ia sigap berdiri, kemudian menampar Doni dengan keras. "Mau menyakiti Ayara sejauh mana lagi kamu?!"


Semua orang terdiam. Tidak ada yang bersuara, selain suara tangisan Reina yang terisak.


Tidak terima terus menerus dituduh. Doni mencari foto satu bulan yang lalu, yang mana foto Ayara tengah tidur dengan seorang pria ia terima dari nomor asing. "Kamu mau mengatakannya sendiri, atau aku yang akan membeberkannya, Ayara."

__ADS_1


"A--aku tidak tahu." Suara Ayara bergetar. Sungguh ia tidak menyangka jika perbuatan impulsif nya malam itu akan mengakibatkan hal fatal seperti ini.


Ia tidak menyangka, jika pengalaman satu malam itu akan membuat ia hamil.


"Apa yang kamu tidak tahu?!" desak Ayasa dengan suara tinggi. "Katakan siapa ayah anak itu, Ayara!"


"Aku tidak tahu, Yah. Aku tidak tahu! Aku tidak mengenalnya. Aku cuman ingin membalas sakit hatiku pad Doni, hanya itu. Aku tidak tahu jika aku akan hamil!" ucap Ayara dengan suara tak kalah keras.


Plakk... Kali ini, Ayasa kehabisan kesabaran. Seumur hidupnya, ia tidak pernah menerima penghinaan memalukan seperti ini.


"Dasar wanita murahan! Kurang ajar kamu!" hardik Ayasa terus menerus memukuli kepala Ayara. Sulastri yang tidak menyangka itu terjadi berusaha keras menghentikan Ayasa, begitupun Tia juga dengan yang lainnya.


"Hentikan, Om. Om mau membunuh anak sendiri!" Ucap Elena lantang.


Menghentikan pukulannya. Ayasa menarik napas panjang. Memperbaiki setelan jas yang ia kenakan, kemudian pria tua itu menatap Ayara dengan hina.


"Saya lebih baik membunuh anak tidak tahu malu seperti ini. Dari pada harus menanggung malu karena perbuatannya."


"Ayah," lirih Ayara tidak percaya.


"Mulai sekarang kamu pergi dari pandangan saya. Jangan pernah lagi menginjakkan kaki kamu lagi ke rumah saya. Saya tidak memiliki anak tidak tahu malu dan murahan seperti kamu!" ucap Ayasa telak.


Semua orang kaget. Sulastri, dan Reina sontak berteriak keras mendengar keputusan Ayasa. "Mas, jangan gegabah. Dia putri kamu, tarik kembali kata-kata kamu." pinta Sulastri.


"Aku tidak memiliki anak perempuan lagi. Tidak ada yang boleh membeberkan kejadian hari ini keluar. Jika tidak ingin berurusan dengan saya!"


Ayara yang mendengar ucapan menyakitkan dari ayahnya tidak bersuara. Bahkan untuk menangis pun ia tidak bisa. Tubuhnya hanya bergetar, seperti menahan sesuatu yang lama ia pendam namun tak bisa ia ucapkan.


Setelah itu, satu persatu orang-orang mulai meninggalkan kamar itu. Hingga tinggal tersisa Doni, Reina, Elena, Sofia, dan Ayara.


"Tidak usah di dengarkan, Ay. Aku yakin om Ayas hanya sedang emosi saja. Ayo kita kembali ke rumah," ajak Reina.


"Tidak usah sok peduli. Lebih baik kalian berdua pergi. Jika bukan karena kalian mengkhianati Aya, dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini," jawab Elena ketus.


"Tapi El--"


"Elena benar, mending kalian pergi deh. Kami bisa menjaga Ayara dengan baik," timpal Sofia tak kalah ketus.

__ADS_1


"Ay, aku--"


"Pergi, Don. Bawa istri kamu ini dari sini. Aku tidak butuh simpati kalian! Dan kamu Rei, kamu bahkan tidak tahu sama sekali bagaimana sifat dari ayahku. Bagaimana bisa aku menganggap mu sebagai saudara terbaikku selama ini."


__ADS_2