Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy. 5


__ADS_3

Ketukan sepatu pentofel menyadarkan Ayara dari lamunannya yang tak berarti. Ia mengambil gelas anggur merah yang tersedia. Menenggaknya sampai habis sebagai pengganti air putih yang berfungsi mendorong makanan.


Krittt... Suara tarikan pada kursi di hadapannya membuyarkan suasana hening di area VIP ini. Ace mendudukkan tubuhnya di kursi, menyilangkan tangannya dengan angkuh. Kemudian menatap wajah Ayara dengan lekat.


"Anda, siapa?" Tanya Ayara dengan alis terangkat. Tangannya kembali beralih pada sepotong steak di piringnya yang masih tersisa setengah.


"Bukan siapa-siapa. Hanya, boleh saya duduk disini?" Ayara menghentikan aktivitas menyuap makanannya.


Inilah kenapa ia tidak pernah menyukai makan di tempat terbuka. Meskipun itu VIP room. Selama itu bukan privasi room, maka acaranya tidak pernah berjalan dengan lancar.


"Silahkan," jawab Ayara datar. Ia segera membereskan tas ransel kecilnya. Tak lupa ia juga membawa ponselnya.


Ia melenggang meninggalkan Ace dimeja itu sendirian. Tiba di bawah, ia membayar bill dari makanannya. "Aku masih lapar," keluhnya.


Ayara memasuki mobilnya kembali. Lalu melesat meninggalkan area restoran dengan kecepatan tinggi.


Ace terus menatap mobil Ayara yang melesat pergi. Menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ace tertawa dengan keras.


Orang-orang yang melihatnya sedikit kebingungan dengan tingkah Ace. Begitupun dengan Brian yang gelagapan, takut Ace menggila.


"Tuan," Brian mendekati Ace dengan hati-hati.


"Hahaha..." Mengusap wajah, Ace memperhatikan makanan wanitanya yang bahkan belum disentuh lebih dari setengah. Iya, mulai sekarang Ace akan mengklaim gadis itu sebagai wanitanya.


Tidak ada alasan khusus. Mungkin, karena sifat Ayara yang sama tidak sopan dengannya. Membuat Ace tertarik.


Atau mungkin, karena gadis itu telah dua kali meninggalkannya. Seakan mengingatkan Ace terhadap Luciana yang juga pergi tanpa kata-kata.


"Kau lihat itu, Brian?" Tanya Ace, yang segera dibalas gelengan bingung oleh Brian. "Dia sempurna!"


"Persiapkan kerja sama dengan perusahaan Pratama. Cara terbaik mendekati gadis itu, adalah ayahnya yang tamak," ucapnya penuh dengan semirik.


Berbeda dengan Ace yang terlihat bersemangat karena akan mendapatkan mainan baru. Di meja sebelumnya, Joselyn menggenggam erat telapak tangannya.


Rasa marah, tidak terima karena dikalahkan begitu saja oleh seorang gadis kecil membuatnya merasa kesal. "Aku tidak akan membiarkanmu lepas dari genggamanku, Ace. Lihat saja!" Tekadnya penuh ambisi.


______________


Doni menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tamu. Memijit pelipisnya yang terasa pusing karena masalah yang ia buat sendiri.


Bramantyo, ayah dari Doni. Ikut duduk di sofa. Melihat wajah anaknya yang nampak kusut. Bram tertawa dengan keras.

__ADS_1


"Kau menyesal sekarang?" Tanyanya sembari menghisap cerutu miliknya dengan nyaman.


"Pa, apasih." Doni mengelak, tidak mungkin dirinya jujur bahwa dia menyesal telah bertindak ceroboh.


Perasaannya yang ia pikir hanya perasaan karena terbiasa bersama. Ternyata bukan. Sekarang ia sadar, itu adalah cinta yang nyata untuk Ayara.


Hatinya menolak untuk berpaling pada gadis lain. Tapi, apa lagi yang bisa ia lakukan. Nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah terlanjur terjun ke danau yang dalam, jika Ayara sebagai pemegang pelampung tidak memberikan izin. Maka percuma ia mencoba kembali berenang ke tepian.


"Ayara itu gadis yang baik. Yah, meskipun papa akui pergaulannya cukup liar. Tapi papa yakin, bahwa dia masih gadis baik-baik."


"Reina sendiri bagaimana? Apa kamu orang pertamanya?" Tanya Bram tiba-tiba.


Uhuk... Uhuk... Tia yang baru saja kembali dari dapur, sambil meminum jus jeruk miliknya. Mendadak batuk dan tersedak mendengar pertanyaan suaminya.


"Papa! Apasih nanya begitu."


"Tau ni, Ma. Papa kalo ngomong gak di saring dulu kayak santan." Adu Doni pada ibunya.


"Kamu juga, Doni. Mau kamu orang pertama atau bukan. Apa gunanya? Reina itu cuman ponakan Ayasa. Enggak bakalan menguntungkan sama sekali," cecar Tia beralih pada Doni.


"Loh, Ma!"


"Apa? Benarkan, Pa. Udah bagus-bagus calon menantu Mama itu Araya. Cantik, baik, cerdas, gaul lagi. Dia itu udah paket komplit, Doni. Kamu ini gimana sih!"


Meskipun Reina memberikan kesuciannya pada Doni secara terpaksa. Tapi, dibandingkan dengan Ayara. Mereka bagaikan langit dan bumi.


Ayara yang pandai merawat diri, pandai bersosialisasi. Berbanding terbalik dengan Reina yang lebih pendiam, dan introver. Lebih suka bermain dengan alat masak di dapur, dari pada merias diri.


"Lah, kalo Aya harus masak juga. Terus apa gunanya asisten rumah tangga?"


"Sudahlah, Ma. Kamu juga, Don. Itu kesalahanmu, harus bisa bertanggungjawab. Meskipun papa dan mama belum bisa menerima Reina sepenuhnya. Tapi dia tetap calon istri pilihan mu sendiri." Tutur Bram bijak.


Tia mendengus mendengar penuturan suaminya. Kemudian berlalu dari sana.


"Mengenai Reina. Doni orang pertama bagi Reina, Pa. Papa benar, ini salah Doni sepenuhnya." Ucapnya lirih. Ia mengusap kasar rambutnya hingga berantakan.


Rasa bersalah dihatinya semakin membelenggu. Sedangkan, rasa rindunya pada Araya semakin menggunung.


"Papa percaya sama kamu," ucap Bram menepuk-nepuk pundak putranya memberikan semangat.


__________

__ADS_1


Tiba di rumah, sama seperti biasanya. Ia melihat TanteĀ Tari---ibunya Reina sedang mengarahkan beberapa art untuk membersihkan bagian rumah.


"Ay, kamu sudah pulang, sayang," sapa Sulastri lembut.


Ayara mengangguk sekedarnya. Melangkahkan kaki ke dapur. Ia melihat Reina yang sedang asik memanggang kue-kue kering.


Puluhan toples dengan logo brand 'Cake kembar' itu tersusun rapi di atas meja. Reina itu mandiri, bahkan di usianya yang belum genap 18 tahun ini. Reina sudah membuka usaha cake dengan brand-nya sendiri.


Berbeda dengan Ayara yang selalu dimanjakan sejak kecil. Ia tidak pernah tahu rasanya susah mencari uang. Ia hanya tahu teori, karena otaknya cerdas dalam menyerap pelajaran.


Akutansi, dan taktik menaklukkan investor. Ia mempelajari semua ilmu tentang bisnis besar. Karena ia memang di didik untuk menjadi pewaris F'A Construction.


Tapi, jika seandainya mereka jatuh sebelum Ayara mewarisi itu. Dan terpaksa bangkit dari bawah. Maka apa yang harus ia lakukan?


Rasa sayangnya terhadap Reina, bahkan bisa mengalahkan rasa benci karena telah dikhianati.


"Besok bukannya kamu nikah--," ucap Ayara tiba-tiba.


Prang...


Reina yang sedang membalik kue di atas loyang oven terkejut. Kue-kue itu berjatuhan, dan berantakan. Bahkan loyang panggang yang baru keluar dari oven itu mengenai kakinya.


"Ahh... Ma-maaf, Ay. A--akan aku bereskan segera." ucapnya terbata. Reina menundukkan kepala dalam. Ia memunguti kue yang berantakan dengan hati-hati.


Melihat tubuh Reyna yang bergetar. Ayara mendekati gadis itu. Ikut duduk memunguti kue itu dengan diam.


Ia tidak ingin meminta maaf. Ataupun mengucapkan sepatah katapun pada Reina. Tapi hati kecilnya merasa sakit melihat Reina yang seperti ini.


Gadis itu bahkan memutuskan untuk berhenti kuliah karena merasa bersalah pada ayahnya. Jika bukan karena ayahnya melarang. Mungkin saat ini, Reina dan ibunya telah keluar dari rumah ini. Karena sebuah rasa yang namanya 'bersalah'.


"Obati kaki kamu. Aku gak mau dibilang jahat karena buat kamu celaka!" Ketus Ayara.


Suara tangis Reina semakin terdengar. Merasa ikut sesak, Ayara bangkit dari sana. "Bawain kotak p3k buat, Rei!" Titahnya pada seorang art yang tidak sengaja berpapasan dengannya.


Tiba di atas tangga. Ayara ikut menangis. Sulastri hanya diam, ia bagaikan batang kayu yang tak bisa bergerak.


Suara tangis yang menyesakkan terdengar dari dua arah. Dari putri kandungnya, dan dari keponakan yang sudah ia anggap sebagai putri sendiri.


"Kenapa kalian menjadi seperti ini," lirih Sulastri pelan. Wanita paruh baya itu hanya menghindar dari keduanya.


Kesalahpahaman yang dalam tidak akan bisa selesai begitu saja. Reina yang menjadi korban, Ayara yang juga sebagai korban. Haaa... Andai Sulastri bisa. Ia ingin sekali membunuh dalang dari retaknya hubungan harmonis di rumah ini.

__ADS_1


Siapa lagi kalo bukan, Doni. Laki-laki brengsek yang telah memperkosa dan mengancam putrinya. Dan laki-laki brengsek yang telah mengkhianati keponakannya selaku pacar, dan calon tunangan.


"Ini juga salahku. Salahku tidak memperhatikan kondisi putriku sendiri." Lirihnya, mengelus dada. Mencoba bersabar akan amarahnya yang memuncak untuk segera menghabisi Doni. Selaku pelaku dari semuanya.


__ADS_2