Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy.22


__ADS_3

Byur... Ayara tiba-tiba tersentak ketika merasakan percikan air mengenai wajahnya. Mata wanita itu menatap tajam pada pelaku. Ace tersenyum simpul, sekali lagi ia menunduk, menyapu deru ombak yang melewati betis kakinya, kemudian mengarahkannya pada sang wanita pujaan.


"Jangan terlalu serius, enggak baik ngelamun dipinggir laut," ujarnya diselingi kekehan kecil melihat wajah Ayara yang merengut.


"Kenapa jahil banget sih, Pak?!"


"Enggak tuh," jawab Ace santai masih bermain dengan ombak.


Ayara melangkahkan kakinya mendekat ke laut. Sapuan ombak mengenai kulit kakinya. Ia juga melakukan hal yang sama pada Ace.


"Aya, kamu menggodaku." Ayara hanya tertawa, ia menggeleng seraya tertawa.


"Enggak tuh," ucapnya membalikkan kata-kata Ace sebelumnya.


"Wah... Kamu benar-benar menggodaku, Aya." Ace berlari mengejar Ayara sambil terus memercikkan air kearah wanita itu. Begitupun sebaliknya, Ayara terus meladeni perang air yang Ace mulai.


Mereka terus bermain, berlarian di pinggir pantai dengan tawa riang. Untuk sesaat mereka terlihat begitu bahagia. Tidak ada yang akan menyangkal jika kedua insan tersebut terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah memadu kasih.


Menikmati waktu berlibur, atau bahkan honeymoon di tempat ini.


Ayara berlari menjauhi laut, ia mendudukkan tubuhnya di bibir pantai di atas hamparan pasir putih.


"Sudah, aku capek," keluh Ayara dengan napas yang tidak beraturan. Dada wanita itu terlihat naik turun menyesuaikan udara yang memompa di aliran jantung.


"Kamu senang?" Ace bertanya dengan nada lirih. Pria itu ikut menjatuhkan bobot tubuhnya tepat di samping kanan Ayara.


"Lumayan." Ayara menoleh sebentar pada Ace, kemudian kembali menatap lurus pada laut yang biru, "Akan lebih menyenangkan jika Kayla dan Kak Sheila bisa ikut."


"Sheila? Sheila Marcia Hayakawa? Putri bungsu Mr. Tomosa Hayakawa?" tanya Ace beruntun, yang hanya dibalas anggukan oleh Ayara.


"Sebenarnya apa hubunganmu dengan keluarga Hayakawa?" Tatapan mata yang menyorot tajam itu terlihat mengintrogasi Ayara. Sejauh yang Ace tahu, Keluarga Hayakawa memiliki lima orang anak. Yang mana tiga diantaranya adalah laki-laki, dan putra ke empat Hayakawa adalah salah satu teman kuliahnya semasa masih di Amerika.


"Kenapa bapak begitu kepo?"


"Pertama aku bukan bapakmu, dan kedua kamu hanya perlu menjawab pertanyaan ku dengan benar."


"Baiklah, Bapak Ace yang terhormat. Kamu sendiri kenapa bisa mengetahui jika kak Sheila putri bungsu Uncle Tomo?" Sarkas Ayara masih enggan menjawab pertanyaan Ace, sehingga ia lebih memilih memutar balikkan pertanyaan.

__ADS_1


"Aku pernah berteman dengan kakaknya. Jadi, apa hubungan kalian?!"


"Ckk... Dia kakak ipar ku. Puas!" Ayara bangkit dari duduknya, berjalan menjauh meninggalkan Ace yang masih mematung mencerna informasi yang baru saja ia terima.


Pantas saja segala tentangmu sulit untuk ku lacak dan cari tahu. gerutu Ace dalam hati.


"Hei... Kamu mau kemana?!" Teriak Ace sambil berlari mengejar Ayara yang sudah sedikit menjauh dari tempatnya berdiri.


"Pulang!" jawab Ayara tak kalah keras.


Ace menghentikan langkahnya sebentar. Mengambil ponsel canggihnya di saku celana pantainya, kemudian memotret Ayara yang tengah berjalan secara diam-diam.


Puas melihat hasilnya, ia tersenyum geli. Ternyata jatuh cinta untuk yang kedua kalinya tidaklah buruk. Meskipun kisah cintanya yang kedua ini tak kalah rumitnya dengan masa lalunya.


Ace berlari menyusul Ayara yang sudah menaiki undakan tangga. Setelah jarak mereka hanya tersisa satu undakan, Ace kembali menggodanya, "Kamu enggak mau nunggu aku?"


"Enggak," jawab Ayara kembali ke mode awal, ketus.


"Tapi aku mau ditunggu sama kamu. Masa aku terus yang nungguin kamu. Lama loh aku nunggu, lima tahun."


"Aku gak peduli."


"Sayang... Aku gak suka kamu diam."


"Apasih," kesal Ayara menghentikan langkahnya. Mata mereka lagi-lagi bertatapan, "Berhenti panggil aku sayang, aku bukan perusak rumah tangga orang!"


"Kan yang ada cuman rumah tangga kita, Ay. Kamu gimana sih--"


Suara dering ponsel Ayara memotong ucapan Ace yang bersiap melontarkan kembali gombalannya.


Bang Arkan


Ayara menghela napas gusar ketika melihat nama sang penelepon di layar ponselnya.


"Halo, Bang." sapa Ayara setenang mungkin.


"Sepertinya kamu dalam masalah. Tadi kakak iparmu bilang kamu sedang dalam masalah. Ada apa?"

__ADS_1


Ayara menarik napas dalam. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa, duduk di sana dengan tenang.


"Iya, seperti yang tadi aku jelasin sama kak Sheila, Bang. Tolong segera selesaikan ya, bang. Ouh ya, Kayla mana? Apa masih tidur siang?"


"Ada, lagi dilantai bawah dengan kakak iparmu. Mengenai hal tadi, Abang konsultasi dengan Daddy Tomo dulu. Nyari orang yang bisa dipercaya buat handle proyek sebesar ini agak susah, Ay. Bertahan setidaknya satu atau dua bulan lagi, ya."


Ayara tahu bukan perkara mudah mencari pengganti. Apalagi ini merupakan proyek yang penting dan bernilai triliunan. Tapi mau bagaimana lagi, demi menjaga kenyamanan dirinya dan putrinya. Ayara lebih baik melepaskan pekerjaannya dari pada harus berurusan dengan pria seperti Ace.


"Aku mengerti, Bang. Aku tutup dulu, ya. Titip Kayla selama tiga hari ini."


"Baiklah, hati-hati di sana Ayy. Jangan lakukan hal ceroboh untuk yang kedua kalinya!" tekan Arkan memperingatinya supaya tidak mengulangi masa lalu lagi.


Panggilan itu berakhir dengan satu kecupan sayang dari Arkan untuk adik satu-satunya.


"Siapa?" tanya Ace dengan satu alis terangkat.


"Kenapa kamu selalu kepo sih!" ketus Ayara semakin risih dengan tingkah Ace.


Ia meninggalkan Ace di sana. Memasuki kamar dan segera membersihkan dirinya. Tubuhnya terasa sangat lengket karena bermain di air laut yang penuh akan garam.


Ketika Ayara keluar dari kamar. Ia melihat Ace yang tengah memejamkan matanya di sofa. Pria itu tiduran dengan berselonjor kaki.


Sebenarnya dia orang yang tampan, kaya, juga terlihat baik. Hanya saja dia menyebalkan, dan tukang bohong! batin Ayara bermonolog pada dirinya sendiri.


Ayara masih memperhatikan wajah damai Ace yang tertidur. Lima menit berlalu, suara gemuruh di perutnya menginterupsi kegiatannya. Cacing-cacing di perut menggerutu minta di beri jatah makan.


Dengan gontai, Ayara berjalan menuju kitchen set. Membuka kulkas berharap ada sesuatu yang bisa ia olah untuk menjadi makanan, dan menghalau rasa laparnya.


Tapi harapan itu harus pupus ketika melihat isi kulkas yang hanya ada minuman soda dan susu.


"Sial banget." Ayara menarik satu botol susu kotak, kemudian menenggaknya hingga habis.


Merasa perutnya masih tidak tertolong. Ayara menguatkan tekad untuk segera membangunkan manusi bermuka tembok yang tengah tertidur pulas di sofa itu. Ia butuh makan, dan itu sudah tidak bisa ditunda lagi.


Pertama, Ayara menggoyangkan lengan Ace pelan. Tetapi pria itu sepertinya masih tidak terganggu. Ayara mencoba lagi, kali ini disertai panggilan malas.


"Ace, bangun. Aku lapar," cicit Ayara rendah.

__ADS_1


Namun pria itu masih tidak bergeming. Merasa bahwa tidak ada respon dari Ace. Ayara menghempaskan tubuhnya di sofa yang berbeda dengan pria itu.


"Aku lapar," keluhnya sambil memejamkan matanya paksa.


__ADS_2