Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy.39


__ADS_3

"Aku pulang dulu, Ay." Pamit Lucas pada Ayara . Wanita itu mengangguk dengan senyum yang manis.


"Aku juga pulang dulu ya, Sayang." Timpal Ace tidak mau kalah.


"Sayang, sayang, pala mu peang." cibir Lucas seraya melenggang masuk ke mobilnya.


Ace tidak peduli dengan cibiran Lucas. Memangnya siapa pria itu? Lagipula memang benar kan, kenyataannya dia telah begitu jatuh kepada pesona Ayara. Dia memiliki rasa sayang dan cinta untuk wanita dihadapannya ini.


Bukan seperti pria itu yang hanya dianggap teman saja. Lagipula sekarang dia punya senjata andalannya. Kayla Putriana, putri kecilnya yang begitu manis dan lucu.


"Woi! Cepat. Kau menghalangi mobilku, sialan!" Lucas berteriak keras, menjulurkan kepalanya melalui sela kaca mobil.


"Tunggu sebentar! Sabar!"


Ace bergerak menuju mobilnya. Masuk dengan menggerutu karena pendekatannya dengan Ayara terganggu.


Ace membunyikan klaksonnya sebelum meninggalkan perkarangan rumah Ayara. Wanita itu hanya tersenyum tipis dengan sedikit terpaksa. Setelah itu Lucas ikut membunyikan klakson mobil, melambai pada Ayara. "See you besok Aya!"


"Bye, Luc. Hati-hati!" Ayara ikut melambaikan tangannya. Mengantar kepergian pria itu hingga mobilnya menghilang dari pandangan mata.


Haa... Melelahkan sekali rasanya hari ini. Energinya terasa terkuras habis menghadapi semua orang yang menyebalkan.


Aya, membukakan pintu kamar Kayla. Gadis kecil itu sudah tertidur dengan pulas memeluk boneka kelinci yang dibelikan Lucas saat dia berulangtahun yang ke satu tahun.


Aya tahu jika Kayla pasti sangat menginginkan keluarga yang utuh. Seorang ibu yang menemaninya, dan seorang ayah yang bisa melindunginya bagaikan seorang superhero.


Benar, Lucas memperlakukan putrinya layaknya putri sendiri. Tapi Ayara tidak yakin Kayla bisa merasakan hal yang sama. Bagaimanapun perasaan anak kecil itu sangat sensitif.


"Maafin, Mommy, ya, Nak. Karena keegoisan Mom, kamu harus menahan diri seperti ini. Tapi tolong, tolong beri Mom waktu untuk bisa meyakinkan diri. Mom janji, mulai sekarang, Mom gak bakal ngehalangin kamu buat ketemu sama Daddy kamu."


Cup... Ayara mengecup kening putrinya dalam. Setelah itu, ia beranjak mematikan lampu kamar, menyisahkan cahaya redup dari lampu tidur. Keluar dari sana, lalu menutup pintu itu dengan hati-hati.


Masuk kedalam kamar. Ayara segera menghubungi kakak iparnya. Saat ini hanya wanita itu yang bisa memberikannya solusi untuk masalah yang dia hadapi ini.


"Kak, Aku mau cerita..."


•••


Ace baru saja tiba di apartemennya. Pria itu tidak kembali ke rumah orangtuanya, karena biasanya dia memang jarang pulang ke sana.


Mungkin hanya beberapa kali dalam sebulan, itupun setelah mendapatkan desakan berulang-ulang dari mamanya agar dia mau pulang.


Entahlah... Semenjak mantan istrinya pergi meninggalkannya. Ace malas terlalu berurusan dengan orangtuanya. Pria itu beranggapan bahwa penyebab dia ditinggalkan juga ada sangkut pautnya dengan mamanya.

__ADS_1


Dari awal mama dan papanya memang tidak setuju dengan pernikahan mereka. Bahkan Ace harus melakukan pernikahan diam-diam, dan membawa Luci yang telah hamil untuk mendapatkan persetujuan.


Mereka terpaksa merestui, dengan syarat tidak boleh publik tahu tentang pernikahan itu. Hanya beberapa anggota keluarga besar yang mengetahuinya, salah satunya adalah Elina---sepupunya---yang sebelumnya juga bernasib sama dengannya. Dikhianati, dan ditinggalkan.


Ace merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Menghela napas panjang, ia kembali kepikiran pada Ayara. Bagaimana caranya agar wanita itu mau menerima perasaannya.


Ace yakin sekali jika Ayara bukan tipikal wanita yang mudah. Wanita itu juga tidak tergiur akan kekayaan dan kekuasaan karena keluarganya juga mempunyai.


"Harus dengan cara apa aku mendekatinya?" monolognya berpikir.


Drettt... Drettt...


Ponselnya berdering. Nama teman baiknya---Batara--- terpampang jelas di layar ponselnya.


Dengan malas-malasan, Ace mengangkat panggilan itu.


"Hemm..." sapanya tanpa kata.


"Bro... Gue ada berita panas buat, Lo."


"Apa?"


"Tentang Luci, aku kemarin bertemu dengannya. Kau tahu kami bertemu di mana?"


"Belum selesai juga? Ouh... bro, seorang Dion Ace Monata kebingungan cara mendekati wanita, ayolah, itu terdengar menggelikan."


"Tar..."


"Ckk... aku hanya bercanda. Kau ini serius sekali. Bawa saja wanita itu ke ranjang mu lagi seperti lima tahun lalu, mungkin dia bisa menerimamu kali ini."


"Kau bermain-main denganku, haa...!"


"Ayolah Ace, kau bawakan saja dia bunga. Beri perhatian setiap saat, dekati putrinya--"


"Putriku juga!" tekan Ace tidak terima namanya tidak diikut sertakan.


"Wow... kau belum cerita di bagian itu denganku."


"Bukan urusanmu!" sarkas Ace mematikan panggilan itu secara sepihak. Kenapa temannya itu begitu menyebalkan sekali.


Ace melepaskan ponselnya sembarangan. Memejamkan matanya sejenak, hingga perlahan mengarungi dunia mimpi.


Mungkin besok, dia akan mendapatkan ide baru bagaimana caranya agar Ayara bisa menerimanya. Ahh... dia sudah sangat tidak sabar.

__ADS_1


•••


Kembali kepada Ayara yang baru saja mendapatkan petuah-petuah dari kakak iparnya. Wanita itu menghela napas berulangkali. Ia menatap patung tuhan-nya di atas nakas.


Perlahan, ia segera menangkupkan kedua tangannya. Berdoa keselamatan, dan pencerahan untuk hati kecilnya.


"Tuhan, tolong, sekali lagi saja. Bantu aku melewati ini." Ayara tertidur pulas setelah memanjatkan doa.


Pagi harinya, Ayara bangun sedikit kesiangan. Suara ketukan di pintu memaksanya bangkit dari alam mimpi karena terkejut.


Ayara membuka pintu rumahnya. Di sana Lucas sudah berdiri dengan tampilan bebasnya.


"Kenapa pagi sekali?" keluh Ayara pada Lucas.


"Pagi? Ini sudah pukul tujuh lebih Ayara. Apanya yang pagi."


"Benarkah?" beberapa detik berlalu, Ayara baru menyadari kalimat yang baru saja keluar dari bibir Lucas, "APA?! Jam berapa sekarang, Luc?!" tanyanya dengan panik.


"07.23, kenapa, kau terlambat bangun?"


Ayara tidak menjawab pertanyaan Lucas. Wanita itu segera masuk kembali ke dalam kamarnya. Bergegas membersihkan diri, bersiap untuk ke kantor.


Setengah delapan dia sudah harus di kantor. Tapi ini dia malah baru bangun. Sialan! Ini semua gara-gara Lucas dan Ace yang tidak mau pulang lebih cepat tadi malam.


Selesai dengan tampilannya yang masih sedikit berantakan. Ayara masuk ke dalam kamar Kayla, di sana sudah ada Lucas yang telah menyiapkan beberapa keperluan Kayla yang harus ia bawa ke rumah kediaman Pramana.


"Thanks, Luc. Astaga! Aku terlambat hari ini." keluhnya, seraya memastikan sekali lagi barang bawaan Kayla aman.


"Santai sedikit, Ay. Ace tidak akan memarahi kamu meskipun terlambat."


"Bukan itu Ace! Pagi ini pukul delapan ada meeting terakhir untuk persiapan pembangunan proyek. Aku tidak boleh terlambat datang."


Lucas hanya mengangguk paham. Setelah semua barang-barang Kayla siap. Pria itu membawa Kayla dalam gendongannya tanpa membangunkan gadis kecil itu dulu.


Ayara mengekor dari belakang. Ia memasukkan tas ransel Kayla ke dalam mobil belakang Lucas.


"Luc, aku titip Kayla, ya. Nanti kalo dia bangun, jangan lupa untuk menelpon ku." Tutur Ayara memberikan pesan.


"Is't oke, aku akan menghubungimu nanti setelah dia bangun. Kamu hati-hati menyetirnya, meskipun telat tetap harus hati-hati. Jangan terlalu terburu-buru untuk sampai ke kantor."


"Aku tahu," ucap Ayara.


Ayara mencium kening gadis kecilnya. Setelah itu menutup pintu depan mobil Lucas. Ia berpamitan sekali lagi, sebelum masuk ke dalam mobilnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2