Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy.28


__ADS_3

Hubungan mereka diawali dengan perselingkuhan. Reina sangat mengerti balasan apa yang akan dia terima. Namun, tidak bisakah dia berharap sedikit saja kesetiaan dari suaminya.


Cinta yang dipaksakan, cinta yang terus menerus ditekankan dengan ucapan. Tanpa tahu penyebab utama kebahagiaan itu adalah sebuah ketulusan. Ternyata tidak seindah yang dia bayangkan.


Suara gemericik air di wastafel terdengar. Tetes demi tetes bulir bening itu terus mengalir.


"Mau sampai kapan nangis di situ?" tanya Araya dengan bersedekap dada. Tubuhnya bersandar di meja bar kitchen.


"A--Aya," gugup Reina sambil segera membasuh tangannya yang penuh busa. Ia segera menggelap tangan, lalu berbalik menatap Ayara.


"Kamu tahu sendiri bagaimana sifat bang Arkan. Seharusnya kamu pulang aja ke rumah suami kamu. Kenapa malah menyusahkan diri sendiri begini?"


"A--aku sendirian di rumah. Mas Doni sedang dalam perjalanan dinas."


Ayara mengangkat bahunya acuh. Beralih ke lemari pendingin, lalu mengambil susu untuk di minum putrinya.


"Terus anak kamu? Sama Tante, Tia?" tanya Ayara santai.


"Aku belum memiliki anak, Ya. Yah, mungkin belum diberi kepercayaan sama--"


"Tunggu!" Ayara menghentikan kegiatannya. Kepala menoleh ke belakang. Menatap lama wajah dan mata Reina yang masih berdiri kikuk dekat wastafel.


Jadi Reina dan Doni belum memiliki anak? Terus anak siapa yang bertemu dengannya bersama Sofia dan Doni waktu di sekolah Kayla.


Tatapan rumit itu terus terarah. Tajam menusuk, hingga membuat Reina semakin gugup. "Kamu belum punya anak?" tanyanya sekali lagi memastikan.


"Iya, aku terus keguguran, Ay. Terakhir dua tahun lalu, keguguran di kandungan usia 7 bulan. Bayinya meninggal di dalam karena tidak sengaja terkena benturan. Aku dan Doni sedikit mengalami insiden kecelakaan lalu lintas."


"Kamu yakin tidak memiliki anak usia sekitar 4-5 tahun-an?" desak Ayara masih kurang yakin.


"Astaga, apa yang kalian bicarakan." Sheila tiba-tiba bergabung bersama mereka. Wanita berwajah campuran itu mendekati adik iparnya, lalu tanpa permisi meminum susu yang tadi Ayara tuang ke gelas, "Aku ingin bergabung," imbuhnya.


"Kak, itu untuk keponakan mu. Kenapa kamu habiskan!"


"Benarkah? Wah... Aku tidak sengaja. Sorry," kekeh Sheila tanpa rasa bersalah. Ayara hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah iparnya ini.

__ADS_1


Sikapnya 11, 12 dengan sang kakak. Tapi masih sedikit lebih mending, karena mulutnya tidak terlalu tajam seperti kakaknya.


"Sekarang di mana gadis kesayangan ku itu?" tanya Sheila sembari mencari-cari ke segala arah.


"Masih di kamar, Kak."


Sheila mengambil gelas yang baru. Lalu menuangkan susu baru untuk Kayla, "Aku akan membawanya. Nikmatilah waktu berbincang kalian. Aku tidak jadi mengganggu."


Ayara mendelik malas. Setelah langkah Sheila cukup jauh. Ayara kembali berbicara pada Reina.


"Rei, kembali ke pembicaraan kita. Apa hubunganmu dengan Doni baik-baik saja?" selidik Ayara penuh rasa curiga.


Di dalam pikirannya Ayara sudah bisa memastikan jika suami sepupunya ini benar-benar berselingkuh. Tapi siapa selingkuhannya dia tidak tahu?


Apa tebakannya benar, Sofia? Tapi bukankah wanita itu bilang kalau dia memiliki suami yang memiliki bisnis kuliner sederhana?


"Ka--kami baik, Ay. Tidak ada apapun yang terjadi."


Bola mata Reina berulangkali melirik ke kanan. Mencari-cari jawaban yang tepat untuk pertanyaan sepupunya ini.


Tidak mungkin dia mengatakan bahwa Doni telah berselingkuh di belakangnya, hanya karena dia belum bisa memberi pria itu anak.


Ayara sengaja tidak memberitahu tentang pertemuannya dengan Doni di sekolah Kayla. Biarlah Reina mencari tahu sendiri. Ia tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga sepupunya itu.


Meskipun demikian, jika nanti ia diberi kesempatan untuk bertemu dengan Doni lagi. Dia tidak akan segan untuk mencecar pria itu dengan pertanyaan.


Jika sampai pria itu benar-benar berselingkuh lagi. Ayara pastikan! Kali ini pun, Reina akan ia tarik kembali ke dalam rumah Pramana.


Tidak ada kata maaf untuk penghianat. Tidak ada kata pengecualian untuk perselingkuhan. Apapun alasannya, selingkuh adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal.


Dan dalam kamus Ayara! pria yang ketahuan selingkuh harus ditinggalkan apapun alasannya. Cinta tidak akan membawa kebahagiaan selamanya.


Buktinya, perlahan berjalan waktu. Cintanya yang dulu begitu besar untuk Doni hilang terbuai oleh waktu.


"Aku tahu, Ay. Tapi aku yakin Doni tidak akan berbuat sama seperti masa lalu," sangkal Reina gengsi.

__ADS_1


"Aku harap juga begitu." jawab Ayara sedikit ketus karena Reina kembali membahas masa lalu mereka. Apa hubungannya coba?


"Maaf, Ay. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung mu, apalagi membuka luka di masa lalu. Tapi aku hanya yakin suamiku tidak begitu."


"Hummm..." Gumam Ayara seadanya lalu beranjak dari sana. Meninggalkan Reina sendiri di dapur. Entah apalagi yang dilakukan oleh sepupunya itu Ayara tidak peduli.


Hatinya sedikit teriris kembali ketika dia mengingatkan kenangan silam.


***


Di sisi lain, Brian mengikuti langkah Ace yang berjalan dengan tegap menuju ruang rapat. Pria berpostur tinggi itu memasuki ruangan tanpa suara.


Ruangan yang sebelumnya penuh dengan suara, mendadak sunyi dengan atmosfer yang sedikit mencekam.


"Jadi ada keluhan apa?!" Ace mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya dengan santai. Namun tatapan mata pria itu dingin dan membunuh.


Seorang pria berbadan gemuk, dengan badan sedikit bergetar memberanikan diri untuk menjawab.


"Tuan.Ace, kami tidak setuju jika proyek ini juga akan bekerjasama dengan A'F Copration. Mereka menggandeng perusahaan luar yang bahkan tidak bergerak di bidang konstruksi sama sekali. Kami khawatir ini terlalu beresiko untuk proyek dan uang yang kami investasikan, Tuan."


"Ada lagi?!" tanya Ace masih dengan wajah santai namun terkesan datar.


"Proyek ini bernilai miliaran rupiah, Tuan. Tapi jika terlalu banyak yang ikut andil. Tidak menutup kemungkinan, kita bukannya mendapatkan keuntungan melainkan kerugian."


Ace menganggukkan kepalanya mengerti. Ia kemudian menandai dua orang yang baru saja berbicara. Begitupun dengan Brian yang segera mencoret merah nama dua orang pengusaha itu.


"Ada lagi yang keberatan?!" kali ini suara itu sedikit merendah. Menimbulkan ketakutan untuk lawan bicaranya.


"Biar saja jelaskan. Rumor yang kalian maksudkan itu tidak memiliki bukti yang falid. Pihak Hayakawa masih bungkam dan tidak bersuara. Selain itu ini proyek saya, yang meminta bekerjasama dengan Hayakawa. Sangat kecil kemungkinan akan ada perubahan signifikan yang akan merugikan kedua pihak. Selain itu, Rhys dan A'F Copration bisa saja bekerja sama untuk hal yang lain, kita tidak tahu. Dan juga perlu kalian ingat, putra pertama keluarga Pramana adalah menantu paling bungsu Tuan. Tomo! Selain itu, saya yakin kalian sudah mendengar jika proyek ini sudah mulai berjalan meskipun baru 5%-nya saja, dan Grand Manager pelaksanaan yang diutus oleh pihak Hayakawa adalah putri bungsu Tuan.Pramana."


Ace menatap satu persatu para investor itu dengan sedikit tajam. Ia memang tidak suka jika kinerjanya diragukan. Seharusnya hal sekecil ini menurutnya tidak harus ia jelaskan.


Hayakawa Grub adalah perusahaan besar yang telah bertebaran di berbagai negara. Mereka selalu memperhitungkan keuntungan, dan selalu mengambil resiko yang sangat minim kerugian.


"Yang masih ragu dengan ucapan saya, silahkan hubungi PA saya, Brian. Dan next, kalian tidak akan mendapatkan kesempatan untuk berinvestasi lagi dengan kami. Kerjasama ini tidak begitu merugikan saya jika harus berakhir! Terimakasih."

__ADS_1


Ace berdiri, lalu pergi begitu saja dari sana. Rasa kesalnya menumpuk, baru saja ditinggal beberapa jam oleh Ayara. Wajah wanita cantik itu sudah terngiang-ngiang dipikirannya.


Aku bisa gila memikirkannya, keluh Ace mengacak rambutnya kasar.


__ADS_2