
"Aya kalian dari mana?" Ace bertanya dengan menggebu-gebu. Ia pikir Ayara pulang lebih dulu karena Kayla merengek. Apalagi berulangkali ia menelpon Ayara tidak mengangkatnya.
Mata Ayara menusuk tajam pada Ace. Matanya menggulir, ia juga melihat sosok Joelyn yang duduk santai di sofa seraya menatapnya sinis.
Mengabaikan pertanyaan Ace. Wanita itu membuka lacinya, mengambil tas dan juga ponsel yang tadi ia tinggalkan. Ayara memang hanya keluar membawa beberapa ratus ribu cash sebelum ini.
"Sebentar, ya sayang." Ayara berucap lembut pada Kayla. Wanita itu segera membereskan beberapa dokumen untuk dibawa pulang. Ia tidak mau disini berlama-lama. Bisa-bisa mental putrinya terganggu.
Ketika membereskan beberapa dokumen. Ace mendekatinya, menghentikan gerakan tangan Ayara dengan menggenggamnya.
"Kamu kenapa? Terjadi sesuatu?" tanya Ace khawatir.
Ayara masih tidak menjawab. Ia menepis tangan pria itu, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
"Wajahnya memang mirip denganmu, Sayang. Apa tidak mau urus hak asuhnya saja? Kita bisa membesarkan bersama Alex. Tambah satu anak tidak masalah bukan?" celetuk Joelyn membuat Ayara berhenti. Wanita itu melirik Ace sekilas, kemudian kembali membereskan dokumen.
"Joelyn...!" desis Ace murka mencoba menahan diri agar tidak memukul wanita itu dihadapan anak-anak.
"Kenapa Sayang? Aku benarkan. Lagipula aku yakin kamu mendekatinya sama sepertiku yang melahirkan anak untukmu, kan. Ayolah Ace, berikan saja dia kompensasi sebagai ibu yang melahirkan putrimu." Ayara menggenggam erat kepalan tangannya. Tidak bisa! Dia sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi di sini.
"Mom, apa yang dibicarakan bibi itu?" tanya Kayla tidak mengerti.
Ayara ingin menangis sekencang-kencangnya mendengar pertanyaan Kayla. Putrinya itu sangat pintar, dan cerdas. Tidak mungkin dia bisa dibohongi. Hanya dengan sedikit mencerna kata-kata Kayla pasti langsung menganalisisnya hingga mendapatkan jawaban sendiri.
"Tidak usah dipikirkan, Kay. Ambil tas-mu di kamar istirahat Om Ace sekarang. Kita pulang!" titah Ayara dengan suara sedikit bergetar menahan sesak di dadanya.
Kayla menatap ibunya khawatir. Lalu memperhatikan wajah puas Joelyn, kemudian beralih pada wajah cemas Ace.
"Kayla mengerti, Mom." Tanpa banyak bicara, Kayla berjalan menuju kamar istirahat Ace. Mengambil tas ranselnya, lalu menghentikan langkahnya sejenak.
"Dia daddy-ku," bisik Kayla entah pada siapa. "Tapi Mommy-ku menangis," lanjutnya lagi. Matanya berkaca-kaca ingin menangis. Tapi dia harus tetap diam, tidak boleh menangis. Jika Kayla menangis di sini, ibunya juga pasti akan menangis.
Kayla tahu ibunya menahan tangis karena dirinya. Dia juga harus melakukan hal yang sama. Lupakan tentang ayahnya yang bahkan membuat ibunya menangis.
__ADS_1
"Mommy, Kayla sudah siap."
Ayara menarik tas, memasukkan ponsel. Lalu bergegas membawa berkas-berkas.
"Ay, Ayara tunggu dulu. Jangan dengarkan ucapannya. Itu tidak benar, Ay. Please..." Ace menahan pergelangan tangan Ayara. Pria itu tidak ingin Ayara keluar dari ruangan ini dengan kesalahpahaman.
"Lepaskan, Pak!" Ace melepaskan tangan Ayara. Namun segera menghalangi jalannya.
"Ay, jangan begini. Dia hanya berbohong."
"Aku juga hanya ingin mengantarkan putriku pulang!" ketus Ayara mencoba untuk tetap terlihat tegar dan tidak terpengaruh apapun dengan ucapan Joelyn barusan.
"Sayang..." lirih Ace.
"Mommy, aku ingin bertemu dengan Uncle Lucas." pinta Kayla tiba-tiba. Memotong perdebatan antara Ayara dan Ace.
Ace memfokuskan dirinya pada Kayla. Pria itu berjongkok ingin menyentuh bahu Kayla. Tetapi gadis kecil itu menghindar.
"Ayo, Mom." ajak Kayla mendesak Ayara.
"Ace, bagi Kayla Lucas adalah pengganti sosok daddy-nya yang tidak pernah ada. Hanya karena Lucas tengah berada jauh di luar sana bukan berarti dia tidak akan pulang untuk putri kecilnya. Kedepannya, aku mohon untuk fokus saja ke anak dan istrimu--"
"Dia bukan istriku, Ayara. Dia cuman pelacur yang melahirkan anak untukku!" teriak Ace frustasi karena tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada wanitanya ini jika dia belum menikah.
"Oke, anggap saja begitu. Tapi tetap kau harus fokus ke mereka. Bukan padaku dan putriku!"
"Dia juga putriku!" tekan Ace tanpa peduli lagi jika ucapannya barusan akan melukai hati anak yang ia sebut putri itu.
"Om Lucas tidak pernah berbicara keras dengan Mommy-ku." isak Kayla membuat Ace menjadi semakin kalang kabut.
Ayara menatap Ace dengan ekspresi datar. Menggendong Kayla dalam dekapannya, "Kayla anak yang pintar, Ace. Tanpa kau menyebutkan bahwa kau ayahnya dia sudah tahu tentang itu. Tidak usah berteriak padaku untuk memberitahu kami statusmu."
Setelah mengatakan itu, Ayara meninggalkan ruangan itu. Membawa Kayla dalam gendongannya. Di luar ruangan, Dewi dan Brian menatap Ayara dengan tatapan kasihan. Terutama Dewi yang baru mengetahui fakta bahwa yang selama ini digosipkan ternyata juga ibu dari anak teman ayahnya itu.
__ADS_1
Mereka bahkan sama-sama belum menikah. Tapi yang dibicarakan hanya Ayara saja. Dewi merasa itu tidak adil.
***
Tiba di rumah, Ayara membawa Kayla yang tertidur. Ia menggendongnya sampai ke kamar lalu menidurkan putri kecilnya di kasur.
Tidak lupa ia juga menghubungi Lucas melalui pesan chat. Mengatakan pada pria itu jika Kayla baru saja mengetahui fakta tentang ayah kandungnya, dan gadis itu malah merindukan Lucas.
Setelah memastikan pesan terkirim. Ayara keluar dari kamar Kayla. Memasuki kamarnya lalu menangis sejadi-jadinya di sana.
Ini adalah kali kedua ia menangis semasa usianya dewasa. Saat pengkhianatan Doni, dan saat mendengar ucapan Joelyn yang meminta Ace merebut hak asuh putrinya.
Memangnya apa hak mereka?
Ayara juga menyadari jika ucapannya di cafetaria kantor terlalu berlebihan. Nyatanya, dia tidak memiliki kekuasaan sekuat itu untuk menghentikan kerja sama antara Hayakawa dan AMC hanya karena masalah pribadi.
Pengajuan pergantian personil saja masih butuh beberapa minggu lagi agar penggantinya siap dan bisa terbang ke Indonesia.
"Aku sudah berjuang sejauh ini, Ya Tuhan. Apa tidak ada kebahagiaan untukku berang sedikit saja?" lirihnya disela-sela Isak tangisnya.
Tanpa Ayara sadari. Di dalam kamarnya Kayla juga menangis dalam diam. Anak kecil itu sejujurnya sangat ingin memeluk sang Ayah.
Dia ingin tahu rasanya dipeluk dengan penuh cinta oleh seorang ayah. Tetapi melihat kesedihan yang terpancar dari mata Ayara. Kayla merasa berkhianat jika dia memeluk sang ayah.
Kayla tidak boleh berkhianat. Ibunya membesarkannya dengan penuh perjuangan seorang diri. Uncle Lucas selalu menceritakan perjuangan Ayara untuk melahirkannya.
Mulai dari menolak menggugurkannya. Ingin mengajaknya meninggalkan dunia bersama. Bekerja banting tulang saat hamil dengan penuh semangat karena memikirkan masa depannya.
Lalu bagaimana Kayla bisa mengkhianati ibunya. Tidak apa-apa. Kayla akan memendamnya sendiri saja sekarang. Dia akan memperhatikan ayahnya dari kejauhan saja. Setidaknya dia tahu siapa ayahnya.
"Aku sekarang punya ayah," cicit Kayla pada salah satu bonekanya. "Kau dengar Tuan serigala, Nona kelinci. Aku sudah tahu siapa ayahku sekarang. Aku senang sekali," tuturnya dengan air mata mengalir.
Sedih rasanya melihat seorang anak yang dipaksakan untuk dewasa sebelum usianya. Bagaimana caranya dia bisa setegar itu memikirkan perasaan sang ibu yang telah berkorban nyawa juga harga diri demi mempertahankan kehidupannya.
__ADS_1
"Aku mencintai Mommy-ku Tuan Serigala. Aku tidak berdosa dengan ayahku, kan? Dia kan baru datang. Aku tidak mau melihat Mommy bersedih."