Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy. 8


__ADS_3

Ayara beserta putri cantiknya telah tiba di Indonesia. Saat ini mereka telah berada tepat di depan gerbang rumah sederhana yang akan menjadi tempat tinggal mereka untuk kedepannya. Ayara mendapatkan fasilitas rumah sederhana satu lantai dari kantor. Namun, meskipun rumah ini sederhana lingkungannya cukup nyaman, juga aman.


Halamannya juga cukup luas. pagar-pagar besi yang sedikit berkarat tidak terlalu terlihat karena tertutup tanaman pagar yang telah dirapikan. Sebatang pohon mangga yang tidak terlalu besar, juga taman bunga kecil yang menjadi hiasan di sekitar teras.


"Mommy, lihat! Ada buah mangga. Apa aku boleh mengambilnya." pekik Kayla kegirangan.


"Boleh, tapi itu masih muda. Nanti tunggu buahnya matang ya, sayang."


"Apa buahnya akan sebesar yang diberikan Om Lucas?"


"Entahlah, mommy kurang tahu. Kita tunggu saja dia matang, oke."


"Oke!" Kayla mengacungkan dua jempolnya. Kemudian segera berlari menuju pohon itu untuk melihat lebih dekat. Mata anak itu terlihat berseri, suara tawa karena senang melihat buah mangga yang masih kecil-kecil terdengar membahagiakan.


Ayara hanya tersenyum melihat tingkah putrinya. Betapa mudah membuat anak itu bahagia. Hanya dengan melihat dan mempelajari hal-hal baru saja dia sudah sebahagia itu. Bagaimana jika nanti dia memiliki kesempatan untuk bertemu sosok ayahnya? Apa dia akan lebih bahagia?


Tapi bagaimana dia bisa mempertemukan putrinya dengan sosok sang ayah. Jika ia, mengingat sosoknya saja tidak.


Menggelengkan kepalanya karena berpikir terlalu jauh. Ayara meminta supir taksi yang mengantar mereka untuk menurunkan barang-barang dan membantu membawanya ke teras rumah.


Ketika membuka pintu rumah. Ayara disambut dengan ruang tamu yang diisi sofa dan televisi, serta lukisan-lukisan cantik di dinding. Masuk lebih dalam, ia mendapatkan satu ruangan lagi yang sepertinya masih kosong dan terhubung ke arah dapur. Dari sini, ia juga terhubung dengan dua pintu kamar yang berlawanan arah.


Ayara masuk ke dalam kamar. Ternyata di dalam kamar juga sudah dilengkapi dengan kamar mandi. Ini tidak buruk sama sekali. Cukup besar, dan nyaman untuk tempat tinggal seorang ibu, juga anak kecil yang masih berusia 4 tahun.


"Mommy, Mom. Di mana kamarku?" tanya Kayla dengan antusias. Gadis kecil itu terus-menerus berlari, mengelilingi seisi rumah hingga ke dapur.


"Jangan berlarian, Nak. Nanti jatuh!" peringat Ayara. Ia kembali ke luar kamar, dan membuka kamar satunya. Isinya tidak jauh berbeda dengan kamar sebelumnya, hanya sedikit lebih sempit. "Sini, kamar Kayla di sini, ya. Tapi kalo Kayla masih takut, untuk sementara Kayla tidur dengan mommy dulu, ya."


"Siap, Mom."


Setelah beristirahat beberapa saat. Ayar mengajak putrinya untuk beres-beres rumah, dan mulai mengisi keperluan mereka. Seperti sayuran, buah-buahan, dan beberapa perabotan rumah tangga yang belum lengkap.


Ayara dan Kayla berpose layaknya seorang pembersih handal yang tengah foto shoot. Dengan Ayara yang memegang Sapu dan pengepel lantai, serta Kayla kecil yang memegang ember dan kain pengelap jendela.


"Oke, ayo kita kerjakan ini little girl." Teriak Ayara dengan semangat.

__ADS_1


"Let's go!" Ibu dan anak itu mengangkat kepalan tangan mereka tinggi. Perlahan tapi pasti, mereka mulai mengerjakan pekerjaan rumah. Di mulai Ayara yang menyapu lantai, Kayla yang mengelap seluruh meja dan kursi. Dilanjutin dengan Ayara yang mengepel lantai, dan Kayla yang ikut membantu dengan kain kecilnya.


Alunan suara musik dari Katty Perry, dan Avril Lavigne menemani pekerjaan mereka selama kurang lebih dari dua jam. Setelah semuanya selesai, Mereka terkapar di lantai ruang kosong sebelumnya.


"Haa... haa... haa..." deru nafas ibu dan anak itu terdengar jelas. Tidak lama kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak. "Capek?" tanya Ayara lembut.


"Aku mau es krim."


"Kalo begitu, ayo kita mandi. Dan berbelanja hari ini!" ajak Ayara penuh semangat.


"Beli es krim!" timpal Kayla tak kalah kencang, dengan suara kecilnya yang menggemaskan.


__________


Kayla kecil lagi-lagi sangat antusias ketika melihat-lihat di dalam salah satu mall yang cukup terkenal di Jakarta. Jika bukan Ayara berkali-kali memperingati anak itu agar tidak melepaskan tangannya. Mungkin saja Kayla telah hilang berlarian di kerumunan orang-orang asing ini.


"Ayo kita ke tempat es krim!" ajak Ayara.


Kayla mengangguk dengan penuh semangat. Langkah kecil gadis itu terlihat menggemaskan karena dipaksa melebar dan sedikit berlari untuk segera sampai ke tujuan.


"Aku bukan anak kecil, Mom. Ayo, cepatlah. Jalan saja yang benar," ucap Kayla seolah ia yang lebih mengkhawatirkan langkah ibunya.


Tersenyum tipis. Ayara mengikuti langkah putrinya yang seketika mau menjadi penuntut jalan. "Eits... Ke kanan little girl, bukan ke kiri."


"Ouh oke, ke kanan."


Ayara lagi-lagi terkekeh gemas. Ada-ada saja tingkah Kayla yang bisa membuatnya tertawa bahagia.


Tiba di tempat es krim. Mereka memesan satu cup besar es krim, juga beberapa cemilan lain. Dan kemudian menunggu di salah satu meja yang memperlihatkan langsung situasi yang ada di lantai dasar, dan seberang.


"Ayara! Kamu Ayara kan?! OMG! ini beneran kamu, Ay." pekik seorang gadis tiba-tiba, membuat Ayara dan Kayla terkejut bukan kepalang, "Siapa dia? Apa dia keponakan ku dulu?" imbuhnya lagi bertanya dengan antusias.


"Mommy, aunty ini terlihat tidak baik." komentar Kayla membangunkan Ayara dari keterkejutannya.


"I--iya, El. Dia putriku," jawab Ayara sedikit canggung.

__ADS_1


"Mommy, you okay?" Gadis kecil itu beringsut turun dari tempat duduknya, dan berpindah ke sebelah ibunya. "Apa dia orang jahat?" tanya Kayla lagi.


"Wow... wow... wow... keponakan kecil. Bibi mu ini bukan orang jahat oke, aku teman dekat ibumu. Sahabat. Seperti keluarga." jelas Elena bersemangat. Tanpa permisi, wanita itu mendudukkan tubuhnya di depan ibu dan anak itu secara berhadapan.


"Benarkah, Mommy?"


"Iya, sayang. Dia bibimu, teman mommy. beri salam, gih."


Kayla mengikuti ucapan ibunya dengan patuh. Gadis itu mendekati Elena, dan mengulurkan tangannya. "Hallo, bibi. Nama saya Kayla, senang bertemu denganmu."


Elena seketika menangkap tangan kecil itu dengan kedua tangannya. Dengan mata berbinar haru, "Astaga, keponakanku ini cantik sekali. Aku mencintaimu, sayang. Langsung jatuh cinta padamu,"


Mata elena kemudian mendelik tajam menatap pada Ayara. Lalu berkata dengan ketus, "Kau berhutang banyak penjelasan denganku juga Sofia, Aya. Kau harus menceritakan semuanya!"


Namun itu tak berselang lama. fokusnya kembali tertuju pada Kayla, "Yakz! Cantiknya," pekik wanita itu riang.


Setelah adegan penuh haru dan pujian itu terjadi. Ayara dan Elena mulai saling bertukar cerita sederhana. Seperti bagaimana perjuangan Elena untuk lepas dari pertunangan toxic yang tidak berguna. Juga bagaimana cara Ayara bisa kabur dan menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun lima tahun lalu.


Ayara benar-benar meminta maaf pada Elena dan Sofia. Ia tahu betul jika kedua sahabatnya itu pasti akan sangat mengkhawatirkannya. Namun, saat itu Ayara putus harapan. Ia hanya kehilangan akan dan berusaha bunuh diri. Beruntung ada pemuda baik yang menolongnya, dan membantunya untuk pergi mencari kakaknya.


"Ngomong-ngomong, aku butuh pengasuh untuk Kayla. Apa kau punya kenalan yang bisa menjadi pengasuh dan bisa di percaya?" tanya Ayara penuh harap.


"Aku saja!" Elena menjawab pertanyaan itu dengan cepat.


"Aku sedang tidak bercanda, El. Aku serius."


"Aku juga, lagipula aku bosan setiap hari hanya berkeliling untuk belanja dan liburan." celetuknya tanpa beban. Hal itu tentu saja membuat Ayara tak urung segera mencibir karena iri.


"Apa kamu bisa di percaya?" tanya Ayara menyelidik.


"Tentu saja, percayakan padaku. Lagipula ini baik untukku, siapa tahu nanti aku diberi tuhan kepercayaan untuk memiliki anak secantik, dan seimut Kayla."


Uhuk... Ayara sontak tersedak minumnya sendiri. "Kamu belum menikah, Elena." desisnya kesa.


"Ya, kan gak salah aku berharap dulu."

__ADS_1


Ayara dan Kayla kompak menghembuskan nafas lelah yang panjang. Ternyata Elena tidak banyak berubah, bahkan terlihat semakin menjadi-jadi. Astaga!


__ADS_2