
5 tahun kemudian...
Pagi hari di kota London, Britania Raya. Ayara baru saja selesai menata barang-barangnya ke dalam koper. Ada empat koper besar di sana yang sudah terisi penuh dengan barang-barang. Setelah 5 tahun berlalu, sekarang saatnya ia kembali ke Indonesia karena masalah pekerjaan.
"Sudah selesai semua, Ay?" tanya Sheila sembari menggendong seorang anak perempuan cantik berusia 4 tahun lebih.
Ayara mengangguk, kemudian ia tersenyum manis menatap anak di pelukan kakak iparnya itu. Kayla Putriana, anak dari hasil kesalahannya lima tahun lalu telah tumbuh menjadi anak yang cantik dan cerdas. Gadis kecil itu sangat pandai bermain alat musik seperti biola, piano, dan Harmonika. Kecerdasannya dalam menanggapi pelajaran juga tidak bisa diragukan.
Terkadang Ayara menjadi takut sendiri. Takut jika nanti ia dibodoh-bodohi oleh putrinya sendiri.
"Kay, bagaimana barang-barang mu? Sudah semua?" tanya Ayara lembut.
"Of course, Mommy. Mom, kata aunty kita akan pergi ke tempat asal mommy, dan uncle. Apa mommy tidak akan menangis?" tanya Kayla polos.
Mendengar pertanyaan spontan dari putrinya. Ayara tersenyum haru, begitulah putrinya. Selalu mengutamakan perasaannya dari pada dia sendiri. Terkadang Ayara sendiri merasa bersalah karena tidak bisa mengatakan siapa ayah dari anaknya itu.
"Ouh... sayangku, tentu saja mommy tidak apa-apa. Apa kamu sudah menanyakan pada aunty? Mommy rasa dia akan kesepian saat kita pergi."
"No, No, No. Aunty akan menyusul kita Mommy, tenang saja. Iya, kan Aunty?" tanya Kayla kecil meminta pembenaran dari tantenya itu.
"Tentu saja. Aunty tidak akan membiarkan kalian bersenang-senang lama tanpa aunty." ujar Sheila bersemangat menanggapi ocehan Kayla.
"Ngomong-ngomong, kamu yakin mau balik ke Indonesia, Ay. Ya, maksud kakak, kamu tahu sendiri, kan. Abang mu, sampai tadi pagi dia juga kurang setuju."
"Mau bagaimana lagi, Kak. Perusahaan mengirim ku ke sana untuk proyek kerjasama dengan AMC, mau gak mau aku harus profesional dong. Tidak mungkin aku menyepelekan pekerjaan yang aku dapatkan dengan susah payah tanpa ijazah ini." Keluh Ayara pasrah.
"Benar juga, ini juga salah papa. Bisa-bisanya dia malah mengirim kamu ke sana!" ujar Sheila berapi-api.
"Sudahlah, Kak. Lagipula Om Tomo juga pasti ingin aku lebih berkembang lagi, kan."
"Ckk... Kamu ini. Mau-maunya ngebela tua bangka itu!" kesal Sheila.
"Kak, dia--"
"Papa kakak, i know, Ay."
_________
__ADS_1
Dibelahan bumi lain, lebih tepatnya Indonesia. Ace masih sibuk dengan berkas-berkasnya. Tidak ada waktu untuk beristirahat, selain menghabiskan waktu bersama para wanita-wanita penghibur.
"Tuan, Nona Joelyn meminta waktu untuk makan malam bersama di sebuah acara pertemuan dengan teman-temannya."
"Aku sibuk."
Brian yang mengerti mengangguk patuh. Ia kemudian kembali berbicara dengan Joelyn yang menunggu jawaban di sebrang sana.
"Tuan, kata Nona Joelyn ini Tuan kecil yang meminta." Ace menghentikan pergerakan tangannya. Kemudian menatap Brian dengan tajam tanpa bersuara.
"Aku akan menolaknya, Tuan."
Setelah mendengarkan cecaran dari Joelyn. Brian menghembuskan nafas lega. Beginilah kegiatannya selama tiga tahun terakhir, dimulai dari kelahiran putra dari tuannya ini.
Ia harus terjebak diantara dua orang buas yang sama-sama mementingkan ego, dan keinginan mereka masing-masing. Sehingga acap kali dia yang harus menjadi korban.
"Bagaimana perkembangan pencarian gadis itu?" tanya Ace tanpa menatap Brian sama sekali.
"Masih belum ada kemajuan, Tuan. Sepertinya Nona Basagita sudah tidak berada di Indonesia lagi. Kami sudah mengerahkan orang ke segala penjuru tetapi tetap belum mendapatkan hasil, Tuan."
"Apa benar tidak ada jejak penerbangan ke luar negeri?" selidik Ace mulai curiga.
Ace menghentikan kembali pekerjaannya. Kembali berpikir, lalu bangun dari tempat duduknya.
"Hubungi Batara, aku butuh teman." titahnya, yang mana membuat Brian menghembuskan nafas panjang.
Iki sibik, cihh... sibuk dari mananya, pada akhirnya nyari perempuan juga kan. Ya Tuhan kuatkan iman hamba! batin Brian meringis.
____________
"Dari mana kamu, Mas?" tanya Reina pada Doni yang baru saja pulang.
"Kantor."
"Bohong! Asisten kamu bilang, kamu sudah pulang dari tadi. Kamu kemana, Mas?!"
"Kamu nuduh aku selingkuh?" tanya Doni dengan mata menyipit tidak percaya.
__ADS_1
"Aku cuman nanya kmu ke mana, Mas. Bukan nuduh kamu selingkuh! Atau jangan-jangan kamu memang selingkuh?!"
"Jangan asal nuduh kamu, ya. Aku ini sibuk kerja, Rei. Dari pagi ke malam cuman kerja, kapan aku punya waktu buat selingkuh?"
"Dulu kamu juga gitu, dari pagi ke malam kamu sibuk ngurusin Aya, kan. Mastiin dia makan, mastiin dia pulang dari mabuk sampai ke rumah, mastiin dia pulang pergi gak bareng cowok lain, mastiin dia gak diincar cowok lain. Kenyataannya, kamu masih bisa selingkuh dan ngabisin waktu sama aku!" sentak Reina berapi-api.
Doni yang mendengar Ayara kembali dibawa-bawa dalam pertengkaran rumah tangga mereka menghembuskan nafas. Setelah 5 tahun berlalu, dan Ayara bahkan tidak tahu keberadaannya dimana sampai sekarang. Malah terus terbawa dalam permasalahan rumah tangga mereka.
"Sudah cukup ya, Rei. Kenapa kamu selalu bawa-bawa Ayara!" Doni berjalan meninggalkan Reina menuju lantai atas. Ia capek terus menerus menghadapi Reina yang selalu tempramental setelah calon anak pertama mereka keguguran.
"Aku gak bawa-bawa, Ayara. Aku cuman bicarain fakta, kalo kamu itu memang begitu."
Reina menatap Doni dengan tajam. Ikut mengekor dari belakang, berusaha mengimbangi langkah suaminya.
"Kamu tinggal bilang, Mas. Kamu pergi sama siapa, terus kemana? Sudah!" imbuhnya lagi.
"Aku kerja, Rei. Meeting sama investor, kamu kenapa sih nuduh-nuduh gak jelas." jawab Doni mulai muak. Pria itu membuang sepatunya sembarangan, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu selingkuh, kan. Sofia melihat kamu masuk hotel dengan perempuan lain." Ucap Reina dengan suara bergetar. Pada akhirnya, ia juga merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Ayara sebelumnya.
Doni membuka pintu kamar mandi. Menatap Reina dengan tatapan tidak percaya. "Sofia bilang siapa perempuannya?"
"Benar kan, Don?!" desak Reina kembali bertanya.
"Mas, Reina. Aku suami kamu!" peringat Doni tidak percaya. "Aku tidak pernah masuk hotel dengan perempuan lain, Rei. Sofia itu sahabat Ayara, wajar jika dia ingin memfitnah aku dan membuat rumah tangga kita semakin berantakan."
"Jangan lupakan jika dia juga sahabat aku sebelumnya."
"Rei,"
"Katakan kamu selingkuh sama siapa, Mas?!"
Plak... Doni menampar Reina dengan keras. "Aku tidak selingkuh!" kesalnya.
Reina yang mendapatkan tamparan keras menoleh ke samping kanan. Tangannya terangkat perlahan untuk menyentuh pipinya yang terasa kebas dan panas. Sedangkan Doni, pria itu menyadari bahwa dia sudah keterlaluan.
"Rei, Aku--"
__ADS_1
"Aku tidak menyangka jika perempuan itu lebih berharga untuk kamu, Mas. Aku tidak akan bertanya lagi. Next time, jangan pulang ke rumah ini jika sudah lebih dari pukul 12 malam."
Reina berbalik, dan keluar dari kamar. Tempat tujuannya adalah kamar yang sebelumnya telah didekorasi untuk ruangan bayi.