
Ayara tiba di kediaman Pramana dengan selamat. Dengan langkah gontai, ia segera mencari-cari keberadaan putrinya.
Saat ini masih sore, belum berganti hari. Tadinya Ayara pikir Ace akan mengajaknya untuk menyelesaikan masalah di kantor. Tapi ternyata, pria itu malah menyuruhnya untuk pulang dan beristirahat.
Cukup pengertian, tapi Ayara tidak tertarik. Bukan sesuatu yang benar-benar tidak tertarik, lebih tepatnya berusaha untuk tidak tertarik.
Di cap sebagai pelakor sungguh bukan rencananya untuk ke depan. Jadi, lebih baik menghindarinya dari pada harus menghadapinya bukan?!
Tap... tap...
Gema suara heels yang beradu dengan lantai marmer berwarna hitam keabu-abuan itu terdengar jelas. Dari ruang tamu, Ayasa melihat kehadiran putri bungsunya dengan tatapan rindu. Namun, lagi-lagi rasa gengsinya membuat dia melakukan hal yang berbeda dengan isi hatinya.
"Tahu juga jalan pulang?" sarkas Ayasa menohok.
Ayara menghentikan langkahnya sejenak. Matanya menatap rindu pada sang ayah, namun segera ia tepis.
"Tentu saja. Aku pulang ke rumah karena sudah waktunya untuk pulang. Yah, setidaknya aku bekerja, dari pada harus menunggu di rumah!"
"Pekerjaan apa yang membuat lupa rumah." Ayasa masih belum menyerah untuk menyudutkan putrinya. Pria itu masih mengharapkan kata maaf, dan kejujuran dari Ayara meskipun lima tahun telah berlalu.
"Perjalanan dinas bukan sesuatu yang asing lagi bukan. Ayah membawa bibi Su dan Reina juga dari perjalanan bisnis. Dan oh iya, keponakan ayah itu juga berada di sini karena masih ditinggal perjalanan dinas oleh suaminya, kan? Sudah berapa lama? Satu Minggu? Dua minggu? Atau... memang tidak ingat pulang?"
"Kamu!" Ayara meninggalkan Ayasa yang terlihat murka di ruang tamu. Wanita itu berjalan menuju kamar putrinya di lantai atas.
Bibirnya tersenyum manis ketika melihat sosok putri kecilnya tengah membaca buku di temani oleh lantunan piano dari MP3 yang diberikan oleh Lucas. Kayla memang pemain piano cilik yang cukup handal. Di Landon namanya juga sedikit terkenal meskipun hanya dikalangan masyarakat kelas menengah.
Kayla biasanya tampil di acara-acara sederhana, seperti pernikahan dan juga kelulusan sekolah dasar, dan menengah. Bukan karena ia mau bekerja, tetapi karena Kayla ingin menyalurkan hobinya.
Rencananya tahun ini Kayla akan masuk sekolah musik khusus, tetapi hal itu terjadi karena ia malah membawa Kayla untuk pekerjaan.
"Sayang, You Miss me?!" Araya berdiri di depan pintu kamar. Menarik perhatian Kayla, lalu segera diterjang pelukan erat sang putri.
__ADS_1
"Mommy, i miss you so much. Uncle bilang Mommy bersama orang jahat? Really?" Mengusap kepala putrinya sayang. Ayara mengangkat tubuh kecil putrinya ke dalam gendongan. Kepalanya menggeleng, menyangkal ucapan putrinya yang mengatakan bahwa Ace jahat.
Yah, Ace tidak jahat. Hanya saja agresif dan sedikit menakutkan.
"Apa yang kamu baca, baby girl?" tanya Ayara sambil kembali mendudukkan tubuh putrinya di tempat tidur, "Teknologi? Basic hacker?"
"Uncle Lucas yang memberikannya." kilah Kayla tanpa berani menatap wajah ibunya. Bola mata gadis kecil itu bergerak ke kanan dan kiri berusaha untuk berbohong.
"Tidak baik menuduh orang lain, Kay. Dimana kamu mendapatkannya? Maksud Mommy, Mom tidak marah. Cuman ingin tahu kamu mendapatkannya dari mana?" bujuk Ayara dengan suara lembut.
Kayla memainkan ujung jarinya. Gadis kecil itu berdiri, kemudian bergerak ke dekat lemari kecil tempat beberapa hiasan kamar berada.
"Di sini!" tunjuk nya pada sebuah nakas tertutup. Ayara membuka pintu nakas, ternyata di sana terdapat banyak buku. Dan tidak sedikit juga buku-buku tentang teknologi dan dasar teori tentang dunia per-hacer-an.
Menghela napas, Ayara kembali menutup pintu nakas. Tidak heran jika putrinya mendapatkan buku-buku aneh di kamar ini. Ini adalah kamar kakaknya dari kecil hingga kuliah. Wajar saja jika masih banyak buku pelajaran yang tersisa di dalam kamar, dan buku-buku lainnya.
"Mommy mengerti, tapi sayang. Kayla adalah seorang gadis, apa Kayla tidak mau membaca buku tentang fashion saja? Majalah atau sejenisnya? Mommy akan membelikan nya. Hacker ini agak... euhmmm... ekstrim."
Ayara menggelengkan kepala. Putrinya ini seperti monster. Sebentar lagi usianya lima tahun, tapi pengetahuan serta buku bacaannya...
Entahlah, Ayara sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
"Baiklah, hentikan dulu kegiatan membaca ini. Ayo temani Mommy tidur, mom sangat lelah sayang."
Kayla menurut. Gadis kecil itu menjatuhkan bobot tubuhnya di tempat tidur, tempat di samping ibunya. Lengan kecilnya bergerak melingkar di leher Ayara. Sesekali ia akan mencium pipi ibunya sayang.
Senyum manis mereka tampak jelas di wajah Ayara. Putrinya sangat manis, dan so sweet begini. Apalagi ketika ia terlihat kelelahan dan sakit. Pasti akan banyak hal manis lainnya yang ia lakukan.
Tanpa mereka sadari, ibu dan anak itu sudah tenggelam dalam mimpi. Arkan yang baru kembali begitu bahagia melihat ibu dan anak itu.
"Sayang, apa yang kamu lihat?" Sheila mendekati suaminya. Ikut mengintip ke dalam kamar, dan tersenyum tak kalah manis.
__ADS_1
"Mereka terlihat manis."
"Hemm..."
Arkan menutup pintu kamar. Matanya sekilas bertatapan dengan Reina yang baru saja membersihkan kamar untuk Ayara. Namun segera berpaling.
"Kapan kita bisa diberikan amanah oleh Tuhan. Melihat Kayla yang sudah sebesar ini, rasanya aku ingin menyerah untuk berusaha, Mas." lirih Sheila sedih.
Arkan tersenyum penuh arti. Ia tidak terlalu mendengarkan ocehan istrinya. Memang sebagai pejuang garis dua, perjuangan yang tidak membuahkan hasil apapun selama tujuh tahun cukup melelahkan dan membuat sedikit pesimis.
Ia pun juga begitu, akhir-akhir ini ingin rasanya ia menyerah untuk berdoa dan berusaha. Lagipula mereka juga sudah menganggap Kayla sebagai putri mereka sendiri.
"Aku memang wanita tidak berguna, mas. Bahkan untuk memberikan anak saja tidak bisa!" lirih Sheila diiringi isak tangis.
"Sayang, jangan berkata seperti itu. Semua orang punya kekurangan masing-masing. Lagipula kamu bukan tidak bisa, dokter sudah bilang, kan. Kita hanya akan sedikit kesulitan untuk memiliki anak, tapi bukan berarti tidak bisa. Aku mencintai kamu apa adanya Sheila. Cintaku ke kamu itu ada karena itu kamu, Sayang. Bukan karena fisik kamu, sifat kamu, ataupun yang lainnya. Jangan berpikir yang tidak-tidak, ya. Lagipula kita punya putri cantik yang lain, dan juga putra-putra tampan dari kakak-kakak."
Sentuhan lembut dari tangan Arkan, menyapu air mata Sheila. Ia memberikan satu kecupan sayang di kening sang istri.
"Ya udah, ayo. Temani aku ke kamar, aku butuh kasih sayang kamu." Sheila memukul pelan lengan suaminya.
"Mesum!"
"Mesum sama istri sendiri gak apa-apa. Aku memang suka."
"Mas..." Arkan tertawa renyah mendengar rengekan istrinya. Pria itu tanpa persetujuan langsung mengangkat Sheila ala bridal style, dan membawanya memasuki kamar.
Mereka tidak menyadari sama sekali. Jika Reina tengah berdiri di pertengahan tangga, memperhatikan interaksi mereka dengan penuh rasa iri.
Kenapa? Kenapa Arkan bisa menerima Sheila yang belum bisa memberikannya anak? Sedangkan suaminya, Doni, tidak.
Kenapa Arkan begitu setia dengan istrinya. Sedangkan Doni malah sebaliknya. Kenapa ia harus bernasib seperti ini?
__ADS_1
Apa dosanya begitu besar pada Ayara sehingga membuat ia begitu menderita seperti ini?