
"Sayang, nanti pulang sekolah tunggu mommy, ya. Mommy yang jemput Kayla." Entah sudah kali ke berapa Ayara mengatakan hal yang sama terus berulang-ulang.
Rasa cemasnya karena ulah Elena kemarin masih tersisa. Sebagai seorang ibu, wajar jika Ayara merasa takut kehilangan putrinya. Merasa bahwa suatu saat putrinya akan dipisahkan darinya.
Setelah ia pikir berkali-kali. Ace dan Kayla memang begitu mirip, bagai pinang dibelah dua tetapi berbeda gender saja.
"Iya, Mom. Aku masuk ya, bye-bye!" Ayara melambaikan tangannya ke udara. Menunggu putri kecilnya menghilang dari pandangan kemudian baru berbalik.
Langkahnya tiba-tiba terhenti tak kala melihat sosok Sofia yang sedang menggendong seorang bayi berada di depannya. Tidak hanya itu, di samping wanita itu juga ada Doni yang menggandeng tangan seorang anak kecil laki-laki yang berwajah gembul.
"Ay--Ayara," ujar Sofia terbata. Ekspresi wajah mereka berubah menjadi pias dan takut. Seperti seseorang yang tengah ketahuan berselingkuh.
"Sofia, Doni? Sedang apa kalian di sini? Dimana Reina?"
"Rei--Reina ada di rumah. Kamu sendiri, sejak kapan kembali ke Jakarta? Dan kemana saja selama ini? Kenapa tidak memberitahu kami?" Seolah ingin mengalihkan pembicaraan. Doni mencecar Ayara dengan berbagai pertanyaan.
"Sudah satu minggu lebih. Putriku bersekolah di sini, jadi ya, habis ngantar anak. Ngomong-ngomong, ini anak kamu sama Reina, Don?" pertanyaan Ayara lagi-lagi membuat Doni terlihat tegang. Namun tak urung pria itu mengangguk dengan pelan.
Sofia yang merasa keadaan menjadi seperti sangat canggung membuka suaranya lagi, "Ngomong-ngomong, Ay. Kamu sudah bertemu dengan Reina? Atau ayah kamu mungkin?"
"Belum, Sof. Atau mungkin tidak, entahlah..." Ayara menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha mengenyahkan pikiran tentang kejadian buruk di waktu silam. Dengan cepat ekspresi wajahnya berubah, dan matanya beralih ke bayi kecil di gendongan Sofia.
"Anak kamu, Sof. Kamu nikah sama siapa? Kok, Elena gak cerita, ya. Padahal dari kemarin ketemu terus."
Sofia melirik Doni sesaat. Kemudian kembali menatap pada Ayara. Pergerakan tubuh ke dua orang itu tampak gelisah. Seakan-akan mati kutu dengan pertanyaan Ayara.
Melihat seperti ada gelagat aneh dari mereka. Ayara menatap kedua orang itu dengan penuh intimidasi. "Kalian... Bukan sedang selingkuh, kan?" ujarnya kembali berucap.
Sofia menggeleng cepat. Begitupun Doni yang dengan sigap membantah. "Enggak, lah, Ay. Kami cuman gak sengaja ketemu di depan tadi, Sofia meninggalkan barang anaknya di mobil."
Sejujurnya Ayara tidak begitu percaya dengan jawaban Doni. Atau mungkin hanya dirinya yang terlalu parno karena sebelumnya pernah diselingkuhi oleh pria ini.
__ADS_1
Ayara hanya tidak ingin hal itu terulang lagi. Ia mungkin sakit hati, dan kecewa pada Reina. Namun bagaimanapun, Reina tetaplah sepupunya. Sepupu yang dulu sempat sangat disayanginya, bahkan lebih sayang dari kakaknya sendiri.
"Syukurlah, mungkin aku cuman terlalu parno ngeliat kamu aja, ya, Don. Kalo gitu, aku pamit dulu ya. Aku harus ke kantor lebih pagi, banyak pekerjaan." Sofia dan Doni mengangguk. Tetapi ekspresi gelisah mereka masih terlihat dengan jelas. "Lain kali kita ngobrol bareng, ya, Sof. Ini kartu nama ku."
Setelah kepergian Ayara. Sofia kembali menatap nyalang Doni. Ternyata kedua manusia berbeda gender itu sebelumnya tangah bertengkar hebat. Namun, langkah mereka terhenti ketika melihat sosok yang sangat mirip dengan Ayara, dan ternyata itu benar Ayara.
Doni yang nampak lebih gelisah mengacak-acak rambutnya. Berkali-kali pria itu meninju tiang semen bangunan sekolah.
"Martin, kamu masuk sendiri gak apa-apa, kan, Nak. Tante mau bicara sama papa kamu, Oh ya, Tante titip ini ya buat Tara." Sofia tersenyum lembut pada anak bernama Martin yang bertubuh gempal itu. Setelah menerima kotak bekal dari Sofia, Martin pergi memasuki area kelas.
Sofia menghembuskan napas. Melihat Doni dengan prihatin. "Kamu bisa menutupi perselingkuhan mu dengan mengancam ku, Don. Tapi bagaimana dengan perempuan tadi? Apa kamu bisa menutup mulut Ayara juga?" desak Sofia penuh sindiran.
"Reina itu sepupu kesayangannya. Bahkan ia rela memberikan kamu dengan begitu saja meskipun ia harus merasakan sakit, dan terusir dari rumah demi Reina. Bagaimana menurut mu? Apa yang akan Ayara lakukan jika perselingkuhan mu dengan ****** itu terungkap? Dia bakal membuat Reina melakukan hal yang sama seperti apa yang ia lakukan sebelumnya."
"Diam!!!" bentak Doni tak terima dengan ucapan Sofia.
"Seharusnya kamu sabar menghadapi Reina dan membantunya untuk bangkit kembali. Perlahan kalian pasti bisa punya anak lagi, bukannya selingkuh begini, Don." Nasehat Sofia iba melihat ekspresi Doni yang tampak kebingungan dan cemas.
"Arghh..." Doni mengamuk, meninju dinding sekali lagi, lalu pergi meninggalkan Sofia di sana begitu saja.
Ini juga bukan sepenuhnya salah Doni. Ada campur tangan Reina juga di sini, karena wanita itu tidak pernah mau percaya dengan aduan orang lain. Dan selalu berakhir dengan hubungan mereka baik-baik lagi hanya dengan rayuan.
Berulangkali Sofia mengingatkan Reina jika suaminya itu berselingkuh. Tetapi Reina selalu seolah tuli terhadap ucapannya.
______
Tiba di kantor, Ayara melihat sosok seorang perempuan baru saja keluar dari ruangan CEO bersama seorang anak laki-laki. Perempuan itu tampak menor dengan perhiasan yang hampir memenuhi seluruh badannya. Cincin berlian, kalung mutiara, gelang emas yang ramai di tangan.
Ya, memang sih istri seorang CEO pasti akan terlihat mewah. Toh mereka sangat-sangat mampu untuk bergaya sosialita sesuka mereka.
Ketika berpapasan, Ayara mencium bau parfum yang sangat menyengat dari perempuan itu. "Tunggu!" langkahnya terhenti. Ayara tersenyum dan membungkuk pada perempuan itu.
__ADS_1
"Kamu karyawan baru?" tanyanya dengan judes.
"Saya GM baru utusan dari Hayakawa, Nyonya."
"Ouh, jadi kamu wanita itu. Hemm... Cantik juga. Tapi kamu harus sadar diri, ya. Jangan coba-coba untuk menggoda pria saya. Ace itu punya saya, awas saja kalo sampai saya tahu kamu mencoba untuk menggoda Ace. Habis kamu ditangan saya!" Ancam Joelyn dengan raut wajah merendahkan. Tak ingin ambil pusing, Ayara hanya mengangguk menanggapi.
Kemudian Joelyn pergi dari sana bersama Alex. Bahkan raut wajah Alex sangat tertekan berada di sekitar ibunya sendiri.
Ada-ada saja, pikir Ayara.
Siapa yang ingin menggoda siapa? Ia bahkan tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan pria manapun sekarang.
Dikhianati oleh Doni kala itu sudah cukup mengingatkannya bahwa betapa tersiksanya merasakan jatuh cinta. Tidak lagi, ia tidak ingin merasakan hal yang sama lagi. Cukup sekali!
"Ayara!" panggilan dari seseorang membuat perempuan itu menoleh. Lagi dan lagi Ace berdiri di depan pintu ruangannya dengan gaya yang cool dan mempesona. "Keruangan saya!" titahnya.
Mau tak mau Ayara menurut. Wanita itu masuk ke ruangan CEO. Terlihat di sana sudah ada makanan yang banyak tersedia di atas meja.
"Ini kiriman mama saya, saya tidak suka. Tolong habiskan!" titah Ace tanpa banyak basa-basi.
"Maksudnya, Pak?"
"Habiskan makanan itu. Kalo kamu tidak mau, berarti office boy yang mengantarkan ini harus di pecat."
"Loh, kok gitu sih, Pak." protes Ayara tidak terima.
"Iya, karena pekerjaannya yang kurang mumpuni membuat kamu untuk ragu menyantap makanan yang disajikan ulang. Padahal hanya menyajikan makanan saja tidak becus. Brian--"
"Tidak, tidak! Saya akan memakannya jangan pecat siapapun." Ayara mendudukkan dirinya di sofa, melepaskan tas dan mulai menyendok bubur beserta sup yang tersedia. Matanya melirik ke arah Ace sebentar, tetapi pria itu tengah fokus pada berkas.
Mata Ayara beralih pada Brian. Tatapan memohon terlihat jelas di bola mata wanita itu.
__ADS_1
"Dimana office boy itu, Brian?" tanya Ace tiba-tiba, membuat Ayara gelagapan dan segera menyuapkan buburnya ke dalam mulut.
"Bagaimana jika ini beracun, mati sudah." cicit Ayara pelan, namun sayangnya masih bisa didengar oleh Ace dan Brian. Ace terlihat tersenyum namun hanya sesaat. Pria itu dengan cepat kembali menormalkan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat berubah.