
Gelisah. Itulah yang saat ini tengah Ayara rasakan. Padahal ini bukan kali pertama dia bertamu ke rumah pria. Sebelumnya Ayara sempat beberapa kali ke rumah teman-teman prianya, terutama Lucas. Namun, untuk yang kali ini entah mengapa rasanya berbeda.
Jantungnya terus berdetak kencang. Bagaikan sebuah genderang yang ditabuh saat perang. Berdetak dan bergemuruh.
"Oh God, please..." Sofia mengusap wajahnya pelan. Masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar lalu mencuci mukanya. Tetesan air menyentuh pori-pori wajahnya, sangat segar, dan dingin. Tetapi ini masih tidak mampu untuk mengatasi kegelisahan hatinya.
Kedua tangannya bertumpu di wastafel. Matanya terbuka, menatap wajahnya yang masih basah akan buliran air kran di cermin. Pikirannya berkecamuk, antara mencoba memberi kesempatan untuk putrinya atau menjauh demi menjaga perasaan seorang wanita yang telah menjadi bagian dari hidup Ace.
Wanita mana yang ikhlas suaminya bermain wanita. Meskipun ia melihat kejadian tempo hari di restoran seafood itu. Ayara mencoba mengerti, mungkin istri Ace hanya mencari ketenangan. Bisa saja itu adalah sepupunya, saudaranya, atau bahkan kakak kandungnya. Siapa yang tahu?
"Kenapa menjadi rumit begini, sih." keluh Ayara seraya kembali mengusap air ke wajahnya.
Puas mencuci muka dan tangannya. Ayara keluar dari kamar mandi. Ia terkejut mendapati Ace sedang memejamkan mata sambil memeluk erat Kayla.
Kapan pria itu masuk? Ayara bertanya-tanya pada diri sendiri. Menghembuskan napas lelah, Ayara akhirnya memilih untuk keluar kamar.
Biarlah Ace menikmati waktunya dengan Kayla. Mungkin pria itu juga ingin merasakan memeluk putrinya. Bagiamana pun ia menyangkal, kenyataannya Ace tetaplah ayah biologis putrinya.
Ayara mengambil dompet dan ponselnya di atas nakas. Keluar dari kamar, lalu turun ke lantai bawah. Entahlah... Jika dipikir-pikir moodnya seperti akan sedikit membaik jika dia berbelanja.
Lagipula ini masih pukul 21.00 wib, belum terlalu malam. Dan tadi pas datang, dia juga sempat melihat ada minimarket di samping gedung apartemen ini.
Tidak butuh waktu lama berjalan, Ayara telah tiba di minimarket. Wanita itu mengambil keranjang lalu mulai berkeliling untuk membeli apa yang dia mau. Cemilan, roti tawar, susu, butter, beberapa sayur, paha ayam, telur, serta tidak lupa yang paling penting ada eskrim.
Ayara sedang mengantri di kasir. Tiba-tiba ponselnya berdering, ketika melihat siapa yang menghubunginya Ayara segera mengangkatnya.
"Ada apa, pak? Apa Kayla bangun?!" tanya Sofia.
"Ayolah Ay, apa susahnya menyebut namaku."
"Ace..." lirih Sofia mengalah.
"Iya, sayang."
Lihatlah! Apa pria ini tidak membuat darah tingginya naik. Dimana wajah tembok yang selalu diperlihatkan pada orang-orang selama ini. Dimana suara tajam nan menusuk itu? Kenapa Ace menjadi laki-laki pecicilan dan mengesalkan seperti ini.
"Tidak ada yang penting aku tutup!" Ancam Ayara dengan nada ketus.
Terdengar suara grasak-grusuk dari sebrang sana. Membuat Ayara lagi-lagi harus menghembuskan napas.
"Jangan ditutup! Kamu di mana sekarang?!" Ace bertanya dengan nada serius.
__ADS_1
"Mini market samping gedung apartemen. Kenapa? Mau menitip sesuatu?!"
"Sayang, kenapa kamu gak bilang. Biar aku jemput sekarang, ya. Kamu tunggu di--"
"Lalu yang jaga Kayla siapa? Dia gak pernah sendirian di rumah." Ujar Ayara jengah lalu segera mematikan ponselnya.
Ayara maju ke depan kasir. Menunggu petugas menghitung belanjaannya. "Mbak, bisa tolong saya lebih dulu. Istri saya sakit perut di mobil. Butuh air cepat untuk minum obatnya."
"Maaf, pak. Sebentar lagi, ya. Mbaknya lagi proses pembayaran. Maaf, ya." tolak kasir itu dengan ramah.
Setelah membayar belanjaannya. Ayara menoleh untuk melihat siapa pemilik suara yang sangat familiar ditelinga nya itu. Iris matanya membesar ketika melihat itu adalah suami sepupunya sendiri, sekaligus sahabat masa kecilnya, Doni.
"Don, kamu, kok? Bukannya kamu? Wah... gak beres ni."
Doni bahkan lebih terkejut lagi karena kembali bertemu dengan Ayara untuk yang kedua kalinya. Dia tidak tahu akan berkilah apalagi sekarang. Hanya saja dia berharap semoga Ayara belum bertemu dengan Reina dan bercerita apapun kepada istri sahnya itu.
"Di mana istri kamu? Aku penasaran, istri yang mana yang kamu maksud." desak Araya menarik Doni langsung keluar dari minimarket.
"Ay, aku--"
"Di mana?!" sentak Ayara dengan emosi yang membuncah hingga ke ubun-ubun. "Kamu ya!" jari telunjuknya mengacung tepat di depan muka Doni.
Jangan ditanya bagaimana ekspresi Doni saat ini. Pria terlihat sangat panik bahkan tidak bisa berkata-kata. "Ay, aku bisa jelasin. Kamu jangan marah-marah dulu. Itu Rei--"
"Jangan bawa-bawa, Reina! Memangnya aku gak tahu Reina sekarang ada di mana. Aku sama dia satu atap di rumah ayah!" bentak Araya keras.
Bagaikan di sambar petir, napas Doni tercekat. Habislah sudah riwayatnya sekarang. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Meminta maaf, tapi untuk apa? Araya bukan istrinya, tapi melihat emosi Araya hingga matanya berkaca-kaca. Mengingatkannya akan kejadian lima tahun lalu. Kejadian saat dimana wanita ini memergokinya tengah bercinta dengan Reina.
"Kenapa? kaget?! Aku tahu ada yang gak beres sama hubungan kalian berdua ketika aku melihat Reina, lebih memilih untuk dijadikan pembantu di rumah ayah sama bang Arkan dari pada pulang ke rumah suaminya. Istri kamu menderita, sedangkan kamu bersenang-senang selingkuh di luaran. Kenapa kamu tidak berubah sama sekali, Doni! Apa tidak cukup kamu mematahkan hati, dan juga menghancurkan hidupku. Kenapa Reina juga." Ayara terisak.
"Kamu tahu betapa besar sayang aku ke Reina. Aku bahkan lebih mendukung ayah buat biarin bang Arkan pindah ke luar negeri karena Reina. Kamu... Arghhh...!" Ayara sudah tak bisa berkata-kata lagi. Dia mengedarkan segala pandangan mencari-cari mobil Doni. Ketika matanya menangkap sosok seorang perempuan yang tengah menunggu sambil memperhatikan mereka dari dalam mobil, Araya langsung menghampirinya.
"Ay, ay, jangan, ay. Dia gak salah, Ay. Ayara... Aya--"
"Diam!" sentak Ayara menghempaskan tangannya yang coba di raih Doni.
Tok... tok... tok...
"Open the door!" Ayara benar-benar tersulut emosinya. Gadis itu berulangkali menggedor pintu mobil, agar perempuan itu mau membuka pintu mobilnya dan turun. "Buka!"
"Aya, jangan gini. Malu diliat orang."
__ADS_1
"Malu?! Kalo kamu tahu malu. Kamu gak bakal terus menerus selingkuh, Don." Ayara kembali usaha membuka pintu mobil itu paksa. "Buka gak. Apa harus aku pecahkan dulu kaca mobilnya baru mau turun." Ancam Araya dengan tatapan mata berkobar.
"Aya, dia lagi hamil. Tolong..."
"Hamil?! Bagus. Lebih bagus lagi malahan. Istri kamu depresi di rumah karena terus menerus keguguran. Kamu malah membuat hamil perempuan lain. Suami macam apa kamu?!" murkanya semakin menjadi-jadi.
"Ay--"
"Aya!"
"Mommy!" panggil Ace dan Kayla bersamaan. Mereka terlihat panik melihat Ayara sedang menangis dan bertengkar dengan seorang pria.
"Kamu kenapa, sayang. Mas, mas siapa? ada perlu apa dengan calon istri saya." marah Ace dengan pd sambil mencengkram erat kerah baju Doni.
"Calon istri?!" beo Doni tidak percaya. Pria itu menatap Ayara, Kayla, dan Ace bergantian. "Ay, jangan bilang dia pria brengsek lima tahun lalu." tebak Doni ikut-ikutan tersulut emosi.
"Diam brengsek!" Ayara menatap mereka tak kalah nyalang. Bodohnya dia terus berteriak minta dibukakan pintu samping kemudi oleh wanita itu sejak tadi. Kenapa tidak lewat pintu kemudi saja.
Ayara berjalan mengitari mobil hingga di pintu kemudi. Ketika dia membuka pintu itu, terbuka. Ayara melihat sosok perempuan yang ada di dalam.
Saking emosinya, Ayara menutup matanya dengan telapak tangan kanan dan tangan kiri berkacak pinggang. "Huft... huu..." Ayara menghela napas, mengusap wajahnya kasar.
"Mita? Really, Don. Mita? dia sepupu jauh kamu brengsek. Ya Tuhan!" Ayara tidak habis pikir jika selingkuhan Doni adalah sepupu jauhnya sendiri. Ayara cukup mengenal kerabat-kerabat jauh Doni karena hubungan mereka yang memang cukup lama. 7 tahun, ditambah pertemanan masa kecil.
"Masuk, Ace." titah Ayara pada sosok pria yang telah menggendong putrinya itu lagi.
"Haa... kemana?" Ace bertanya bingung.
"Bawa mobil ini ke rumah ayah. Kamu!" tunjuk Ayara pada Doni. "Duduk di belakang."
"Tapi ayy--"
Ayara segera memotong ucapan Doni. Matanya yang setajam silet mampu membuat Doni mengalah. Doni tahu betul bagaimana jika Ayara benar-benar marah. Tidak ada yang bisa lolos.
Ngomong-ngomong, Ayara pernah menjadi atlet bela diri silat ketika SMP dan SMA. Di masa lalu dia cukup beruntung karena Ayara menahan amarahnya demi Reina. Tapi kali ini, Doni tidak yakin.
"Kamu mau masuk atau mau ku bawah ke rumah orang tua kamu langsung. Aku yakin mereka tidak tahu menahu atas perselingkuhan keji kalian ini!" tukas Ayara bersuara lebih tenang dari pada sebelumnya.
Mau gak mau Doni akhirnya menuruti permintaan Ayara. Pria itu masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan diam di kursi penumpang belakang. Sedangkan Ace berulangkali melirik Ayara dari spion depan.
"Mana obatnya?" tanya Araya seraya mengalahkan tangan pada Doni. Doni menunjuk Mita, seolah mengatakan jika obat sudah ada di dia. Ayara menyerahkan sebotol air minum yang tadi sempat ia beli pada Mita.
__ADS_1
"Minum obatnya!" titah Ayara ketus lalu segera berpaling. Ace diam-diam tersenyum tipis. Dibalik kasarnya Ayara, ternyata dia masih memiliki sisi lembut yang sangat baik.