Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy.29


__ADS_3

Hari berganti, hari ini entah ada angin apa. Ketika Ayara meminta izin pada Ace bahwa dia memiliki urusan keluarga yang sedikit mendesak. Pria itu dengan mudahnya mengizinkan.


Tanpa drama? Tanpa ancaman? Ayara sedikit menaruh rasa curiga. Tapi ya sudahlah, yang penting dia bisa menghabiskan waktu bersama putrinya hari ini.


Hitung-hitung mengganti waktu mereka yang terpisah selama dua hari kemarin.


"Sudah siap, sayang?!" tanya Ayara kembali memperhatikan penampilan putrinya.


Kayla entah mengapa memilih untuk menggunakan celana kodok pendek di atas lutut, dengan kaos berwarna putih sebagai atasannya.


Rambut panjang gadis kecil itu diikat dua, lalu digulung menyerupai tanduk setelah dianyam. Tidak lupa jepitan rambut bunga berwarna putih ia sematkan. Sedikit poni halus juga menambah kesan imut gadis kecil itu.


"Siap dong, Mom!" seru Kayla dengan gembira.


Ayara yang saat itu menggunakan pakaian sama dengan Kayla terkekeh geli. Mereka terlihat sepasang kembar beda usia.


Tak lupa, Ayara memasangkan ransel berbentuk boneka kelinci di bahu putri kecilnya. Sedangkan dia, hanya membawa tas kecil yang berisi beberapa lembar uang cash, kartu kredit, kartu ATM, dan juga tanda pengenal beserta SIM.


Ibu dan anak itu keluar dari kamar. Mereka menghampiri semua orang yang tengah sarapan di ruang makan.


"Aunty, Uncle, Kami pergi dulu, ya!" teriak Kayla penuh semangat.


Ayara hanya menggeleng pelan. Mendorong tubuh putrinya untuk mendekat, lalu berpamitan dengan benar.


"Bicara dengan benar, Kay. Uncle tidak bisa memberi uang jajan jika dari jauh." ucap Ayara segera dilaksanakan oleh Kayla.


"Kami pergi dulu, Kak."


"Hati-hati, Ay. Ouh ya, kau punya pegangan cash? untuk jaga-jaga keadaan darurat." Arkan mengeluarkan beberapa lembar uang merah. Menyerahkannya pada sang adik, membuat Ayara geleng-geleng sendiri.


"Bang, aku bukan anak kecil lagi yang harus diberi uang saku. Aku ada bawa cash, kok."


"Gak apa-apa, ambil aja. Kamu kan dimata Abang memang masih kecil. Memangnya seperti ayah, yang tega mengusir anaknya dari rumah tanpa sepeserpun uang." Ujar Arkan menohok.


Ayasa menghentikan gerakannya. Mata pria paruh baya itu menatap tajam pada sang putra. Sedangkan Ayara merasa tidak nyaman karena sang kakak terus menerus mengungkit masa lalu.


"Ya, udah. Aya, ambil ya, bang. Kami pamit dulu, ya." Ayara memeluk kakak juga kakak iparnya sekilas. Kayla sendiri, gadis kecil itu terus tertawa karena ranselnya diisi beberapa lembar uang merah oleh Reina dan Sulastri.

__ADS_1


"Untuk jajan, ya sayang." Sulastri mengelus rambut Kayla sayang.


"Thank you, Oma. Thank you, bibi Reina. Mommy ayo! Aku sudah dapat banyak uang untuk beli buku baru."


Ayara ikut terkekeh kecil. Ia beralih pada Sulastri lalu memeluknya pelan, "Keluar bentar ya, Tan. Terimakasih udah mau memperhatikan Kayla."


Sulastri mengangguk. Setelah itu Ayara berlalu dari sana. Tanpa meminta izin, ataupun sekedar basa-basi dengan Ayasa juga Reina.


"Lihatlah! Anak itu begitu kurang aja." Sarkas Ayasa menekan sendok makannya ke piring.


"Ya, karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." balas Arkan, kemudian beranjak dari meja makan.


***


"Mom, kenapa kita ke sini?" tanya Kayla dengan suara khas anak kecilnya yang penasaran. Kepalanya bahkan sudah lebih dulu keluar dari jendela, menatap takjub rumah sakit yang mereka datangi.


"it's so big! Wow..." puji Kayla dengan mulut terbuka membantuk huruf O.


Ayara tertawa melihat tingkah laku putrinya. Seperti biasa Kayla selalu antusias jika melihat sesuatu yang baru. Tapi entah mengapa, anak itu tidak pernah antusias dengan yang namanya sekolah anak-anak.


"Mommy, ada sedikit urusan. Mau ikut masuk?"


"Of course, Mom!"


Dengan bergandengan tangan. Ibu dan anak itu memasuki rumah sakit dengan penuh semangat. Canda tawa menghiasi wajah mereka.


Sesekali Kayla akan bertanya tentang orang-orang yang ada di sana.


"Mom, dia sakit apa? Kenapa berada di kursi roda, tapi tangannya yang di perban?"


Ayara sontak menutup mulut putrinya yang terlampau aktif ini. Dia membungkuk meminta maaf pada orang-orang di sana.


"Astaga! Ada kamera. Apa mereka lagi membuat film?" Ayara hanya mengangguk pasrah. Bibir putrinya ini tidak bisa diam sama sekali.


Dan akibatnya, mereka tengah ditatap banyak kru film yang tengah mengambil adegan di rumah sakit ini. Entah untuk film apa dia tidak tahu? Tapi yang jelas, pertanyaan Kayla tentang kursi roda sepertinya sedikit membuat mereka tidak suka.


Ayara menarik Kayla ke arah berlawanan. Hingga tiba di ruangan seorang dokter yang menangani tes DNA Kayla dan Ace tempo hari. Ia menghirup napas dalam, memberanikan diri untuk mengetahui kenyataan pasti.

__ADS_1


Setelah di persilahkan duduk. Dokter langsung menjelaskan hasilnya. Dan seperti yang telah ia tebak, Ace dan Kayla memiliki 99% kecocokan. Mereka benar-benar ayah dan anak.


Bahu Ayara merosot. Meskipun ia sudah menebak, entah mengapa ia tetap tidak rela jika Ace adalah ayah kandung Kayla. Kenapa harus pria itu? Pria arogan yang bahkan tidak bisa berkata lembut dengan seorang anak kecil?


"Mom, are you okay?" Kayla memeluk leher ibunya erat. Meskipun tidak tahu ada apa, dan kenapa ibunya tiba-tiba berubah murung. Kayla berusaha untuk mentransfer kekuatan terhadap ibunya.


"Dokter, Mom ku sakit apa?" tanya Kayla menatap dokter. Tidak lama kemudian, gadis kecil itu menangis hingga sesegukan, "Mom, sakit apa? Mommy enggak boleh sakit."


"Sayang, Mom enggak sakit. Ini laporan orang lain. Lihat, namanya Dion Ace Monata bukan nama Mommy."


Kayla melihat kertas yang ditunjukkan ibunya. Lalu ia kembali menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.


"Mom beneran gak sakit?"


Ayara mengelus sayang punggung putrinya. Berusaha menenangkan Kayla yang baru saja salah paham.


"Iya, Mom gak sakit apa-apa."


"Terus itu siapa?"


Ayara menatap dokter dihadapannya sejenak. Lalu kembali beralih ke wajah putrinya yang sudah sedikit memerah akibat menangis.


"Teman, Mom. Gak usah khawatir. Ouh, ya, kit bukannya mau bermain ke Timezone? Mau pergi sekarang?" ucap Ayara mengalihkan perhatian putrinya.


Kayla kembali mengangguk antusias. Mendengar tempat bermain ia ingin segera ke sana. Mementingkan banyak boneka kelinci di mesin capit yang ada di sana.


"Dok, terimakasih atas bantuannya. Saya permisi dulu," pamit Ayara pada sang dokter.


"Sama-sama, Mbak."


Butuh setidaknya setengah jam perjalanan untuk sampai di mall dari rumah sakit tempatnya melakukan tes DNA. Apalagi mereka sempat terjebak macet di beberapa lampu merah.


Tiba di sana, Kayla langsung menarik ibunya untuk segera masuk. Mereka memutuskan untuk segera menuju ke Timezone. Memainkan beberapa permainan hingga kelelahan.


Kayla mendapatkan beberapa boneka kelinci kecil yang lucu. Bahkan tas yang ia bawa telah berisi boneka semua.


Merasa kelelahan, Kayla merengek meminta es krim. Dan tentu saja Ayara segera membawanya ke sebuah restoran yang menyediakan es krim sekaligus makanan berat.

__ADS_1


__ADS_2